
Di jalanan Ibukota, nampak sebuah mobil yang ditumpangi Harvan, Jodi dan dua pengawal membelah jalanan Ibukota menuju sebuah mobil yang ditinggalkan di suatu gang kecil yang ditinggalkan Reyhan bersama komplotannya.
Setelah mereka sampai di gang tersebut, kendaraan mereka diparkir di belakang mobil pengawal Garuda 2, bergegas Harvan dan Jodi juga kedua pengawal yang bersama mereka mendekat ke arah pengawal Garuda 2 yang berjumlah tiga orang.
Nampak satu orang team Garuda 2 tengah memegang barang bukti yang telah ia kumpulkan dari dalam mobil Reyhan, di dalam sebuah kantong plastik berukuran sedang. Di dalamnya ada beberapa barang bukti berupa kopiah, baju batik dan sebuah masker.
Sementara satu orang lainnya team Garuda 2, tengah mengambil beberapa sidik jadi dari dalam mobil tersebut, dan satu orang lagi dari team Garuda itu tengah memotret mobil tersebut dari berbagai sisi termasuk nomor polisi dan interior dari mobil tersebut.
Dari kejauhan terlihat dua orang dengan pakaian serba hitam membawa dua buah koper berukuran sedang. Dua orang tersebut adalah masih merupakan team Jodi yang menggunakan mobil lain dan terparkir di luar gang yang sengaja Jodi telepon setelah ia sampai di lokasi tersebut.
Dua buah koper hitam yang mereka bawa adalah satu koper untuk kebutuhan penyimpanan alat bukti, sementara yang satu lagi berisi alat-alat, seperti pingerprint scanner atau alat pemindai sidik jari berupa kamera digital yang digunakan untuk menangkap gambar digital dari pola sidik jari. Dan Mobile Automatic Multi Biometric Identification System adalah merupakan sebuah alat hitam yang ukurannya sebesar mesin gesek kartu ATM. Alat tersebut dapat mengidentifikasi data diri seseorang kurang dari satu menit. Asalkan orang yang diambil sidik jarinya telah terdaftar di elektronik KTP.
Jodi bersama team ditempat itu tengah sibuk melakukan identifikasi alat bukti, sementara Harvan bersandar pada dinding gang tersebut dengan melipat kedua tangannya di dada, memperhatikan mereka dengan sorot mata yang penuh dengan kecemasan.
*
*
Sementara disebuah jalan tol mobil yang ditumpangi Reyhan dan komplotannya juga Harin melaju dengan cepat.
Hingga setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, sampailah mereka ditempat tujuan.
Disebuah Villa mewah yang terletak di puncak Cianjur. Kedatangan mereka disambut oleh Selvy yang susah berdiri didepan halaman villa tersebut.
Dengan senyum lebar Selvy mendekat kearah Reyhan seraya memeluknya.
Sementara dari jendela kamar atas, Revy mengintip dari balik gorden kedatangan Reyhan yang di sambut ibunya tersebut. Dengan leket Revy memperhatikan mereka, penuh dengan tatapan kebencian.
“Bawa bocah itu kedalam, biarkan dia tinggal bersama Revy dikamar atas.” Ujar Reyhan pada Selvy.
“Baiklah sayang.” Jawab Selvy seraya mendekat kearah Harin yang masih duduk dipojokkan jok belakang mobil dengan penuh ketakutan.
“Hai anak manis, ayo keluar, ikut denganku.” Kata Selvy pada Harin dengan senyum yang menyeringai pada sudut bibirnya.
__ADS_1
Harin ketakutan melihat Selvy yang mendekat kearahnya. Ia diam kaku dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ah, susah banget ini anak, ayo keluar!.” Nada kasar Selvy seraya menarik tangan Harin dan menyeretnya masuk kedalam villa tersebut.
Mendapat perlakuan kasar tersebut yang belum pernah Harin dapatkan selama hidupnya ia menangis memanggil nama Ayahnya.
“Ayaaaah, tolong… aku takut.” Rengeknya dalam keadaan tubuhnya yang diseret dengan langkah terhuyung mengikuti langkah lebar Selvy.
“Heh! Jangan panggil nama ayahmu! Disini tidak ada ayahmu! Jangan berisik, aku paling tidak suka mendengar tangisan bocah kecil sepertimu.” Dengan kasar Selvy menyeret tubuh mungil Harin yang dibalut masih dengan mengenakan seragam playgroup rok kotak-kotak warna pink dan mengendong tas pink hello kitty di punggungnya juga mengenakan sepatu boot mungil warna pink kesukaannya.
Harin terus diseret menaiki anak tangga menuju kamar Revy. Setelah sampai di depan pintu kamar Revy, Selvy membuka pintu itu dan mendorong tubuh kecil Harin kedalam ruangan kamar itu, lantas menutup pintu kamar itu kembali dengan keras.
Harin menangis memanggil-manggil nama ayahnya. Ia melihat sekeliling kamar yang begitu asing bagi dirinya. Kemudian tangisannya melemah saat ia mendengar seseorang berkata padanya.
“Kamu jangan menangis, sekeras apapun tangisanmu disini tidak berguna, lebih baik turuti saja apa yang mereka lakukan terhadap kita.” Suara Revy santai, ia duduk dikursi belajarnya tengah anteng menggambar sesuatu dengan tubuh membelakangi Harin.
Perlahan Harin mendekati Revy yang duduk membelakanginya. Kemudian ia berdiri disamping gadis 9 tahun tersebut.
