Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Rasa kehilangan akan benar-benar terasa saat seseorang itu sudah benar-benar pergi.


__ADS_3

Hari telah berganti, saat ini adalah hari ke tiga setelah kepergian Delima. Selama tiga hari tanpa Delima yang sudah Harin anggap sebagai ibunya, putri kecil itu seperti kehilangan semangat, ia terlihat murung dan setiap malam selalu menangis memanggil nama ibunya.


Harvan semakin merasa bersalah melihat kondisi anaknya saat ini. Seandainya ia mampu meredam emosinya kala itu, mungkin anaknya tidak akan seperti ini.


Ia terlihat resah memikirkan putri kecilnya, sementara Delima belum juga dapat di temukan.


“Jod, gimana? Udah ada kabar belum dari team elo?.” Tanya Harvan.


“Belum, mereka masih mencarinya.” Jawab Jodi. Lalu ia merogoh ponselnya sepertinya terdengar nada sambung berbunyi.


“Hallo ren, ada info apa?.” Tanya Jodi.


“Hallo boss! Begini Boss orang yang kita cari sepertinya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.”


“Apa?! Sudah meninggal? Emangnya yang elo cari siapa Reno?!.” Jodi sedikit kesal.


“Orang yang kita cari sesuai dengan foto dan data yang Boss kirim, namanya Intan Permata kan Boss?.”


“Heh! Bodoh! Kalau nyari orang mati ngapain gue nyuruh elo! Gue tinggal datang ke kuburannya tahu! Yang harus elo cari itu Delima! Namanya Mustika Mirah Delima yang wajahnya mirip Intan Permata istrinya Tuan gue, ngerti gak luh!.”


“Oh begitu, Sorry Boss gue kira yang harus di cari itu Intan yang mirip Delima.”


“Ah! Gak bener luh! Makanya datanya baca dengan teliti.”


“Siap Boss! Maaf Boss.”


“Ah dasar anak baru! Udah sekarang cari yang bener, pantes aja lamban banget. Biasanya info nya cepet. Makanya elo belajar yang bener kalau mau jadi anggota yang profesional.”


Jodi terlihat kesal dengan anggota barunya itu.


“Kenapa Jod?.” Tanya Harvan.


“Itu yang gue suruh nyari Delima anak baru. Salah sasaran dia, dia malah nyari Intan.”


“Oh jadi belum dapat Info dia?.”


“Udah, tapi yang dia dapat info Intan yang udah meninggal. Gila kan?.” Kesal Jodi.


“Kemana Delima ya Jod?, sejak ia pergi ponselnya juga tidak pernah aktif. Apa mungkin balik ke panti asuhan?.” Harvan semakin khawatir.


“Entar mereka juga nyari kesana. Elo tenang aja. Sekarang mending elo tidur sana, kasihan Harin Sendiri, entar nangis lagi kebangun gak ada siapa-siapa.”


“Ya udah, gue tidur duluan ya Jod.” Kata Harvan seraya berlalu menuju kamar putrinya.


Ia masuk kedalam kamar putrinya. Ia pandangi wajah putri kecil yang tengah terlelap itu, kemudian membaringkan tubuhnya di samping putrinya itu.


Namun matanya enggan terpejam, ia balikan badannya sebentar ke kiri sebentar ke kanan, tapi tak dapat juga ia pejamkan matanya. Akhirnya ia bangkitkan badannya hendak berlalu menuju balkon.


Namun langkahnya terhenti kala ia melihat di atas meja kecil pojok ruangan kamar nampak kotak perhiasan yang pernah ia berikan pada Delima dan sebuah amplop ukuran sedang.


Di raihnya kotak perhiasan itu kemudian ia buka, nampak cincin bermata berlian warna pink yang pernah ia berikan pada Delima. Lalu ia ambil amplop itu dan di bukanya, ternyata di dalamnya 2 black card yang pernah ia berikan pada Delima, ia ingat bahwa ia pernah memberikan black card itu yang satu untuk keperluan Harin dan yang satu lagi untuk Delima.

__ADS_1


Ia menggenggam kotak berisi cincin dan dua black card itu. Lalu duduk pada sofa yang terletak di sudut ruangan tersebut.


“Kenapa tak kau bawa semua ini Delima? Aku kan sudah memberikannya padamu. Maafkan aku… waktu itu aku tersulut emosi sehingga aku membuat kau pergi. Harin Merindukanmu Delima… kembali lah.” Ia membathin sembari menggenggam kedua benda itu.


“Aku tahu kau pasti kecewa padaku, aku akan terus mencarimu sampai aku menemukanmu Delima.. ku harap kau mau memaafkanku.” Tak terasa mengalir butiran bening air mata penyesalan pada pipinya. Kali ini ia menyadari, ternyata memang benar apa kata pepatah bahwa rasa kehilangan akan benar-benar terasa saat seseorang itu telah benar-benar tidak ada di sisi kita lagi. Dan tak terasa hingga ia terlelap dalam buaian mimpi.


“Kenapa kau marah padaku sayang?, katakan padaku apa salahku?.”


“Kau sudah mengecewakan aku sayang?.”


“Apa yang telah aku perbuat padamu? Aku selalu mencintaimu. Kenapa kau kecewa padaku.”


“Aku tidak menyangka kau sejahat itu sayang.”


“Jahat? Aku tidak pernah berbuat jahat padamu, memangnya kenapa aku? Hingga kau mengatakan padaku bahwa aku jahat?.”


“Kenapa kau mengusirnya?.”


“Delima maksudmu?.”


“Iya, siapa lagi kalau bukan wanita itu?.”


