
Almira bersama suaminya Jaya Sukmana berbincang di ruang tengah. Karena sudah lama tak bertemu Almira begitu manja pada lelaki yang berwajah khas Arab itu.
Namun sepanjang Jaya Sukmana berbincang matanya selalu melirik pada pintu kamar Delima, dan Almira menyadari itu.
“Sayang kenapa sih kamu gak fokus ngobrol sama aku, matamu lari kemana-mana Ish.” Almira mengerucutkan bibirnya.
“Kemana-mana bagaimana maksudnya sayang, aku mendengar kok apa yang kamu katakan.” Rayu Jaya Sukmana.
“Dari tadi aku perhatikan kamu melihat Delima sangat berbeda, bahkan orangnya sudah tidak ada pun kamu selalu melihat ke pintu kamarnya.” Almira merajuk.
“Hei kamu jangan berprasangka tidak baik sayang, aku ini sangat merindukanmu, kita sudah lama tak bertemu, seharusnya kamu menyambutku dengan hangat.” Jaya Sukmana memeluk tubuh yang tengah merajuk itu kemudian memangkunya seraya berjalan menuju kamar mereka.
Melihat perlakuan suaminya Almira sedikit melupakan kekesalannya, dan mereka pun masuk ke dalam kamar untuk melakukan ritual penyatuan diri.
Hingga pagi menjelang, mereka masih anteng di dalam kamar. Sementara Delima sudah rapi dengan pakaiannya hendak membuat sarapannya untuk dirinya sendiri. Karena sarapan untuk Almira dan Suaminya selalu ART mereka yang membuatnya.
Pada saat Delima menikmati sarapannya terlihat Jaya Sukmana turun dari kamarnya menghampiri Delima yang tengah menikmati sarapannya.
Delima terkejut saat melihat Jaya Sukmana sudah ada di dekatnya dan duduk dihadapannya, karena memang posisi duduk Delima membelakangi tangga yang di turuni oleh Jaya Sukmana tadi sehingga ia tak melihat kedatangan lelaki itu.
“Eh tuan, maaf saya sarapan duluan.” Delima gugup sembari melahap sarapannya.
“Tidak apa-apa Delima, oya kamu mau pergi kemana? Pagi-pagi sudah rapi.”
“Saya mau pergi bekerja Tuan.”
“Jangan panggil saya Tuan, panggil saja saya Mas Jaya.”
“Oh… Hm… ba-baik mas.” Delima sedikit canggung.
“Memangnya kamu bekerja dimana Delima? Bukankah kamu juga masih kuliah?.”
“Iya mas saya bekerja untuk membiayai kuliah saya, meskipun saya kuliah dengan jalur beasiswa tapi tetap saja saya harus membeli buku, saya bekerja di salah satu lembaga bimbingan belajar.”
“Oh bagus itu, oya Delima apa kamu sudah punya kekasih? Atau seorang tunangan mungkin?.”
“Mh… be-belum mas.”
“Masa wajah secantik kamu belum ada yang punya hehe… .”
Karena Delima sudah mencium gelagat yang lain akhirnya Delima meminta ijin untuk berangkat ke tempat kerjanya dan bergegas meninggalkan lelaki itu. Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan mereka di balik dinding.
“Dasar tua bangka tidak tahu diri! Sudah punya istri banyak masih saja menggoda wanita lain! Awas kamu ya!.” Geram Almira di balik dinding tangga yang menuju kamarnya. Kemudian ia menuruni tangga menuju ke tempat dimana suaminya berada.
“Kenapa sih masih pasang muka kecut aja?.” Tanya Jaya Sukmana seraya melingkarkan tangannya pada pinggang Almira.
“Kapan mau ganti mobilku dengan mobil baru?.”
“Oh itu, hehe baiklah nanti Yuda akan mengantarmu.”
Yuda adalah asisten Jaya Sukmana yang berusia 25 tahun, lelaki berperawakan atletis itu sudah lama bekerja pada Jaya Sukmana bahkan Jaya Sukmana sudah menganggapnya putranya sendiri karena Yuda ia ambil dari jalanan sejak usia Yuda masih 18 tahun. Namun tanpa ia ketahui, diam-diam Yuda menjalin hubungan gelap dengan Almira di belakang Jaya Sukmana.
“Aku tidak mau nanti! Aku mau sekarang!.” Ucap manja Almira.
“Baiklah! Sekarang kau lekas ganti pakaian aku akan menyuruh Yuda mengantarmu.”
Betapa senang hati Almira kala Jaya mengatakan itu, bergegas ia naik kedalam kamarnya hendak berganti pakaian. Sementara Jaya Sukmana memanggil Yuda yang kala itu tengah di dapur bersama ART.
“Iya tuan ada apa?.” Tanya Yuda yang bergegas menghampiri Jaya Sukmana.
“Tolong kamu antar nyonya ke dealer langganan kita untuk mengganti mobilnya.”
“Baik tuan!.”
__ADS_1
Tak lama Almira sudah berada di antara mereka dengan pakaian yang sudah rapi.
