
Dan hari pun berganti pagi. Pagi ini Harvan dan Jodi telah siap untuk berangkat ke kantor, seperti biasa setelah sarapan mereka berpamitan pada orang-orang rumah. Harin rupanya sudah terbiasa tidak ikut dengan ayahnya ke kantor lagi. Ia lebih sering di rumah bersama Revy dan Opanya.
Sementara di sekitaran rumah masih dengan penjagaan yang ketat karena di khawatirkan Selvy dan Reyhan akan bertindak nekad.
Jodi memacu kendaraannya dengan santai, sementara Harvan yang duduk di sampingnya tengah asyik melihat video sang istri.
“Har, apa rencana elo sama wanita yang mirip Intan itu? Serius! Elo mau langsung terima dia?.” Tanya Jodi.
“Gak lah Jod, kita lihat-lihat saja dulu. Justru yang seperti ini yang harus kita waspadai, siapa tahu dia di suruh seseorang melamar jadi pembimbing Harin karena wajahnya mirip Intan.” Jelas Harvan.
“Iya juga sih, apalagi jika kita lihat data-datanya kurang lengkap. Mungkin saja ada orang dibelakang dia, yang memang sengaja mengendalikan dia untuk tujuan tertentu.” Ujar Jodi.
“Kalau kita sudah lihat dia secara langsung, elo selidiki dia Jod.” Perintah Harvan.
“Oke.” Jawab Jodi.
Setelah mereka sampai di halaman parkir gedung kantor, mereka pun masuk ke ruangan masing-masing,
Harvan duduk pada kursi kebangsaannya. Sepertinya, pikirannya mulai terganggu setelah ia mengamati wanita yang mirip istrinya itu.
Hatinya terus bertanya-tanya. Kenapa harus ada orang yang mirip sekali bahkan sangat identik dengan Intan? Siapa sebenarnya wanita misterius ini? Dan apa tujuannya?
Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam bathinnya. Ia putarkan kursi kerjanya hingga membelakangi meja. Ia sandarkan tubuhnya pada sandaran seraya memandang ke luar jendela yang nampak berjejer gedung-gedung bertingkat. Ia hanyutkan lamunannya menembus jejeran gedung-gedung bertingkat dihadapannya hingga suara ketukan membuyarkan lamunannya.
Setelah mempersilahkan masuk, masuklah Diana sang sekretaris.
“”Boss ada tamu untuk Boss.” Kata Diana.
“Baiklah, suruh dia masuk, dan kamu kembali keruanganmu.” Jawab Harvan dengan posisi masih membelakangi.
Lalu Diana mempersilahkan seseorang itu masuk, sementara ia berlalu kembali ke ruangannya.
Perlahan seseorang itu memasuki ruangan Harvan, setelah tiba di depan meja kerja,
“Selamat pagi Tuan.” Suara seorang wanita membuatnya tertegun.
Perlahan Harvan memutar kursi yang ia duduki, betapa tersentaknya ia saat melihat sosok wanita yang berdiri tepat di hadapan meja kerjanya itu.
(Intan… kau kah itu?). Bathin Harvan. Lama Harvan memandangi wanita itu membuat wanita yang dihadapannya itu merasa gugup.
“Se-selamat pagi Tuan.” Wanita itu menyapa untuk yang ke dua kalinya. Harvan tak berkedip, diam seperti terhipnotis. Entah apa yang kini ada dalam fikirannya.
Sementara wanita yang memakai setelan jas dan rok pendek warna pink itu semakin bingung karena orang yang ia sapa seperti mematung diri seakan terkesima.
“Tuan! Apa anda baik-baik saja?!.” Tanya wanita itu. Dan Harvan masih tidak bergeming.
__ADS_1
“Tuan!.” Suara wanita itu sedikit meninggi, sehingga membuyarkan Harvan yang tengah mematung.
“Oh iya, maaf…. Silahkan duduk.” Kata Harvan gugup. Setelah bersalaman, wanita itu pun duduk di depan meja kerja Harvan sehingga membuat mereka saling berhadapan.
Entah kenapa tiba-tiba saja Harvan merasakan suasa yang lain, apalagi saat wanita itu telah duduk dihadapannya, ia merasa bingung di depan wanita itu, gugup membuat lidahnya kelu. Entah apa yang akan ia katakan untuk membuka pembicaraannya dengan wanita itu.
Wajah dan suaranya benar-benar mirip sekali dengan Intan. Mungkin itu yang membuat ia sedikit salah tingkah. Dengan segala kekuatan ia berusaha melawan rasa yang berkecamuk di dalam dirinya itu, sehingga membuatnya mulai dapat menguasai diri.
“Benarkah anda yang bernama Mustika Merah Delima?.” Tanya Harvan menatap wanita itu.
“Benar Tuan.”
“Kalau boleh saya tahu, dari mana anda tahu kalau kami mencari seorang guru pembimbing untuk putri kami?.”
“Maaf tuan, beberapa hari yang lalu saya melihat lowongan kerja yang anda pasang di internet. Memang kebetulan saya sedang mencari pekerjaan karena saya baru lulus S2 saya. Saya ingin mencari pengalaman kerja.”
“Kenapa anda memilih melamar jadi guru pembimbing seorang anak balita? sayang kan ijazah S2 anda? Dengan ijazah anda, anda bisa menjadi dosen pada sebuah Universitas atau kerja pada perusahaan.” Selidik Harvan dengan terus menatap pada wanita itu.
“Sebetulnya saya sudah memasukan beberapa lamaran ke tempat lain tuan, hanya saja saya masih menunggu panggilan, sementara yang baru memanggil saya adalah tuan, makanya saya datang memenuhi panggilan itu. Tadi nya saya hanya iseng-iseng saja memasukan lamaran pada anda. Mengingat jaman sekarang ini sulit mencari kerja, jadi saya kira tidak menjadi dosen pun tidak apa-apa yang penting saya mendapatkan pekerjaan.” Jelas wanita itu.
