Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Laut


__ADS_3

Harvan dan Jodi kembali mendapatkan informasi mengenai Harin, namun informasi yang ia dapat membuat pencarian Harin semakin melebar, karena tadinya lokasi yang akan mereka jadikan target untuk menjemput Harin dan pelaku penculikan sudah positif, yakni pada kediaman Reyhan di salah satu Villa yang berada di puncak Cianjur, kini mentah lagi, karena Harin semakin sulit untuk ditemukan karena Harin tidak ada di villa itu lagi sehingga membuat Harvan dan Jodi kembali kehilangan jejak.


“Kemana anak-anak itu pergi dan bagaimana caranya mereka bisa keluar dari sana?.” Kata Jodi keheranan.


“Jadi, kita gak usah menyergap kediaman si Reyhan itu Jod?.” Tanya Harvan.


“Ya ngapain juga kita kesana kalau memang Harin gak ada disana Har, awalnya kan rencana kita datangi tempat mereka karena Harin ada disitu.” Jelas Jodi.


“Ya Tuhan, Harin.. dimana kau nak, ayah rindu padamu. Bagaimana kamu bisa hidup diluar sana tanpa ada yang menjagamu” Harvan semakin cemas.


“Mudah-Mudahan tidak terjadi apa-apa pada mereka Har, lagi pula Harin tidak sendiri, mungkin saja Revy juga kini tengah bersama Harin, hanya saja gue heran, tidak mungkin mereka kabur sendiri, gue curiga ada seseorang yang membantu mereka kabur, cuman siapa ya?, kalau pun mereka dibantu seseorang bisa keluar dari sana, pastinya seseorang itu adalah orang yang sudah terlatih.” Jodi semakin heran memikirkan kejadian yang terjadi pada Harin yang menghilang di villa itu bersama Revy.


“Mereka masih pada kecil Jodi, gue yakin mereka mencari jalan pulang, cuman mereka tidak tahu jalan kembali. Mereka masih anak-anak yang tidak tahu lingkungan diluar sana, diluar lebih bahaya Jod, bagaimana kalau ada orang jahat lainnya yang menculik mereka. Gue gak bisa bayangkan Jod, seandainya terjadi sesuatu yang lebih jahat pada Harin.” Ujar Harvan yang semakin gundah memikirkan keberadaan putri tercintanya.


“Tenang Har, gue tadi sudah hubungi polisi untuk mencari Harin, gue juga sudah mengerahkan semua team gue buat mencari mereka. Dan gue yakin Reyhan dan Selvy pun akan berusaha keras menemukan mereka kembali. Yang terpenting sekarang, kita jangan sampai kalah cepat dari mereka dalam menemukan Harin dan Revy.” Jelas Jodi.


“Jod, gue mau keluar nyari Harin. Apa elo mau temenin gue?, gue gak bisa hanya menunggu dan menunggu kabar Harin Jod, gue juga Harus usaha cari dia. Kalau kemarin bolehlah gue bisa menunggu, karena kita sudah menetapkan target, tapi sekarang gue harus turun tangan sendiri Jod, karena keberadaan Harin semakin kabur dan tidak menentu, gue semakin gak tenang Jod.” Ucap Harvan duduk tertunduk dengan kedua tangannya meremas rambutnya. Setelah Jodi mendengarkan penuturan Harvan, Jodi pun mengiyakan.


“Oke, tapi elo mandi dulu gih, biar segeran dikit, kurang tidur juga lagi luh. Setelah kita sarapan, kita berangkat cari Harin.” Ujar Jodi.


“Sama elo juga, elo malah gak tidur sama sekali gue lihat.” Kata Harvan seraya berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


*


Sementara itu di villa nampak Selvy dan Reyhan tengah berdebat hebat.


“Semua ini gara-gara kamu ngajak aku ke pesta teman kamu itu si Aldo. Coba kalau kita tidak datang kesana mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi, sekarang keadaannya semakin runyam, akan mudah sekali bagi si Harvan menemukan putrinya itu jika mereka ada di luar sana.” Amarah Selvy.

__ADS_1


“Heh iblis betina! Bukannya kau juga menyanggupi untuk datang ke pesta itu?, bukannya kau juga menikmati pesta itu! Kenapa sekarang aku yang kamu salahkan!. Sekarang kita jangan saling menyalahkan, tapi harus sama-sama mikir, bagaimana caranya menemukan mereka dan siapa yang membawa pergi anak kita dan anak sialan itu.” Kata Reyhan dengan nada tinggi.


“Aku bener-bener gak bisa mikir! Aku gak tahu harus ngomong apa nanti, pada saat orang tuaku menanyakan keberadaan Revy. Bisa mati aku dihukum sama mereka.”


