
Tiga bulan kemudian
Siang itu cuaca Ibu kota begitu cerah. Intan yang perutnya sudah membuncit karena usia kandungannya kini menginjak tujuh bulan, Ia tengah menemani Suaminya makan siang dirumah. Setelah Intan pulang dari perawatan di Rumah sakit waktu itu, setiap makan siang Harvan selalu pulang ke rumah agar dapat mengontrol Istrinya makan sehingga Ia selalu makan siang bersama.
Setiap mereka makan Harvan selalu menyuapi Istrinya, karena kalau tidak begitu Istrinya akan malas-malasan dan selalu menyisakan makanannya.
“Yaelah, makan sendiri napa Tan?.” Kata Jodi yang selalu menemani mereka makan siang.
“Nih Boss kamu gak boleh aku makan sendiri!.” Jawab Intan.
“Kalau dia makan sendiri suka sisa Jod, kasihan anak gue di dalam nanti kelaparan.” Jelas Harvan.
“Makanya jangan banyak-banyak ngambil makanannya sayang, jadi suka tersisa.” Kata Intan.
“Dokter kan bilang, kamu harus makan banyak biar putri kita sehat.” Jelas Harvan seraya menyuapkan sendok pada mulut Istrinya.
“Elo juga Tan gak nurut sama laki elo sih, sudah tahu laki elo itu cerewet.” Ujar Jodi.
“Lagian Boss kak Jodi ini aneh sih, sibuk banget ngurusin anaknya. Masih di dalam perut saja sudah begini, apalagi kalau sudah lahir. Padahal aku juga bisa ngurusin sendiri.” Jelas Intan.
“Sudah jangan banyak ngomong, a.. lagi nih ayo buka mulutnya sudah mau habis nih makannya.” Ujar Harvan yang memaksa Istrinya membuka mulut.
“Ini aku masih ngunyah sayang, tunggu sebentar apa!.” Ujar Intan kesal.
“Iya cepat ngunyahnya, kasian putri kita, dia masih lapar.” Kata Harvan.
“Yaelah, pusing gue lihat kalian berdua, makan aja ribut.” Kata Jodi.
“Gak tahu nih ah Boss Kak Jodi rese. Oya sayang, aku sudah janjian sama Vivi nanti mau jalan keluar.” Kata Intan sembari mengunyah makanan di mulutnya.
“Mau kemana?.” Tanya Harvan.
“Mau beli perlengkapan bayi, boleh ya sayang?.” Pinta Intan.
“Gak boleh!.” Jawab Harvan singkat sembari mengelap mulut Istrinya.
“Loh kenapa? Aku kan sudah telepon Vivi, nanti sebentar pagi Vivi jemput aku.” Jelas Intan.
“Besok saja beli perlengkapannya biar aku yang antar, aku kan ayahnya jadi aku yang harus pilih apa yang akan putriku pakai.” Jelas Harvan.
“Yaelah Har, biarin aja kali bini luh pergi berdua sama Vivi, lagian yang gitu-gitu mah urusan perempuan.” Kata Jodi.
“Gak bisa! Gue harus tahu dan gue yang harus pilih buat anak gue, Jod.” Jelas Harvan.
“Yah sayang, Kok gitu sih, aku kan pengen sekarang beli nya, gak mau nunggu besok.” Rengek Intan.
“Ya sudah kita pergi sekarang, aku yang antar.” Jelas Harvan.
“Eh, siang ini kan elo ada meeting Har, elo harus pimpin meeting gak bisa kemana-mana.” Protes Jodi.
“Elo aja yang handle.” Kata Harvan singkat sembari menyuapkan makan kemulutnya.
“Yah, gue lagi dah, ini nih gara-gara emak-emak rempong, jadi mgerecokin kerjaan lakinya.” Ujar Jodi.
“Iya sayang, kamu kerja aja, biar aku sama Vivi aja yang belanja. Kerjaan kamu lebih penting.” Kata Intan.
“Tidak sayang, Jodi bisa handle kerjaan aku kok, urusan putri kita lebih penting dari segalanya.” Jelas Harvan.
“Hallo semua.” Kata Vivi. Membuyarkan perdebatan mereka.
“Vi sudah makan belum?.” Tanya Intan.
