
Dari dalam kamar pondok emak, sayup-sayup Harvan mendengar gelak tawa putrinya. Ia masih berbaring di atas tempat tidur bahkan matanya pun masih sepet untuk ia buka.
Perlahan ia bangkitkan tubuhnya hendak melihat dari jendela sosok putrinya yang ia dengar tengah tertawa riang. Kemudian ia buka jendela kamar itu, nampak terlihat olehnya Harin tengah di pangku oleh wanita yang selama ini ia cari.
Ya, siapa lagi kalau bukan Delima, Harvan memandangi wanita itu dari kejauhan, nampak senyum kecil dari sudut bibirnya kala melihat wanita itu tengah bermain dengan putrinya di tepi pantai.
“Ternyata kamu bersembunyi disini Delima.” Bathin Harvan, yang terus memandangi Delima dari balik jendela.
“Bagaimana cara minta maaf padanya ya? Pasti dia masih sakit hati dengan apa yang telah aku lakukan padanya. Ah dasar bodoh! Kenapa juga aku lakukan itu padanya. Apa dia mengadu pada emak sehingga emak menyidangku tadi? Atau memang emak tahu sendiri?.” Gumamnya.
Harvan terus saja membathin sembari memperhatikan wanita itu, namun aktivitas mengintipnya terganggu dengan suara ketukan pada pintu kamarnya. Perlahan ia langkahkan kaki ke arah pintu lalu ia membukanya.
“Emak! Ada apa?.” Tanya Harvan.
“Ayo kamu bersihkan badanmu, ini sudah hampir maghrib. Malam nanti aku akan menikahkan kalian!.”
“Secepat ini mak? Bahkan emak belum berbicara kembali denganku mak?!.”
“Sudah di wakili sama asistenmu. Ayo sekarang mandi, emak sudah memanggil orang-orang yang akan menikahkan kalian, ba’da isya mereka akan datang.”Kata emak.
“Serius mak!?.” Harvan terhenyak.
“Emak tidak main-naik Harvan, ayo lekas mandi!.”
“Ba-baik mak!.” Dengan cepat Harvan berlalu ke kamar mandi. Ia tak bisa menolak jika emak sudak berbicara. Sementara emak berlalu keluar hendak memanggil Delima dan Harin yang bermain di tepi pantai.
*
Dan malam pun tiba.
Nampak emak, Harvan, Delima, Jodi dan orang yang akan menikahkan mereka serta beberapa orang yang membantu mengurus padepokan telah berkumpul di ruang tengah.
Emak terpaksa harus menikahkan Harvan dan Delima demi untuk menghindarkan mereka dari zina karena emak khawatir akan kedekatan mereka, meskipun emak menikahkan mereka secara agama dengan tujuan, yang terpenting adalah mereka menjadi pasangan yang sah terlebih dahulu.
Sementara untuk kedepannya, emak serahkan pada mereka berdua. Harvan yang tidak tahu karena tadi ia terlelap tidur, sebenarnya Jodi telah mempersiapkan segala kelengkapan yang mereka butuhkan untuk nikah dadakan mereka itu.
Singkat cerita pernikahan yang mereka gelar secara dadakan itu telah selesai dilaksanakan dan sekarang Harvan dan Delima telah sah menjadi pasangan suami istri. Namun hubungan mereka belum membaik, Delima masih perang dingin dengan Harvan. Mereka belum saling berbicara satu sama lain. Wajar karena ia masih kecewa dengan sikap Harvan pada saat mengusirnya.
Sementara Harvan masih canggung dan tidak tahu bagaimana cara memperbaiki hubungan mereka karena segalanya serba dadakan namun meski demikian Harvan tidak merasa keberatan, karena memang apa yang terjadi sekarang adalah salah satu dari harapannya, dan mungkin dengan cara seperti ini lah ia dapat dengan cepat memperbaiki hubungannya dengan Delima.
Malam itu orang-orang yang menghadiri pernikahan mereka satu persatu undur diri. Tinggalah penghuni inti di pondok tersebut. Karena lelah, Delima masuk ke dalam kamar untuk istirahat dan menidurkan Harin. Sementara Harvan dan Jodi berlalu ke depan pondok emak. Mereka berdua duduk di atas dipan dan berbincang.
