
Hari-hari Harvan dan Intan dihabiskan bersama di Rumah sakit tersebut. Mereka hidupkan sang waktu dengan berbagai macam aktivitas seperti menemani Sang suami yang bekerja di depan laptopnya, berbincang hal-hal yang berhubungan dengan anak, sampai proses menjenguk anak dalam kandungan, yang menjadi istilah bagi mereka untuk saling melepas hasrat bercintanya.
Sementara Jodi dan Vivi tak lepas mengunjungi mereka setiap harinya walau hanya untuk menemani mereka berdua berbincang saat istirahat tiba, atau pada saat malam sebelum mereka beranjak pada peraduan mimpinya.
Hari ini tepat dua bulan sudah Intan dirawat di Rumah sakit tersebut, Ia masih tak di izinkan dokter kembali kerumah karena dikhawatirkan kesehatannnya tidak terkontrol karena mual dan muntahnya masih sering terjadi tidak hanya pagi hari bahkan setiap ia mencium makanan rasa mual itu masih selalu Intan rasakan meskipun trimester pertama kehamilannya telah terlewati.
Usia kandungan Intan kini menginjak empat bulan. Hari ini Intan berencana akan dibawa Harvan ke ruangan lain untuk memeriksakan kandungannya pada Dokter Spesialis Obgyn. Wajah ceria terpancar dari keduanya.
“Sayang, ayo kita ke ruangan Dokter Obgyn, aku sudah tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin anak kita.” Kata Harvan bersemangat.
“Apa tidak kepagian sayang?.” Tanya Intan.
“Tidak, kalau pun Dokternya belum ada, kita kan bisa menunggunya di taman Rumah sakit sayang, sekalian kamu menghirup udara segar, apa kamu tidak bosan dikamar terus?.” Ujar Harvan.
“Oh iya baiklah sayang, aku ingin kita berjalan-jalan di taman.” Sahut Intan.
“Oke, kalau begitu. Sini aku gantikan pakaianmu dulu.” Kata Harvan, kemudian Ia mendekati Istrinya, lalu melucuti semua pakaian Istrinya dan menggantikannya dengan pakaian yang baru. Ia sisiri rambut Istrinya yang hitam itu, sementara Intan memoles wajahnya dengan make up tipis. Kemudian Harvan beranjak keruang tamu, tak lama ia kembali membawa kursi roda untuk Istrinya itu.
“Sayang, aku kan masih kuat berjalan, jadi gak usah pakai kursi roda itu.” Kata Intan.
“Iya sayang, tapi lokasi taman dan ruangan Dokter Obgyn jauh dari sini sayang, aku khawatir kakimu nanti lelah, sekarang pakailah dulu kursi rodanya, nanti di taman baru kamu turun ya sayang.” Jelas Harvan.
“Baiklah kalau begitu.” Ujar Intan patuh.
Kemudian Harvan memapah Istrinya dari velbed ke kursi roda yang sudah ada dekat mereka. Lalu Harvan membawa Istrinya yang telah duduk di kursi roda itu meninggalkan ruangannya.
Harvan mendorong kursi roda Istrinya itu keluar dari lif Rumah sakit tersebut. Ia menyusuri koridor Rumah sakit dengan memutarkan tubuhnya membawa kursi roda itu seperti anak kecil yang sedang mendorong mainannya. Sesekali Intan tertawa lepas walau sesekali pula Ia berteriak khawatir terjatuh.
“Awas hati-hati ya pak, nanti Istrinya terjatuh.” Kata perawat yang melintas dekat mereka.
“Tenang Suster, Istri saya adalah wanita kuat!.” Kata Harvan pada Suster tersebut seraya berlalu setengah berlari mendorong kursi roda tersebut.
“Haha.. sayang, sudah-sudah nanti kamu lelah.” Ujar Intan pada Suaminya. Kemudian Harvan kembali mendorong pelan. Sampai tibalah mereka di depan ruangan Dokter Obgyn.
“Tuh kan betul kataku, Dokternya belum ada.” Ujar Intan.
“Iya ya, kita tunggu di Taman saja ya sayang.” Ajak Harvan yang kemudian membawa Istrinya ke taman yang tidak jauh dari ruang Dokter Obgyn.
Setelah sampai taman Intan turun dari kursi rodanya, berjalan perlahan mendekat pada kolam ikan yang berada di taman tersebut.
“Sayang ikan-ikan kecil itu ikan apa ya namanya?.” Tanya Intan pada Suaminya.