“Belum Tan, lapar banget nih, aku ikut makan ya hehe.” Kata Vivi yang langsung mengambil piring untuk makannya.
“Eh, datang-datang langsung makan saja, bukannya cium dulu tangan suami kek.” Kata Jodi pada Vivi.
“Ah bosen cium suami mulu. Tiap hari juga diciumin tuh tangan.” Kata Vivi sembari mengambil nasi kedalam piringnya.
“Eh itu adab sayang, dimana pun saat ketemu suami harus di cium tangannya. Besar loh pahalanya.” Jelas Jodi.
“Ya udah, mana tangannya sini.” Kata Vivi yang langsung meraih tangan suaminya, diciumnya tangan suaminya itu dan langsung menyantap makanannya.
Harvan dan Intan tersenyum melihat kelakuan mereka berdua.
“Oya Tan, jadi gak kita jalan hari ini?.” Tanya Vivi.
__ADS_1
“Jadi Vi, tapi ayah nya bayi mau ikut.” Kata Intan.
“Lah, kan mereka kerja.” Ujar Vivi.
“Kerjaan gue di handle laki elo.” Jawab Harvan.
“Terus, aku sendiri gitu? Gak mau ah suamiku juga harus ikut kalau kamu ikut Har, masa aku jadi ajudan kalian.” Jelas Vivi.
“Ya sudah, gue berangkat sama bini gue duluan, nanti elo sama bini elo nyusul ya Jod.” Kata Harvan.
“Siap aja gue mah gimana perintah Boss deh.” Kata Jodi.
“Ayo sayang, ikut ke kantor aku dulu, nungguin aku meeting dulu ya? Nanti habis selesai semuanya di kantor, kita nyusul mereka.” Ajak Jodi pada Vivi.
“Oke, kalau gitu.” Jawab Vivi.
Setelah menghabiskan makan siangnya Jodi dan Vivi pamit pada Harvan dan Intan untuk melanjutkan aktivitas kantornya. Sementara Harvan mengajak Intan ke kamar mereka.
“Mau ngapain?.” Tanya Intan pada Suaminya.
“Sebelum pergi aku mau nengok putri kita dulu.” Jawab Harvan seraya membawa Intan ke kamar mereka.
Intan hanya bisa patuh pada keinginan suaminya. Mengikuti ajakan Suaminya untuk melakukan ritual yang sudah menjadi kewajibannya dalam melayani suaminya tersebut, walaupun dalam keadaan perut yang sudah membuncit.
*
Setelah mereka selesai melakukan ritual itu, mereka pun pergi meninggalkan kediamannya menggunakan kuda besi kesayangannya yang siap mengantarkan mereka kemana pun.
Akhirnya Sampailah mereka di sebuah Mall terbesar di Ibu kota. Intan dengan semangat berlalu menuju toko perlengkapan bayi yang tak lepas dari pelukan Harvan sedikit pun. Sesampainya mereka di dalam toko, terlihat Harvan lebih sibuk dari pada Intan. Ia memilah semua kelengkapan bayi untuk calon putrinya itu, semua yang berwarna pink Ia ambil.
“Sayang, ini lucu sekali ya?.” Kata Intan.
“Iya bagus, tapi sepertinya putri kita kurang suka sayang.” Jawab Harvan.
“Lah kamu tahu dari mana kalau dia kurang suka?.” Tanya Intan.
“Feeling aja sayang, bathin anak perempuan kan lebih dekat sama ayahnya? Jadi aku tahu kalau dia kurang suka sama baju itu.” Jelas Harvan.
“Terus sama aku gak dekat gitu? Sementara dia ada dalam rahimku.” Kata Intan sedikit kesal.
“Bukan begitu sayang, tentunya denganmu dekat juga apalagi kamu ibu yang akan melahirkannya. Tetapi kalau masalah apa yang dirasakan dia, aku lebih tahu sayang.” Jelas Harvan.
“Iya sayang, sekarang kamu diam saja ya, biar aku yang pilih semua, bukan kah yang aku pilih juga kamu suka? Coba deh kamu lihat sendiri.” Kata Harvan.
Kemudian Intan melihat-lihat pada isi troli semua kelengkapan bayi yang sudah di pilih oleh Suaminya itu.
