Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Kontemplasi


__ADS_3

Semilir angin dingin dari lautan memasuki celah pondok Emak. Seakan berbisik pada penghuninya bahwa sang malam tengah memberikan kehidupan untuk mereka sambut dengan hati tenang.


Didalam pondok itu, Emak, Intan dan Harvan juga Jodi tengah berbincang diruang tengah sederhana.


Ruangan yang hanya dialasi oleh karpet, dan mereka duduk lesehan bersama diatas nya.


Nampak dinding ruangan tersebut dihiasi dengan beberapa kaligrafi indah dan beberapa gambar pejuang Islam.


“Mak, katanya Emak mau ngasih ilmu pelet ( asihan ) buat saya, ayo dong Mak aku minta.” Tanya Jodi.


“Eh elo aneh-aneh aja sih Jod.” Kata Harvan.


“Ya terserah gue dong Har.. emang Emak mau ngasih, iya kan Mak?.” Tanya Jodi pada Emak.


“Iya.” Jawab Emak.


Kemudian Emak beranjak ke kamarnya, tak lama ia kembali lagi membawa gulungan seperti selembaran kulit kering. Dan duduk kembali dengan bersila dihadapan Jodi.


“Nih kalau kamu ingin sekali ilmu asihan.. tapi hati-hati jangan di salahgunakan, gunakan itu untuk kebaikan.” Jelas Emak.


Kemudian Emak menyerahkan gulungan berupa kulit kering tersebut sebesar gulungan kertas HVS. Diambilnya oleh Jodi dan di buka gulungan itu.


“Pahami tulisannya.. dan kamu ingat-ingat.” Jelas Emak.


Lalu Jodi pelan-pelan membaca isi tulisan didalam selembar kulit kering itu.


TEPUK BAYU SUKMA ( sentuh angin jiwanya)


ANU NAMINA………… ( yang namanya ……………. )


PANG………….. ( agar …………………. )


SA……….. ( Se ……………… )


SI ………….. ( nama diri sendiri ……..)


2 kalimah syahadat 7 x


Begitu kira-kira isi tulisan didalam kulit kering tersebut. Buat reader don’t tray this at Home ya hehe.. harus di bimbing sama author 😃.


Jodi membaca dengan seksama berkali-kali.


“Gak ngerti aku Mak.” Kata Jodi bingung.


“Lagian kamu minta yang aneh-aneh aja sih.” Kata Harvan.


“Awas loh kak Jodi, ilmu Emak jangan di pake main-main, bisa bahaya loh.. iya kan Mak.?” Kata Intan.


“Iya jangan sekali-kali di salahgunakan karena akan membunuh dirimu sendiri.” Jelas Emak.


“Gak Mak, tenang aja aku gak bakalan main-main sama ilmu Emak.” Kata Jodi.


“Aku foto aja ya Mak biar aku bisa hafalin nanti di Jakarta.” Ungkap Jodi kembali.


“Iya.. boleh.” Jawab Emak.


Kemudian Jodi mengambil foto dengan kamera ponselnya mantra yang tertulis dari lembaran kulit kering tersebut. CEKREK!


“Udah nih Mak… aku kembalikan lembaran kulitnya.” Kata Jodi.


“Makasih ya Mak.” Sambung Jodi.


“Iya… simpan baik-baik ya, jangan di perlihatkan pada orang, takutnya orang menyalahgunakan nya.” Jelas Emak.


“Siap Mak.” Jawab Jodi.


Kemudian di gulungnya kembali lembaran kulit tersebut dan di simpan kembali oleh emak di dalam kamarnya. Tiba-tiba: JLIG.. JLIG.. terdengar suara derap langkah kaki yang sangat mengejutkan.


Derap langkah itu seperti berasal dari sesuatu yang besar. Sontak saja membuat Jodi dan Harvan terkejut sementara intan tersenyum melihat kelakuan mereka berdua.


“Suara apaan tuh ya? Sampai getarannya terasa di sini.” Ujar Jodi panik sambil bergidik.


“Oh.. itu anaknya emak.” Jawab Intan dengan tersenyum.


“Sayang… anak Emak? Siapa?.” Tanya Harvan penasaran.