“Oh itu, kalau tidak salah nama ikan itu adalah ikan Garra rufa sayang, ikan itu biasanya suka di gunakan untuk perawatan kecantikan kaki (Pedikur), dan digunakan untuk pengobatan psoriasis. Ikan itu akan memakan sel-sel kulit mati pada kaki manusia, dengan cara menghisapnya dan mengeluarkan kulit segar di lapisan bawahnya.” Jelas Harvan.
“Oh iya, aku pernah lihat itu di internet, sayang aku mau coba.” Kata Intan semangat.
“Baiklah, ayo kesini.” Ujar Harvan, seraya membawa Istrinya untuk duduk di samping kolam tersebut, membuka alas kaki Istrinya dan menurunkan kaki istrinya kedalam kolam ikan itu. Tak lama ikan-ikan itu langsung mengerubungi kaki Intan membuat Intan geli dibuatnya.
“Haha, sayang ikan-ikan itu menggelitik kakiku.” Kelakar Intan kegelian, Ia memeluk suaminya menangkupkan wajahnya di dada bidang suaminya menahan rasa geli di kakinya yang tengah di hisap oleh ikan-ikan tersebut.
__ADS_1
Melihat tingkah Istrinya Harvan tersenyum kecil seraya membelai-belai rambut Istrinya yang menyandarkan wajahnya pada dada bidangnya.
“Sayang, apa ikan-ikan ini akan memakan habis kakiku?.” Tanya Intan pada suaminya.
“Haha, tidak lah sayang, dia hanya membantumu melepaskan sisa-sisa kulit mati yang menempel pada telapak kakimu saja.” Jawab sang Suami.
“Mereka sangat agresif menghisap kakiku sayang.” Kata Intan dengan mimik geli.
“Lebih agresif mana? Ikan itu atau aku saat menghisap kamu? Hehe.” Canda Harvan.
“Ih, kamu ya.” Jawab Intan seraya menggigit dada suaminya.
“Aw, sakit sayang.” Kata Harvan mengusap-usap dadanya yang di gigit Istrinya itu.
Ditaman itu mereka berdua tak henti-hentinya bercanda dan tertawa, menghabiskan waktu menunggu kedatangan Dokter Obgyn yang akan memeriksa kandungan Sang Istri.
Sampai pada akhirnya mereka melihat dokter yang mereka maksud melintas memasuki ruangannya.
“Sayang, sepertinya dokter yang akan memeriksa kandunganmu sudah datang, ayo kita kesana.” Ajak Harvan pada Istrinya, lalu Ia angkat tubuh istrinya itu menjauh dari kolam ikan tersebut dan bergegas membawa Istrinya menuju ke ruang Dokter Obgyn.
Setelah sampai diruangan Dokter tersebut, Harvan dan Intan langsung dipersilahkan masuk karena memang sudah terjadwal untuk mereka.
Dokter mempersilahkan Intan untuk beranjak pada velbed yang sudah tersedia, karena akan dilakukan Ultrasonografi (USG). Dokter akan memeriksa untuk mengetahui Usia, letak kehamilan, posisi janin, letak plasenta, dan lain-lain. Mereka menggunakan USG 4 Dimensi, teknologi USG 4D akan menghasilkan video pergerakan janin lebih detail dan akurat.
Setelah dokter memeriksa keseluruhan kondisi janin, dokter menyatakan bahwa kondisi janin Intan dalam keadaan baik, sehat dan normal. Mendengar penuturan Dokter Harvan merasa bahagia tak terkira, Ia terus menciumi wajah Istri tercintanya itu.
“Baik akan saya jelaskan, kebetulan sekali janin pada kandungan Istri anda sudah terlihat jelas jenis kelaminnya. Bisa kita lihat dilayar monitor, bahwa janin dalam rahim Istri anda menunjukkan bahwa Ia berjenis kelamin PEREMPUAN.
Betapa bahagianya Harvan kala Dokter menyatakan bahwa janin yang dikandung Istrinya itu adalah berjenis kelamin perempuan. Bayi perempuan yang Ia harap-harapkan tubuh didalam rahim istrinya itu. Bayi perempuan yang sangat Ia nantikan membuat seluruh kebahagiaannya menyatu kala itu. Tak henti-hentinya Ia ciumi wajah Istrinya itu. Dokter yang memperhatikannya pun dibuat geleng-geleng kepala.
“Sepertinya bayi perempuan ini sangat anda Idam-idamkan ya?.” Tanya Dokter itu.
“Iya dokter saya sangat mengharapkan bayi yang Istri saya kandung ini adalah bayi perempuan, dan rasa penasaran itu, telah terjawab sudah, harapan saya telah menjadi kenyataan.” Jawab Harvan dengan sumringah.