“Kau marah padaku karena dia ada di rumah kita?.”


“Bukan itu maksudku, kenapa kau usir dia? Apa salah dia? Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan dia? Kasihan dia, dari kecil hidupnya sudah menderita, dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Lalu setelah dia mendapatkan tempat aman tinggal di rumah kita, kau mengusirnya begitu saja tanpa alasan yang jelas! Kau benar-benar tega, aku tidak suka apa yang kau lakukan itu!.”


“Sayang, tolong maafkan aku. Aku terbawa emosi saat itu hingga mengusirnya dari rumah.”


“Sayang, maafkan aku, aku akan mencarinya tolong jangan marah padaku.”


“Pokoknya aku tidak mau tahu. kau harus cari dia sampai ketemu.”


“Iya sayang.. aku janji, aku akan mencarinya sampai ketemu.”


“Kalau kau tak bisa menemukannya, aku tidak akan pernah memaafkanmu.”


“Sayang jangan pergi aku mohon…. Sayang…. Jangan… jangan….” Tiba-tiba Harvan terbangun dari mimpinya.


(Oh ternyata aku bermimpi.) Gumamnya sembari mengusap wajahnya.


(Kenapa mimpi itu seakan nyata? Benarkah Intan yang membawa Delima dalam kehidupanku? Jika memang benar, kenapa dia tak mengatakannya dari awal?.) Harvan terus membathin.


Mimpinya bertemu dengan Intan membuat ia berfikir. Semakin lama berfikir akhirnya ia merasa lelah dan merebahkan diri di atas tempat tidur di samping tubuh putrinya.


*


Sementara itu Delima yang sudah beberapa hari di pondok emak terjaga dari mimpinya, karena matanya sulit di pejamkan kembali, akhirnya ia beranjak ke luar dan duduk di atas dipan pondok emak. Ia memandangi deburan ombak dari kejauhan, lalu tiba-tiba dari kejauhan nampak seseorang mendekat ke arahnya.


Setelah semakin dekat sosok itu semakin ia kenal. “Bukan kah itu Intan?.” Bathinnya. Dan benar saja Intan datang ke arahnya lalu duduk di sebelahnya.


“Kenapa malam-malam begini duduk di luar Delima?.”

__ADS_1


“Aku terbangun dari mimpiku Tan, dan sulit kembali tidur. Kamu sendiri ngapain malam-malam terlihat di pinggir pantai?.”


“Aku sedang cari angin saja Delima.”


“Kamu tidak takut masuk angin? Kenapa gak pakai jaket?.”


“Aku sudah biasa Delima, malahan dulu bersama emak sering latihan tengah malam. Jadi tubuhku sudah kuat dengan angin laut, beda dengan kamu. Oya, apa yang sedang kamu pikirkan Delima?.”


“Aku rindu putri kecil itu Tan, bagaimana ya keadaannya? Dia anak yang menggemaskan, dia sangat manja padaku.”


“Kembalilah ke rumah itu Delima, sepertinya dia juga merindukanmu.”


“Tapi aku benci sama ayahnya. Belum apa-apa dia sudah menuduhku yang tidak-tidak bahkan sampai mengusirku.”


“Iya, itu karena dia tidak tahu kejadian yang sebenarnya, coba kalau kau cerita tentu dia tidak akan seperti itu.”


“Bagaimana aku mau cerita Tan, kalau dia tidak bertanya dulu padaku, sama sekali dia tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk menjelaskan semuanya, dia malah langsung marah padaku dan mengusirku tanpa meminta penjelasan dariku.”


“Ya sudah, kau beri saja dia pelajaran. Biarkan dia tersiksa dengan rasa rindunya padamu hehe.”


“Ya kalau dia rindu padaku. Kalau tidak?.”


“Aku yakin dia pasti merindukanmu Delima, oya apa kau mencintainya?.”


“Tidak! Aku tidak mencintainya. Aku tidak menyukainya, karena…..”


“Karena apa hayo? Hehe.. Aku merasa tidak yakin kalau kau tidak suka padanya, sepertinya selain kau memikirkan putrinya, kau juga memikirkan ayahnya.”


“Ish… ngapain aku mikirin dia!.”


“Jangan terlalu membencinya… nanti akan berubah jadi cinta loh hehe.”


“Aku datang ke rumah itu untuk putri kecilnya bukan untuk menggodanya, tetapi dia selalu mengatakan kalau aku yang menggodanya. Bukan kah itu sangat menyebalkan?.”


“Itu tandanya dia yang sebenarnya tergoda olehmu Delima.”


“Tapi aku tidak suka dia selalu saja mendekatiku, aku kan jadi tidak enak sama orang-orang yang ada di rumah itu Tan.”


“Kamu harus mengerti dia Delima. Dia sudah lama kesepian. Oya kalau misalkan dia mengajakmu menikah, apa kau mau?.”


“Entah lah Intan aku masih sakit hati dengan kata-katanya. Sulit rasanya melupakan saat dia mengusirku, malam-malam aku di suruh keluar dari rumahnya, coba kamu pikir, tega banget kan dia? Untung ada kamu, coba kalau tidak, entah bagaimana nasibku sekarang.”


“Tapi aku yakin dia sekarang pasti menyesal Delima. Nanti kalau dia datang menjemputmu kamu kasih dia pelajaran ya, ingat itu! hehe.”


“Eh kamu mau kemana lagi Intan?.”


“Aku mau kesana dulu, kamu masuk lah, tidak baik perempuan malam-malam di luar, ayo sana masuk!.”


“Baiklah.” Kemudian Delima masuk kembali ke dalam pondok emak.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2