Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Pertemuan yang mengharukan


__ADS_3

Didalam perjalanan menuju rumah pak Ahmad, Harvan merasakan getaran yang hebat dalam dadanya. Ia gelisah menanti saat-saat dimana ia akan melihat putri kesayangannya itu kembali.


Begitupun dengan Jodi, sesekali ia melihat kearah Harvan, sesekali ia menjuruskan pandangannya kedepan mengikuti motor pak Ahmad yang terasa lamban. Padahal kalau ditarik jarak dari pondok emak ke kampung nelayan hanya berjarak beberapa kilometer saja.


Sampailah mereka pada sebuah jalan yang menghubungkan jalan raya ke dalam perkampungan nelayan dimana pak Ahmad tinggal.


Karena semakin memasuki area perkampungan itu jalan semakin sempit, Jadi mereka menyimpan mobilnya di pintu masuk kampung nelayan tersebut.


“Rumah kami didepan tuan, tinggal beberapa ratus meter lagi.” Kata Pak Ahmad.


“Iya pak tidak apa-apa kami jalan kaki saja. Bapak terus saja jalan.” Kata Harvan pada pak Ahmad, kemudian ia bersama Jodi keluar dari kendaraannya dan berjalan mengikuti motor pak Ahmad.


Harvan dan Jodi berjalan terus hingga memasuki rumah-rumah panggung perkampungan nelayan.


Pada saat Harvan melihat dari kejauhan pada sebuah rumah panggung paling ujung diantara rumah panggung itu, ia menghentikan langkahnya.


Dari kejauhan ia melihat seorang ibu dan dua orang anak perempuan tengah menjemur ikan asin yang telah diolah.


Semakin berdebar hati Harvan kala pandangannya mengamati sosok gadis kecil tengah merapikan beberapa ikan di atas meja panjang di depan rumah panggung itu.


Senyum dan air mata menyatu mengiringi pandangannya yang berkaca-kaca. Begitu pun dengan Jodi yang mendapatkan reaksi yang sama, berdiri disebelahnya Harvan.


Pada saat gadis itu melihat kearah mereka berdua, dengan riang gadis kecil itu berlari ke arah sosok yang selama ini ia rindukan.


“Ayaaaah..” Teriak gadis kecil itu sembari berlari menuju pada ayah tercintanya. Semakin dekat dan semakin mendekat. Sang ayah berjongkok dengan merentangkan tangan menyambut putri tercintanya.


Setelah gadis kecil itu sampai dihadapannya, sang ayah merangkul dan memeluknya dengan erat di iringi air mata kerinduan yang mengalir disudut matanya.


“Anak ayah, maafkan ayah sayang, ayah tidak mampu menjagamu dengan baik.” Dengan pelukan erat dan kecupan bertubi-tubi pada wajah sang anak, ia lampiaskan semua kerinduannya.


Tak perduli dengan orang-orang sekitar yang memandanginya, yang terpenting adalah ia tengah asyik dengan dunianya yang tengah dilanda kebahagiaan.


Jodi yang melihat pemandangan di sampingnya tak kuasa menahan haru, dengan kepalan tangan kanan dibawah hidung dan tangan kiri di pinggangnya ia seakan menahan air mata yang sudah penuh disudut matanya.


“Ayah, aku baik-baik saja, kak Revy menjagaku dan merawatku dengan baik.” Ucapan polos Harin memasuki relung gendang telinga Harvan.


“Iya, syukurlah.” senyum sang ayah terpancar dengan kedua terlapang tangannya menggenggam wajah mungil putrinya.


Kemudian Harin mengalihkan pandangannya ke arah Jodi.


“Hai om Ijong!.” Sapa Harin, lalu Jodi mendekat dan mencium pucuk kepala gadis kecil itu.

__ADS_1


“Hai kesayangan om, om kangen sama Harin.” Ucap Jodi dengan bibir bergetarnya menahan haru.


“Aku juga kangen sama om Ijong.” Jawab polosnya.


“Ayo ayah, ayo om, kita kerumah Sulaiman.” Ajaknya seraya menarik tangan ayah dan om nya.


Sementara Revy yang menyaksikan dari kejauhan pertemuan Harin dengan ayahnya, hanya dapat memandangi dengan perasaan sedihnya, karena ia tidak pernah mendapatkan pelukan dari seorang ayah seperti Harin mendapatkan pelukan dan sambutan hangat dari ayah yang mencintainya.


