
Malam yang cerah bagi sepasang insan yang tengah di mabuk asmara memberikan suasana semakin indah. Terlihat tubuh polos tengah tertidur pulas setelah melakukan ritual penyatuan diri entah sudah yang ke berapa kalinya hingga membuat sang istri seperti lemas tak berdaya.
Bercak darah menghiasi sprei putih menjadi saksi cinta mereka. Sang suami semakin erat memeluk tubuh sang istri lalu mencium keningnya.
Namun hawa tubuhnya terasa seperti lebih panas, terlihat sedikit memucat dan menggigil.
“Sayang sepertinya kau demam!.” Ucap sang suami.
“Iya sayang aku sangat lelah sekali.”
“Maafkan aku telah membuatmu seperti ini.”
“Tidak apa-apa sayang. Aku hanya sedikit kurang enak badan saja.”
“Aku panggilkan dokter pribadi kita ya?.”
“Tidak usah, nanti juga sembuh.” Perlahan sang istri menggerakkan tubuhnya, terlihat ia seperti kesakitan pada saat menggerakkan kakinya seraya meraih bathrobe lalu memakainya.
“Sakit sayang?.” Tanya mesra sang suami menunjuk dengan tatapannya ke area sensitif milik sang istri.
“Berbaring lah, jika kau perlu sesuatu katakan padaku.”
“Aku mau ke kamar mandi sayang.”
“Ya sudah aku bawa kau kesana.” Kemudian sang suami memapah tubuh sang istri yang terlihat nyengir menahan sakit setiap ia melangkah.
Setelah sampai kamar mandi sang suami menunggu di sampingnya hingga selesai. Lalu mereka berdua sama-sama membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri dan berpakaian sang istri merebahkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur sementara sang suami hendak berlalu ke luar kamar.
“Sayang, aku akan bawakan makan malam, kita makan di dalam kamar saja.” Kata sang suami lantas meninggalkan kamar itu.
Tak lama ia kembali dengan membawa nampan berisi dua piring makan malam untuk mereka berdua.
Sang suami hendak menyuapi sang istri yang duduk bersandar pada kepala tempat tidur.
“Aku bisa makan sendiri sayang.” Sang istri menolak untuk di suapi.
“Baiklah.” Sang suami menyerahkan satu piring untuk istrinya dan satu piring lagi di tangannya.
Mereka berdua makan bersama di kamar itu hingga suapan terakhir. Setelah menikmati makan malamnya. Sang suami membiarkan istrinya merebahkan tubuhnya kembali untuk istirahat sementara ia meninggalkan kamarnya menuju kamar putrinya.
Setelah membuka pintu kamar putrinya, nampak olehnya sang putri tengah terlelap memeluk Jodi. Perlahan Harvan mendekat, Jodi yang belum tidur ia meletakan telunjuk pada bibirnya sebagai isyarat untuk tidak berisik.
__ADS_1
“Dia baru saja tidur.” Kata Jodi setengah berbisik. Kemudian Harvan menganggukan kepalanya lalu duduk di samping putrinya lantas mencium keningnya.
Perlahan Jodi melepaskan pelukan Harin dari tubuhnya dan beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan ke balkon kamar di ikuti oleh Harvan.
“Delima gak tidur disini?.” Tanya Jodi.
“Sepertinya gak Jod, dia tidur di kamar gue, tubuhnya demam.” Jawab Harvan.
“Demam? Hehe.. elo nya terlalu agresif kali jadi bikin dia sakit. Tapi dia gak pasang jurus kan? Haha.”
“Gak lah.. oya tadi kalian jalan kemana aja?.”
“Seperti biasa… bersenang-senang. Noh lihat belanjaan putri elo.” Kata Jodi seraya menunjuk tumpukan paper bag yang memenuhi sofa dan meja di kamar itu.
“Syukurlah kalau dia senang. Oya Jod, elo udah urus surat nikah gue sama Delima?.”
“Udah, tinggal nunggu panggilan dari KUA. Elo tenang aja semua udah gue beresin kok.”
“Oke. Thanks ya Jod. Terus masalah dia (Delima maksudnya) gimana? Udah ada perkembangan belum?.”
“Tadi waktu gue nunggu Harin di salon, gue sempet ngehubungi team gue, katanya mereka lagi koordinasi sama pihak kepolisian. Dan team gue juga ngikutin olah TKP di sana. Terus tadi mereka juga lagi mencoba meretas ponselnya si pengusaha itu sama ponselnya si Almira.”
“Mudah-murahan cepet ketemu pelakunya. Sepertinya Delima masih ketakutan Jod setelah dia tahu, kalau dia jadi buronan polisi, makanya dia gak mau kemana-mana dulu.”
“Iya mending dia tinggal di rumah aja dulu, di rumah kan aman.” Sambung Jodi.
“Ah mending jangan dulu deh Har, takutnya ada apa-apa, tunggu sampai kita tahu siapa dalang di balik pembunuhan si pengusaha itu dulu. Kalau udah ketahuan kan enak, status dia buronan polisi di cabut baru aman. Kalau sekarang takutnya pada waktu dia di jalan ada orang yang tahu kan bisa di tangkap, berabe nanti urusannya.” Jelas Jodi.
“Iya juga sih.”