“Si Ihot.” Jawab Intan pendek.


“Anaknya Emak namanya si Ihot?.” Tanya Jodi penasaran.


“Iya.” Jawab Intan.


Kemudian Jodi mengingat apa yang di katakan Emak, kalau keris-kerisnya itu di panggil anak sama Emak.


“Eh bukannya benda pusaka, Emak sebut anak-anaknya.. terus yang sekarang itu apa.?.. yang di kasih nama Ihot apaan.?” Tanya Jodi sedikit ketakutan..


“Siluman macan putih.” Jawab Intan dengan entengnya, sontak membuat Jodi dan Harvan terperanjat.


“WHAT!!!!” Kata Jodi terkejut membelalakkan matanya sedikit bergetar badannya.

__ADS_1


“Intan… jangan bohong lo!.” Kata Jodi ketakutan.


“Tanya aja Emak kalau gak percaya… atau lihat aja sendiri ke luar sana.” Kata Intan.


“Gak.. gak… ah takut di terkam gue.” Kata Jodi.


Kemudian Emak keluar dari kamarnya setelah menyimpan lembaran kulit kering yang berisi mantra tadi. Dan bergegas keluar rumah sambil berkata:


“Ihot… rek naon maneh kadieu?.” Kata Emak


( ihot… mau apa kamu kemari )


Kemudian Emak membuka pintu depan, BYUSS terasa angin dingin masuk ke dalam rumah semakin membuat Jodi ketakutan, kemudian Emak seperti berbicara dengan seseorang di luar sana:


“Ulah waka ayeuna datangna… engke we tengah peuting.” Kata Emak.


( jangan dulu sekarang datangnya… nanti saja tengah malam )


“Jug ayeuna mah maneh balik heula.. engke kadieu deui.” Kata Emak kembali.


( sana sekarang kamu pulang.. nanti kembali lagi kesini )


Kemudian Emak menutup pintu dan kembali duduk bersama mereka. Kemudian Jodi bertanya masih dalam keadaan ketakutan.


“Emak… tadi Emak bicara sama siapa?.” Tanya Jodi.


“Itu anak Emak si Ihot namanya.. Emak suruh jaga rumah, tapi nanti tengah malam, bukan sekarang.. karena nanti malam kita akan pergi ke suatu tempat.” Kata Emak.


“Kita mau kemana Mak.” Tanya Jodi.


“Lihat saja nanti.. katanya kamu juga ingin ikut.” Ujar Emak.


“Oh .. iya Mak.” Jawab Jodi sedikit panik.


Kemudian Emak meninggalkan mereka bertiga masuk ke kamarnya. Disusul Intan masuk ke kamarnya karena kelihatan sudah mengantuk.


“Sayang.. aku masuk kamar dulu ya mau tiduran sebentar.. nanti tengah malam kan kita mau berangkat.” Kata Intan pada Harvan.


“Iya sayang.. tidur yang nyenyak ya.” Ujar Harvan.


“Iya sayang.” Jawab Intan seraya di kecup keningnya oleh sang suami dan Intan pun masuk ke kamarnya.


Di tengah rumah kini tinggal Jodi dan Harvan.


Setengah berbisik, Jodi bertanya pada Harvan.


“Kayaknya mau rituan gitu deh Jod.” Jawab Harvan.


“Oh iya kali ya Har. Iya deh kita ikut aja sekalian pengen tahu...” Kata Jodi.


“Iya.. makanya lebih bagus kita ikut, jadi kita bisa tahu kemana mereka akan pergi dan apa yang akan di lakukan mereka.” Ujar Harvan.


“Oke, kalo begitu.. yuk ah kita tidur dulu sebentar, entar elo bangunin gue ya Har?.” Kata Jodi.


“Iya.” Jawab Harvan meninggalkan Jodi dan masuk ke kamar tempat Intan tidur. Sementara Jodi masuk ke kamar yang di siapkan untuknya.


Mereka bertiga pun terlelap di kamarnya masing-masing. Kamar yang tidak begitu besar dan sangat sederhana tetapi mampu membuat penghuninya tidur nyaman.


