
Sore itu keceriaan semakin terpancar kala tubuh kecil dalam gendongan Jodi memasuki area salah satu Mall terbesar di pusat Ibukota.
“Om.. aku mau itu!.” Tunjuk Harin pada salah satu benda di toko mainan.
Jodi pun membawanya masuk ke dalam toko mainan tersebut dan membiarkan putri kecil itu berlarian memilah milih mainan yang ia suka.
Sementara Jodi memperhatikan dengan senyumannya di dekat meja kasir.
“Om… aku mau ini juga ya?.”
“Iya sayang… ambil semua yang kau suka.”
Entah sudah berapa mainan yang ia kumpulkan dalam troli, gadis kecil itu masih merasa kurang puas.
“Sudah cukup sayang?.” Tanya Jodi menghampiri Harin yang tengah melihat-lihat mainan di depannya.
“Belum om, satu lagi ya?.”
“Iya boleh.”
Setelah putri kecil itu mengambil satu mainan lagi baru lah ia puas dan menunggu kasir menghitung semuanya. Setelah Jodi selesai membayarnya, kemudian,
“Kamu mau kemana lagi sayang?.” Tanya Jodi.
“Aku mau kesitu om?.” Menunjuk pada arena permainan. Lantas Jodi pun membawa Harin ke arena permainan anak tersebut.
Entah sudah berapa jam mereka disana, pada saat Jodi melirik pada jam tangannya waktu sudah menunjukan jam makan malam.
“Sayang, apa kau sudah puas? Kita makan dulu ya sayang?.” Ajak Jodi karena ia mengkhawatirkan perut putri kecil itu.
“Sebentar lagi ya om, aku ingin naik kereta itu sekali lagi.”
“Baiklah.” Jawab Jodi dengan sabar.
Setelah selesai mereka pun akhirnya memasuki food court yang tidak jauh dari arena permainan anak-anak itu.
Jodi memesan beberapa jenis makanan yang Harin suka.
“Sekarang makan dulu ya sayang, setelah makan kita pulang.”
“Baik om.” Kemudian Harin mengambil makanannya dan mulai melahapnya.
“Om, aku sayang om. Karena Ijong sudah membuat aku bahagia.”
“Benarkah? Kalau begitu cup om dulu dong.” Seperti biasa Jodi mendekatkan pipinya pada putri kecil yang berada di sampingnya itu.
“Muach.” Gadis kecil itu mencium pipi Jodi.
“Hehe makasih kesayangan om. Ya sudah sekarang habiskan makanannya ya?.” Jodi mengelus pucuk kepala Harin, lalu ia memperhatikan putri kecil itu menyantap makanannya.
Setelah selesai menghabiskan makanannya mereka pun kembali ke kediamannya. Pergi membersihkan diri dan beranjak ke atas tempat tidur.
__ADS_1
*
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di Villa puncak Cianjur. Selvy yang sudah mengemasi pakaiannya ke dalam koper, keluar dari kamar dengan membawa koper besar tersebut.
Ia melihat ke sekeliling ruangan dalam villa itu nampak sepi. Dan ia menduga bahwa Reyhan belum kembali setelah kepergiannya tadi selepas mereka bertengkar.
Taksi online yang sudah ia pesan nampak telah menunggu di luar gerbang villa tersebut. Perlahan ia melangkahkan kakinya ke luar dari villa tersebut, sesaat ia menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang melihat villa tersebut dengan genangan air matanya, tak lama kemudian ia membalikan tubuhnya kembali dan berjalan menuju ke arah taksi itu berada. Lalu ia memasuki taksi itu dan taksi yang membawa dirinya perlahan menghilang membawanya pergi meninggalkan villa tersebut.
Entah akan kemana ia pergi. Akan kah ia kembali ke Jerman? Atau pergi ke tempat lain? Hanya ia dan Tuhan yang tahu. Namun terlihat dari sorot matanya nampak cahaya kemarahan dan kekecewaan tengah menggantung dalam benaknya. Ya kemarahan dan rasa kecewa pada Reyhan yang selama ini ia anggap orang yang paling ia percaya, sampai ia rela menjadi budak nafsunya dan mengorbankan waktu dan materinya untuk lelaki itu, namun apa yang ia dapat? Jangan kan di cintai. Merasa di hargai pun tidak.
