Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Back Home


__ADS_3

Masih dalam suasana bahagia dari President Suite Room pada salah satu Rumah sakit ternama di Ibu kota. Hari itu Intan tengah cemas menanti kabar dari suaminya yang sedang menghubungi dokter yang merawatnya. Intan sudah ingin pulang kerumahnya karena sudah lama sekali tinggal di Rumah sakit itu, dan kini suaminya tengah meminta pada Dokter agar Intan bisa dirawat dirumah saja.


Lama sekali Intan menunggu di ruangan tersebut. Sesekali Ia menjatuhkan pandangannya pada pintu luar dari ruangan itu, tetapi sang Suami tak kunjung datang juga. Sampai akhirnya Ia melihat sang Suami masuk dan menghampirinya. Intan sudah tidak sabar sekali ingin mendengar kabar dari Suaminya.


“Bagaimana sayang? Aku sudah boleh pulang kan?.” Tanya Intan pada Suaminya. Tetapi Ia melihat Suaminya lemas. Sepertinya Ia akan mendengar kabar yang tidak mengenakan dari Sang Suami.


“Sudah kuduga pasti Dokter masih melarangku untuk pulang, padahal aku sudah bisa makan dengan normal dan mualnya pun sekarang sudah gak pernah lagi. Aku sudah bosan disini sayang.” Rengek Intan pada Suami.


“Sini, peluk dulu.” Kata Sang suami mesra.


“Gak mau! Aku mau pulang!.” Rengek Intan.


“Sini peluk dulu.” Paksa sang Suami seraya menarik Istrinya kedalam pangkuannya.


“Gak mau! Lepaskan!.” Intan meronta dalam pangkuan Suaminya.


“Sayang dengar dulu, aku kan belum bicara sama kamu, informasi apa yang aku dapat dari Dokter.” Rayu Harvan seraya menciumi Istrinya bertubi-tubi.


“Udah cepat katakan sekarang!.” Rengek Intan kembali.


“Dengar ya sayang, kata dokter kamu boleh pulang hari ini.” Jelas Harvan. Sontak membuat Intan kegirangan hingga Ia tak sadar akan melompat.


“Serius sayang?.” Kata Intan yang langsung berdiri hendak melompat.


“Hei, hati-hati sayang, ada anakku didalam perutmu.” Kata Harvan yang langsung menarik kembali Istrinya keatas pangkuannya.


“Dengar dulu.” Kata Harvan.


“”Maaf sayang aku gak sadar saking senangnya.” Kata Intan.


“Dengar ya, dokter memperbolehkan kamu pulang asal kamu harus makan yang bergizi, banyak makan sayuran dan buah, terus minum susu ibu hamil nya secara teratur, juga senam ibu hamil dan tidur yang cukup,” Jelas Harvan.


“Siap sayang.” Jawab Intan senang.


“Dan satu lagi, ayahnya harus sering nengokin anaknya biar anaknya selalu bahagia.” Jelas Harvan.


“Ah itu sih bukan salah satu saran dari dokter, tapi mau ayahnya.” Kata Intan.


“Hehe, boleh ya sayang? Nanti kan aku harus puasa lama sekali saat kamu lahiran.” Kata Harvan seraya mendekap Istrinya.


“Iya. Iya boleh deh.. ya sudah, ayo sekarang kita pulang.” Ajak Intan memaksa.


“Tunggu sebentar, kata dokter nanti dia akan visit dulu, sabar ya sayang.” Bujuk Harvan.


“Yah lama lagi dong sayang, aku sudah tidak sabar ingin cepat pulang.” Rengek Intan kembali.


“Ya sudah sambil nunggu visit dokter, bagaimana kalau aku nengok bayiku dulu ya sayang” kata Harvan seraya menggendong Intan masuk kamar, Intan tak bisa berbuat apa-apa saat Sang suami menginginkan hal yang satu itu.


Dan terjadi lagi pergulatan diantara mereka. Tanpa aba-aba dihujamkannya tongkat komando pada kuncup kenikmatan Istrinya itu dengan penuh gairah yang hentakan-hentakannya menciptakan pekikan nyaring dari ujung bibir sang Istri.


Saat-saat mereka diatas puncak merasakan buncahan bersamaan, saat itu pula pintu ruangan tamu mereka diketuk dari luar. Cepat-cepat Harvan membenahi dirinya dan Istrinya. Dilihatnya dari tirai kamar, ternyata Jodi dan Vivi yang masuk keruangan tamu.


Harvan keluar dari kamar dengan penampilan yang peluh masih membasahi wajah dan lehernya. Jodi yang melihat penampakan tersebut, tersenyum seakan mengerti apa yang tengah terjadi di dalam kamar sana.

__ADS_1


“Udah elo mandi dulu sana.” Ujar Jodi dengan tampang senyum penuh arti.


“Oke.” Jawab Harvan pendek sedikit kikuk, lantas Ia berlalu menuju kamar mandi.


“Heh, mau kemana?.” Tanya Jodi pada Vivi, kala itu Vivi akan masuk ke kamar perawatan Intan.


“Ya mau lihat Intan sayang.” Kata Vivi, yang dihentikan niatnya oleh Jodi.


“Udah nunggu disini aja, jangan ganggu mereka, kamu gak lihat apa? Mereka sepertinya tadi lagi mantap-mantap keganggu karena kedatangan kita.” Jelas Jodi.


“Yah, aku gak merhatiin mereka sayang.” Jawab Vivi.


“Tuh denger tuh, mereka pada cekikikan di kamar mandi, lagi mandi bareng.” Kata Jodi.


“Hehe.. dasar ya mereka bener-bener gak ada bosennya.” Kata Vivi.


