Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Berlian Putri Harin


__ADS_3

Disebuah coffe shop nampak Reyhan tengah menanti seseorang, terlihat kesal karena berkali-kali Ia memandangi jam tangannya dan sesekali melihat ke arah pintu masuk.


Lalu dari kejauhan terlihat seseorang yang mendekat kearahnya. Ialah Arman informan yang Ia bayar untuk memata-matai kehidupan Harvan.


“Maaf Boss nunggu lama, angkutan umum ke kota ini jumlahnya terbatas, jadi gue harus nunggu dulu angkutannya penuh.” Kata Arman.


“Kenapa elo gak pake kendaraan pribadi sih ribet banget.” Kata Reyhan.


“Mobil gue lagi masuk bengkel Boss maklum mobil tua hehe.” Jawab Arman.


“Heh! Kalau rencana gue ini berhasil, gue beliin elo mobil.” Kata Reyhan.


“Serius Boss?.” Tanya Arman dengan air muka bahagia.


“Seriuslah! Eh, mana info buat gue.” Kata Reyhan.


“Siap, gue sampaikan nih, jadi Begini Boss, sekarang Istrinya si Harvan udah gede buntingnya, sebulan apa dua bulan lagi lah waktu lahirannya, sepertinya mereka bakal lahiran di Rumah sakit yang sama pada saat dia dirawat dulu.” Jelas Arman.


“Yang bener luh?.” Tanya Reyhan.


“Benerlah Boss, tahu gak buat nyari informasi ini, gue sampe rela nyamar jadi cleaning service di rumah sakit itu.” Jelas Arman.


“Bagus! Haha.. pinter juga luh, terus..” Tanya Reyhan kembali.


“Terus buat cari Info di kantornya si Harvan gue sampe rela jadi pedagang asongan Boss, tragis kan hidup gue buat nyelidikin dia.” Jelas Arman.


“Haha, itu belum apa-apa, nanti akan ada yang lebih tragis lagi hidupnya dari pada elo haha.. bahkan mengerikan, nasib si Harvan itu.” Kata Reyhan.


“Haha, oya lalu kapan rencana buat melakukan pembantaian itu Boss?.” Tanya Arman.


“Pokoknya elo awasi mereka terus, nanti elo kabarin gue pada saat istrinya masuk Rumah sakit mau lahiran. Saat itulah kehidupan tragis si Harvan baru di mulai haha.” Jelas Reyhan.


“Haha, siap Boss, gue akan awasi mereka terus.” Ujar Arman.


“Gue gak mau gegabah lagi kayak dulu, dan gue gak mau gagal lagi! Kali ini gue harus melakukannya dengan tangan gue sendiri.” Kata Reyhan dengan tampang psikopatnya.

__ADS_1


“Hehe, gue akan bantu Boss seandainya butuh tenaga gue buat bikin keadaan semakin runyam hehe.” Ujar Arman.


“Pokoknya elo tunggu aja perintah gue, sekarang yang harus elo lakuin adalah awasi terus mereka.” Jelas Reyhan.


“Siap Boss.” Semangat Arman.


“Nih, bayaran elo buat hari ini! Semakin elo banyak memberikan info penting buat gue, semakin gue tambah besar nominalnya.” Kata Reyhan seraya memberikan amplop coklat berlogo bank.


“Terima kasih Boss, haha.” Seru Arman seraya mencium amplop coklat tersebut.


*


*


Sementara itu dikediaman mewah Harvan. Malam itu suasana disalah satu kamar begitu romantis. Harvan dan Intan yang tengah berbincang setelah melakukan ritual penyatuan hasratnya. Saling berpelukan dengan dada bidang suami sebagai sandaran kepala Sang Istri. Dibelainya rambut Sang Istri dengan penuh kasih sayang.


“Sayang, kamu sudah terpejam?.” Tanya Sang suami.


“Belum sayang, kenapa?.” Jawab Sang Istri.


“Oya?, apa namanya sayang?.” Tanya Sang Istri.


“Aku mengambil gabungan nama kita berdua sayang.” Jelas Sang Suami.


“Oya, bagus itu!.” Jawan Sang Istri lembut.