“Ayo Yuda kita berangkat!.” Seru Almira.
Almira langsung bergegas meninggalkan ruangan dimana suaminya dan Yuda berada. Lalu Yuda mengikuti Almira dari belakang.
“Dasar perempuan.” Gumam Jaya Sukmana sembari memperhatikan istri ke tiganya itu memasuki mobilnya.
Di dalam mobil yang membawa Almira dan Yuda nampak Almira begitu bahagia karena akan mendapatkan mobil baru, sementara Yuda hanya diam dengan wajah datarnya.
“Sayang kenapa kamu diam saja?.” Tanya Almira pada Yuda. Tapi Yuda diam membisu.
“Ayo lah sayang jangan seperti itu? Sebenarnya kamu kenapa?.”
“Aku benci membayangkan kamu bersama lelaki tua itu tadi malam!.”
“Aku kan sudah bilang sama kamu, kamu harus banyak sabar. Ayo lah sayang jangan seperti itu, ini tidak akan lama.” Rayu Almira.
“Kapan kamu akan menyudahi hubungan kamu dengan dia?!.”
“Tidal bisa begitu Yuda, dia kan pohon uang kita, kalau aku meninggalkan dia! Dari mana aku bisa dapat fasilitas mewah dan uang yang banyak? Bukankah semua itu juga kita nikmati sama-sama?.”
“Apakah belum cukup semua yang sudah kamu dapat darinya?.”
“Belum sayang… tunggu sampai aku menguras habis hartanya haha, kau tahu? Aku ingin beberapa perusahaannya menjadi milikku, setelah aku dapatkan itu baru aku akan meninggalkannya, dan kita akan bahagia selamanya haha.”
“Tapi itu membutuhkan waktu yang lama sementara aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya Almira.”
“Sabar lah sayang… kita tinggal menunggu waktu saja. Hanya saja akhir-akhir ini aku merasa semakin benci sama si tua Bangka itu, sepertinya dia menyukai Delima, dan sepertinya kehadiran Delima sangat menggangguku.”
“Lagian kenapa juga kamu suruh dia tinggal di rumahmu?.”
“Aku pikir si tua Bangka itu tidak akan tertarik sama dia, gak tahunya aku melihat malam tadi si tua Bangka itu terlihat selalu menatapnya dan tidak lepas memandanginya.”
“Apa yang akan kau lakukan sayang.”
“Lihat saja nanti!.” Jawab Yuda dengan tatapan membunuhnya.
Dan tanpa terasa akhirnya mereka sampai di tempat tujuan mereka.
Sementara itu di tempat lain. Nampak Delima tengah melakukan pekerjaannya, ia terlihat tidak konsentrasi karena pikirannya mengingat tingkah suami temannya itu yang membuat ia tidak nyaman.
Tiba-tiba terdengar suara ponselnya berbunyi, lalu ia menerima panggilan itu,
“Hallo Delima!.” Suara di balik sambungan ponsel. Delima sedikit terkejut karena ia hafal dengan suara itu.
“Hallo ada apa mas menghubungi saya?.”
“Maaf Delima kalau saya menggangu pekerjaanmu. Saya hanya ingin mendengar suaramu saja hehe.” Mendengar itu Delima memutarkan bola matanya.
“Delima seandainya saja kamu mau jadi istri ke empat saya tentu kamu tidak akan susah-susah lagi bekerja.” Sambung Jaya Sukmana.
“Maaf mas saya sedang sibuk dan saya tidak tertarik menjadi istri siapa pun karena saya ingin konsen belajar dulu dan bekerja.” Jawab Delima.
“Ya saya tidak akan memaksamu Delima, saya tahu kamu wanita yang berbeda dan saya mengerti akan keputusanmu, hanya saja jika kamu perlu sesuatu, jangan sungkan hubungi saya. Saya akan membantumu. Jika setelah lulus nanti kamu butuh pekerjaan datanglah ke perusahaanku. Kamu bisa bekerja bersamaku kalau kau mau.”
“Baik mas terima kasih atas atensinya.” Kemudian ia menutup sambungan selulernya dan melemparkan ponselnya ke dalam laci meja kerjanya. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajahnya. Terlihat ia merasa terganggu pikirannya dengan Jaya Sukmana yang seakan mencari jalan untuk mendekatinya.
Setelah lama berfikir akhirnya ia merogoh ponselnya kembali ke dalam laci meja kerjanya hendak menghubungi Almira.
“Hallo Al.” Sapa Delima.
“Iya Del, ada apa?.”
__ADS_1
“Al, sepertinya aku tidak pulang malam ini, aku banyak pekerjaan, jadi selepas kuliah nanti aku kembali ketempat kerjaku.”
“Oh gitu? Ya sudah!.” Almira menutup panggilan ponselnya.
Sementara itu Yuda memperhatikan Almira yang menerima panggilan ponsel dari seseorang.
“Siapa?.” Tanya Yuda.
“Delima gak pulang malam ini, dia mau lembur.” Jawab Almira datar.
