Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Bunda-bunda Playgroup tebar pesona


__ADS_3

Pagi ini Harin bangun lebih pagi, karena hari ini adalah hari pertama ia akan masuk sekolah. Ayahnya akan mengantarkannya ke sekolah. Jodi yang tempo hari diperintahkan Harvan untuk mencari sekolah untuk Harin, kini sudah menemukannya, langsung ia mengurusi segalanya saat itu, dan tiba lah hari ini adalah hari pertama Harin masuk ke sekolahnya.


Jodi akan mengantarkan mereka ke sekolah sebelum ia ke kantor. Karena di hari pertama Harin bersekolah, Harvan sendiri yang ingin mengantarkannya.


Setelah mereka selesai sarapan, mereka pun masuk bersama-sama kedalam kuda besinya. Lalu Kuda besi itu pun melaju meninggalkan rumah mereka.


Dalam waktu yang tidak begitu lama, akhirnya mereka sampai disebuah sekolah yang cukup besar. Sebuah yayasan swasta menaungi sekolah tersebut, yang terdiri dari sekolah khusus untuk anak-anak sebelum memasuki sekolah dasar, dan mereka juga menyediakan kelas untuk pendidikan dasar hingga kelas dua belas.


Sekolah tersebut merupakan sekolah Internasional dan termasuk sekolah favorit, dimana yang bersekolah disana adalah kebanyak anak-anak dari kalangan atas.


Harvan yang membawa Harin telah sampai dihalaman parkir sekolah tersebut. Setelah Jodi mengantarkan mereka, Jodi kembali tancap gas menuju kantornya.


Harvan membawa Harin memasuki halaman sekolah tersebut, nampak anak-anak sekolah lain yang telah datang lebih awal tengah bermain di area itu. Kemudian Harvan menuju sebuah tempat yang terletak tidak jauh dari gerbang, ia berjalan ke sebuah gedung yang sedikit mencolok dari gedung-gedung lainnya, karena warna-warni khas sekolah untuk anak balita menghiasi dinding-dinding gedung tersebut. Sudah dapat dipastikan bahwa itu adalah gedung playgroup untuk sekolah anaknya itu.


Perlahan Harvan mendekati gedung tersebut, nampak beberapa anak dengan ibunya telah terlihat dihalaman salah satu ruangan. Tak jauh dari sana seorang wanita menangkap kehadiran Harvan dan Harin.


“Maaf tuan ada yang bisa saya bantu?.” Tanya seseorang, yang melihat kedatangan Harvan. Perempuan manis yang kira-kira berusia 20 tahunan menyapa Harvan.


“Oh maaf nona, apakah betul disini ruangan kelas untuk playgroup?.” Tanya Harvan pada wanita itu. Sementara Harin melirik kesekeliling, kelihatannya Harin senang berada disitu.


“Betul Tuan, kebetulan saya yang mendampingi anak-anak yang duduk di kelas playgroup. Perkenalkan nama saya Ayudia.” Perempuan itu memberi salam.


“Oh iya maaf, Kemarin asisten saya mendaftarkan anak saya untuk bersekolah disini.” Kata Harvan.


“Maaf apakah atas nama Berlian Putri Harin?.” Tanya wanita tersebut.


“Betul nona, saya ayahnya dan ini Berlian Putri Harin yang anda maksud.” Jelas Harvan seraya menunjukkan putrinya yang tengah ia gandeng.


“Oh baiklah, segala administrasinya kemarin sudah langsung diurusi oleh asisten anda, dan hari ini putri anda sudah bisa memulai belajarnya.”


“Baik nona terima kasih.” Kata Harvan.


“Karena belum masuk jam kelas, jadi silahkan anda menunggu disini.” Jelas wanita tersebut.


“Baik terima kasih.” Kata Harvan yang kemudian membawa putrinya pada area taman yang memiliki playground disekitarnya.


“Kau senang sekolah disini nak?.” Tanya Harvan pada putrinya.


“Tentu saja Ayah, disini banyak mainan, aku senang sekali sekolah disini.” Jawab putri cantiknya itu.


“Ayah aku ingin naik perosotan itu.” Ujar Harin menunjuk ke area bermain.


“Baiklah ayo kita kesana.” Ajak Harvan pada putrinya yang kemudian membawanya ke area tersebut.


Harvan menemani putrinya bermain di area itu. Tidak jauh dari area bermain, nampak lima orang ibu-ibu muda tengah memperhatikan Harvan dan Harin.


“Eh bunda Claire coba lihat, itu sepertinya anak yang sedang bermain sama ayahnya sepertinya anak baru ya?.” Kata seorang ibu muda berbicara pada seseorang disebelahnya.


“Iya bunda cira, kata miss Ayudia pengasuh anak Playproup flower 1, katanya akan ada anak baru yang masuk.” Jawab ibu muda tersebut.


“Ganten ya ayahnya hehe.” Ujar ibu muda yang lain.