Malam pun bergulir di hiasi indahnya bintang gemintang dan bulan yang menampakan dirinya hanya separuh. Semilir angin bertiup menambah keheningan di tempat tersebut. Dan waktupun telah menunjukkan tengah malam.


Emak bangun terlebih dahulu dan menyiapkan perlengkapan yang akan di bawa, yaitu kelengkapan alat ibadah.


Sementara di kamar lain Intan terbangun dan membangunkan suaminya.


“Sayang… ayo bangun, kita berangkat sekarang, sepertinya Emak sudah bangun dan menunggu kita.” Kata Intan.


Harvan pun bangun dan keluar kamar bersama Intan. Masuk ke kamar mandi membasuh wajahnya supaya segar. Kemudian setelah itu ia membangunkan Jodi. Jodi susah sekali terbangun, terapi dengan usah Harvan yang gigih membangunkan Jodi akhirnya Jodi mau membuka matanya dan menghampiri Intan dan Harvan.


“Udah siap luh? Ayo cuci muka dulu sana.” Kata Harvan pada Jodi.


Kemudian Jodi melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan membasuh mukanya. Tak lama kembali ketempat Harvan dan Intan berada.


Mereka duduk bertiga di ruang tamu pondok Emak. Tak lama Emak keluar dari kamarnya.


“Kalian sudah siap?!.” Tanya Emak.


“Siap Mak.” Jawab mereka serentak.


“Ayo kita berangkat sekarang.” Kata Emak.


“Emak sini barang-barangnya biar saya yang bawa.” kata Harvan.


Kemudian Emak memberikan kantong berukuran sedang itu kepada Harvan lalu Harvan menerimanya. Kemudian ke empatnya berlalu keluar pondok Emak. Dan berjalan meninggalkan pondok. Semakin jauh dan jauh sehingga pondok Emak tak terlihat lagi.


Mereka berjalan menyusuri pantai. Emak berjalan bersama Intan di sampingnya dan Harvan juga Jodi berjalan di belakangnya. Semakin jauh perjalanan mereka menyusuri pantai, hingga sampailah di sebuah batu karang yang sangat tinggi.


“Ayo kita naik keatas batu karang itu.” Kata Emak.


Kemudian Emak berjalan lebih dulu menyusuri anak tangga setapak yang terdapat pada batu karang tersebut, di ikuti oleh ketiganya.

__ADS_1


Tak ada kata-kata dari ketiganya, mereka patuh mengikuti kemana Emak melangkah. Semakin ke atas mereka menyusuri anak tangga yang terdapat pada batu karang itu, semakin tinggi mereka berada di ujung atas batu karang tersebut. Dan lautan yang luas di bawahnya semakin terlihat hamparannya.


Sesampainya di atas ujung batu karang tertinggi, mereka di kejutkan dengan sebuah penampakan mesjid yang indah. Mesjid yang berukuran tidak besar tetapi juga tidak terlalu kecil. Mereka tercengang melihat sebuah mesjid yang terdapat di atas batu karang yang tinggi. Lelah yang mereka rasakan saat menaiki anak tangga terhapuskan dengan pemandangan yang menakjubkan tersebut.


Mereka menatap penuh tanya dengan mimik terpana seraya mendekat ke dalam mesjid tersebut.


“Kalian bersuci lah dulu di tempat sana, setelah itu masuk ke dalam mesjid ini.” Kata Emak seraya menunjuk tempat untuk berwudlu.


Setelah semuanya berwudlu lalu mereka memasuki masjid tersebut. Ada rasa nyaman dan sejuk saat berada di dalamnya. Kemudian,


“Mari kita Shalat Tahajud dulu, setelah Shalat Tahajud Berzikirlah.” Kata Emak, dan mereka patuh.


Hening sunyi senyap saat mereka melakukan shalat tahajud dan berzikir di tempat itu. Tumbuh ketenangan bathin dan kedamaian pada mereka. Membuat mereka terhanyut di dalam nya. Seolah mereka sedang melakukan refleksi dirinya. Dan merefleksi diri merupakan cara kontemplasi diri.


Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah yang merupakan suatu proses bermeditasi merenungkan atau berfikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan atau niat suatu hasil penciptaan.


