
Harvan dan Jodi sama-sama terdian mematuk diri. Masing-masing berfikir keras menyelidik siapa si pengirim paket yang baru harvan terima. Mencoba menelisik lebih dalam, mencari siapa dalang di balik ini semua. Harvan tidak pernah merasa ia mempunyai musuh, hanya satu yang menjadi petunjuknya adalah dua sosok manusia yang pernah bermasalah dengannya, ialah Reyhan sepupunya, dan Selvy mantan istrinya.
“Jod, apa mungkin yang mengirim paket itu Selvy dan Reyhan?” Tanya Harvan.
Sejenak Jodi berpikir.. kemudian BRAK…. Ia menggebrak meja.
“Sial!! Bisa jadi mereka Har.. mereka datang lagi buat ngusik hidup elo sama bini elo, pasti mereka masih menaruh dendam.” Kata Jodi berapi-api.
“Berarti mereka ada di sekitar kita kalau begitu Jod, sepertinya mereka sudah muncul kembali dari persembunyiannya.” Ungkap Harvan.
“Tidak salah lagi Har, pasti ini paket dari mereka.” Tukas Jodi.
“Tapi anehnya paket ini seperti baru di kemasnya Jod, karena terlihat darah segar masih mengalir di tubuh merpati putih itu.” Jelas Harvan.
Sejenak mereka terdiam seakan berpikir dan menyelidik.
“Bisa jadi mereka menyuruh orang untuk membuat paket ini, bukan langsung mereka yang membuat dan mengirimnya, karena ekspedisi nya pun tidak jelas.” Ungkap Jodi.
“Iya pasti mereka menyuruh orang.” Kata Harvan.
“Oke…Har, Sekarang juga elo telepon bini elo, bisa jadi teror yang sama pun ia terima, karena sasarannya elo sama Intan.” Ujar Jodi panik.
“Ah sial! Oke, sekarang gue telepon.” Kata Harvan bergegas.
Kemudian Harvan menelepon ponsel istrinya TUT… TUT… tidak ada jawaban.
“Gak di angkat Jod!.” Ujar Harvan sedikit panik.
“Coba lagi Har, kalau gak di angkat juga, elo hubungi orang rumah yang lainnya.” Jelas Jodi serius.
Kemudian Harvan menelepon kembali Istrinya. TUT… TUT kembali tak ada jawaban. Lalu menghubungi ponsel bu Nanah, tak ada jawaban juga, kemudian menghubungi satpam rumah dan pekerja lainnya, tetap satu pun tak ada yang mengangkat teleponnya. Harvan di buat aneh dengan kejadian ini.
“Ah, kenapa semua orang tidak mengangkat telepon nya!.” Kata Harvan kesal mengusap kasar rambutnya.
Mereka berdua terdiam, Jodi terlihat mengirim chat dengan ponselnya.
“Gue hubungi team gue buat nyelidikin masalah ini.” Kata Jodi seperti tergesa.
Kemudian terdengar suara panggilan dari ponsel Harvan. Di lihatnya layar ponsel yang menghubungi nya, HONEY, bergegas Harvan mengangkat teleponnya.
“Hallo sayang.. maaf teleponnya tadi gak keangkat, tadi aku lagi di taman gak bawa ponsel.” Suara di balik telepon.
“Oh iya, gak apa-apa.” Jawab Harvan sedikit lega.
“Lalu kenapa aku hubungi yang lain gak di angkat juga, bikin panik aja.” Ujar Harvan.
“Mereka lagi membantuku sayang, aku lagi ganti pot baru untuk tanaman-tanaman kita.” Jawab Intan.
“Oh begitu… oya sayang… apa ada yang kirim paket ke rumah?.” Tanya Harvan.
“Paket? Paket apa ya? Kayaknya gak ada sayang.” Jawab Intan.
“Oh, syukurlah… kalau ada apa-apa cepat hubungi aku ya sayang.” Ujar Harvan.
“Iya sayang… tapi ada apa? Sepertinya kau panik.?” Tanya Intan.
“Gak.. gak ada apa-apa, pokonya kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya.” Kata Harvan.
“Iya pasti.. ya sudah, aku mau lanjutin ngurusin tanaman dulu ya sayang.” Kata Intan.
“Iya sayang.” Jawab Harvan, TUT suara telepon di tutup.
Kemudian Harvan duduk kembali di samping Jodi.
“Di rumah aman Jod.” Kata Harvan.
“Syukurlah.” Jawab Jodi.