“Iya benar, bagus-bagus sayang, kamu memang hebat juga, tahu fashion buat putri kita.” Puji Intan.
“Kan sejak kamu hamil aku sudah banyak belajar bagaimana menjadi seorang ayah yang baik untuk Putri kecil kita, apalagi setelah aku tahu anak kita perempuan, makin banyak yang aku pelajari sayang.” Jelas Harvan.
“Bagus deh kalau begitu.” Kata Intan.
“Oya sayang, yang belum kita beli apa lagi ya?.” Tanya Harvan pada Istrinya sembari melihat-lihat ke seluruh sisi toko.
“Oya sayang, kita gak buat kamar sendiri buat bayi kita.” Tanya Intan.
“Gak sayang, aku gak mau dia tidur terpisah, biarkan Ia tidur bersama kita agar kita lebih dekat dengan putri kita, aku juga tidak mau anak kita di asuh oleh baby sitter. Aku ingin putriku, kita yang urus berdua, lagian kamu gak kerja, ngapain harus pake baby sitter, selama kamu dan aku bisa urus dia berdua. Kamu setuju kan sayang?.” Tanya Harvan.
“Iya sayang, aku setuju, aku juga tidak mau anakku di urus orang lain, makanya aku tidak mau bekerja, agar aku bisa lebih konsen mengurusi anak kita dan mengurusi kamu sayang.” Jawab Intan.
“Baiklah kalau begitu, berarti visi kita sama ya sayang, tapi dengan kita tidak memakai jasa baby sitter bukan aku ingin membuat kamu repot dan lelah sayang, kita bisa gantian mengurusi putri kita.” Terang Harvan.
“Sayang, anak adalah titipin dari Tuhan untuk kita, kenapa Tuhan memberikan titipan itu pada kita? Berarti Tuhan percaya pada kita kalau kita mampu menjaga dan memberinya kehidupan. Repot mengurusi anak dan suami adalah hal yang wajar dan itu sudah kodrat bagi seorang Ibu dan Istri. Disitulah jihad seorang wanita sebenarnya. Sementara tempatmu untuk ber jihad ya diluar sana, ditempatmu bekerja, mencari rejeki buat kita.” Jelas Intan.
“Iya sayang, aku bahagia memiliki kamu, kamu adalah istri yang patuh pada suami dan aku percaya kamu akan mampu mengurusi putri kita dengan baik.” Kata Harvan.
“Oya sayang, mengenai bulan madu kita yang tertunda, maaf aku belum bisa membawamu kesana. Waktu itu kan kamu ingin pergi ke Rusia, aku khawatir kalau dalam kondisi hamil kamu melakukan penerbangan jarak jauh akan berpengaruh buruk pada kehamilanmu.” Kata Harvan.
“Iya sayang tenang saja, bukankah masih banyak waktu, nanti kita pergi kesana bersama anak kita ya sayang.” Ujar Intan.
“Iya. Baiklah sayang, sekarang kita konsen dulu sama putri kita ya? Urusan jalan-jalan nanti kita pikirkan lagi pada saat putri kita telah lahir.” Terang Harvan.
“Iya sayang.” Jawab Intan.
Pada saat mereka berbincang di toko perlengkapan bayi itu. Jodi dan Vivi datang menghampiri.
__ADS_1
“Buset! Banyak banget ini sampe tiga troli, gimana bawanya?.” Kata Jodi heran.
“Ya elo pikirin sendiri bagaimana caranya elo bisa bawa semua ini kedalam mobil.” Kata Harvan.
“Udah lah gampang urusan itu mah, jadi ini udah nih segini aja?.” Tanya Jodi.
“Belum masih ada yang harus dibeli.” Kata Intan.
“Apa lagi? Ini udah banyak tahu Tan?.” Kata Vivi.
“Gak tahu tuh, tanya aja sama ayah anak ini.” Kata Intan mengarahkan pandangannya pada Harvan yang tengah sibuk memilah milih perlengkapan lainnya.
“Har, masih ada yang mau dibeli?.” Tanya Jodi.
“Iya Jod masih banyak, elo bayar dulu aja itu, terus bawa ke mobil, nanti elo balik lagi kesini.” Kata Harvan tanpa menoleh pada Jodi.
