
Di bawah langit ibu kota, sesosok pria dengan wajah penuh amarah memacu kendaraannya dengan kasar dan penuh nafsu. Seperti menahan luapan emosi yang sudah menggenap dalam jiwanya.
Ia tak lagi memiliki pikiran jernih, di dalam hatinya hanya di penuhi dengan kesetanan yang menjadi-jadi.
“Kurangajar luh Harvan! Kenapa begitu sulitnya elo di lumpuhkan!. Gue gak terima dengan apa yang elo raih sekarang! Kenapa dari dulu elo selalu lebih unggul dari gue?! Hah! Gue gak akan menyerah sampai elo luluh lantak! Camkan itu!!” Gumam sosok itu. Ia memacu kendaraannya dengan penuh amarah.
Kemudian sosok itu berhenti di suatu tempat, dan memasuki sebuah rumah yang lumayan besar dengan halamannya yang luas. Lalu ia memasuki rumah itu dan mendapati seseorang yang tengah duduk di kursi besar.
“Kenapa elo Rey? Selalu aja elo pasang muka muram?.” Tanya seseorang itu.
“Benci gue gak akan pernah habis sama itu manusia!.” Jawab sosok itu.
Ya, dia adalah Reyhan sepupu Harvan yang dari dulu ia selalu merasa kalah dari Harvan. Dari kecil sampai sekarang nasibnya selalu berbanding terbalik dengan sepupunya itu.
Reyhan kecil adalah anak yang nakal. Ia selalu membuat onar dan membuat keluarganya malu, sampai sekarang pun di usianya yang sudah matang, ia masih tetap tak memiliki masa depan yang cerah, hidupnya selalu bergantung kepada orang tua dan orang lain. Beda dengan Harvan yang sedari kecil di pupuk hidupnya dengan jiwa disiplin dan kerja keras. Maka tak heran kalau Harvan selalu lebih unggul dalam hal apapun dari sepupunya itu.
Kesenggangan itu lah yang membuat Reyhan menumbuhkan rasa benci terhadap Harvan sepupunya itu. Reyhan selalu menganggap Harvan adalah saingan dalam hal apapun. Tetapi selalu saja ia tak bisa mengimbanginya karena kalah dalam segi kualitas cara berfikirnya.
“Sepupu elo yang elo maksud?” Tanya Aldo.
“Ya siapa lagi kalau bukan bedebah itu!.” Ujar Reyhan.
Aldo adalah teman Reyhan. Meski Aldo memiliki sifat yang sama dengan Reyhan, tapi nasib Aldo lebih beruntung dari nya. Aldo sedikit punya kekuatan karena ia rajin usaha untuk mengatasi hidupnya. Aldo memiliki pabrik tekstil di Ibu kota, dan itu sangat cukup untuk menjamin kehidupannya.
“Kenapa sih elo dari dulu benci banget sama sepupu elo itu Rey?.” Tanya Aldo.
“Gue benci karena dari dulu dia selalu lebih unggul dari gue dan selalu jadi kebanggaan keluarga besar kita!.” Ungkap Reyhan.
“Ya itu salah elo Rey, kenapa elo gak bisa kayak dia? Itu karena usaha elo yang kurang maksimal. Coba elo belajar dari dia. Bagaimana dia bekerja keras dalam usahanya, bagaimana dia mampu mengatasi hidupnya, sehingga semakin hari ia semakin maju.” Kata Aldo.
“Najis! Kalau gue harus belajar dari dia.” Jawab Reyhan dengan bengis.
“Ya kalau begitu, elo bakal susah ngejar dia, sampai kapanpun elo akan terus seperti ini, jadi beban orang-orang di sekitar elo.” Jelas Aldo.
“Elo itu aneh ya, malah belain dia! Yang temen elo itu siapa? Dia apa gue?.” Kata Reyhan dengan nada tinggi.
“Heh Rey, Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang kalau seseorang itu tidak mau merubah dirinya sendiri! Elo selalu menganggap sepupu elo itu saingan elo, tapi elo selalu jalan di tempat, bagaimana elo bisa bersaing sama dia, hah? Yang ada elo sampai mati menyimpan dendam kesuman elo sama sepupu elo itu! Dan menurut gue, perasaan elo yang benci sama dia itu gak beralasan, elo terlanjut di kalahkan oleh nafsu elo itu Rey.” Jelas Aldo.
“Ah sialan luh! Terus aja bela si brengsek itu! Gue ke sini mau minta saran elo, bagaimana caranya ngehancurin dia!, bukan malah elo belain dia!.” Kata Reyhan dengan muka marahnya.
“Heh Rey, kalau elo minta saran sama gue, saran gue ya itu tadi yang gue udah omongin ke elo! Mindset elo tuh udah di racuni kebencian sih, jadi susah menerima saran juga. Bingung gue.” Ujar Aldo.
