Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Mereka Kembali


__ADS_3

Di salah satu Bandara Internasional yang terletak di Ibukota, nampak terlihat wanita cantik dan seorang anak perempuan yang kira-kira berusia 9 tahun, keluar dari pintu terminal. Tidak jauh dari keberadaan mereka nampak pria berperawakan kurus menyambutnya dengan suka cita.


Selvy dan putrinya Revy, baru datang dari Jerman ke Indonesia yang kedatangannya disambut oleh Reyhan. Nampak terlihat wajah bahagia Selvy, tapi tidak dengan Revy. Anak gadis berusia 9 tahun itu seperti tidak begitu menikmati kedatangannya ke Indonesia.


“Kenapa Revy? Kau cemberut saja dari tadi.” Sapa sang Ibu.


“Hm.” Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya dengan mengenduskan nafasnya.


“Kamu akan senang tinggal disini bersama mama.” Kata Selvy sembari menggandeng anaknya menghampiri Reyhan yang menunggunya.


“Bagaimana perjalanannya?.” Tanya Reyhan pada Selvy, kemudian mereka saling berpelukan.


“Cukup nyaman.” Jawab Selvy sembari mencium pipi Reyhan. Kemudian,


Reyhan memandangi Revy, namun Revy memalingkan wajahnya ke arah lain, sepertinya tidak suka dengan kehadiran Reyhan di depannya.


“Sudah, jangan dipikirkan, nanti juga setelah dia tinggal disini, dia akan terbiasa.” Ujar Selvy enteng pada Reyhan.


Lalu mereka bertiga memasuki sebuah mobil yang Reyhan bawa. Selvy duduk disamping Reyhan sementara Revy duduk di belakang dengan boneka Marsha kesayangannya.


“Oya, kamu akan menempatkan kami dimana?.” Tanya Selvy pada Reyhan.


“Tentunya di tempat yang aman lah, meskipun bukan di daerah Jakarta, tapi tempat itu tidak begitu jauh dan cukup strategis.” Jawab Reyhan.


“Oke, gak masalah yang penting semua fasilitas harus ada.” Kata Selvy.


“Tentu saja, apa yang kamu butuhkan bisa kamu dapatkan disana, dan apa yang kamu inginkan bisa dengan mudah kamu miliki.” Reyhan melirik Selvy dengan penuh nafsu.


“Lalu, bagaimana dengan sekolahnya Revy?.” Tanya Selvy.


“Mungkin dia tidak bisa kita ekspose dulu, tunggu waktu yang tepat, jadi untuk sementara dia mengikuti metode Homeshcooling saja.” Jelas Reyhan.


Revy menjatuhkan pandangannya pada Reyhan dengan tatapan bencinya.


“Aku sudah menghubungi seseorang yang siap menjadi guru pendamping untuk Revy.” Sambung Reyhan.


“Baiklah kalau begitu, aku setuju.” Kata Selvy.


“Bagaimana dengan mama dan papamu? Bagaimana reaksinya saat kamu membawa Revy kesini?.” Tanya Reyhan setelah ia melirik pada spion, melihat Revy yang mulai memejamkan matanya.


“Aku mengatakan pada mereka kalau Revy cuma berlibur saja disini, kalau tidak begitu, akan sulit membawa Revy keluar dari rumah itu.” Jelas Selvy seraya melihat kearah Revy yang tertidur pulas dengan memeluk boneka Marshanya.


Reyhan menyunggingkan sudut bibirnya setelah mendengar apa yang Selvy katakan, sembari fokus menyetir kendaraannya.


“Aku akan menempatkan kalian di sebuah Villa yang besar di daerah puncak Cianjur. Aku kira itu tempat yang aman untuk kalian.” Kata Reyhan.


“Oke, tidak masalah.” Jawab Selvy singkat, lalu


“Apa rencana kita selanjutnya untuk menghadapi si Harvan itu? Apa kamu sudah menyusun strategi? Sehingga kamu memaksaku untuk membawa Revy ke Indonesia.?” Sambung Selvy.

__ADS_1


“Tentu saja aku sudah menyusun rencana terbaik kali ini, karena aku sudah tidak sabar untuk menguasai harta si Harvan itu.” Tegas Reyhan.


“Oya, anaknya sekarang sudah besar dong?.” Tanya Selvy.


