
Senyum yang cerah terukir di bibir merah Revy dan Harin yang diantar oleh Harvan dan Jodi saat menginjakkan kaki di tanah Munich Jerman.
Kota yang indah untuk di tinggali para pendatang itu, sungguh membuat mereka merasa nyaman kala berada disana.
Setelah mereka menaiki kereta inter city, mereka berhenti di halaman rumah yang cukup lumayan besar. Rumah itu adalah rumah yang di tinggali Revy bersama opa dan omanya.
Setelah pelayan mempersilahkan masuk, mereka duduk diruang tamu yang cukup besar. Dan tak lama Marlish sang oma dan Ronald sang opa mendekati dan duduk bersama mereka.
Revy yang melihat kemunculan opa dan oma nya bergegas memeluk dan menciumnya. Meski Marlish dan Ronald tinggal di Jerman tetapi mereka cukup mampu berbahasa Indonesia karena memang Ronald adalah berasal dari Indonesia yang menikah dengan Marlish wanita kebangsaan Jerman.
Jadi pada saat di rumah, Ronald selalu membiasakan berbicara bahasa Indonesia dengan istrinya. Sehingga pada saat Harvan dan Jodi bertandang kesana, mereka tidak merasa kesulitan dalam berkomunikasi.
“Sebelumnya saya minta maaf opa, oma, kalau kedatangan kami cukup mendadak tidak mengabari dulu, karena kami ingin aman dari hal-hal tidak kami harapkan.” Jelas Harvan. Mendengar penuturan Harvan, Marlish dan Ronald sedikit terkejut.
“Iya opa, oma, mama menjemputku dari sini untuk ke Indonesia sebenarnya mama punya tujuan jahat untuk menjadikan aku alat. Kalau ayah tidak membawaku kembali kesini sepertinya aku tidak akan pernah bertemu kembali bersama opa dan oma.” Jelas Revy.
“Apa?!, benar kah itu?.” Oma terkejut.
“Oma, aku mendengar pembicaraan mama dan lelaki itu di dalam mobil, saat perjalanan menuju tempat tinggal kami di Indonesia, aku berpura-pura tidur saat mereka membicarakan sesuatu.” Jelas Revy.
“Apa yang mereka bicarakan?.” Tanya Opa.
“Mereka mengatakan, kalau sebenarnya aku tidak akan dikembalikan lagi kesini, mereka mengambilku dari sini menipu oma dan opa dengan alasan untuk berlibur saja. Padahal mereka sudah merencanakan aku untuk tinggal disana, aku akan dijadikan alat oleh mereka untuk merebut harta kekayaan ayah Harvan.” Jelas Revy kembali.
Opa dan oma begitu terkejut saat mendengar penuturan cucunya yang tidak mungkin berbohong itu. Karena pembicaraan mereka akan lebih dalam dan Harvan tidak ingin anak-anak mendengar, jadi anak-anak disuruh masuk kamar oleh mereka.
Setelah anak-anak tidak ada disana, barulah mereka berbicara serius.
“Pantas saja pada saat saya menghubungi Selvy dan ingin berbicara dengan Revy. Dia sepertinya gugup dan beralasan kalau Revy tengah bermain di rumah tetangga.” Jelas Marlish.
“Iya sebenarnya kami sudah curiga sejak kedatangan Reyhan kesini, kami tidak begitu suka terhadap lelaki itu. Meskipun Reyhan adalah ayah biologis Revy tapi kami merasa dia memiliki niat yang tidak baik.” Sambung Ronald.
“Iya opa, oma, semua itu berawal dari Reyhan yang memang tidak menyukai saya, dan saya sangat tidak mengerti kenapa Reyhan dari dulu begitu membenci saya. Padahal saya tidak pernah melakukan apa pun padanya. Sampai pada saat kami menikah dengan Selvy, Reyhan memanfaatkan keadaan, agar ia memiliki anak dari Selvy untuk menguasai harta saya. Saya rasa Selvy hanya dimanfaatkan oleh Reyhan.” Jelas Harvan.
