
Sore itu, di villa mewah tempat Harin ditempatkan. Terdengar tawa dua bocah di salah satu kamar mandi dilantai atas. Tentunya kamar mandi yang berada di salah satu kamar yang di tempati oleh Revy dan Harin, nampak dua gadis kecil itu tengah berendam bersama pada bathtub yang berukuran sedang.
Harin tertawa geli saat Revy mengusap punggung Harin dengan spons.
“Diam Harin, jangan tertawa terus.”
“Aku geli kakak haha.”
“Apa ayahmu tidak pernah menggunakan spons untuk memandikanmu?.”
“Suka, tapi tidak segeli apa yang kakak lakukan padaku haha.”
“Kamu ini lucu sekali ya, udah sekarang giliran aku kau usap punggungku dengan spons ini, ayo!.” Kata Revy menyerahkan spons itu pada Harin. Kemudian Harin mengusapkan spons itu pada punggung Revy.
Revy pun mendapatkan reaksi yang sama seperti Harin, ia tertawa geli.
“Haha benar saja ternyata geli juga ya Harin?.”
“Benar kan aku bilang, Haha.”
Gelak tawa mereka bergema pada seluruh ruangan kamar mandi tersebut, sampai akhirnya terhenti karena mendengar suara ketukan pada pintu.
“Siapa?.” Tanya Revy.
“Saya pelayan membawakan beberapa baju ganti dari nyonya untuk nona kecil.” Suara di balik pintu.
“Oh, silahkan masuk.” Perintah Revy.
Kemudian masuklah seorang pelayan perempuan membawa beberapa stel pakaian untuk Harin.
“Simpan satu stel yang berwarna pink itu diatas situ dekat wastafel, sisanya simpan kedalam lemariku.” Perintah Revy kembali.
“Baik Nona.” Jawab pelayan tersebut, setelah pelayan itu menyimpan satu stel pakaian untuk Harin, lalu ia meninggalkan mereka di dalam kamar mandi itu.
Setelah pelayan keluar dari kamar mandi itu, kembali mereka tertawa bermain air, saling melempar busa sabun.
Terpancar kebahagiaan dari keduanya. Revy merasa senang dan ceria setelah kehadiran Harin. Harin pun merasa tidak sedih lagi seperti sebelumnya yang selalu mengingat ayahnya.
“Oya Harin, apakah kamu mau kalau kita berdua menyusun rencana?.” Tanya Revy serius dengan nada berbisik.
“Rencana apa kak?.” Tanya Harin.
“Harin, kita kabur dari tempat ini yuk?.” Ajak Revy.
“Nanti pasti mereka marah kak.” Harin merasa ketakutan.
“Kalau kita lama-lama disini, kita akan tersiksa Harin. Bisa jadi mereka berdua akan membunuh kita.” Kata Revy. Harin mendekatkan tubuhnya pada Revy. Ia merasa takut dengan apa yang Revy katakan.
“Tenang Harin kamu jangan takut, kakak akan melindungimu selama kakak ada di dekatmu. Kamu tahu? Sebelum kedatanganmu, aku sudah merencanakan akan kabur dari sini, hanya saja menunggu waktu yang tepat. Apakah kau tidak rindu pada ayahmu? Kalau kita bisa kabur bersama, aku akan mengantarkanmu pada ayahmu. Setelah aku mengantar kamu, Aku akan kembali ke Jerman kerumah oma dam opa ku, karena hanya mereka lah yang menyayangi aku.” Jelas Revy.
Sementara Harin mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan Revy. Ia berfikir menurut kapasitas pemikiran anak seusianya. Ia merasa bahwa apa yang dikatakan Revy benar adanya.
__ADS_1
“Aku mau kak, aku mau ikut kabur dengan kakak.” Semangat Harin.
“Bagus kalau begitu.” Kata Revy.
“Lalu kapan kita kabur kak? Aku rindu pada ayahku.” Ucap Harin sedih.
“Kita akan cari waktu yang tepat Harin, di saat mereka tidak ada dirumah baru kita akan kabur dari tempat ini. Kamu jangan cerita apapun ya? Ini rahasia kita berdua.”
“Iya kak, aku janji tidak akan bercerita pada siapa pun.”
“Ayo sekarang kita selesaikan mandinya.” Ajak Revy yang kemudian menyalakan shower dan membasuh tubuhnya juga tubuh Harin.
Seperti kakak yang menyayangi adiknya, ia mengeringkan tubuh Harin dengan handuk kemudian memakaikan pakaian kepadanya.
Setelah ia memakaikan pakaian kepada harin dengan rapi, lalu ia memakai pakaiannya sendiri.
“Ayo kamu duduk disini, aku akan merapikan rambutmu.” Kata Revy, membawa tubuh kecil Harin pada sebuah kursi, kemudian mengeringkan rambut Harin dengan Headrayer, setelah kering ia kuncir rambut Harin.
Selama Revy merapikan rambut Harin, selama itu Harin memandangi Revy dalam cermin yang tengah sibuk dengan rambut Harin.
“Kakak, terima kasih telah baik padaku, merawat aku seperti ayah.” Kata Harin pada Revy dalam cermin.