__ADS_1
“Gue gak minta elo ceramahin gue! Gue cuma minta saran, gimana caranya gue ngehancurin si brengsek itu.” Kata Reyhan.
“Kalau elo minta saran ke gue buat ngehancurin sepupu elo itu! Elo salah tempat Rey, meskipun elo temen gue dari dulu, meskipun kita udah deket kayak sodara, tapi kalau urusan hancur menghancurkan orang, gue gak bisa Rey.. Sorry.”Terang Aldo.
“Heh. Sejak kapan elo jadi kayak gini Do? Elo lupa kalau gue selalu ada saat elo terpuruk, elo lupa kalau gue orang yang pertama belain elo, elo gak inget lagi saat gue nge hancurin si Alvin yang sudah ngerebut tunangan elo itu?, gue jahat karena gue solider sama elo Do!.” Jelas Reyhan.
“Gue sangat berterima kasih sama elo Rey, gue bersyukur punya temen kayak elo yang mau belain gue mati-matian, tapi gue akan sangat berterima kasih lagi sama elo kalau elo buang kebencian dalam hati elo itu, tidak hanya buat sepupu elo, tapi buat orang lain juga, gue pengen elo berubah Rey. Kita itu sama, manusia hancur Rey, tapi gue ingin bangkit dari kehancuran gue, gue pengen berubah jadi manusia yang belajar hidup lebih baik lagi Rey.” Jelas Aldo.
“Oh jadi gitu ya sekarang?! Elo udah lupa ya akan kebaikan gue sama elo?! Denger ya Do, selama si brengsek itu masih bernafas, hidup gue gak akan tenang! Ngerti gak elo!.” Ujar Reyhan dengan nada tinggi dan berlalu meninggalkan Aldo dengan wajah merah padam mengandung amarah.
Aldo yang memperhatikan tingkah sahabatnya itu menggelengkan-gelengkan kepalanya. Tidak tahu harus bicara apalagi, untuk membuat sahabatnya itu agar bisa meredam dendam kesuman di dalam hatinya.
*
*
Sementara itu di sebuah gedung kantor yang menjulang tinggi. Nampak Harvan dan Jodi tengah membicarakan projek perusahaan mereka.
“Jadi Jod, untuk sekarang-sekarang ini gue minta tolong sama elo, kalau urusan keluar daerah elo yang handle ya, gue gak tega pergi jauh ninggalin Intan, kayaknya ngidam nya repot banget dia. Tiap pagi muntah-muntah, malah sekarang dia gak mau makan.” Jelas Harvan.
“Iya Har, elo tenang aja. Biar urusan perusahaan gue aja yang handle, elo urusin aja bini elo, kesian dia ngidamnya kok gitu banget ya.” Jujur Jodi.
“Maka dari itu Jod, gue pengen lebih intensif merhatiin dia, elo bayangin coba, orang lain yang masih punya nyokap, bisa di perhatiin sama nyokapnya. Nah dia siapa yang mau merhatiin kalau bukan gue. dia gak punya siapa-apa buat nyari perhatian, elo tau sendiri, sementara nyokap gue sibuknya gak ketulungan, lebih-lebih dari presiden. sampai bokap keluar daerah pun dia ikutin.” Jelas Harvan.
Di sela-sela obrolan mereka tiba-tiba pintu di ketuk seseorang dari luar. TOK.. TOK.. TOK.
“Ya masuk.” Kata Harvan dari dalam.
“Maaf Boss, ada tamu buat Boss.” Kata Diana sang sekretaris.
“Siapa?.” Tanya Harvan.
“Pengusaha tekstil boss.” Ujar Diana.
“Siapa ya? Ada urusan apa sama saya? Tapi gak apa-apa deh suruh masuk aja Diana.” Kata Harvan.
“Siap Boss.” Jawab Diana, kemudian sang sekretaris itu memanggil tamu tersebut. Lalu tamu itu pun masuk.
“Selamat siang pak Harvan.” Sapa tamu tersebut.
“Selamat siang juga, mari duduk.” Ajak Harvan pada tamunya, kemudian ia duduk di sofa yang telah ada Jodi duduk di sana. Jodi memperhatikan tamu yang datang tersebut. Kemudian,
__ADS_1
“Maaf kalau boleh saya tahu, anda siapa dan ada keperluan apa?.” Tanya Harvan pada tamunya.
“Maaf sebelumnya, perkenalkan nama saya Aldo, saya pengusaha tekstil, maksud saya datang kesini ada yang ingin saya sampaikan di luar urusan perusahaan.” Jelas Aldo, yang menyalami Harvan, sementara itu Jodi masih tetap memperhatikan tamu tersebut karena sepertinya Jodi baru mengenalnya.
“Baiklah, silahkan kita bicarakan di sini. Oya sebelumnya saya kenalkan dulu, ini Jodi asisten saya.” Kata Harvan yang langsung memperkenalkan Jodi pada Aldo.