Tak lama suara panggilan kembali masuk ke ponsel Harvan. Di lihatnya di layar, muncul dari nomor tak di kenal.
“Jod, nomor tak di kenal.” Kata harvan memperlihatkan layar ponsel yang di pegangnya pada Jodi.
“Angkat Har.” Ujar Jodi tegas.
“Hallo….” Sapa Harvan, tapi tak ada jawaban.
“Hallo…! Hallo…!” Masih tak ada jawaban, dan TUT suara panggilan terputus.
Harvan dan jodi sama-sama terdiam saling pandang, tak lama TING suara pesan masuk pada ponsel Harvan, ia buka pesan itu. Pesan yang membuat Harvan terhenyak itu, tertulis:
“Kalau elo ingin istri elo selamat! Nanti malam jam 8.00 WIB, datang ke gedung X. Jangan membawa siapa pun! Apalagi menghubungi polisi!.”
Harvan terdiam masih memandangi layar ponselnya setelah ia membacanya.
“Ada apa Har??.” Tanya Jodi.
__ADS_1
Harvan terdiam, dia ragu akan memberi tahu isi pesan itu pada Jodi.
“Siapa yang kirim chat?.” Desak Jodi, tapi Harvan masih diam, kemudian Jodi merebut ponsel Harvan, di bacanya isi chat tersebut. Kemudian menyerahkan kembali pada Harvan.
“Ok Har, kita layani mereka!.” Ujar Jodi semangat.
“Gimana caranya Jod? Apa yang harus gue lakuin?.” Tanya Harvan sedikit lemas memikirkan istrinya. Betapa tidak gusar hatinya, saat melihat chat itu seolah ancaman pada istrinya tengah ada di depan matanya.
“Elo tenang Har, istri elo kan pendekar semoga ia bisa mengatasinya kalau terjadi sesuatu padanya, sekarang yang harus kita lakukan adalah memenuhi keinginan penjahat itu.” Tukas Jodi.
“Entar malam elo lakuin apa yang mereka minta, dari jauh gue dan team gue ngikutin elo, supaya mereka yakin elo datang sendiri.” Sambung Jodi.
“Terus alasan gue apa sama bini gue Jod? Dia pasti nanya gue mau kemana malam gitu.” Tanya Harvan.
“Begini Har, elo telepon bini elo, bilang sama dia kalau kita lembur sampai malam. Jadi dia gak curiga, bagaimana?.” Ide Jodi.
Sejenak Harvan terdiam memikirkan ide Jodi tersebut, kemudian,
“Oke, gue setuju.” Jawab Harvan.
“Elo tenang aja, rumah elo di jaga aman, gue suruh team gue buat nyamar jagain rumah elo. Sekarang elo telepon bini elo.” Kata Jodi.
“Oke siap! Gue telepon bini gue sekarang.” Kata Harvan, bergegas,
Kemudian Harvan menghubungi istrinya.
“Hallo sayang… maaf hari ini aku pasti pulang larut, karena banyak yang harus aku selesaikan, jadi terpaksa aku sama Jodi lembur sayang, gak apa-apa kan?.” Jelas Harvan pada istrinya.
“Iya sayang gak apa-apa, kamu hati-hati ya di kantor, jangan lupa makan.” Jawab Istrinya di balik telepon.
“Iya sayang.. ada Jodi yang nemenin dan ngurusin makan, jadi kamu jangan khawatir ya sayang.” Kata Harvan.
“Ya syukurlah.” Jawab Istrinya.
“Udah dulu ya sayang. Baik-baik di rumah ya.” Kata Harvan dan TUT telepon di tutup.
Kemudian mereka berdua menyusun rencana yang akan mereka lakukan nanti malam. Jodi sibuk menelepon tim intelijen nya. Sementara Harvan tengah menyiapkan mentalnya. Karena tidak tahu apa yang akan terjadi malam nanti, saat ia mendatangi gedung X tersebut.
Gedung X adalah sebuah gedung setengah jadi yang masih tahap proses pembangunannya. Dapat di pastikan gedung itu masih belum sempurna dan konstruksi pembangunannya baru mencapai 50%.
Ada perasaan cemas di dalam hatinya. Bagaimana tidak? Karena ini adalah kejadian yang baru ia alami seumur hidupnya. Banyak pertanyaan yang menggagu di kepalanya. Apa yang akan mereka lakukan padanya di sana? Apakah ia akan kembali kerumah setelah mendatangi gedung X itu? Bagaimana dengan istrinya seandainya ia mendapatkan masalah di sana dan tidak bisa kembali bersama istrinya lagi.
