Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Mencari Pondok Emak


__ADS_3

Shalat maghrib bersama di rumah sederhana Sulaiman, membuat kedua tamu kecil mereka tambah kerasan. Revy yang tidak pernah diajarkan shalat berjamaah, ternyata dapat mengikuti dengan baik.


Setelah mereka shalat berjamaah, akhirnya pak Ahmad, bu Aminah, Sulaiman, Revy dan Harin duduk bersama diruang tamu, sementara kedua adik Sulaiman yang bernama Musa dan Daud duduk di depan TV.


Kini saatnya pak Ahmad menanyakan perihal masalah yang dihadapi Revy dan Harin.


“Nak Revy dan nak Harin, betul kalian mencari nenek kalian di tempat ini?.” Tanya pak Ahmad.


“Betul pak, aku mencari pondok Emakku tapi aku tidak tahu persis pondok emak dimana. Bahkan nama emak pun aku tidak tahu karena aku belum sempat nanya pada ayah.” Jelas Harin.


“Iya pak, sebenarnya saya tidak mengenal emak karena saya lama tinggal di Jerman bersama oma dan opa, dan yang pernah datang ke rumah emak adalah Harin.” Kata Revy.


“Ok baiklah. Sekarang bapak mau tanya ciri-ciri rumah emaknya bagaimana? Apakah ada tanda-tanda yang mencolok, mungkin dari ciri-ciri itu bapak bisa mengenali.” Kata pa Ahmad.


“Rumah emak di pinggir pantai pak, dan Emakku adalah pendekar yang sangat tangguh. Emak memiliki padepokan, malah aku mau diajarkan sama emak berlatih silat pak, emak cerita itu waktu terakhir aku sama ayah berkunjung ke rumahnya.” Jelas Harin.


Mendengar penuturan Harin, pak Ahmad mendapatkan jalan untuk lebih mengetahui lagi siapa emak yang mereka cari itu.


“Oh berarti emaknya adalah pemilik perguruan silat ya nak?.” Tanya pak Ahmad.


“Iya pak, ibuku dulu menjadi murid kebanggaan emak. Kata ayah ibu pernah tinggal lama bersama emak. Tapi sekarang ibu sudah tidak ada.” Kata Harin tertunduk dan tiba-tiba pikirannya mengingat pada ibunya yang telah tiada hingga membuat air matanya terjatuh.


Melihat Harin bersedih, Revy memeluknya dengan penuh kasih sayang. Melihat penampakan itu pak Ahmad dan bu Aminah merasa kasihan pada kedua anak perempuan yang tersesat itu.


“Baiklah, maafkan bapak kalau apa yang bapak tanyakan tadi membuat dek Harin sedih. Jangan khawatir, besok bapak akan menanyakan pada teman bapak, mudah-mudahan diantara mereka ada yang mengenal emak. Setelah dapat kabar emakmu, nanti bapak akan mengantarkan kalian kerumah emak ya.” Kata pak Ahmad.


“Kamu juga Sulaiman, coba kamu tanya pada teman-temanmu. Siapa tahu diantara temanmu ada yang menjadi muridnya emak.” Sambung pak Ahmad.


“Baik pak, besok saya akan tanyakan pada teman-teman.” Jawab Sulaiman.


“Nah dek Harin dan nak Revy jangan bersedih ya? Nanti Bapak dan Sulaiman akan mencari rumah nenek kalian sampai ketemu, untuk sementara dek Harin dan nak Revy tinggal saja dulu disini, kalian bisa pakai kamar Sulaiman dulu untuk sementara waktu, sementara Sulaiman biar tidur bersama adik-adiknya. Hanya saja rumah kami seperti ini adanya.” Jelas pak Ahmad.

__ADS_1


“Tidak apa-apa pak, saya sangat bersyukur dapat dipertemukan denga Sulaiman dan keluarga. Dengan di ijinkannya kami tinggal disini saja, sudah merupakan kebahagiaan bagi kami, coba seandainya saja kami tidak bertemu dengan Sulaiman entah bagaimana nasib kami.” Ucap Revy lirih sembari memeluk Harin.


Melihat kebersamaan dua anak perempuan itu membuat ibu Aminah merasa terharu melihat mereka.


“Nak Harin dan nak Revy jangan bersedih lagi ya, anggap saja ibu dan bapak adalah orang tua kalian sendiri.” Kata bu Aminah seraya memeluk kedua gadis kecil itu.


“Terima kasih banyak bu. Oya, tunggu sebentar ya bu.” Kata Revy yang kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil tas nya yang ia letakan di sebelah lemari TV.


Ia membuka resleting tas nya dan mengambil dompet miliknya kemudian mengambil sepuluh lembar uang pecahan seratus ribuan yang ia dapatkan dari hasil menukar mata uang Euro nya.