“Gue tenang sekarang, gak perlu was-was lagi akan hal mesum dari pasangan tidak sah yang akan menjadikan rumah sebagai pintu neraka.” Kata Jodi.
“Eh gue gak akan sampai ngelakuin hal bodoh kayak gitu ya?.” Tegas Harvan.
__ADS_1
“Orang yang di rasuki setan mana sadar Har.” Cemooh Jodi.
“Eh tapi gak pernah terjadi hal gituan antara gue sama Delima.”
“Belum kejadian aja itu sih, tapi bisa jadi kedepannya kejadian kan? makanya elo wajib dinikahkan, karena emak udah lihat gelagat binal elo haha.” Kelakar Jodi.
“Eh anjir gila luh.”
“Nah sekarang elo bebas mau ngapain juga Har, alam gak akan murka, sono luh masuk kamar segera belah duren, haha.” Ledek Jodi.
“Ish, pelan-pelan luh ngomongnya entar dia denger.”
“Iya-iya gue tahu. Oya Har, biar Harin tidur sama gue aja biar elo gak ada yang ganggu hehe.”
“Gak usah deh Jod, biarin Harin kangen-kangenan sama ibunya, kasian dia Kemaren-kemaren sedih banget. Urusan gue mah gampang.”
“Ya udah kalau gitu. Elo malam pertama di rumah aja nanti biar nyaman ya? entar gue mau suruh orang buat sulap kamar elo jadi kamar penganten ya? haha.”
“Ah gila luh!. Gak usah kaya gitu juga kali. Nanti aja kalau gue sama dia resepsi Jod, baru elo urusin semuanya.” Jelas Harvan.
“Oke kalau begitu, gue istirahat dulu ya Har.” Ujar Jodi yang kemudian berlalu meninggalkan Harvan yang masih duduk di depan pondok.
Sementara itu di dalam kamar nampak Delima tengah menemani Harin tidur. Setelah ia membacakan cerita lalu di lihatnya Harin sudah terlelap, akhirnya Delima beranjak dari tempat tidurnya untuk mencuci muka ke kamar mandi.
Setelah selesai mencuci mukanya, Delima keluar dari kamar mandi, bersamaan dengan itu Harvan masuk kedalam rumah dan mereka pun saling berpandangan.
Melihat Harvan masuk ke dalam kamar itu, Delima yang sudah berbaring di samping Harin langsung membalikan badannya. Perlahan Harvan menghampiri tempat tidur dan membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur tersebut.
Diatas tempat tidur mereka berbaring bersama di halangi oleh putrinya. Harvan menatap langit-langit dengan kedua telapak tangannya di bawah kepalanya.
Setelah lama ia terdiam, ia memberanikan diri membuka pembicaraan.
“Delima, kau sudah tidur?.” Tanyanya. Tapi Delima tak menjawab.
“Maafkan aku atas apa yang telah aku lakukan padamu.” Ucapan Harvan karena meskipun Delima tak menyahut ia tahu wanita itu belum tertidur.
“Aku salah dan aku menyesal atas perbuatanku. Aku harap kau mau memaafkanku..” sambungnya setengah berbisik karena takut mengganggu putrinya yang tengah terlelap.
“Mungkin kau butuh waktu untuk memaafkanku, itu tak masalah bagiku. Memang tak mudah memaafkan orang yang telah menyakiti hati. Aku sadari itu dan aku tidak akan memaksamu untuk memaafkan aku. Ku harap kau mengerti, saat itu aku tersulut emosi. Entah kenapa saat aku mendengar bahwa pengusaha itu berniat menjadikan kau istri ke-empatnya aku langsung terbakar api cemburu. Aku tidak suka mendengarnya, mungkin saat itu aku tak pantas berlaku demikian tapi aku harap di lain waktu kamu bisa berbagi cerita denganku mengenai dia dan temanmu itu Almira, karena sekarang kita sudah jadi suami istri, dan aku pun berharap diantara kita tidak ada rahasia apapun. Aku menunggu kau memaafkanku Delima…dan terima kasih kau telah bersedia menjadi istriku meskipun pernikahan ini tidak terencana.. baik sekarang tidurlah… selamat malam.” Kemudian Harvan memejamkan matanya.