“Begini, maksud saya datang kesini tidak ada lain, selain hanya ingin mengingatkan anda untuk berhati-hati.” Kata Aldo, Jodi dan Harvan langsung merespond dengan seksama mendengarkan apa yang akan di ucapkan oleh Aldo.
“Saya adalah sahabatnya Reyhan, kami sudah sejak lama bersahabat dengan nya. Sepanjang saya bersahabat dengannya yang selalu saya dengar dari mulutnya adalah umpatan-umpatan kebencian terhadap anda. Dan saya tahu dari dia, kalau anda adalah sepupunya yang sedari dulu ia benci. Dan saya sangat hafal betul alasan dia membenci anda. Tadi dia mendatangi rumah saya, dia menceritakan dendamnya pada anda, untuk itu saya datang kesini ingin mengingatkan anda agar hati-hati, khawatir dia akan merencanakan sesuatu yang mencelakai anda.” Jelas Aldo
DUG
Harvan dan Jodi terhenyak mendengar penuturan sahabatnya Reyhan itu.
“Saya rasa saya perlu memberitahu anda, karena sebagai sahabatnya, saya tidak ingin dia menyimpan dendam yang tidak berkesudahan karena itu akan merusak dirinya. Apa lagi mencelakai orang lain, terlebih itu saudaranya sendiri.” Jelas Aldo kembali.
“Mohon maaf jika saya di rasa lancang terhadap anda, saya lakukan ini tiada maksud lain selain merasa terpanggil dari sisi kemanusiaan saya, saya pun bukan orang yang baik, tetapi pada saat saya melihat ada kemunkaran di depan mata saya, saya rasa itupun termasuk masalah yang harus saya netralisir.” Tutur Aldo lagi.
“Baik Aldo, sebelumnya saya sangat berterima kasih anda telah mau memberikan informasi ini pada saya. Saya sangat menghargai usaha anda. Memang dari dulu Rey selalu saja menganggap kalau saya ini adalah sepupu yang menjadi saingannya, padahal sedikitpun saya tidak menyimpan kebencian pada nya. Berkali-kali saya selalu mengajak dia berdamai dengan situasi ini, tapi dia tidak pernah mau. Kalau saja dia mau berbaik hati pada saya, kita bisa duduk bersama mencairkan semua yang mengganjal di hatinya. Saya tidak tahu kenapa sepupu saya yang satu itu begitu membenci saya.” Jelas Harvan.
“Kalau saya lihat dari pengamatan saya, saya menangkap dia hanya merasa tidak seberuntung anda. Sudah saya katakan pada nya untuk meredam hati nya, tapi dia keras kepala. Makanya saya menemui anda, takut dia nekad melakukan sesuatu yang akan menghancurkan dirinya sendiri.” Tutur Aldo.
“Dia sudah sering melakukan tindakan nekad, hanya saja selalu gagal, terakhir dia akan membunuh istri saya dengan menyewa pembunuh bayaran. Apapun kejahatan yang dia lakukan, saya tidak pernah mengadu pada keluarga besar saya, apalagi melaporkan dia pada pihak yang berwajib, karena saya menjaga perasaan mereka. Walau bagaimana pun dia adalah saudara saya, maka saya tak akan tega membalasnya. Selama saya bisa mengatasi niat jahatnya, saya rasa itu tidak masalah bagi saya.” Jelas Harvan.
“Tapi jika terus di biarkan, saya khawatir akan berlanjut terus, karena tidak ada efek jera untuk membuatnya berubah.” Timpal Aldo.
“Iya sih. Saya juga sering merasa khawatir kalau dia akan nekad lagi melakukan berbagai macam cara. Karena itu saya selalu berhati-hati padanya.” Tukas Harvan.
Jodi hanya memperhatikan obrolan mereka berdua, tak sedikitpun ia berkomentar.
“Baiklah Harvan, mungkin hanya itu informasi yang bisa saya berikan sekali lagi niat saya tulus sebagai manusia yang ingin mengingatkan sesama. Jika ada informasi lagi akan saya sampaikan nanti, mohon maaf jika saya mengganggu waktu ada.” Ujar Aldo.
“Tidak apa-apa Aldo, justru saya sangat berterima kasih pada anda, yang telah memberikan informasi yang sangat penting untuk kehidupan saya. Semoga kita bisa berteman baik kedepannya.” Kata Harvan menyalami Aldo.
“Baik, kalau begitu saya permisi dulu.” Kata Aldo yang lantas menyambut tangan Harvan dan berlalu meninggalkan ruangan Harvan.
Sepeninggalan Aldo, Harvan dan Jodi duduk terdiam. Mencerna informasi yang tadi Aldo sampaikan.
“Kalau kenyataan nya seperti itu, kita memang harus lebih berhati-hati lagi Har.” Kata Jodi.
“Iya Jod.” Jawab Harvan.
__ADS_1
Kemudian mereka berdua pun melanjutakan kembali aktivitas kantor mereka.