“Yaelah, ini yang mau lahiran bininya apa lakinya ya?! Sibuk banget tuh orang.” Kata Jodi seraya membawa troli-troli itu.
“Ayo sayang, kita urusin perlengkapan putri keraton dulu nih.” Ajak Jodi pada Istrinya.
Sementara Intan senyum-senyum melihat tingkah mereka berdua.
“Sayang, kalau kamu lelah duduk saja ya?.” Kata Harvan pada Istrinya.
“Iya.” jawab Intan sembari melihat-lihat pernak pernik bayi. Kemudian Harvan menghampiri.
“Itu buat apaan sayang?.” Tanya Harvan, sembari ikut memegang apa yang sedang Intan pilih.
“Ini bando-bando buat putri kita sayang, lucu ya?.” Kata Intan.
“Oh iya, buat ditaruh di kepalanya itu kan?.” Tanya Harvan.
“Iya sayang.” Jawab Intan.
“Ya sudah kamu ambil sayang yang banyak, ingat warna pink ya jangan warna yang lain, buat anak perempuan.” Jelas Harvan.
“Ya iya lah ini bando memang untuk anak perempuan, anak laki mah gak pakai ginian kali sayang?!.” Jawab Intan sembari tertawa.
“Oh iya ya hehe.” Kata Harvan yang ikut tertawa.
Harvan sibuk memilah-milah perlengkapan lain. Sementara Intan duduk di kursi yang sudah tersedia di toko itu.
Kemudian Jodi dan Vivi menghampiri Intan setelah mereka membayar pada kasir belanjaan tiga troli tadi. Lalu Jodi memanggil beberapa pelayan untuk membantunya memindahkan belanjaan yang sudah dibayarnya kedalam mobil.
“Mana ayahnya si bayi?.” Tanya Vivi pada Intan.
“Gak tahu, tadi dia diujung sana.” Jawab Intan seraya menunjuk ke sisi toko paling ujung.
“Oh iya, noh dia lagi milih-milih boneka. Gila ya suami kamu udah kayak emak-emak saja belanja kebutuhan bayi haha.” Ujar Vivi.
“Iya, aku di suruh duduk saja gak boleh ikutan milih-milih.” Kata Intan.
“Enak tahu, biarin aja dia yang sibuk sendiri haha.” Ujar Vivi.
Kemudian Jodi datang kembali menghampiri mereka.
“Mana ayahnya jabang bayi?.” Tanya Jodi.
“Noh lagi pilih-pilih boneka.” Jawab Vivi.
“Yaelah, itu orang masih sibuk aja.” Kata Jodi yang langsung menghampiri Harvan.
“Udah yuk, kita makan dulu Har, gue lapar nih.” Kata Jodi pada Harvan.
“Bentar dulu, ini bonekanya masih kurang.” Jawab Harvan yang sibuk dengan boneka-boneka dihadapannya.
“Masih kurang gimana? Ini boneka udah dua troli Har, lagian anak orok mana ngerti boneka, entar aja kalau dia udah agak gede baru elo penuhin tuh kamarnya sama boneka.” Ujar Jodi.
“Ah elo cerewet! Kalau elo lapar makan aja sono duluan sama bini elo, entar gue sama Intan nyusul.” Kata Harvan.
“Eh, anak elo juga perlu makan tahu! Elo mau anak elo kelaparan, ini sudah sore loh” kata Jodi.
“Oh iya ya anak gue harus banyak makan, ya udah yuk? Nih elo bayarin semua, gue duluan sama Intan ke restoran, entar elo nyusul sama Vivi kalau udah nyimpenin semua ini ke mobil ya.” Ujar Harvan yang langsung bergegas menghampiri Istrinya.
“Yah, giliran dibilangin buat bayinya langsung aja nyelonong pergi, gue lagi aja nih yang repot ngurusin belanjaannya, hadeh.” Kata Jodi tepok jidat.
__ADS_1
Setelah Jodi selesai membayar semua yang Harvan beli dan membawanya kedalam mobil bersama pelayan-pelayan tadi, Ia bersama Istrinya bergegas berlalu menuju restoran tempat Intan dan Harvan makan.
❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