Padahal seandainya Selvy mau, ia mampu mendapatkan lelaki yang lebih dari pada Reyhan. Namun nasi telah menjadi bubur, segala harapan yang telah ia gantungkan padanya pupus sia-sia. Memiliki pasangan toxic seperti Reyhan tentulah sangat berat baginya, dimana ia adalah pihak yang sangat di rugikan selama ini. Maka jalan satu-satu agar terbebas dari toxic relationship dengan Reyhan adalah dengan menghindarinya. Mau tidak mau! Suka tidak suka! Itulah yang harus di jalani.
Di dalam perjalanannya ia terus diam hanya air mata yang mengalir di kedua pipinya.
‘Revy… maafkan mama nak. Mama telah banyak melakukan kesalahan dalam hidup mama. Seharusnya kau mendapatkan kasih sayang yang normal tapi kau begitu menderita. Maafkan mama nak… akankah kau dapat memberikan mama kesempatan untuk memulainya dari awal lagi? Tunggu mama nak, mama akan minta maaf padamu dan kakekmu. Ku harap kalian dapat memaafkanku’ bathin Selvy dengan deraian air mata.
Entah sudah berapa jam ia lalui untuk sampai ketempat tujuan, dan kini ia sudah sampai di halaman kediaman Harvan.
Malam itu tiba-tiba saja Hujan besar turun disertai petir yang saling bersahutan. Sedikit membuat nyali Selvy ciut, namun hasrat ingin bertemu dengan ayah dan putrinya begitu besar hingga melunturkan rasa takutnya.
Setelah ia turun dari taksi tersebut ia mendekat ke arah gerbang, dimana di sebelah gerbang terdapat pos satpam. Lalu dengan pakaian basah kuyup ia mendekat ke arah pos satpam.
“Permisi pak, apakah saya bisa bertemu dengan tuan rumah?.” Dengan lembut Selvy menyapa satpam yang menjaga pintu gerbang rumah Harvan.
“Oh maaf bu, tuan sama nyonya sedang pergi keluar kota. Apa ibu sudah punya janji?.”
“Mh.. tidak, saya mendadak datang kesini, oh tuan nya lagi tidak ada di rumah ya?, baiklah kalau begitu, Apa saya dapat bertemu dengan papa dan putri saya pak?, mereka tinggal di rumah ini.”
“Tolong pak sebentar saja. Saya harus ketemu mereka.” Selvy memohon penuh harap.
“Maaf bu, ini sudah malam sekali. Pasti mereka sudah pada tidur. Saya tidak berani mengganggu mereka.”
Sementara itu di balkon kamar atas, setelah Jodi menina bobokan Harin, dan terlihat Harin nampak pulas, ia beranjak pergi menuju balkon kamar tersebut. Karena hujan begitu deras dan sesekali petir terdengar menggelegar, ia hendak menutup gorden dan mengunci pintu menuju balkon di kamar tersebut.
Namun pada saat ia hendak menutup gorden, dari atas ia melihat satpam seperti tengah berbicara dengan seseorang namun tidak jelas dengan siapa karena posisi seseorang itu terhalangi oleh pagar tinggi. Karena penasaran, akhirnya Jodi berinisiatif turun ke bawak untuk melihat.
Setelah sampai di lantai bawah ia bergegas menuju pintu utama dan membuka pintu ruang utama tersebut. Setelah ia membuka pintu, ia berdiri di teras depan melihat keadaan.
“Pak… pak!.” Panggil Jodi pada pak satpam sedikit keras melawan suara hujan. Kemudian pak satpam mendekat menembus hujan.
“Bapak bicara dengan siapa?.” Tanya Jodi.
“Itu tuan, ada yang seorang wanita menanyakan tuan besar, cuma saya bilang tuan sedang tidak ada di rumah. Kemudian dia meminta ingin bertemu dengan ayahnya dan putrinya. Karena sudah malam dan saya tidak berani bangunkan tuan Jodi, akhirnya saya katakan pada dia untuk datang kembali besok kesini.”
Jodi sedikit terhenyak saat satpam mengatakan kalau wanita itu ingin bertemu dengan ayah dan putrinya.
‘Mungkin kah yang di depan itu Selvy?’ Bathin Jodi.
“Apa wanita itu masih ada pak?.” Tanya Jodi penasaran.
“Setelah saya suruh dia datang lagi besok, dia pergi tuan.”
__ADS_1
Dengan cepat Jodi menembus air hujan untuk memastikan apakah wanita itu masih ada di depan gerbang atau tidak.