Melihat Revy yang menundukkan kepalanya, ibu Aminah seakan mengerti apa yang dirasakan Revy, lalu ia mendekati dan memeluknya.


Pak Ahmad yang lebih dulu mendekati istrinya yang sedang memeluk Revy, mengajaknya untuk menyambut ayah dari tamu kecilnya.


Setelah Harvan yang memangku Harin serta Jodi yang berada disampingnya berada dihadapan pak Ahmad dan bu Aminah juga Revy.


Akhirnya mereka masuk kedalam rumah panggung sederhana itu bersama-sama.


Mereka semua duduk lesehan di atas tikar sebagai alas pada ruang tamu rumah sederhana itu.


Melihat kondisi rumah itu Harvan dan Jodi saling berpandangan, mereka membayangkan kehidupan orang-orang yang tinggal ditempat itu sangan jauh berbeda dengan keadaan mereka di kota.


Sungguh miris apa yang sedang mereka saksikan itu, sementara orang-orang yang tinggal dirumah itu tak terlihat sama sekali merasa susah, malah Harvan dan Jodi melihat keluarga pak Ahmad itu terlihat bahagia, tidak nampak sedikit pun raut kesedihan dari wajah mereka.


“Beginilah keadaan kami tuan.” Pak Ahmad membuka pembicaraan diantara mereka.


Mendengar penuturan pak Ahmad, Harvan dan Jodi merasa bangga, meski hidup seperti dalam kekurangan tetapi pak Ahmad terlihat seperti orang yang begitu menikmati keadaannya.


“Pada saat Sulaiman membawa putri tuan ke rumah kami, sebenarnya kami merasa malu, takut tidak bisa melayani seperti tuan, tapi Alhamdulillah mereka adalah putri-putri yang baik dan rendah hati, meski berasal dari keluarga orang kaya, tetapi mereka mampu beradaptasi dengan kehidupan kami yang serba sederhana, untuk itu kami minta maaf apabila kami tidak bisa memberikan yang terbaik untuk putri-putri anda.” Sambung pak Ahmad.


“Bapak dan ibu, seharusnya lah kami yang berterima kasih pada ibu dan bapak yang telah merawat putri kami dengan baik. Bahkan kami sangat sangat berterima kasih pada bapak dan ibu, seandainya putra bapak tidak menemukan putri kami, entah apa yang akan terjadi pada mereka. Dan kami mohon maaf apabila kedatangan putri kami merepotkan bapak dan ibu, semoga kebaikan bapak dan ibu dibalas oleh Allah dengan pahala yang berlipat ganda.” Kata Harvan.


Ditengah-tengah obrolan mereka tiba-tiba,


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam”


Sulaiman masuk kedalam rumahnya, saat melihat dua pria dewasa bersama orang tuanya, Sulaiman sedikit terhenyak. Kemudian menyalami mereka.


“Nah ini Sulaiman putra sulung kami tuan.” Kata pak Ahmad.


“Kakak sini duduk bersama kami.” Panggil Harin pada Sulaiman, kemudian Sulaiman duduk di samping ayahnya.

__ADS_1


Harvan dan Jodi memandangi anak lelaki di hadapannya. Sulaiman yang berwajah khas suku Bugis nya dengan rambut ikal nampak malu-malu saat kedua pria dewasa yang asing baginya tersenyum padanya.


“Kakak, kenalkan, ini ayahku dan itu om aku.” Suara Harin dengan senyum manisnya.


“Iya kenalkan om saya Sulaiman teman barunya putri om.” Kata Sulaiman malu-malu.


“Sulaiman, terima kasih ya sudah membantu putri om dan membawanya ketempat aman, seandainya tidak ada kamu, entah apa yang akan terjadi pada putri om. Oya kamu kelas berapa Sulaiman?.” Tanya Harvan.


“Saya kelas 2 sekolah dasar om.” Jawab Sulaiman.


“Alhamdulillah Sulaiman anak yang cerdas tuan, ia selalu menjadi juara kelas sejak awal masuk sekolahnya, semoga ia menjadi putra kebanggaan kami.” Sambung pak Ahmad.