“Iya. Tp kok ayahnya ya yang mengantar anaknya kesekolah. Ibu nya kemana? Kasihan benar ayah tampan itu harus mengantar dan menjaga anaknya sekolah.”


“Mungkin ibunya tidak perduli kali ya?.”


“Ah masa sih tidak perduli sama anaknya yang lucu seperti itu.”

__ADS_1


“Atau mungkin ibunya lebih sibuk dari ayahnya, jadi terpaksa ayahnya yang mengantar anaknya kesekolah.”


“Ih keterlaluan banget ibunya kalau begitu.”


“Iya, aku saja dulu kerja di Bank, tahu sendiri kan? Kerja di Bank sibuknya seperti apa?, tapi demi anak aku resign dari kerjaan aku.”


“Eh tapi bisa saja mungkin ibunya sudah tidak ada, bisa saja kan?.”


“Bisa jadi memang ibunya tidak ada, kasihan ya ayahnya, harus kerja juga, sudah gitu ngurusin anaknya.”


“Tapi kelihatannya ayahnya itu bukan orang sembarangan loh, lihat saja pakaiannya stelan jas, pastinya ia memiliki pekerjaan yang cukup bagus, harusnya ia memiliki baby sitter untuk mengurus anaknya, kalau memang istrinya tidak ada.”


Banyak cerita dari bunda-bunda Playgroup itu kala mereka memperhatikan kedekatan Harin dengan ayahnya.


Kemudian terdengar pengasuh kelas mereka memanggil anak-anak tanda jam kelas sudah mulai masuk.


Akhirnya anak-anak yang bermain di taman satu persatu memasuki ruang kelasnya.


“Ayo Harin sayang, sepertinya kelas akan segera dimulai, tuh lihat teman-temanmu sudah mulai masuk kelas.” Ajak Harvan pada putrinya.


“Aku tidak mau ayah, aku ingin ayah juga ikut serta masuk ke ruangan itu.” Rengek Harin.


“Tidal bisa sayang, itu kelas khusus untuk kamu belajar, ayah akan menunggu kamu disini ya sampai kamu pulang.” Jelas Harvan yang kemudian menggendong putrinya yang mulai terlihat berkaca-kaca pada mata indahnya.


“Aku ingin belajar bersama ayah didalam.” Rengek Harin yang mulai menangis.


“Eh anak ayah kan anak pintar, jangan nangis ya sayang, ayo coba ingat apa kata ibu. Ibu bilang Harin harus rajin belajar biar nanti jadi anak pintar.” Jelas Harvan memeluk erat putri kesayangannya itu.


“Maaf ayah Harin, Harin nya kenapa?.” Tanya Ayudia yang kebetulan pengasuh di kelas Harin.


“Ini nona, anak saya belum terbiasa, jadi dia belum mau masuk ke kelasnya.” Jelas Harvan.


“Hai anak pinter, kenapa nangis?, kita main yuk sama Miss di dalam kelas, oya kenalkan namaku miss Ayudia yang akan menjagamu di kelas, namamu siapa anak pintar?.” Tanya Ayudia pada Harin yang menyembunyikan wajahnya pada dada ayahnya yang bidang.


“Harin.” Jawabnya yang wajahnya masih menelungkup pada dada ayahnya.


“Wah cantik sekali namanya, ayo Harin ikut Miss Ayudia ke kelas yuk, eh dikelas banyak mainan loh, Harin suka mainan apa? Ada banyak mainan dan buku-buku di dalam sana.” Jelas Ayudia. Harin mulai tertarik, ia mengangkat wajahnya, dan memandangi Ayudia.


“Benarkah di dalam sana banyak mainan untukku?.” Tanya Harin pada Ayudia.


“Tentu saja banyak sayang, Harin bisa main sepuasnya, gimana? Mau tidak sama miss Ayu masuk ke dalam kelas?.” Bujuk Ayudia. Harin terdiam seperti berfikir kemudian ia melirik pada ayahnya, ayahnya menganggukkan kepala padanya.


“Biar ayahnya Harin menunggu disini saja ya? bagaimana mau tidak? Nanti miss Ayu akan beri hadiah untuk Harin.” Bujuk Ayudia kembali.


“Ayo sayang, masuk kedalam kelas, ayah akan menunggumu disini sampai kamu keluar dari kelas itu.” Bujuk Harvan.


“Tapi ayah jangan pergi kemana-mana.” Kata Harin pelan.


“Tidak sayang, ayah akan menunggumu disini selama kamu di dalam sana, ayah tidak akan pergi kemana-mana, percayalah.” Bujuk Harvan kembali.


“Baiklah Ayah, aku akan ikut masuk ke kelas bersama Miss Ayu.” Kata Harin.