“Iya, kira-kita berusia 4 tahunan. Nanti aku akan suruh orang memata-matai anaknya itu untuk mengambil kesempatan dan memastikan menjalankan rencana kita.” Jelas Reyhan.


“Bagus! Aku juga ingin segera dendam ini terbalaskan. Aku sudah cape dengan semua ini.” Ujar Selvy dengan mengendus kepalan tangan kirinya yang ia letakan pada bibirnya.


“Oya? Apakah kamu tidak lupa membawa arsip Revy?.” Tanya Reyhan.


“Tentu saja aku bawa dengan lengkap, karena itu adalah senjata yang paling ampuh untuk merebut segalanya dari si Harvan itu!.” Geram Selvy.


“Bagus! Kamu memang iblis betinaku yang paling cerdik haha.” Kelakar Reyhan.


“Hus! Pelan-pelan kau tertawa, nanti akan membangunkan Revy.” Selvy mengalihkan pandangannya pada jok belakang dan dia masih melihat Revy terlelap.


*


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam, akhirnya mereka sampai disebuah Villa yang cukup luas. Villa dengan gaya minimalis modern sengaja Reyhan siapkan untuk Selvy dan anaknya hasil hubungan gelap mereka.


Cuaca di sekitar Villa itu cukup sejuk dan melenakan mata kala melihat pemandangan di sekitarnya. Villa yang berada ditengah bukit dengan dikelilingi kebun sayuran itu akan membuat nyaman bagi siapa saja yang berada disana.


Kemudian mereka bertiga memasuki Villa yang terlihat mewah itu jika dilihat dari penampakan interiornya. Selvy cukup puas dengan Villa tersebut karena ia terbiasa dengan kehidupan yang mewah dan glamor, jadi Reyhan berusaha menyiapkan segalanya dengan menyesuaikan gaya hidup Selvy.


Setelah Reyhan memperlihatkan semua ruangan dari Villa itu, Selvy membawa Revy ke kamarnya yang telah disiapkan oleh Reyhan dilantai dua Villa tersebut. Sementara kamar Selvy berada di sebelah kamar anaknya itu.


Revy memasuki kamarnya yang cukup luas itu dengan furniture yang lengkap. Setelah ia memandangi sekelilingnya, terlihat Revy cukup nyaman disana meski pun didalam hati nya ia menyimpan sesuatu yang ia sembunyikan. Dan entah apa itu?.


“Hm.” Revy menjawab dengan anggukan dan dengusan pelan.


“Sekarang Istirahatlah, jika kamu butuh sesuatu panggil pelayan.” Jelas Selvy yang kemudian meninggalkan anaknya itu, berlalu menuruni tangga setelah menutup pintu kamar anaknya itu.


Belum sampai pada lantai bawah, tiba-tiba Reyhan menghampiri Selvy dan mengajak Selvy ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Revy.


“Aku masih lelah.” Tolak Selvy yang ditarik Reyhan menuju kamarnya.


“Sebentar saja, karena aku sebentar lagi akan pergi mengunjungi temanku.” Kata Reyhan yang terus menyeret tubuh Selvy kedalam kamar.


“Temanmu yang mana?.” Tanya Selvy yang kini sudah berada di dalam kamar bersama Reyhan.


“Teman sekolahku, dia satu-satunya teman yang aku miliki.” Jawab Reyhan sembari mencumbui Selvy yang kala itu masih berdiri.


“Oh, laki-laki atau perempuan?.” Tanya Selvy sembari melucuti pakaian Reyhan.


“Haha.. kamu cemburu ya? Kalau temanku itu perempuan haha.” Kelakar Reyhan seraya menyeret kasar tubuh Selvy dalam keadaan polos ke atas tempat tidur.


“Tenang saja, dia lelaki, namanya Aldo, nanti akan aku kenalkan padamu.” Sambung Reyhan yang mulai menyerang ganas dengan birahinya yang sudah tak terbendung.


Dan terjadilah pertempuran duo dajjal itu. Mereka berdua sama-sama menikmati nafsu binatangnya hingga pergulatan mereka ditutup dengan erangan yang memekik dari keduanya.

__ADS_1


Setelah melampiaskan nafsunya, Reyhan bergegas pergi meninggalkan Villa itu, ia memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi.


*


Setelah kurang lebih 2 jam ia memacu kendaraannya, sampailah ia di kediaman Aldo sahabatnya itu.