Harin pandangi wajah Revy yang sedikit tertutup oleh rambut panjangnya. Dengan wajah yang masih berlinangan air mata Harin terus memperhatikan Revy.
Harin masih berdiri di sisi Revy, kemudian Revy menghadapkan badannya ke arah Harin masih dalam posisi duduk lalu membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Harin. Kemudian,
“Sudah jangan takut, disini ada aku yang menemanimu. Aku bukan orang jahat seperti mereka.” Suara pelan Revy.
“Namamu Harin kan?.” Tanya Revy, lalu Harin mengangguk pelan.
“Ayo sini.” Revy menarik tangan Harin membawanya keatas tempat tidur. Lalu membukakan sepatu bootnya dan membantu melepaskan tas hello kitty Harin, kemudian mengangkat tubuh kecil itu ke atas tempat tidur.
“Duduklah bersamaku disini, oya namaku Revy, kau boleh memanggilku apa saja. Sebentar lagi seseorang akan mengantarkan makanan untuk kita. Kita makan bersama ya.” Kata Revy. Harin mengangguk pelan. Ia merasa tenang karena telah bertemu dengan orang baik dirumah itu setelah mendapatkan perlakuan kasar dari orang-orang dewasa disitu.
Harin terus memandangi wajah bule Revy yang duduk bersila dihadapannya.
“Kenapa kau pandangi aku seperti itu? Apa wajahku semenakutkan mereka?, tenanglah, bukankah sudah aku katakan, aku tidak sejahat mereka, aku pun sama sepertimu, merupakan korban penculikan mereka. Jadi kau jangan takut padaku ya Harin?.” Jelas Revy menghibur Harin.
__ADS_1
“Terima kasih kakak sudah baik padaku.” Ucapan Harin pelan untuk pertama kalinya ia bersuara dikamar itu. Lalu Revy tersenyum ramah.
“Nah gitu, bicara saja padaku, kamu jangan takut, kecuali pada mereka, jangan sekali-kali kamu bicara pada mereka, Karena mereka orang-orang jahat yang siap membunuh kita kapan saja.” Jelas Revy, mendengar kata-kata yang menakutkan tersebut, Harin ketakutan dan mendekatkan tubuhnya pada Revy seakan meminta perlindungan.
“Hehe, kamu bocah kecil yang lucu, tapi sayang nasibmu lebih malang dariku.” Kata Revy memeluk Harin, Harin merasakan ketenangan berada didalam pelukan Revy karena memang itu yang dia butuhkan saat ini.
Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar kamar, tak lama seorang pelayan masuk membawa dua forsi makanan untuk mereka.
“Nona, mau dimana saya taruh makanan ini?.” Tanya pelayan wanita yang kira-kita berusia 22 tahunan itu.
“Kami ingin makan di atas tempat tidur ini.” Jawab Revy. Kemudian pelayan itu membawa nampan yang berisi dua forsi makanan itu keatas tempat tidur mereka. Lalu pelayan itu pun meninggalkan mereka setelah menyimpan nampan itu diatas tempat tidur.
“Ayo kita makan.” Ajak Revy pada Harin kemudian ia tarik nampan itu ketengah-tengah antara dirinya dan Harin yang duduk berhadapan. Revy mengambil sendok dan menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
Tetapi Harin diam saja, karena ia tidak terbiasa makan sendiri. Ia selalu makan disuapi sang ayah atau om nya Jodi. Melihat Harin yang diam sepertinya Revy faham akan kondisi Harin yang tidak terbiasa makan sendiri.
Kemudian perlahan Revy menyendokan makan untuk Harin dan menyuapinya. Barulah Harin mau melahap makanan untuknya dengan bantuan tangan Revy.
“Kamu tahu tidak? Aku seperti punya seorang adik hehe, tapi jangan khawatir aku suka kok melakukannya, ayo buka mulutnya makan lagi.” Kata Revy kemudian Harin membuka mulutnya kembali dan mengunyah makanan yang Revy suapkan pada mulut kecilnya itu.
Harin merasa senang meskipun jauh dari sang Ayah, ia masih merasakan ada sedikit kasih sayang dari seorang kakak yang baru ia temukan.
“Kakak terima kasih sudah mau menyuapiku, aku biasa makan bersama ayah dan om aku.” Kata Harin pelan.
“Iya aku mengerti, sekarang ada aku disini, jadi kamu tidak perlu khawatir ya, aku juga berterima kasih padamu Harin, kehadiranmu membawa kebahagiaan untukku, aku jadi punya teman dirumah ini.” Jelas Revy, kemudian mereka saling berpelukan.
“Nah mulai sekarang, aku adalah kakakmu, bagaimana?.” Kata Revy.
“Baiklah kak Revy, mulai saat ini, kau adalah kakak terbaikku.” Kata Harin yang sekarang wajahnya berubah bahagia.
“Ayo kita habiskan makannya, setelah makan kita mandi ya, kita mandi bersama, aku tahu kalau mandi pun kamu masih di bantu oleh ayahmu, jadi disini biar aku yang akan memandikan kamu Yah.” Kata Revy dengan senyuman termanisnya.
Meski jauh dari sang ayah yang selalu merawat dan menjaganya, ternyata nasib Harin tidak terlalu buruk. Ia mendapatkan secercah kasih sayang dari seorang Revy yang dengan tulus mau merawatnya, seperti ayahnya yang merawat dirinya.
__ADS_1
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