
Sementara itu di tempat lain tepatnya di daerah puncak Cianjur nampak pasangan dajjal telah menikmati serangan pajarnya. Tubuh mereka yang bermandikan peluh sama-sama lemas di atas tempat tidur tanpa sehelai benang pun.
Selvy dan Reyhan kembali terlelap dalam buaian mimpinya setelah mereka melakukan penyatuan diri. Namun baru saja mereka akan terpejam suara ponsel Reyhan berdering.
“Ah ganggu saja! Siapa sih pagi-pagi buta telepon!.” Reyhan mengumpat si penelepon.
“Hallo!.” Mata Reyhan yang masih tertutup berusaha menerima panggilan pada ponselnya.
“Hallo brow maaf pagi-pagi ganggu hehe.” Suara di balik sambungan seluler.
“Eh elo Do, ada apa? Pagi-pagi udah ganggu gue aja!.”
“Sorry Rey kalau gue ganggu, gue cuma mau nanyain kabar elo aja, rasanya udah lama gak denger kabar elo.” Ujar Aldo sahabat Reyhan satu-satunya itu.
“Kabar gue baik Do, elo sendiri bagaimana?.”
“Gue juga baik Rey, kenapa luh sekarang gak pernah ke rumah gue lagi?.”
“Gue lagi sibuk dengan persidangan Do, makanya gue gak pernah ke tempat elo.”
“Persidangan? Persidangan apa?.” Selidik Aldo.
“Persidangan ngelawan si Harvan, dia udah ngambil anak gue si Revy, si Revy sekarang kan tinggal sama si Harvan, gue sama Selvy mau ngambil dia susah karena itu anak gak mau ikut sama kita, jadi kita gugat hak asuh Revy biar dia mau gak mau tinggal sama kita.”
“Oh gitu.. elo terlalu galak kali jadi anak elo sendiri gak mau tinggal sama elo haha.”
“Gue kan emang begini Do, oya kebetulan Do kira-kira elo punya kenalan gak? Orang yang jual beli senjata ilegal?.”
“Apa? Senjata ilegal? Buat apa luh nyari senjata?!.” Aldo curiga Reyhan akan melakukan sesuatu.
“Ya buat bunuh si Harvan lah sama anaknya, rencana gue, kalau kali ini gue gagal, gue mau langsung aja tembak dia haha.”
“Serius luh!.” Aldo terkejut dengan pernyataan Reyhan itu.
“Do, gue gak pernah main-main sama itu setan! Gue udah gak sabar pengen lihat dia mati di tangan gue haha.”
“Gila luh.”
“Abisnya dia tuh susah banget gue tumbangin, Jadi gue mau langsung dor dia aja deh haha.. jadi gimana? Elo ada temen gak yang jual senjata?.”
“Hm. Kayaknya gue gak punya deh Rey kalau temen yang jual cewek banyak haha.”
“Sialan luh! Tapi boleh deh itu juga haha.”
__ADS_1
“Gila luh ya.. nanti iblis betina luh ngamuk-ngamuk luh haha.”
“Ah dia mah gampang Do, kalau ngamuk tinggal gue rantai aja haha.”
“Anjir.. parah luh haha.”
“Haha.. oya jadi elo gak ada temen yang jual senjata ya?”
“Sumpah gak ada Rey. Tapi nanti gue mau nanya-nanya deh, kalau ada gue pasti hubungi elo.”
“Siap Do,thanks ya.”
“Oke. Ya udah dulu ya Rey kapan-kapan gue nanti main ke tempat luh. Bye.”
Tut….. Dan sambungan ponsel pun terputus.
Mendengar Reyhan akan membeli senjata untuk membunuh Harvan bergegas Aldo menghubungi Harvan.
“Hallo Har!.” Sapa Aldo pada Harvan.
“Eh Hallo Do kemana aja?.”
“Ada Har, gue lagi sibuk buka cabang di luar kota.”
“Ah lumayanlah Har, gue kan berguru dari elo hehe.. oke Har makasih atas perhatian elo, oya Har, gue mau ngasih tahu elo, barusan gue abis telepon si Reyhan katanya kalian lagi duel di meja hijau ya? Dia ngomong ke gue baru aja, elo bener-bener harus hati-hati ya Har, dia bilang ke gue kalau dia lagi mencari senjata ilegal buat di pake bunuh elo sama putri elo kalau rencana dia kali ini galal.”
“Apa! Senjata ilegal?.” Buat bunuh gue sama Harin?.”
“Iya Har, elo harus hati-hati kalau ketemu dia ya? Pokoknya elo harus bener-bener jaga diri elo sama jaga putri elo baik-baik. Dia udah bener-bener gila Har, udah gak bisa di bilangin lagi.”
“Iya Do, gue akan lebih hati-hati, makasih info nya ya Do.”
Oke sama-sama Har. Ya dah gue mau lanjut kerja lagi, kalau ada info lagi nanti gue hubungi elo.”