Sungguh hari ini adalah hari yang sangat menguras pikirannya hingga ia merasa lelah dan penat.
“Oke, Gue istirahat dulu ya Jod, kepala gue penat. Makasih ya Jod.” Kata Harvan yang kemudian berlalu menuju kamar pribadinya di ruang kantornya tersebut.
Harvan merebahkan tubuhnya pada tempat tidur yang tersedia di kamar tersebut. Ia mencoba melepaskan semua ke kacauan yang ada di kepalanya sampai ia terlelap tidur.
Sementara Jodi keluar pergi dari ruangan Harvan, memberikan kesempatan pada Harvan untuk beristirahat dari masalah yang tengah ia hadapi.
Baru saja mereka mendapatkan kebahagiaannya kembali, baru saja mereka mendapatkan ketenangan. Kini muncul masalah baru yang membuat mereka sedikit pengap.
*
*
Detik demi detik berlalu dengan cepat, menit demi menit pun mengalihkan waktu hingga fajar hendak menutup siangnya.
Sore itu Harvan terbangun dari tidurnya. Ia pandang sekeliling dan ia sadar ia berada di ruang pribadi kantornya. Ia bangkitkan tubuhnya. Di lihatnya jam dinding menunjukkan pukul empat.
(Ah tak terasa.. sudah lama sekali ternyata aku tidur) gumamnya.
Ia ingat tadi pada saat ia meninggalkan ruang kerjanya ada Jodi di sana. Kemudian ia berlaku ke ruang kerjanya, tak di dapatnya sosok orang yang ia cari. Kemudian ia kembali ke ruangan pribadinya hendak membersihkan diri.
Setelah ia membersihkan diri dan berpakaian kembali, ia berjalan keruang kerjanya, dan di dapatinya di meja sofanya, dua porsi makanan siap saji. Kemudian ia duduk di sofa tersebut. Ia ambil satu porsi makanan tersebut hendak memakannya karena cacing-cacing di dalam perutnya sudah memanggil.
Belum sempat ia menyuapkan suapan pertamanya, Jodi masuk mendekat, lalu duduk di sebelahnya.
“Siapa yang bawa makanan ini?.” Tanya Harvan.
“Tadi gue suruh si Diana beli ini sebelum dia pulang.” Jawab Jodi.
“Oh..” jawab pendek Harvan dan ia mulai memakannya.
“Gimana perasaan elo sekarang.” Tanya Jodi.
“Udah mendingan gak pusing kayak tadi.” Jawab Harvan.
“Syukurlah.” jawab Jodi, kemudian ia melahap yang satu porsinya lagi.
Mereka berdua makan dengan lahapnya hingga satu porsi itu habis mereka makan.
“Beberapa jam lagi waktunya akan tiba, elo udah siap?.” Tanya Jodi, Harvan menjawab dengan anggukan.
“Elo harus relaks Har, kita hadapi masalah Ini bareng-bareng, gue akan selalu ada sama elo.” Sambung Jodi.
__ADS_1
“Iya jod.. thanks ya.” Ujar Harvan.
“Gue sahabat elo..juga asisten elo.. kebahagiaan elo, kebahagiaan gue.. rasa sakit elo rasa sakit gue.. jadi elo tenang aja Har, selama gue ada bersama elo, gue pastikan elo dan bini elo aman.” Jelas Jodi, Harvan mengangguk pelan.
“Makasih Jod, elo selalu ada di saat gue butuh temen yang bisa meringkankan beban gue.” Ujar Harvan.
Kemudian Jodi berbincang hal lain untuk mengalihkan ketegangan yang Harvan rasakan. Ia ceritakan pengalaman-pengalaman mereka dulu saat sekolah. Mereka bercerita dan bercerita hingga tak terasa malam pun tiba.
“Har, udah waktunya elo pergi.” Kata Jodi.
“Iya, tapi sebentar gue mau nelpon bini gue dulu.” Ujar Harvan, yang lalu merogoh ponselnya dan menghubungi istrinya.
“Hallo sayang… lagi ngapain?.” Tanya Jarvan pada istrinya.
“Aku lagi siap-siap mau tidur sayang, kamu udah makan belum?.” Tanya balik istrinya.
“Udah sayang, tadi sama Jodi.” Jawabnya.
“Oh syukurlah… sekarang lagi ngapain?.” Tanya istrinya.
“Masih ngurusin kerjaan.” Jawabnya.