“Iya, aku senang kok merapikan rambutmu. Di Jerman aku punya saudara sebesar kamu Harin, namanya Christy. Aku sering menata rambutnya.” Jelas Revy yang tetap anteng membuat kuncir pada rambut Harin.
“Oya? Pasti dia bule sama seperti kakak.” Kata Harin.
“Iya, malah dia lebih bule dari aku loh, kerena tidak ada campuran darah, kalau kakekku kan orang Indo, sementara Christy, kakek dan neneknya dari Jerman.” Jelas Revy.
“Kalau aku, yang bule itu ayahnya kakek loh kak.”
“Iya kak hehe.”
Setelah Revy selesai membuat kuncir pada rambut Harin, lalu ia merapikan rambutnya sendiri.
*
*
Sementara itu dilantai bawah nampak Selvy dan Reyhan tengah berbincang.
“Oya sayang, temanku Aldo yang pernah aku ceritakan padamu, nanti malam akan membuat pesta minuman. Apakah kau mau datang kesana?.” Tanya Reyhan.
“Boleh juga! Lagi pula sudah lama aku tak pernah ke pesta lagi setelah kejadian beberapa tahun itu. Tapi apakah Aldo aman sayang?.” Tanya Selvy sedikit meragukan Aldo.
“Tentu saja dia aman sayang, dia sahabatku dan si Harvan tidak mengenal dia sama sekali.”
“Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan bocah-bocah itu sayang?.” Tanya Selvy.
“Kita kunci saja kamarnya dari luar lalu kita bawa kuncinya, beres kan!.” Kata Reyhan. Kemudian ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Aldo. Tapi sayang ponselnya mati sepertinya habis baterai.
“Ah sial! Aku lupa mengisi baterai, coba aku pinjam ponselmu, dan tolong bawa ponselku ini untuk di charger.” Kata Reyhan. Kemudian Selvy memberikan ponselnya pada Reyhan dan Reyhan menghubungi Aldo menggunakan ponsel selvy.
__ADS_1
“Hallo Do, ini gue Reyhan pakai ponsel selvy, ponselku mati lupa belum di charger. Oya jam berapa pestanya?.” Kata Reyhan.
“Oh hei Rey, acaranya kita akan mulai tengah malam haha, elo jadi datang?.” Tanya Aldo.
“Tentu saja gue akan datang Do, gue akan datang bersama Selvy, oya dimana tempatnya?.”
“Di villa gue di puncak Rey.”
“Oke. Nanti sharelok ya?.”
“Siap! Gue langsung sharelok sekarang ya.”
“Ya sudah, sampai ketemu nanti malam ya.”
TUT sambungan seluler terputus.
“Ah sial!! Ponselmu juga mati habis baterai, sana di charger dulu sampai penuh.” Kata Reyhan.
*
*
Sementara itu ditempat lain, Harvan dan Jodi tengah duduk masih di ruangan pribadi Jodi di dalam markas tersebut. Kemudian mereka dikejutkan dengan ponsel Harvan yang berbunyi tanda seseorang menghubungi. Bergegas Harvan mengambil ponselnya, dilihatnya layar ponsel itu, Aldo menghubungi, langsung ia terima. Loadspeaker mode on,
“Hallo Do.” Harvan berdebar menunggu kabar dari Aldo, hatinya bertanya-tanya apa yang akan Aldo sampaikan.
“Iya Har, gue mau ngasih kabar ke elo, nanti malam si Rey sama si selvy, mereka akan datang ke pesta minuman gue, gue akan buat mereka mabuk.” Jelas Aldo.
“Do, kita udah tahu bahwa yang menculik Harin memang Reyhan, kita dapat dari hasil identifikasi sidik jari pada mobil yang mereka tinggalkan, sekarang gue cuma butuh dimana mereka sembunyikan Harin, sementara ponsel Reyhan belum menunjukan titik koordinat juga, jadi kita belum tahu dimana tempat mereka.” Jelas Harvan.
“Oya, memang tadi si Rey bilang kalau ponselnya mati, tadi juga dia menghubungi gue pake ponsel si selvy. Sementara tempat tinggal mereka juga gue belum tahu, karena mereka sekarang tinggal di tempat baru mereka, dan gue belum sempat nanya sama dia. Jadi gue gak tahu dimana mereka tinggal.” Jelas Aldo.
“Ya sudah gue minta elo kirim nomor si selvy mau gue lacak sekarang.” Pinta Harvan yang telah di beri isyarat oleh Jodi agar meminta nomor ponsel Selvy.
“Oke, gue kirim sekarang ya Har.”
TUT sambungan telepon terputus, dan tak lama Aldo mengirim nomor ponsel selvy.
Bergegas Jodi mengirimkan nomor ponsel selvy pada team cybernya untuk dilacak.
Setelah 10 menit Jodi dan Harvan menunggu kabar dari mereka, akhirnya mereka menghubungi.
“Hallo Tom! Gimana hasilnya.” Tanya Jodi.
“Gak ditemukan titik koordinatnya Jod sepertinya sama nomor ponsel ini juga tidak aktif.” Jawaban dibalik ponsel.
“Ah sial!!” Emosi Jodi.
“Tolong terus pantau Tom, saat titik koordinatnya aktif cepat hubungi gue.”
“Siap!.”
__ADS_1
TUT sambungan ponsel terputus.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