“Udah sono… elo balik ke kamar lagi. Siapa tahu dia lagi nunggu ronde selanjutnya haha.”
“Ah gila luh… untuk malam ini sepertinya cukup sampai di sini dulu, kasihan dia udah nyerah gue gempur terus-terusan tadi haha.”
“Anjir.. haha, sadis luh.”
“Abisnya dia yang kode in gue duluan, mana gue bisa tahan, Ya udah gue sikat aja langsung haha.”
“Haha.. dasar laki mesum luh.”
“Eh terus kapan elo mau nyusul?.”
“Gak gue Har… gue udah gak minat, kalau gue mau gampang, tinggal beli aja. Di jalanan juga banyak cewek. Gue lagi pengen menikmati kesendirian gue dulu.” Kata Jodi seraya memalingkan pandangannya pada pemandangan malam di depan pagar balkon.
__ADS_1
“Sabar ya Jod… gue yakin akan ada jodoh terbaik buat elo. Gue rasa elo lagi di pingit dulu karena jodoh terbaik elo lagi Allah persiapkan.”
“Gue sekarang udah ikhlas Har… mau Allah kasih gue jodoh lagi, ya gue akan terima… gak di kasih juga gue gak apa-apa. Urusan anak, Harin juga udah gue anggap anak gue, mau apa lagi gue?. Masalah bersenang-senang sama cewek rasanya gue udah puas jadi bajingan. Sekarang gue cuma pengen memperbaiki diri gue aja Har.”
Mendengar penuturan Jodi, Harvan terdiam. Ada rasa kasihan terhadap asisten sekaligus sahabatnya itu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Karena setiap diri memiliki pilihan masing-masing dalam hidupnya.
Allah menyediakan banyak pilihan dalam hidup. Maka pilihlah ia yang membuatmu nyaman, apapun itu, niscaya hidup akan damai. Bukan kah yang di cari dalam kehidupan itu adalah rasa nya? Atau ruh nya? Karena itu Tuhan memberikan berbagai macam pilihan yang sesuai dengan kemampuan kita, agar kita mendapatkan rasanya. Dan rasa itu adalah rasa yang sesuai dengan syareatnya.
Terkadang kesakitan adalah hal yang kita hindari bahkan benci. Dan kesenangan adalah hal yang paling kita cari. Namun tidak semua kesenangan dapat membuat kita nyaman. Karena kenyaman akan kita dapat manakala kita telah siap menerima apa pun keputusanNya dengan lapang dada.
Itu lah yang kini tengah Jodi rasakan. Dia tidak lagi mencari sesuatu untuk kesenangannya tetapi yang tengah ia cari adalah rasa nyaman meski dalam kesendirian.
Baginya masa lalu yang telah ia jalani sudah cukup memberikan pelajaran padanya, sekarang yang ingin ia lakukan dalam hidup adalah menikmati hidup dengan apa ada nya. Cukup menerima tanpa meminta, lebih banyak ingin memberi kebaikan tanpa harus di minta.
“Jod gue kembali dulu ke kamar ya? Gue minta elo temenin Harin, takutnya ia bangun tengah malam gak ada siapa-siapa di sisinya.”
“Oke, malam ini gue tidur disini, mungkin kedepannya juga elo akan di sibukan dengan bini elo, otomatis waktu bini elo buat Harin akan banyak tersita. Kalian tenang aja, ada gue yang akan jaga dia.”
“Gue percaya sepenuhnya sama elo. Jod, kalau seandainya suatu saat gue mati duluan, gue cuma minta satu hal sama elo, titip Harin. Karena hanya elo yang bisa ngalahin keras kepalanya dia selain gue.”
“Elo ngomong apa sih Har! Kalau elo mati gue ikut mati.”
“Eh anjir… gak mau gue sehidup semati sama elo haha. Terus kalau kita berdua mati yang jaga Harin siapa?.”
“Kan ada emak nya si Delima.”
“Eh Delima mau ajak gue mati! Tahu!.”
“Eh jangan sembarang luh ngomong ya Har.”
“Hehe gue becanda kali Jod. Tapi boleh kan gue berwasiat sama elo. Umur kan kita gak tahu Jod. Gue kan cuma bilang seandainya gue mati duluan.”
“Iya kita memang gak tahu kapan kita akan mati. Tapi dalam hal kematian kita gak perlu deh berandai-andai karena kematian itu sesuatu yang pasti. Dan masalah Harin, tanpa elo minta juga gue mah mau jaga dia sampai gue mati.”
“Syukur deh kalau gitu, gue jadi tenang. Ya udah gue mau kembali nyangkul lagi ya? Haha.”
“Sialan luh bucin! Sono luh pergi!.”
“Haha.” Harvan tertawa dan meninggalkan Jodi di kamar putrinya.
Dan malam pun semakin larut. Akhirnya Jodi berlalu dari balkon masuk ke dalam ruangan dan membenamkan dirinya di samping Harin.
Sementara Harvan yang telah berada di dalam kamarnya. Ia tengah memandangi istrinya yang tengah terlelap dengan wajah lelahnya.
__ADS_1
Kemudian ia merebahkan dirinya di samping tubuh istrinya itu yang berada di bawah selimut tebal. Di peluknya tubuh indah itu hingga membawa dia ke alam mimpi.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