“Oma, opa, Reyhan mempengaruhi Selvy untuk berkolaborasi dalam merencanakan kejahatan membunuh Harvan dan putrinya. Dan jika Harvan dan putrinya meninggal, mereka berharap yang menjadi ahli waris tunggal adalah Revy. Karena pada akta kelahiran Revy, tertulis ayah dari Revy disana adalah Harvan. Jadi dengan menggunakan data-data Revy lah mereka ingin mengusai harta itu. Dan saya menduga saat Harta itu telah ada ditangan mereka, Revy pun tidak mereka butuhkan lagi. Untuk itu kami ingin menyelamatkan kalian semua.” Jelas Jodi.
Mendengar penuturan Jodi betapa geram Ronald dan Marlish, ia tidak menyangka kalau putrinya Selvy akan terlibat dalam kejahatan dengan pria yang memang mereka tidak sukai itu.
“Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus kami lakukan?.” Kata Marlish.
“Oma tenang saja, kami sudah menyuruh orang untuk keamanan bagi kalian disini, agar Reyhan tidak memiliki akses untuk membawa kabur Revy kembali.” Jelas Jodi.
__ADS_1
“Kurang ajar mereka! Berani-beraninya mereka ingin menguasai cucuku, akan ku bunuh si Reyhan itu kalau dia berani kemari lagi.” Geram Ronald.
“Sepertinya Opa tidak usah melakukan apa pun karena saya sudah memasang keamanan disini. Jadi opa tinggal jaga saja Revy selama berada di rumah ini. Dan berhati-hati, pura-puralah kalau Revy belum kembali ke rumah ini sehingga tidak memancing mereka untuk datang kesini.” Kata Harvan.
“Iya opa, oma, mereka kini masih mencari Revy di Indonesia, sepertinya mereka tidak curiga kalau Revy sudah kembali. Jadi jaga lah Revy jangan sampai mereka datang kembali untuk menculiknya.” Jelas Jodi.
“Baiklah saya akan menjaga cucu saya dengan baik.” Jawab Ronald.
“Kapan kalian akan kembali ke Indonesia?.” Tanya Marlish.
“Mungkin besok kami akan kembali dan malam ini kami akan bermalam di hotel terdekat.” Jawab Harvan.
“Kenapa tidak bermalam saja disini? Bukan kah itu lebih baik agar anak-anak bisa bersama sebelum kalian kembali. Di rumah ini juga ada beberapa kamar tamu yang lumayan nyaman untuk tempat kalian beristirahat.” Tawar Marlish.
Setelah Jodi dan Harvan berunding, akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal di rumah itu saja, karena memang mereka berfikir demi kebaikan anak-anak agar bisa dekat sebelum perpisahan mereka.
“Baiklah oma, kami tinggal di rumah ini saja untuk bermalam, tapi apakah kami merepotkan?.” Tanya Harvan.
“Tentu tidak, justru itu membuat kami senang, jadi kita masih bisa ngobrol panjang lebar.” Jawab Ronald.
“Baiklah, kalau begitu, mari saya antarkan kalian ke kamar untuk beristirahat, kalian pasti lelah telah melakukan perjalanan jauh.” Kata Marlish.
“Akhirnya Harvan dan Jodi diantarkan ke kamar tamu untuk mereka masing-masing, yang berada di lantai dua sejajar dengan kamar yang digunakan oleh Revy.
“Di kamar Ini kak Revy tidur sendiri?.” Tanya Harin.
“Iya Harin, dari kecil aku dibiasakan tidur sendiri oleh opa dan oma.” Jawabnya.
“Aku tidur selalu ditemani ayah, ayah tidak pernah membiarkan aku tidur sendiri.” Jelas Harin.
“Cara ayahmu berbeda dengan kami dalam mendidik anak, tapi itu bukan masalah Harin.” Kata Revy.
“Iya. Oya kak, apakah kau bahagia?.” Tanya Harin.
“Tentu saja aku bahagia tinggal bersama opa dan omaku, mereka begitu sayang padaku, mungkin karena mama dan lelaki itu tidak pernah perduli padaku jadi opa dan oma mencurahkan seluruh kasih sayangnya untukku.” Jelas Revy.