“Harvan.. Intan, bila digabungkan menjadi Harin. Kemudian aku tambahkan nama Putri, dan nama pertamanya aku ambil persamaan dari namamu. Intan adalah batu mulia yang paling keras dibumi dan sangat indah. Tidak semua orang dapat memilikinya kecuali orang-orang tertentu. Persamaan dari Intan itu adalah Berlian. Jadi aku akan memberi nama putri kita Berlian Putri Harin. Yang artinya, Berlian Putri Harvan dan Intan. Bagaimana sayang? Indah bukan nama putri kita?.” Jelas Harvan.


“Berlian Putri Harin?, Mhm.. iya sayang, nama yang indah, aku suka nama itu sayang.” Jawab Intan.


“Bagus kan? Jadi kamu setuju sayang nama putri kita Berlian Putri Harin?.” Tanya Harvan.


“Iya sayang. Aku setuju sekali, itu nama yang sangat indah. Lalu nama panggilannya apa?.” Tanya Sang Istri.


“Menurut kamu bagaimana? Apa kita mau panggil dia Berli? Atau Lian? Kalau panggilannya Putri itu sudah umum, aku ingin panggilan sayang untuk putri kita sedikit berbeda. Atau kita panggil dia Harin saja? Agar saat kita memanggil namanya, nama kita berdua juga terbawa.” Jelas Sang Suami.

__ADS_1


Intan terdiam dan berfikir, lama sekali Ia memilih panggilan yang cocok untuk putrinya. Lalu,


“Kalau aku sih lebih suka nama panggilan sayang buat dia Harin saja sayang. Sepertinya aku nyaman memanggil nama itu.” Jelas Sang Istri.


“Ya, Harin.. bagus sayang, aku juga suka dengan nama panggilan itu, unik dan sangat berarti.” Kata Sang Suami.


“Iya sayang, kita panggil dia Harin ya?.” Kata Sang Istri.


“Baiklah, kita panggil Ia Harin.” Kata Sang Suami mantap.


“Hallo Harin anak Ayah, Muach Harin dengar ayah tidak?.” Panggil Harvan berbisik pada perut Istrinya seraya mengelusnya.


Kemudian Ia rasakan ada pergerakan dari dalam perut Istrinya tepat pada tangan Harvan yang menyentuh bagian perut Istrinya itu.


“Sayang, aku merasakan Ia menyentuhku juga, sepertinya dia setuju kalau kita panggil dia Harin.” Ujar Harvan dengan roman bahagia.


“Iya sayang, aku merasakan dia seperti menendang-nendang perutku.” Jawab Sang Istri.


“Harin sayang, mau ayah tengok lagi ya?.” Tanya Harvan kepada perut Istrinya seakan Ia tengah berbicara dengan seseorang. Kemudian pergerakan itu muncul kembali.


“Sayang, iya bergerak kembali, sepertinya dia memang ingin ditengok lagi.” Sambung Sang Suami.


Intan tidal menjawab, Ia mengerlingkan bola matanya, sangat mengerti sekali maksud dari apa yang dikatakan suaminya itu.


“Kalau masalah tengok menengok gak usah tanya putrimu sayang, gak nanya juga memang mau ayahnya itu sih.” Kata Intan.


“Hehe, kan aku harus tanya dia dulu sayang, takutnya dia sedang Istirahat nanti merasa terganggu.” Alasan Harvan.


Kemudian bibir dan tangan Harvan mulai bergerilya pada area-area yang biasa ia jamah. Ia sudah hafal betul spot mana saja yang membuat Istrinya akan merasakan deru gairahnya. Terus dan terus Ia buai dengan kilatan lembutnya hingga Istrinya merasakan kehangatan yang membuncah sampai pada titik puncak.


Kembali kedua tubuh itu melemas dan terlelap pulas dengan pelukan erat seakan tak ingin lepas.


Begitulah waktu yang mereka hidupkan bersama seakan dunia ini hanya milik mereka berdua. Selalu saling memberi dan menerima tanpa ada penolakan diantara keduanya. Memanfaatkan waktu untuk memadu kasih lebih lama yang akan memberikan kenangan yang membekas.


Tak banyak mimpi yang mereka ingin raih selain mereka hidup bahagia bersama dengan buah cinta nya. Walau mereka tidak menyadari apa yang akan terjadi dikemudian hari. Yang terpenting saat ini, mereka menorehkan tinta emas dalam kebersamaannya agar dapat menjadi kenangan yang paling indah pada saat mereka saling merindu kelak.

__ADS_1


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹


__ADS_2