“Oh.” Kata Yuda dengan seringai di sudut bibirnya. Sepertinya ia tengah merencanakan sesuatu.
Singkat cerita waktu sudah menjelang malam, terlihat Yuda yang menunggangi kuda besi bersama Almira berhenti di suatu tempat.
“Loh kok kita ke hotel? Mau ngapain?.” Tanya Almira heran.
“Aku rindu sama kamu, sudah lama aku tidak bersamamu, waktumu habis dengan tua Bangka itu jika dia datang.”
“Bukankah dia jarang pulang ke rumahku dan jarang menghabiskan waktu denganku? Justru aku lebih sering dengan kamu kan? Kamu sering beralasan kalau sedang bertugas bersama tua Bangka itu demi bertemu denganku hehe.”
“Tapi Hari ini aku sudah tidak tahan ingin menikmati mu sayang.” Kata Yuda yang sudah tidak tahan langsung membawa Almira turun dari mobilnya membawa ia ke dalam kamar hotel.
“Hei sabar dong jangan buru-buru sayang.” Kata Almira yang merasa kesulitan mengikuti langkah Yuda. Sementara Yuda terus menarik tangan Almira setelah mengambil kunci dari meja resepsionis.
Singkat cerita di dalam kamar hotel, pada saat Almira tengah mandi, Yuda memasukan sesuatu pada minuman Almira, entah apa yang ia masukan tadi.
Tak lama Almira keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut bathrobe di tubuhnya. Melihat penampakan itu Yuda langsung menarik tubuh Almira ke atas tempat tidur dan langsung menindihnya. Dan terjadilah pergulatan diantara mereka.
Setelah mereka sama-sama lemas Yuda memberikan minuman yang telah ia isi dengan sesuatu tadi pada Almira. Tak lama Almira pun tak sadarkan diri.
Setelah memastikan Almira terlelap tidur ia bergegas pergi keluar dari kamar hotel itu. Dan tempat yang di tuju Yuda adalah kediaman Almira dimana Jaya Sukmana tengah Berada di dalamnya.
“Loh kok kamu ada di rumah Yud? Mana Almira?.” Tanya Jaya Sukmana yang merasa heran melihat Yuda kembali ke rumah tanpa Almira.
“Nyonya sedang menemui temannya dulu Tuan, saya pulang mau ganti baju dulu dan kembali lagi menjemput nyonya.” Jawab Juda.
“Oh, ya sudah.” Kemudian Jaya Sukmana berlalu ke ruang tengah. Sementara itu terlihat Yuda masuk kedalam kamar yang di sediakan untuknya di rumah itu. Tak lama ia kembali dengan pakaian serba hitam lengkap dengan penutup kepala dan sarung tangan.
Di balik lemari Yuda memperhatikan gerak gerik Jaya Sukmana, pada saat tuan nya itu melangkah kaki ke dapur, ia mengikutinya dari belakang. Karena Jaya Sukmana merasa ada orang yang mengikutinya lantas ia membalikan badannya.
Betapa terkejut Jaya Sukmana kala melihat sosok yang berpakaian serba hitam tepat berada di belakangnya.
“Siapa kamu.!!” Seru Jaya Sukmana, belum sempat ia menghindar, seseorang itu sudah meraih pisau dapur yang berada di sebelahnya dan menikam perutnya bertubi-tubi sampai tubuh Jaya Sukmana tergelepar di lantai dapur bersimbah darah.
Bergegas Yuda lari ke atas lantai dua dan masuk kedalam kamar Delima, membuka sarung tangannya dan meletakan sarung tangan itu di sudut tempat tidur Delima.
Dengan mengambil langkah seribu ia meninggalkan rumah itu mambawa kendaraan dan membuang pakaian bagian luarnya yang telah terkena cipratan darah di tong sampah tidak jauh dari rumah itu.
Kembali Yuda menemui Almira di dalam kamar hotel. Nampak Almira masih tidak sadarkan diri. Kemudian Yuda mengambil ponsel milik Almira dan menghubungi Delima.
“Hallo nona Delima tolong sekarang juga datang ke rumah karena nyonya Almira kecelakaan!.” Kata Yuda yang langsung menutup sambungan selulernya.
Terlihat seringai licik di ujung bibirnya. Ia duduk di atas sofa yang berada di kamar hotel itu sembari memandangi wajah Almira yang masih terlelap di atas tempat tidur.
(Saatnya kita menikmati ini semua hanya kita berdua saja sayang.) gumam Yuda.
Tak lama terlihat pergerakan dari tubuh Almira yang mulai tersadar.
“Sayang kita dimana?.” Tanya Almira yang baru mulai tersadar.
“Kamu lupa? Kalau kita berada di kamar hotel?.” Jawab Yuda datar.
“Ah sial!! Kenapa kau tak bangunkan aku! Pasti suamiku telah menunggu di rumah.” Kata Almira bergegas memakai pakaiannya yang berserakan di sembarang tempat. Melihat tingkah kekasih gelapnya itu Yuda hanya tersenyum sinis.
__ADS_1
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