Lama Reyhan menunggu Aldo, setelah pelayan dirumah itu mempersilahkannya masuk, akhirnya Aldo keluar dari kamarnya.


“Tumben luh datang sore-sore.” Kata Aldo sembari mengenakan T-shirt warna putihnya kemudian duduk di sofa.


“Emang gue gak boleh datang lagi setelah kejadian waktu itu?.” Ujar Reyhan yang kemudian duduk di sebelah Aldo.


“Hehe, seorang Aldo Federico tidak pernah berlaku demikian pada sahabatnya Rey.” Kata Aldo yang kemudian berdiri mengambil dua gelas minuman dan memberikan satu gelasnya pada Reyhan.


Reyhan tidak pernah tahu kalau sebenarnya Aldo pernah mendatangi Harvan ke kantornya. Untuk memberikan informasi mengenai tindak tanduk Reyhan. Sengaja Aldo berlaku demikian agar tidak menimbulkan kekacauan yang akan merugikan semua orang, yang ia inginkan adalah sahabatnya itu tersadar dari dendamnya Pada saudaranya sendiri.


Aldo merasa curiga bahwa sahabatnya akan mengatakan umpatan-umpatannya lagi yang ditujukan kepada saudaranya itu. Karena memang setiap Reyhan datang pada Aldo pastinya untuk mencurahkan segala sesuatu yang ada di dalam hatinya termasuk rencana-rencana jahatnya.


Reyhan menganggap Aldo adalah satu-satunya sahabat yang ia percayai dan selalu mau mendengar keluh kesahnya. Walaupun pertemuan terakhir mereka saat itu sedikit tidak sesuai dengan harapan Reyhan.


Tetapi Reyhan melupakan masalah saat itu, karena ia tidak memiliki teman lagi selain Aldo.


“Oya, gimana rencana elo yang Kemaren itu? Bukannya elo berencana melakukan sesuatu padanya?.” Tanya Aldo menyelidik.


“Gue gagal lagi Do, ternyata udah ada yang lebih dulu membunuh Istrinya si Harvan.” Kata Reyhan seraya menenggak minuman yang berada ditangannya.


DUG dada Aldo berdegup.


“Apa! Istrinya sepupu elo itu ada yang bunuh?.” Tanya Aldo dengan terkejutnya tetapi ia bisa menyembunyikan mimiknya itu.


“Iya, dia dibunuh pada saat mau ngelahirin di rumah sakit. Dan menurut berita yang membunuh istri si Harvan itu adalah istri asistennya.” Jelas Reyhan.


“Gila! Motifnya apa itu istri asisten si Harvan sampai tega bunuh istri Boss suaminya.” Kata Aldo sembari mengingat pertemuan dia dengan Harvan, yang pada saat pertemuan itu ia memang melihat di ruangan itu ada seorang pria, dan pria itu adalah Jodi.


“Gak tahu lah Do, yang jelas gue kecewa banget karena niat gue adalah bunuh istri sekaligus anaknya digagalkan sama si pembunuh itu, dan cuman istrinya saja yang mati, sementara anaknya masih hidup! Sial!.” Emosi Reyhan.


Aldo mendengarkan fokus apa yang di katakan oleh Reyhan karena itu adalah informasi penting yang akan ia sampaikan kembali pada Harvan.


“Oya, Selvy sama anaknya sudah ada di Indonesia lagi, tadi sebelum gue kesini gue jemput dia dulu di bandara.” Sambung Reyhan.


“Dalam rangka apa Selvy sama anaknya datang kesini Rey?.” Tanya Aldo kembali menyelidik.


“Hahah, ya dalam rangka apa lagi kalau bukan duet sama gue menuntut hak dari si Harvan itu!” Kelakarnya.


“Menuntut hak! Hak apa memangnya Rey?.” Selidik Aldo kembali.


“Haha, Pokonya gue belum bisa bilang sama elo karena gue masih menyusun rencana haha, nanti gue kasih tahu elo kalau semuanya sudah beres haha.” Reyhan terbahak dengan senangnya, karena di dalam fikirannya bahwa rencana dia kali ini tidak akan gagal lagi.


“Gila luh! Elo tuh Ya, gak akan pernah berubah sepertinya Rey.” Ujar Aldo yang mulai mewaspadai tindakan yang akan dilakukan Reyhan selanjutnya untuk melakukan kejahatan pada Harvan.

__ADS_1


🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗


__ADS_2