“Dan aku juga bahagia punya adik sepertimu Harin, kamu sangat lucu dan menggemaskan hehe.” Sambung Revy sembari mencubit pelan pipi mungil Harin.
“Aku juga bahagia memiliki kakak seperti kak Revy, kakak banyak mengajarkan aku untuk hidup mandiri, makanya aku sangat berharap kakak bisa tinggal bersama kami di Jakarta.” Ucap Harin dengan mata yang berkaca-kaca.
“Hei adikku tidak boleh cengeng ya.” Kata Revy seraya memeluk tubuh kecil itu.
__ADS_1
“Suatu saat nanti, kakak akan tinggal bersamamu Harin, kakak janji kita akan selalu bersama dan saling menjaga seperti saat kita berpetualang mencari pondok emak hehe, kau ingat itu?.” Kata Revy dengan pelukan hangatnya. Sementara Harin mengangguk pelan.
“Tapi saat ini, kakak harus menemani opa dan oma dulu, kasihan mereka Harin. Mereka hanya tinggal berdua, kamu tahu sendiri mamaku tidak perduli pada mereka, mama selalu disibukkan dengan lelaki itu. Minimal saat aku ada bersama mereka, aku bisa menghibur mereka dan menemani kesepian mereka.” Jelas Revy.
“Baiklah kakak, tapi kakak janji ya untuk selalu menghubungi aku?.” Pinta Harin.
“Iya kakak janji. Kakak akan selalu menghubungimu Harin. Jaga ayah bersama om mu itu ya? Nanti kalau kakak tinggal bersama kalian, kita yang akan jaga mereka hehe.” Hibur Revy.
“Kakak, aku sayang kakak.” Peluk Harin.
“Kakak juga sangat sayang sekali padamu Harin.” Revy memeluk erat pelukan Harin.
Mereka berdua saling berpelukan saling menyayangi seperti saudara kandung.
Sungguh berbeda tabiat yang dimiliki Revy dengan kedua orang tuanya itu. Kepribadian nya begitu penyayang walau sisi jahatnya terlihat pada saat memikirkan ibunya dan Reyhan.
Tetapi pada Harin dan Harvan, ia sangat lembut dan penuh kasih sayang. Entah apa yang terjadi dalam benaknya. Hanya ia yang tahu.
*
*
Hari pun berganti. Kini saatnya Revy harus terpisah dengan Harvan dan Harin juga Jodi.
Terpancar kesedihan pada mereka kala menyaksikan Revy dan Harin berpelukan.
“Aku gak mau jauh dari kakak.” Rengek Harin yang tidak mau melepaskan pelukannya.
“Hai, adikku tidak boleh cengeng seperti ini, kamu ingat kakak pernah bilang apa? Kita akan tinggal bersama nanti, kita hanya menunggu waktu saja.” Bisik Revy pada Harin dengan air mata yang sudah menggenangi permukaan matanya. Ia berusaha tegar untuk menguatkan Harin.
“Iya sayang, nanti kak Revy akan kembali ke Indonesia dan tinggal bersama kita.” Kata Harvan membujuk putri kecilnya itu, lalu membawa dalam pelukannya.
“Revy, jaga diri baik-baik disini ya? Jaga juga opa dan oma, ayah akan sangat merindukanmu, dan ayah sangat menunggu kamu untuk tinggal bersama kami.” Kata Harvan yang lantas memeluk dan mencium pipinya.
Betapa terharunya Revy kala Harvan mencium pipinya, ciuman dari seorang ayah yang tak pernah ia dapatkan seumur hidupnya.
Pecah tangisan Revy kala itu, ia peluk erat Harvan dan Harin. Dengan air mata yang deras membasahi pipinya. Menyaksikan penampakan itu, Marlish, Ronald dan Jodi merasa terharu dibuatnya.
Mereka semua tak kuasa menahan tangisnya. Bagaimana tidak? Mereka seperti melihat sebuah adegan dalam film, dimana seorang ayah harus terpisah dengan anaknya yang lain.
Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa. Kasih sayang yang tumbuh tidak selalu ada pada ikatan darah yang mengikat, tetapi kasih sayang juga dapat tumbuh manakala kita ikhlas dalam mengasihi sesama.
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