Delima yang posisi tidurnya membelakangi Harin dan suaminya, jelas ia mendengar apa yang telah dikatakan suaminya itu. Ia pun mengerti namun untuk saat ini, ia masih enggan untuk berbicara dengan suaminya, karena setelah kejadian ia di usir dari rumah itu, ia merasa butuh waktu kembali untuk memahami segalanya.
Selang beberapa lama, Delima mendengar Harvan mendengkur pelan, tandanya suaminya itu telah masuk kedalam alam bawah sadarnya, sementara itu entah mengapa ia tak dapat memejamkan matanya. Dan tiba-tiba pada jendela kamarnya terdengar seperti ada suara yang mengetuk tiga kali. Perlahan Delima bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah pelan menuju jendela.
Namun kakinya membawa ia melangkah ke luar kamar, dengan hati-hati ia keluar kamar agar tidak membangunkan suami dan putrinya. Setelah ia berhasil keluar kamar, langkahnya membawa ia ke luar rumah, setelah ia membuka pintu ia melihat penampakan Intan tengah tersenyum padanya di balik pintu.
__ADS_1
“Ya Tuhan, Intan… kamu sedang apa di luar sana? Ayo sini masuk.” Delima mengajak Intan masuk ke dalam dengan suara berbisik.
“Tidak Delima, aku di sini saja, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Baiklah kalau begitu, kita bicara di atas dipan saja ya?.” Kemudian Delima keluar dan duduk di atas dipan, di ikuti oleh Intan.
“Apa yang akan kau katakan padaku Intan?.”
“Aku mau pamit padamu Delima.”
“Pamit? Kenapa? Emangnya kamu mau kemana?.”
“Aku harus pergi ke suatu tempat Delima, karena urusanku di sini sepertinya sudah selesai.”
“Kamu mau kerja di luar negeri Intan?.”
“Bukan Delima, tapi di luar alam nyata hehe.”
“Ish, kamu tuh paling bisa ya kalau bercanda.”
“Hehe, ya pokoknya aku harus pergi ke luar Delima, tapi aku tidak akan pernah lupa padamu, sesekali kalau aku ada waktu aku pasti menemuimu.”
“Aku pasti akan merindukanmu Intan, terima kasih atas segala bantuanmu ya Intan, kau teman terbaikku.”
“Aku juga pasti akan merindukanmu Delima. Kau tidak usah berterima kasih padamu, justru aku yang seharusnya berterima kasih padamu, aku pernah memiliki cita-cita dan aku tidak sempat menggapainya, dan kau lah yang meneruskannya, aku sangat berterima kasih padamu Delima.”
“Cita-cita? Cita-cita apa?.” Delima sedikit heran dengan ucapan Intam yang kadang sering tidak nyambung menurutnya.
“Cita-cita jadi guru pembimbing hehe.. aku gagal melakukannya dan sekarang kau yang meneruskan cita-citaku.”
“Ya kalau memang kau menginginkannya, kenapa tidak kamu saja yang membimbing anak itu? Kenapa kamu harus memaksa aku?.”
“Karena kau lebih cocok dari pada aku hehe.. oya selamat ya Delima, akhirnya kau dinikahi oleh lelaki itu dan anak itu menjadi anakmu sekarang. Aku bahagia mendengarnya. Kalian harus baik-baik ya menjadi pasangan dan menjadi keluarga, karena disanalah ibadah terbesar untuk kaum hawa. Aku yakin kau pasti bahagia dan aku percaya kau dapat menjadi istri dan ibu yang baik.”
“Iya Intan, makasih ya kamu benar-benar saudara bathinku yang terbaik.” Ucap Delima sembari memeluk Intan.
“Udah ya aku pergi dulu Delima… jaga dirimu, aku doakan semoga kalian selalu bahagia.”
“Aku antar kamu ya Intan?.”
“Tidak usah, aku di antar dan di jemput seseorang Delima, ayo kamu masuk dulu sana.”
“Baiklah. Terima kasih Intan. Kabari aku jika kamu sudah sampai disana ya?.” Kata Delima lantas memeluk Intan kembali sebelum ia masuk kedalam pondok.
“Iya. Dah.” Intan masih tersenyum dan melambaikan tangan tidak jauh dari pintu saat Delima menutup pintu pondok tersebut.
__ADS_1
Kemudian setelah menutup pintu Delima masuk ke dalam kamarnya kembali dan merebahkan diri di samping putrinya yang diapit oleh ayahnya.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