Tiba-tiba saja Jodi masuk keruangan Harvan. Pada saat Jodi melihat siapa yang berada di hadapan Harvan, ia pun terkejut melihat sosok mirip Intan itu.
“Oya kenalkan, beliau Jodi asisten saya.” Kata Harvan seraya menunjuk Jodi. Kemudian wanita itu menyalami Jodi.
“Anda sudah datang Nona?.” Tanya Jodi sembari tersenyum dan terus menjatuhkan pandangannya seakan tak percaya bahwa wanita itu memang benar sekali mirip Intan.
“Sebentar nona saya ada perlu dulu dengan Boss.” Kata Jodi menarik Harvan menuju ruang pribadi Harvan yang berada di dalam ruangan itu.
“”Gila! Ini bener-bener gila! Intan banget itu Har.” Kata Jodi setengah berbisik.
“Iya Jod, gue sampai terkesima waktu pertama kali lihat dia.
“Terus apa yang akan elo lakuin sama dia?.” Tanya Jodi.
“Gak tahu Jod, gue jadi bingung. Elo ikut gue aja deh interview dia, biar kita tahu alasan dia yang sebenarnya.” Kata Harvan.
“Oke, ayo kita bareng-bareng tanyai dia.”
Lalu Harvan dan Jodi kembali ke ruangannya, dan wanita itu masih duduk di depan meja kerja Harvan.
Lalu sekarang Jodi lah yang berperan memberikan beberapa pertanyaan pada wanita itu. Sementara Harvan terus memperhatikan wanita itu.
“Baik nona, dari berkas yang anda kirimkan pada kami, ada beberapa yang tidak anda lengkapi, apakah anda dapat menjelaskan pada kami?.” Selidik Jodi.
“Baik Tuan, maaf mungkin karena saya kurang teliti jadi ada beberapa poin yang tidak terisi, karena saya banyak membuat lamaran jadi mungkin terlewat sehingga ada poin yang belum terisi.”
__ADS_1
“Anda hafal poin mana saja yang belum anda isi?.”
“Maaf Tuan saya lupa.”
“Oke, coba anda lihat kembali pada aplikasi Form lamaran.”
“Baik Tuan, saya akan lihat kembali.” Kata wanita itu seraya membuka aplikasi pada ponselnya. Setelah ia meneliti, kemudian,
“Oh iya tuan, saya lupa belum mengisi alamat saya dan pengalaman bekerja saya, juga beberapa pertanyaan. Apa boleh saya melengkapinya sekarang tuan?.”
“Ya silahkan.” kata Jodi yang berdiri di sebelah Harvan, sementara Harvan terus memandangi wajah wanita itu. Dengan sorot mata menyelidik ia memperhatikan mata wanita itu, kemudian turun ke hidung dan bibirnya.
Sementara wanita itu fokus pada ponselnya mengisi data yang tengah ia lengkapi. Lalu,
“Sudah tuan, semuanya telah saya lengkapi.” Ujar wanita itu.
“Oya nona, seandainya anda benar-benar diterima oleh tuan saya menjadi guru pembimbing putrinya, apa yang akan anda lakukan?.” Tanya Jodi.
“Tentunya saya akan belajar menjadi pembimbing yang baik tuan, mengingat saya belum berpengalaman dalam bekerja, jadi saya akan berusaha dan belajar mengikuti arahan tuan.” Jelasnya.
“Oke. Baik nona. Kemudian seandainya nanti anda diterima menjadi pembimbing tentunya akan ada kontrak kerja yang harus kita sepakati bersama sebagai syarat bahwa anda kami terima, lalu bagaimana tanggapan anda?.” Tanya Jodi kembali.
“Tentunya saya akan mematuhi kesepakatan itu tuan..”
“Baik, jika nanti anda kami terima, anda akan training dulu di kantor ini dan tuan yang langsung akan menangani anda, mengingat putri tuan sangat dekat dengan tuan, jadi hanya tuan yang bisa mengajari anda cara menghadapi putrinya itu. Putri tuan sangat di jaga ketat karena hidupnya dalam bahaya, jadi kenapa kami melakukan audisi untuk pembimbingnya? Semata-mata demi untuk keselamatannya. Anda faham?.” Kata Jodi tegas.
“Saya mengerti tuan.” Jawab gadis itu sopan.
“Baiklah, sekarang kita dengarkan tanggapan tuan saya, apakah anda benar-benar dapat diterima atau tidak.” Kata Jodi.
“Baik tuan.” Wanita itu mengangguk dan menundukkan pandangannya, kemudian,
“Baik, saya akan coba menerima anda tapi dengan syarat, anda harus sangat mengerti bagaimana putri saya, untuk itu besok datanglah kembali ke sini. Saya akan memberitahu anda bagaimana menangani putri saya.” Jelas Harvan.
“Baik tuan. Terima kasih.”
“Ya sudah untuk hari ini, saya rasa cukup, silahkan anda boleh pulang dan kami tunggu besok pagi untuk kembali ke ruangan ini.” Kata Harvan.
“Baik tuan, saya permisi dulu.” Kata wanita itu lantas menyalami Harvan dan Jodi kemudian ia berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Harvan menghela nafas panjang saat wanita itu telah luput dari pandangannya.
“Bagaimana?” Tanya Jodi.
“Selidiki dia Jod.” Perintah Harvan.
__ADS_1
“Oke siap.” Kata Jodi yang kemudian ia berlalu meninggalkan ruangan itu menuju ruangan kerjanya.
❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️