“Bu. Tolong ini pegang sama ibu, kami hanya membawa satu baju ganti. Jadi kami ingin ibu belanjakan beberapa stel pakaian untuk kami, karena kami tidak tahu dimana kami harus membeli pakaian.” Kata Revy seraya menyerahkan uang itu kepada bu Aminah.


Bu Aminah merasa ragu kemudian ia melirik pada suaminya, lalu suaminya menganggukan kepala tanda menyuruhnya untuk mengambil uang tersebut.


“Begini saja, besok pagi-pagi kita ke pasar bersama dan kita beli beberapa stel pakaian untuk kalian, bagaimana?.” Tanya bu Aminah pada Revy.


“Ayo bu aku ingin ke pasar, aku belum pernah masuk ke pasar.” Kata Harin senang, berubah langsung air mukanya dan hilang kesedihan yang ia rasakan tadi.


“Baik bu.” Jawab Revy.


“Oya nak Revy maaf ibu mau tanya, nak Revy punya uang sebanyak ini dari mana?.” Tanya bu Aminah.


“Waktu aku di Jerman, nenek sering memberi aku uang jajan tapi aku gak pernah jajan bu jadi uangnya aku kumpulkan. Waktu aku sampai disebuah kota aku menukarkan mata uang Jerman ke uang rupiah.” Jelas Revy.


“Oh begitu. Maaf ya nak, ibu banyak bertanya.” Kata bu Aminah.


“Tidak apa-apa bu.” Jawab Revy.


“Ya sudah, sekarang kalian tidur, bapak sama Sulaiman mau melaut dulu.” Kata pak Ahmad.


“Bapak, aku boleh ikut tidak? Aku ingin seperti bapak menangkap ikan Indosiar.” Kata Harin.

__ADS_1


“Hehe, anak pintar, sepertinya anak gadis tidak boleh melaut karena angin laut bahaya untuk anak perempuan, jadi urusan menangkap ikan itu hanya untuk lelaki.” Jelas pak Ahmad.


“Oh begitu ya.” Harin sedikit kecewa.


“Iya anak pintar, urusan menangkap ikan itu tugasnya lelaki, sementara urusan perempuan itu di dapur memasak.” Kata bu Aminah.


Kemudian Harin dan Revy dibawa bu Aminah masuk ke kamar, sementara Sulaiman dan ayahnya bersiap untuk melaut.


*


*


Malam itu diceritakan di tempat lain tepatnya di pondok emak. Nampak Harvan dan Jodi tengah berbincang di atas dipan.


“Dua malam sudah gue kehilangan Harin Jod, gue rindu putri gue, dia lagi ngapain ya sekarang Jod?, biasanya malam-malam gini dia lagi lihat ibunya atau lagi bermanja sama gue.” Kata Harvan dengan pandangan lurus mengitari lautan malam.


“Iya Har, gue juga kangen dia, dua hari tangan ini tanpa memangku dia, rasanya ada yang hilang dari diri gue. Apalagi elo yang menjadi ayah sekaligus ibu buat Harin, rasanya mungkin jauh lebih kehilangan dari gue.” Kata Jodi dengan posisi yang sama.


“Gue rindu sama cerewet dan manjanya Jod, persis Intan kalau dia udah marah-marah. Benar-benar dia duplikat Intan.” Harvan membayangkan istrinya.


“Iya Har, anak itu bener-bener ngangenin. Gue nyesel kawin sama iblis betina si Vivi itu, gue bener-bener tertipu sama dia. Pantas saja dia datang tiba-tiba dalam hidup gue, seolah nyari jalan buat deket sama Intan. Gak tahu nya dia punya niat terselubung buat bunuh Intan.” Kata Jodi dengan penuh penyesalan.


“Udahlah Jod, semua ini memang sudah di atur sama yang Maha Kuasa, kita gak bisa apa-apa. Yang terpenting sekarang kedepannya kita harus lebih hati-hati lagi.” Ujar Harvan.


“Iya sih, cuma gue ngerasa bodoh aja Har, bisa-bisa nya gue lemah, padahal urusan mengungkap kejahatan orang adalah salah satu kerjaan gue. Gue sampe gak sadar memelihara penjahat di rumah gue sendiri.” Kata Jodi.


Dengan penuh penyesalan Jodi mengungkapkan segala yang pernah terjadi. Dalam benaknya ia membayangkan, mungkin seandainya ia tidak tergoda oleh Vivi, kematian Intan tidak akan pernah terjadi, dan Harin dapat merasakan belaian seorang ibu seperti anak-anak kebanyakan.


Tapi sebagai manusia kita harus sadar, bahwa segala yang telah terjadi adalah atas kehendakNya, tak banyak yang bisa kita lakukan, selain menerima segalanya dengan lapang dada, meski itu sangat menyakitkan.


💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔

__ADS_1


__ADS_2