Intan yang melihat tingkah suaminya itu hanya tersenyum-senyum saja. Kemudian setelah dokter selesai memeriksa Intan, mereka pun kembali keruangan rawat inapnya.
Setelah kembali keruangannya tak henti-hentinya Harvan mengelus dan menciumi perut Intan, Ia terus saja mengajak berbicara pada janin di dalam perut itu.
“Sayang, sehat-sehat ya didalam sana ya nak, jangan nakal, kasihan ibu kalau kamu nakal.” Bisik Harvan pada janin itu.
“Sayang, nanti ayah akan carikan nama yang indah untukmu ya?.. Sayang, pasti wajahmu cantik seperti ibumu.. sayang, nanti ayah akan menjagamu dan mengajak kamu bermain ketempat-tempat yang kamu suka, ayah sudah tidak sabar ingin segera memelukmu sayang.” Bisik Harvan pada perut Istrinya.
Lagi-lagi Intan dibuat geleng kepala melihat tingkah suaminya.
“Sayang, tunggu ya didalam, nanti malam ayah akan mengunjungimu. Pasti setiap malam kamu ingin selalu ayah kunjungi kan sayang?.” Bisik kembali Harvan yang tiada henti menciuminya.
“Ish.. setiap malam mengunjungi itu sih maunya kamu.” Kata Intan seraya menekan kepala Suaminya pada perutnya.
“Hehe, gak apa-apa sayang, itu kan kemauan bayi kita juga. Aku harus sering mengunjunginya biar dia senang.” Ujar Harvan.
__ADS_1
“Iya, iya terserah kamu aja deh. Sayang kapan aku pulang? Aku sudah bosan disini. Aku sudah kangen sekali pulang ke rumah.” Kesal Intan.
“Iya nanti aku tanya dokter dulu ya sayang, mudah-mudahan secepatnya kamu sudah bisa pulang.” Jawab Harvan.
Kemudian terdengar pintu di ketuk, setelah dipersilahkan masuk, nampak Jodi bersama Vivi yang mengunjungi mereka.
“Wah, kelihatannya ada aroma-aroma kebahagiaan nih.” Kata Jodi yang melihat keduanya nampak sumringah.
“Pastinya dong, karena yang selama ini gue harapkan dikabulkan Tuhan.” Jawab Harvan.
“Oya? Apaan tuh?.” Tanya Vivi penasaran.
“Tadi kita habis USG Vi, dokter memberitahu hasil USGnya.” Jelas Intan.
“Oh begitu? Pantas saja kalian kelihatan bahagia.” Ujar Vivi.
“Gimana kata dokter?.” Tanya Jodi.
“Alhamdulillah janin nya sehat dan kuat.” Jawab Harvan.
“Tapi yang paling bikin Dia bahagian saat dokter memberitahu jenis kelamin anak kita Vi.” Kata Intan sembari mengarahkan pandangannya pada Sang suami.
“Anak kami berjenis kelamin perempuan. Yeah! Keinginan gue itu kan Jodi.” Seru Harvan mimik bahagia.
“Pantesan elo kelihatan bahagia banget, gak tahunya dapat kabar gembira.” Kata Jodi.
“Eh, Vi gimana kamu? Udah telat belom? Katanya mau cepat-cepat nyusul.” Tanya Intan.
“Boro-boro sekarang aja lagi bocor, noh uring-uringan udah tiga hari gak dapat jatah.” Jawab Vivi seraya menunjuk Jodi dengan pandangannya.
“Hahah. Lagi puasa ternyata elo Jod? Pantesan muka nya kusut gitu.” Kelakar Harvan.
“Iya nih, pusing banget kepala gue.” Kata Jodi.
“Sabar dong sayang, udah tiap hari juga, gak ada bosen nya.” Kata Vivi.
“Gak ada bosennya kali Vi sama yang satu itu mah, noh dia juga tiap hari minta, alesan jenguk anaknya.” Ujar Intan seraya mengarahkan pandangannya pada Sang suami.
“Emang ya mereka pada doyan, pada hiper emang mereka.” Kata Vivi.
“Eh, emak-emak rempong, jangan asal nuduh ya, bukannya kalian juga dibikin merem melek? Bukan nya itu juga sama, artinya kalian juga doyan sampai merem melek gitu?.” Kata Jodi.
“Haha.. cewek kan suka jaim gitu Jod, pas kita ajakin suka pura-pura, eh giliran udah kita serang malah mereka yang minta nambah haha.” Kelakar Harvan disusul oleh Jodi.
“Enak aja! Ih nyebelin!.” Kata Intan seraya melempar bantal pada Suaminya.
Hahaha.. Jodi dan Harvan tertawa lepas.
😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂
__ADS_1