Kontemplasi diri di butuhkan oleh diri manusia untuk bertransformasi menjadi manusia baru. Merubah budaya hidup lama ke budaya hidup baru yang lebih baik dari sebelumnya. Dan jenis-jenis dari kontemplasi itu adalah : doa, dzikir, tafakur, yoga, merenung/berfikir dan meditasi.


Emak mengajarkan kontemplasi diri pada kita dengan tujuan bahwa dengan melakukan tafakur dan dzikir, serta berdoa, itu akan merubah pola pikir dan pola tidak seseorang menjadi lebih baik, apalagi jika di lakukan dengan berkala. Sehingga akan merubah pola perilaku kita dalam melaksanakan kehidupan bermasyarakat menjadi lebih baik lagi.


Begitulah Emak mensiasati ritualnya dengan cara ia sendiri.


Mereka semakin terhanyut dalam ritualnya di mesjid tersebut hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan saat subuh.


Setelah shalat subuh mereka kembali pulang ke pondok Emak dengan melalui jalan yang sama pada saat mereka melangkah ketempat tersebut.


Waktu telah beranjak pagi.


Pagi itu Emak pergi ke Padepokan. sementara Harvan, Intan dan Jodi duduk di dipan pondok emak.


mereka bertiga menikmati pagi dengan gorengan dan kopi serta teh hangat.


Mereka bertiga tengah berbincang mengenai pengalaman mereka tadi malam.


Dari kejauhan terlihat seekor kuda putih yang di tunggangi seseorang.


Semakin mendekat dan semakin terlihat siapa orang yang menunggangi kuda itu yang mengarah berjalan pada mereka bertiga.


“Yah.. dia lagi.” Kata Jodi.


“Siti!.” Kata Intan.


“Yaelah.. dah macem-macem aja tuh anak ya, Kemaren pakai stelan koboy naik trail, sekarang stelan koboy naik kuda. Dah ini sih fix pendekar milenial wanita berkuda putih.” Kata Jodi.


Siti menunggangi kuda putihnya mendekati mereka.


dengan stelan koboy nya dan seperti biasa dengan golok di pinggangnya.


“Hai Siti.. wah kamu keren.. naik kuda siapa itu.” Tanya Intan.


“Ini kuda bapakku yang di sewakan untuk wisatawan di pantai ini.” Jawab Siti.


“Oh gitu ya… kamu pintar berkuda juga ya Siti?.” Tanya Intan.


“Ya bisa lah sedikit-sedikit.” Jawab Siti.


“Hai kak Jodi, mau naik kuda gak.?” Sapa Siti yang masih duduk di atas kudanya.


“Hai juga Siti…. Gak mau ah entar di bawa lagi ketengah hutan.. serem.” Jawab Jodi.


“Gak kok kak, kita berkuda di pantai aja.” Kata Siti.


“Sono luh.. coba aja naik kuda, jarang-jarang kan elo main kuda-kudaan sekarang hehe.” Kata Harvan.


“Males ah gue ngantuk.. semalam kan kita gak tidur.” Kata Jodi.


“Dia gak mau Siti.. katanya ngantuk.” Kata Harvan pada Siti.


“Oh ya udah.. aku berkuda dulu ya gais.” Kata Siti sambil memacu kudanya menuju tepi pantai.


HIA… HUS….. HIA….


“Dah aneh-aneh aja tuh anak ya.. bingung gue.” Kata Jodi sambil merebahkan dirinya di dipan.


“Tapi kalo gue pikir unik dia ya?.” Kata Harvan.


“Iya unik dan aneh.” Kata Jodi sambil matanya mulai tertutup kantuk.


“Oya sayang kapan kita balik ke Jakarta?.” Tanya Intan pada Harvan.


“Besok aja kita balik ya sayang, kamu sudah puaskan di sini.?” Tanya Harvan.


“Iya sayang sudah… lagian kita kan bisa kesini lagi nanti.” Kata Intan.


“Iya sayang.. setiap bulan pasti kita akan mengunjungi Emak di sini.” Ujar Harvan.


Kemudian mereka masuk kedalam pondok Emak meninggalkan Jodi yang sudah tertidur pulas di dipan dengan berbantalkan tangannya sendiri.


🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔

__ADS_1


__ADS_2