“Jangan terlalu di forsir tenaganya ya sayang, aku gak mau kamu sakit.” Kata istrinya.
“Iya sayang.. tenang aja kan ada Jodi yang bantu.” Jawabnya.
“Oh iya.” Ujar istrinya.
“Sayang… aku sangat mencintaimu, aku masih ingin tetap berada di sampingmu sampai kita lanjut usia.” Ungkap Harvan.
“Iya sayang aku juga merasakan hal yang sama denganmu.” Kata istrinya.
“Sayang… kalau seandainya aku…..” belum sempat Harvan melanjutkan kata-katanya, istrinya menyela,
“Sayang kamu ngomong apaan sih… udah ah kembali kerja sana, aku ngantuk.” Potong istrinya.
“Ya sudah…. Selamat istirahat ya sayang.” Ucap Harvan dan telepon pun di tutup.
Ia diam sejenak, kemudian,
“Jod gue pergi sekarang ya.” Kata Harvan.
“Iya.. gue sama team ikutin elo di belakang, elo pake mobil perusahaan aja ya Har?.” Kata Jodi.
“Kenapa?.” Tanya Harvan.
“Biar elo aman, jadi pake mobil perusahaan aja, nih kuncinya.” Jelas Jodi, yang kemudian melempar kunci itu dan Harvan menangkapnya.
“Oke.” jawab Harvan sambil menangkap kunci itu dan berlalu meninggalkan Jodi di ruangannya. Jodi menatap punggung sahabatnya itu sampai menghilang dari pandangannya.
Sampailah Harvan di parkiran gedung perusahaannya. Ia menaiki mobil yang di arahkan Jodi tadi. Mobil pun di Starter dan JIUS.. mobil dengan kecepatan tinggi melaju meninggalkan halaman parkir tersebut.
Selama dalam perjalanan, Harvan sedikit cemas namun ia berusaha menguasai kecemasan tersebut. Sejurus pandangannya kedepan, Harvan melirik pada spion samping, melihat seperti ada van yang mengikutinya dalam kecepatan yang sangat tinggi. Harvan pun menambahkan kecepatan mobilnya.
Van yang berada di belakang mobilnya semakin mengejarnya dan BUG.. van itu menabrak bagian belakang mobil yang di bawa Harvan.
“Sial!!” Gumam Harvan, kemudian ia menambah lebih cepat laju kendaraannya.
Terjadi kejar kejaran antara mobil yang Harvan bawa dan van tersebut. Harvan terus menambahkan kecepatan mobilnya hingga van itu tertinggal jauh tak terlihat lagi pada spion mobilnya.
Harvan sedikit lega, kemudian ia menurunkan kecepatan mobilnya kembali. Untuk beberapa saat ia merasa tenang hingga sampailah ia di gedung X.
Ia masuki area parkiran gedung X, di depan matanya, ia sudah di sambut dengan mobil van lain dengan lima pria kekar berdiri di samping van itu. Harvan turun dari mobilnya dan berjalan mendekat kearah lima pria kekar tersebut.
“Apa yang kalian mau?!.” Tanya Harvan pada mereka.
“Tuan harus ikut bersama kami ke suatu tempat.” Jawab satu orang pria.
“Heh lelucon apa lagi ini?!.!” Tanya Harvan tegas.
“Jika tuan ingin selamat Jangan membantah!.” Kata pria yang lain.
“Gue akan ikut kalau kalian bilang dulu siapa yang nyuruh kalian!!.” Tegas Harvan.
“Tidak bisa tuan! Ayo lekas ikut kami.” Kata mereka, yang kemudian tiga orang di antara mereka mendekati Harvan.
Harvan mulai pasang kuda-kuda. Untuk menghadang mereka. Dan terjadilah perkelahian antara mereka, Harvan menyerang tiga orang tersebut. HIA …. PAK…. CIAT…. dengan sigap ketiga orang itu mampu menangkisnya, hingga Harvan kewalahan sampai akhirnya mereka mampu melumpuhkan Harvan.
Kedua tangan Harvan terkunci oleh ketiga orang tersebut. Harvan memberontak tapi ia tak kuasa melawan mereka. Kemudian kedua tangan Harvan di ikat di belakang badannya, dan kepalanya di tutupi.
Harvan di giring oleh kelima orang tersebut memasuki van yang sudah tersedia di sana. Lalu van itu pun melaju meninggalkan parkiran gedung X membawa Harvan dan kelima orang itu.
BERSAMBUNG
🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗
__ADS_1