Tut sambungan ponsel terputus.
*
Sementara itu di tempat lain, di sebuah gedung kantor yang menjulang tinggi nampak Harvan dan Jodi tengah duduk bersama pada sofa di ruang kerja Harvan setelah menerima panggilan seluler dari Aldo.
“Makin gila aja tuh duo dajjal ya.” Geram Jodi.
“Iya Jod, gue makin gak ngerti aja jalan pikiran si Reyhan, kok bisa-bisa nya ya dia kayak gitu sama gue.”
__ADS_1
“Dia udah gelap mata Har, elo sepertinya butuh pengawalan ketat Har.”
“Apa harus kayak gitu Jod?.”
“Elo gak denger tadi apa yang di sampaikan si Aldo?.”
“Iya cuman kayanya terlalu berlebihan deh kalau gue mesti di kawal ketat segala, buat gue di jaga elo aja gue udah cukup Jod.”
“Tapi kali ini beda Har, elo lagi duel sama dia di meja hijau, dia bener-bener akan berusaha semaksimal mungkin buat memenangkan perkara ini dan itu akan membuat dia tambah gila seandainya dia kalah Har. Bagaimana? elo gak apa-apa kan kalau gue nurunin personil gue buat jaga elo?.”
Harvan diam sejenak, kemudian
“Ya kalau memang itu di rasa penting, terserah elo aja Jod, elo lebih ngerti jadi semuanya gue serahin sama elo aja.” Harvan kali ini lebih serius menanggapi semua yang Jodi katakan.
“Ya udah kalau gitu, nanti gue suruh mereka buat bener-bener jaga elo.”
“Oya Jod, besok kita ke rumah emak antar Harin kesana.”
“Oke Siap! Pagi-pagi kita berangkat.”
Kemudian mereka melanjutkan pekerjaannya dan Jodi pun kembali keruangan kerjanya.
Setelah berjibaku dengan pekerjaan dalam laptopnya, Harvan sepertinya membutuhkan sedikit waktu untuk istirahat sejenak, lalu ia melangkahkan kaki menuju ruang pribadi putrinya di kantor itu.
Ia masuk ke ruangan dimana putrinya tengah tertidur namun tab di sampingnya masih menyala. Di raihnya tab itu dan di lihatnya, nampak di dalamnya video Delima yang tengah berbicara pada putrinya. Karena penasaran Harvan memutarnya dari awal.
Di dalam video itu terlihat Delima yang sesekali menyeka air matanya memulai pembicaraannya.
“Sayang… maafkan ibu kalau pada saat kau terbangun nanti, kau tak menemukan ibu. Ibu pergi dulu sebentar ya nak, ibu harus menyelesaikan urusan ibu dulu. Kamu baik-baik di rumah ya sayang… jangan nangis, kalau kamu nangis, itu akan membuat ibu tak tenang. Belajar yang rajin ya sayang biar kamu jadi anak pintar dan sukses. Jangan menunggu ibu pulang karena ibu masih sibuk dengan berbagai macam urusan, kalau kau rindu pada ibu, putarlah video-video kebersamaan kita. Disini ibu akan selalu mendoakanmu. Jaga diri baik-baik ya nak, ibu sayang padamu.”
Setelah melihat tayangan Delima, Harvan merebahkan dirinya di samping putrinya dan memeluk putrinya itu. Terlihat buliran bening menetes dari pipi kirinya.
“Maafkan ayah ya nak. Ayah telah memisahkanmu dengan ibu. Ayah salah… dan ayah minta maaf. Ayah janji padamu akan mencari ibu sampai ketemu.” Ia membathin sembari mencium pucuk kepala putrinya itu.
Kini Ia menyadari kesalahannya, bahwa apapun yang di lakukan dengan dorongan emosi akan memberikan dampak buruk terhadap apa pun itu. Begitu pun yang Harvan kini rasakan, dengan mengusir Delima dari rumahnya sangat berdampak buruk pada putrinya itu.
Setelah kepergian Delima, putrinya nampak murung dan tak banyak bicara, ia tidak seperti sebelumnya, kini ia lebih banyak diam dan sering menyendiri. Tak jarang anak itu sering menangis di malam hari. Kondisi itu membuat Harvan semakin merasa bersalah.
Harin sangat membutuhkan kehadiran Delima, di matanya Delima adalah sosok ibu yang telah kembali dari kepergiannya. Namun Harvan tak terpikirkan hal itu kala mengusir Delima, emosinya telah menutup segalanya hingga membuat putrinya alami kehilangan yang sangat dalam.
Ia membayangkan seandainya Delima tak ia temukan, akan seperti apa keadaan putrinya kedepannya nanti. Untuk itu ia berjanji pada dirinya sendiri juga kepada putrinya, akan berusaha mencari Delima sampai ia menemukannya.
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
__ADS_1