“Wah hebat kamu ya, oya kalau om boleh tahu, cita-cita kamu menjadi apa Sulaiman?.” Tanya Jodi yang kagum atas prestasi Sulaiman setelah tadi mendengarkan penuturan pak Ahmad.


“Cita-cita saya jadi insinyur kelautan dan perikanan om, saya ingin seperti ibu menteri Susi yang memikirkan nelayan-nelayan kecil seperti kami, saya ingin lebih memberdayakan nelayan-nelayan ditempat kami ini, sehingga para nelayan ditempat kami mampu bersaing dengan nelayan dari luar, dalam mengelola hasil tangkapan ikannya.” Jelas Sulaiman.


“WHAT! Anak seumur jagung seperti kamu sudah berfikir jauh seperti itu?! Kamu hebat Sulaiman! Om yakin kamu akan mampu meraih cita-citamu itu.” Decak kagum Jodi.


“Oya Sulaiman, karena om melihat kamu memiliki potensi diri dan om ingin memberikan dukungan pada kamu dalam menggapai cita-cita mu, sebagai tanda terima kasih om pada kamu yang telah menyelamatkan putri om, om akan membiayai sekolahmu sampai kamu lulus S2.” Kata Harvan.


Mendengar apa yang Harvan katakan, betapa terkejutnya pak Ahmad beserta istrinya juga Sulaiman. Seperti mendapatkan durian jatuh disiang bolong mereka tak bisa berkata apa-apa. Hanya tangis bahagia yang terpancar dari wajah mereka.


“Tuan rasanya itu terlalu berlebihan, apa yang dilakukan Sulaiman memang sudah menjadi kewajiban kami sebagai manusia harus saling membantu.” Jawab pak Ahmad terharu.


Sementara bu Aminah yang tengah membawa nampan yang berisi minuman untuk menjamu tamu bergetar karena tak percaya dengan apa yang telah ia dengar.


“Tidak pak Ahmad, apa yang telah saya niatkan tidak sebanding dengan apa yang dilakukan Sulaiman juga bapak dan ibu, malah kami tidak tahu bagaimana cara kami harus berterima kasih pada ibu dan bapak juga Sulaiman.” Jelas Harvan.


“Saya juga akan memberikan bapak perahu nelayan agar bapak tidak bekerja lagi pada orang, tapi dengan perahu yang bapak miliki sendiri nanti bapak bisa mengembangkan bisnis bapak.” Sambung Harvan.


Lagi-lagi pak Ahmad beserta istri dibuat terkejut mendengar apa yang diucapkan Harvan. Entah apa yang mereka rasakan, entah mimpi apa mereka semalam, sehingga kedatangan Harin kedalam rumahnya membawa kabar baik yang tentunya akan merubah perekonomian keluarganya.


“Dan kamu Sulaiman, kamu tidak usah lagi berjualan panas-panasan, nanti akan om berikan kios untuk kamu berjualan, dan ibumu pun bisa menjaga kios itu pada saat kamu sekolah, ibu tidak usah bekerja lagi pada saudagar ikan asin itu ya bu? Mendingan ibu urus anak ibu yang masih kecil-kecil sembari berbisnis, menunggui toko tidak begitu melelahkan bu, nanti ibu bisa mengambil pegawai dari tetangga disini.” Kata Harvan kembali.


Lagi dan lagi keluarga pa Ahmad di buat terkejut kembali, dengan apa yang Harvan katakan seolah tak henti-hentinya memberikan kabar baik pada mereka. Hingga pak Ahmad tak kuasa bergegas memeluk Harvan, mereka masih tidak percaya kedatangan Seorang ayah yang putrinya mereka selamatkan laksana sosok malaikat pemberi rezeki bagi keluarganya.


“Jazakallah khairan katsiran. Ya Allah terima kasih atas rezeki yang telah Kau berikan kepada kami.” Ucap syukur keluarga pak Ahmad.


“Pak, saya tidak ingin kita berhenti sampai disini, mulai hari ini saya ingin kita menjadi saudara, jika ada apa-apa bapak jangan sungkan hubungi saya.” Ujar Harvan.


Sudah habis kata-kata pak Ahmad, haru dan bahagia pecah menjadi satu kala itu. Tak henti-hentinya ia berucap syukur dari dalam hati dan bibirnya. Seakan tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Dirumah sederhana itu menambah sejarah perjalanan hidup bagi Harvan dan putrinya.

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💔


__ADS_2