“Iya makanya, udah kita nunggu mereka disini saja.” Jelas Jodi.


Lama Jodi dan Vivi menunggu Intan dan Harvan membasuh diri.


“Sayang, lama banget ya mereka mandi!.” Kata Vivi pada Suaminya.


“Sepertinya mereka melanjutkan dikamar mandi sayang.” Ujar Jodi.


“Hehe, mereka bener-bener gak peduli sama kita kalau lagi berduaan.” Kata Vivi.


“Sudah biarkan saja, ayo kita bantu bereskan barang mereka.” Kata Jodi.


“Barang-barang yang dikamar, udah diberesin belum?.” Tanya Jodi pada Harvan.


“Itu lagi diberesin Intan.” Jawab Harvan.


“Sayang, sana bantu Intan.” Kata Jodi pada Vivi, dan Vivi pun melangkah menuju kamar.


“Gue angkut satu-satu ya barang-barangnya ke mobil Har? Biar nanti gampang tinggal pergi.” Kata Jodi.


“Iya, ayo kita masukin ke mobil.” Kata Harvan seraya mengambil tas dan beberapa paper bag yang sudah berjejer di ruangan itu, begitu pun Jodi mengambil beberapa tas lainnya.


Sementara Intan dan Vivi didalam kamar tengah Merapikan pakaian dari dalam lemari dan memasukannya ke dalam tas.


“Intan, kamu cuman dirawat saja disini, tapi barang-barang yang dibawa seperti mau pindahan saja.” Kata Vivi.


“Gak tahu tuh Suamiku, segala dibawa kesini, sampai lukisan dirumah saja dia bawa harus ditempel disini, aneh memang dia.” Jelas Intan.


“Suami kamu sama suami aku itu sebelas dua belas, manusia aneh mereka berdua memang, haha.” Kata Vivi.


“Iya, pantas saja mereka cocok, jodoh emang mereka haha.” Kata Intan.


“Eh Intan, kamu setiap hari ya di Rumah sakit ini dibantai sama suami kamu itu?.” Tanya Vivi.


“Bukan tiap hari lagi Vi, tapi sehari tiga kali, udah kayak minum obat aja tuh dia.” Jawab Intan.


“Haha..Serius Tan?.” Tanya Vivi kembali.

__ADS_1


“Serius lah, emang Kak Jodi gak gitu ya Vi?.” Kata Intan.


“Dia gak gitu sih, cuman kadang dia gak tahu sikon kalau lagi pengen.” Kata Vivi.


“Gak tahu sikon gimana Vi?.” Tanya Intan.


“Coba kamu bayangkan Tan, dia gak perduli kita lagi dimana, kalau dia lagi pengen, harus!..” jelas Vivi.


“Haha.. ternyata suami kamu lebih parah.” Gelak Intan.


Disaat mereka sedang tertawa menceritakan Suami-suami mereka, tiba-tiba orang yang sedang mereka ceritakan datang menghampiri mereka.


“Begitu ya, kalau suami lagi gak ada, diomongin di belakang.” Sindir Jodi.


“Siapa yang lagi ngomongin suami.” Jawab Vivi.


“Heh sayang, memangnya aku gak dengar apa yang kamu bicarakan tadi sama Intan?.” Jelas Jodi.


“Emangnya apa coba yang kamu dengar?.” Tanya Vivi.


“Kamu sudah membocorkan rahasia kita berdua.” Kata Jodi.


“Pastinya juga mereka ngomongin kita, kalau kita adalah suami-suami yang memuaskan mereka Jod.” Sambung Harvan.


“Iya benar, kalian memang suami-suami idaman diranjang haha.” Kata Intan.


Ditengah-tengah perbincangan mereka, tiba-tiba Dokter dan salah seorang yang berprofesi sebagai kepala ruangan perawatan menghampiri mereka.


“Permisi semuanya, maaf menggangu, Saya mau visit untuk yang terakhir kali nya, karena pasien saya hari ini akan segera kembali kerumahnya.” Kata Dokter.


“Iya Bu Intan hari ini Bu Intan sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter.” Kata Kepala ruangan President Suite Room.


“Terima kasih Dokter, dan Ibu kepala ruangan yang sudah mengijinkan saya pulang hehe, maaf saya sedikit memaksa karena saya sudah kangen rumah.” Jelas Intan.


“Ya sejujurnya sebelum anda memaksa ingin pulang, kami juga berencana membuat jadwal kepulangan anda, tapi suami anda sudah terlebih dahulu menemui saya.”Jelas Dokter.


“Maaf Dok, Istri saya sudah tidak sabar dan memangsa saya untuk menemui dokter, saya tidak bisa apa-apa kalau Istri saya sudah merengek hehe.” Ujar Harvan.


“Iya tidak apa-apa Pak Harvan, asalkan syarat yang saya berikan dipatuhi oleh Bu Intan ya?.” Kata Dokter.


“Siap Dokter, anjuran dari Dokter akan saya patuhi.” Jawab Intan.


Akhirnya setelah Dokter memeriksa Intan untuk yang terakhir kalinya, mereka bersalaman dengan Dokter dan Kepala Ruangan itu, kemudian mereka pun meninggalkan tempat itu.


Setelah Jodi dan Vivi mengurus Administrasi pada Bagian Keuangan Rumah sakit tersebut, mereka berlalu menuju kuda besi mereka dihalaman parkir Rumah sakit.


*


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam karena jalanan sedikit macet, akhirnya mereka sampai di Istana megah mereka.


Betapa bahagianya Intan kembali menginjakkan kaki di kediamannya. Dan kedatangan mereka disambut hangat oleh orang-orang yang bekerja pada rumah mereka.


❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥

__ADS_1


__ADS_2