“Hey! Bukan nya kamu menipu mereka untuk membawa Revy kesini dengan alasan buat liburan saja! Bilang saja pada orang tuamu kalau Revy aman sama kita disini. Bereskan!.” Teriak Reyhan.


“Tidak semudah itu Rey, orang tuaku pasti akan datang ke Indonesia kalau pada akhirnya Revy tidak balik lagi ke Jerman, tadi nya aku pikir kalau harta si Harvan sudah atas nama Revy, Revy mau kembali ke Jerman juga masa bodoh, tetapi sekarang kalau Revy nya tidak ada sama kita, bagaimana kita bisa secepatnya merebut segalanya dari si Harvan, ini akan semakin sulit bagiku.” Kata Selvy dalam kebingungan.


“Maka nya, ayo kita cari mereka sampai dapat! Jangan pikirkan dulu hal lain, yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya kita menemukan mereka, jangan sampai kalah cepat dari si Harvan itu!.” Tegas Jodi.


Selvy dan Reyhan sama-sama saling menyalahkan dengan semua yang telah terjadi. Dan itu membuat mereka semakin tidak menemukan solusi, malah menjadi masalah baru bagi mereka.


*


Sementara itu di sebuah terminal, nampak Harin dan Revy tengah berlari menghindari seorang pemuda yang terus mengikuti mereka. Pemuda yang duduk di sebelah Revy waktu di dalam bus itu semakin yakin kalau memang kedua anak yang tengah ia ikuti itu memang ada masalah.


Sebenarnya pemuda itu tidak berniat jahat, tetapi ingin membantu, mencari jalan keluar untuk kedua anak yang ia temukan di dalam bus tersebut. Hanya saja Revy berfikir lain dan tidak mengerti akan maksud pemuda itu.


Pada saat mereka tengah bersembunyi terdengar kondektur pada bus yang melintas di sekitar mereka, memanggil penumpang,


“Laut.. laut.., ayo laut pak, bu, sebentar lagi meluncur.” Kondektur.


“Eh Harin! Coba dengar, bukankah kondektur tadi mengatakan laut? Mungkin saja bus itu akan mengantarkan kita ke rumah Emakmu.” Kata Revy.


“Betul kak! Itu pasti bus yang akan membawa kita kelaut. Ayo kita naik saja kak.” Ucap Harin.


Kemudian Revy membawa Harin mendekati bus tersebut,

__ADS_1


“Pak, ini bus ke laut kan?.” Tanya Revy pada kondektur.


“Iya betul neng,.” Jawab kondektur.


Tak menunggu lama, mereka langsung masuk ke dalam bus itu, pada saat mereka mendengar dari kondektur bahwa bus tersebut memang menuju ke tempat yang biasa di sebut laut.


Kali ini Harin dan Revy memilih duduk pada Jok paling depan. Tak lama setelah mereka berdua naik, bus itu melaju meninggalkan tempat tersebut.


Revy menarik nafas panjang, akhirnya ia merasa lega karena terbebas dari pengejaran pemuda yang mengikutinya.


Kemudian Revy dan Harin mendengar suara seorang penjual di dalam Bus tersebut tengah menjajakan makanan.


“Tarahu… tarahu….masih hangat, tarahu… tarahu dilontongan.” Penjual tahu menjajakan jualannya.


“Eh Harin, apakah kamu ingin makan tahu itu?.” Tanya Revy.


“Boleh kak, sepertinya enak.” Jawab Harin. Lalu Revy memanggil penjual tahu itu dan menyerahkan uang sepuluh ribu yang ia dapat dari hasil pengembalian naik bus yang pertama.


Kemudian si penjual tahu menyerahkan satu kantong kecil berisi tahu beserta lontong.


Sepanjang perjalanan Harin dan Revy menikmati tahu dan lontong tersebut, mereka tersenyum bersama sembari bercanda di dalam bus yang mereka tumpangi itu. Karena mereka duduk pada jok depan, membuat sang sopir sesekali memperhatikan mereka. Karena penasaran, lalu sopir itu bertanya pada mereka,


“Kalian hanya berdua saja?.” Tanya supir itu. Harin dan Revy terdiam sejenak, kemudian Revy melihat ke jok belakang, mengitari seluruh penumpang yang berada di jok belakang.


“Mh tidak pak, orang tua kami duduk di belakang.” Jawab Revy.


Kemudian sopir bus tersebut melihat seluruh penumpang dari kaca spion, nampak olehnya pada salah satu baris jok ketiga dari depan, wanita berambut pirang tengah duduk dengan seorang lelaki, di dalam benak sopir tersebut mengira bahwa merekalah orang tua dari anak-anak yang duduk di jok depan itu.

__ADS_1


Revy pun kembali merasa lega karena sang sopir tidak banyak bertanya. Sepertinya apa yang dikatakan Revy cukup meyakinkan sopir bus tersebut.


❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️


__ADS_2