“Anak pintar! Ayo sini ikut sama Miss Ayu.” Kata Ayudia hendak mengambil Harin dari pelukan sang Ayah. Perlahan Harin melepaskan pelukan dari ayahnya, kemudian,


“Ayah janji ya? Jangan pergi kemana-mana.” Kata Harin yang kini telah berpindah pada pangkuan Ayudia.


“Iya sayang, ayah tidak akan kemana-mana, ayah akan menunggumu disini.” Ujar Harvan pada putrinya.

__ADS_1


Kemudian Ayudia membawa Harin masuk ke dalam kelas. Sementara Harvan memandangi putrinya yang digendong Ayudia memasuki kelasnya.


Pandangan Harvan mengitari sekeliling taman tersebut, suasana telah sepi karena anak-anak sudah masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Tinggalah beberapa orang dewasa yang tengah duduk di taman tersebut.


Terlihat ibu-ibu muda yang tengah berbisik-bisik dengan pandangan yang mengarah pada Harvan. Harvan melemparkan senyum pada mereka kemudian ia duduk di taman itu.


Salah satu ibu-ibu muda yang tengah berkerumun itu melambaikan tangannya memanggil Harvan. Harvan sedikit bingung, ia melihat ke samping kanan dan kirinya tidak ada siapapun karena ia tidak yakin apakah ibu-ibu muda itu memanggilnya atau bukan.


Kemudian Harvan. Menunjuk dirinya sendiri meyakinkan pada salah seorang ibu muda itu, bahwa ia lah yang dipanggilnya. Setelah ibu muda itu mengangguk, barulah Harvan menghampiri mereka.


“Maaf, bunda memanggil saya?.” Tanya Harvan pada ibu muda yang melambaikan tangan padanya.


“Iya, duduk disini saja ayah….eh maaf putrinya siapa ya namanya.” Tanya ibu muda itu.


“Putri saya namanya Harin bunda.” Kata Harvan.


“Oh ya, Harin, kenalkan ayah Harin, saya bundanya Claire.” Kata ibu muda itu mengulurkan tangannya hendak mengajak Harvan bersalaman.


Bunda Claire adalah ibu muda yang cantik dengan gaya high classnya, dandanan seksi dengan makeup tebal. Harvan menyambut perkenalan bunda Claire itu. Kemudian disusul bunda yang lain mengulurkan tangan bergantian.


“Kenalkan saya Bunda Cira.” Kata wanita yang bergaya sama dengan bunda Claire, hanya saja bunda Cira rambutnya pirang sementara bunda Claire coklat.


“Kenalkan saya bunda Ajriel.”


“Kenalkan saya bunda lolita.”


“Saya bunda Valent hehe.” Bunda yang satu ini sedikit genit dengan stelan rok pendeknya.


Harvan menyambut perkenalan mereka, dan duduk bersama mereka setelah ibu-ibu muda itu mengajaknya duduk bersama mereka.


“Oya maaf ayah Harin, bundanya Harin kemana ya?.” Tanya bunda Cira.


“Iya, kenapa ayah Harin yang mengantarnya ke sekolah.” Sambung bunda Ajriel.


“Ibunya Harin sudah meninggal saat ia melahirkan Harin, bunda-bunda.” Kata Harvan.


Langsung kelima bunda itu terdiam, kemudian


“Oh maaf ayah Harin, kami tidak tahu kalau bundanya Harin meninggal.” Kata Bunda Cira.


“Tidak apa-apa bunda.” Jawab Harvan dengan melemparkan senyum pada mereka.


Setelah Harvan mengatakan bahwa ibu putrinya telah meninggal kepada mereka. Mulailah terlihat ke lima bunda itu tebar pesona dengan gayanya masing.masing.


“Suami saya juga meninggal sejak dua tahun yang lalu loh ayah Harin, ia kecelakaan pesawat.” Kata bunda Lolita seakan ingin menunjukkan bahwa dia juga tidak memiliki pendamping.


Bunda yang lain saling melirik, karena tahu bahwa bunda Lolita tengah mencari perhatian pada Harvan.


“Tapi kan, secepatnya Lolita akan mendapatkan ayah pengganti, bukannya bunda Lolita sebentar lagi akan menikah dengan pacar bunda?.” Kata bunda Valent mematahkan ucapan bunda Lolita yang ingin menarik perhatian Harvan.


Bunda Lolita sedikit kecewa dengan komentar bunda Valent. Kemudian,


“Kalau anak saya sangat menyedihkan sekali, ayahnya menghilang saat ia masih bayi.” Ujar bunda Valent yang juga berniat mencari perhatian Harvan.


Mendengar perdebatan diantara mereka Harvan tersenyum-senyum karena tahu maksud dari ibu-ibu muda tersebut.


Harvan yang tampan serta cool juga terlihat begitu menyayangi anaknya tentu sangat membuat ibu-ibu muda itu tertarik, apalagi setelah mereka tahu bahwa Harvan adalah seorang duda yang pastinya membuat ibu-ibu muda itu berlomba ingin mendapatkan perhatian darinya.

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2