Setelah ia sampai di depan gerbang, wanita itu masih terlihat berjalan menjauh dengan membawa koper besar.
Dilihat dari postur tubuhnya, Jodi meyakini kalau wanita itu adalah Selvy. Kemudian Jodi setengah berlari mendekati wanita itu.
“Tunggu.” Kemudian wanita itu membalikan badannya.
‘Benar saja dia Selvy, ada apa dengan Selvy?.” bathin Jodi. Namun ada sedikit yang berbeda, biasanya Selvy terlihat berdandan menor, tapi kali ini tidak. Entah make up nya habis tersapu air hujan atau memang kali ini tanpa riasan, yang jelas Jodi melihat penampilan yang lain dari seorang Selvy.
“Kau mencari papamu dan Revy?.” Tanya Jodi dengan wajah dinginnya. Jarak antara mereka kira-kira 10 Meter. Kemudian perlahan Selvy mendekat hingga jarak mereka berhadapan kurang dari 5 meter.
“Ya, aku mencari papa dan putriku. Apa aku bisa menemuinya?.” Terlihat matanya sembab dan bibirnya pucat.
“Mereka sudah kembali ke Jerman beberapa waktu lalu Selvy. Jika kau ingin menemuinya kau harus pulang ke rumahmu.”
Selvy terdiam kemudian terlihat menganggukan kepalanya, deraian air mata yang menyatu dengan air hujan nampak terlihat, Jodi sedikit heran dibuatnya. Biasanya yang ia lihat adalah sosok Selvy dengan wajah angkuh yang cadas dengan kata-kata kejamnya namun kali ini tidak.
“Ya saya akan pulang, terima kasih Jodi.”
Kemudian pak satpam datang memberikan payung yang sudah terbuka pada Jodi hendak memayungi tuannya itu. Namun Jodi mengisyaratkan agar payung itu diberikan pada Selvy. Kemudian satpam itu lari ke arah Selvy dan memayunginya.
Selvy pun menerimanya dan, “terima kasih pak.” Ucapnya lirih.
“Apa kau tidak ingin berteduh dulu di rumah kami sebentar Selvy?.” Tawar Jodi karena ia tidak tega melihat Selvy basah kuyup, hilang kala itu pikirannya terhadap sosok Selvy yang jahat.
“Tidak. Terima kasih Jodi, saya akan langsung ke bandara. Sebelum saya pergi, satu hal yang ingin saya sampaikan, hati-hati dengan Reyhan, ia memiliki senjata yang akan di gunakan untuk membunuh kalian, dia tidak akan berhenti. Kamu boleh percaya atau tidak, tapi itu lah kenyataannya, maafkan atas segala kesalahan saya Jodi dan tolong sampaikan juga maaf saya pada Harvan dan seluruh keluarganya.” Setelah mengucapkan itu, Selvy berlalu menjauh pergi dengan menggunakan payung yang di berikan satpam tadi.
Jodi hanya terdiam kala Selvy katakan itu. Ia pandangi punggung Selvy yang berlalu di bawah guyuran air hujan sampai hilang dari pelupuk matanya.
Kemudian Jodi kembali kedalam rumahnya lalu mengganti pakaiannya, setelah ia rapi kembali, ia duduk pada sofa dan mengambil ponselnya di meja hendak menghubungi seseorang.
Lama sekali ia menunggu panggilannya di terima, sampai ia harus menghubunginya beberapa kali. Untuk panggilan yang kesekian kalinya akhirnya di terima.
“Hm… ada apa… ah… ganggu aja luh…oh.” Suara serak di seberang ponsel.
“Har! Eh anjir.. elo lagi ngapaian? Haha.. lagi mantap-mantap luh?.”
“Mh.. ngapain sih luh.. ouh…”
“Ya udah Sorry gue ganggu haha… gue gak tahu kalau elo lagi bercocok tanam hahay… anjiiir luh bikin gue tegang aja haha.”
“Udah ngomong cepet… ah… ada apaan sih malem-malem telepon gue.. oh.”
“Entar aja deh ah… elo lanjut aja dulu. Kalau udah selesai telepon gue.” TUT.. nada sambung sengaja di putus oleh Jodi.
“Dasar gila! Mending gak usah di angkat aja kali dari pada gue denger suara-suara mesin reproduksi orok huh!.” Bathin Jodi menjerit karena tak memiliki lawan.
Akhirnya ia membenamkan dirinya di bawah selimut bersama putri kecil Harin.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1