
WARNING!!
Episode ini mengandung 21+
Harap dengan bijak menyikapinya!
Terima kasih😉
“Sayang, sekarang Harin sudah masuk sekolah.” Kata Sang Suami pada Istrinya yang menyandarkan tubuh polosnya tanpa sehelai benang pun di dada bidangnya, hanya selimut tebal yang menutupi tubuh mereka berdua.
“Oya? Bagus kalau begitu. Bagaimana, apakah dia suka?.” Tanya Sang Istri yang memainkan jari-jarinya di dada bidang suaminya itu.
“Dia suka hanya saja dia sedikit masih takut karena ini merupakan hal baru baginya.” Jawab Sang Suami yang dengan lembut membelai rambut istrinya itu.
“Ya, nanti juga dia akan terbiasa dan akan mudah beradaptasi.” Kata Sang Istri yang kemudian mencium dada bidang Suaminya itu.
Kemudian Sang Suami mengangkat tubuh istrinya untuk duduk diatas tubuhnya.
“Sayang, sekali lagi ya? Tongkat komandoku kembali berdiri gara-gara kau terus menciumi dadaku.” Kata Sang Suami yang kemudian menggenggam pinggang langsing Sang Istri.
Sang Istri tak menolak permintaan suaminya itu. Ia malah langsung mengecup mesra sang Suami yang berada dibawah tubuhnya.
Ciuman bertubi-tubi itu ia lontarkan pada wajah dan dada Suaminya itu, membuat sang Suami terlihat mulai memuncakkan gairahnya dengan mata sayunya.
Perlakuan sang Istri yang menggairahkan membuat dirinya mabuk kepayang hingga membuat jemarinya meremas apa yang ia lihat didepan matanya. Pergumulan diantara keduanya tak terelakkan lagi, kedua pasangan itu saling bersahutan melepaskan iramanya masing-masing yang mengiringi gerak tarik ulur dari tubuh mereka yang melepaskan hasratnya.
Semakin lama semakin peluh membasahi tubuh keduanya. Semakin cepat dan dalam semakin membawa mereka melayang ke langit tertinggi, hingga geraman halus meluluh lantakkan tubuh mereka yang melemas berdua.
“Sayang, jangan pergi dulu, tetaplah dalam pelukanku sebentar saja. Aku masih ingin menciumi aroma tubuhmu.” Bisik Sang Suami dengan suara lembutnya.
Sang Istri hanya terdiam, ia masih di atas tubuh Sang Suami dengan deru nafas yang masih memacu. Lalu tiba-tiba.
“Ayaaaaah.” Teriakan gadis kecil memekik pada gendang telinga sang ayah dan membuyarkan mimpi manisnya.
“Ah Harin, ada apa? Kenapa membangunkan ayah seperti itu, membuat ayah kaget saja.” Ujar sang Ayah.
“Ayah ngompol lagi, kenapa ayah setiap hari ngompol seperti adik bayi saja!.” Kata Sang anak membuat Harvan sedikit terhenyak. Kemudian ia melihat ke arah celananya.
“Ayah selalu bilang padaku kalau mau bobo harus pipis dulu biar gak ngompol, tapi ayah sendiri tiap hari ngompol, apa ayah tidak pipis dulu sebelum ayah bobo?.” Tanya Sang anak membuat ia bingung mencari jawaban yang tepat.
“Mh, iya sayang ayah selalu lupa tidak pipis dulu sebelum bobo.” Jawabnya untuk meyakinkan Sang Anak.
“Pantas saja ayah selalu ngompol.” Kata anak itu sembari memanyunkan bibir mungilnya.
“Baiklah nanti ayah akan pipis dulu sebelum bobo ya sayang.” Kata Sang Ayah sembari mengusap pelipisnya dengan telapak tangannya dan beranjak pergi ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi dan mengganti celananya, lalu ia mendekati putrinya itu.
“Ayo sayang kita mandi dulu, bukannya pagi ini kau akan ke sekolah?.” Tanya Sang Ayah seraya menggendong anaknya kemudian membawanya ke kamar mandi.
Setelah memandikan anaknya kemudian ia memakaikan pakaian untuk anaknya. Setelah itu barulah ia membersihkan dirinya. Tak lama ia keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian khas kantornya. Lalu menghampiri putrinya yang duduk di meja rias. Perlahan ia menyisiri rambut putrinya itu dan merapikan rambut tersebut.
“Nah sekarang putri ayah sudah cantik seperti ibu.” Ujar Harvan yang telah selesai menyanggulkan rambut anaknya menjadi bentuk seperti pita.
“Kau suka bentuk rambutmu sayang?.” Tanya Sang Ayah.
“Suka sekali ayah, terima kasih ayah muach.” Seru bibir mungilnya seraya memberikan ciuman di pipi ayahnya.
__ADS_1
“Baiklah, ayo kita ke meja makan untuk sarapan, pasti om Ijong sudah menunggu kita dibawah.” Ajak sang Ayah, lalu memangku anaknya keluar dari kamar mereka menuruni tangga.
Dilihatnya ruang makan itu, benar saja Jodi sudah menunggu disana.
“Wah cantik sekali putri sultan yang satu ini, ayo sini makan sama om.” Puji Jodi yang kemudian meraih Harin dari pangkuan ayahnya, lalu mendudukkan di pangkuannya.
“Bagaimana sekolah di hari pertama kamu sayang?.” Tanya Jodi yang tengah mengambilkan sarapan untuk Harin kemudian menyuapinya.
“Seru om, disekolahku banyak mainan dan aku punya banyak teman.” Jelas Harin.
“Wah, bagus kalau begitu.” Jodi menanggapi.
“Ayah juga punya banyak teman disana, iya kan ayah?.” Tanya Harin.
“Iya sayang.” Jawab Harvan seraya menyuapkan makanan pada mulutnya. Jodi melihat kearah Harvan mengangkat kan alisnya sebagai kode pertanyaan.
“Itu ibu-ibu yang mengantarkan dan menunggui anak-anaknya.” Jelas Harvan pada Jodi.
Jodi langsung menangkupkan mulutnya menahan tawa.
“Oh jadi teman-teman elo sekarang emak-emak ya Har? Haha.” Tawa Jodi.
“Ya mau gimana lagi, mereka ngajak aku gabung, semua anak-anak yang sekolah disitu kan emaknya yang antar, cuma gue doang bapak-bapaknya.” Jawab Harvan seraya menyuapkan sarapan pada mulutnya.
“Haha.. pastinya kalau gabung sama emak-emak bergosip jadinya.” Jelas Jodi.
“Iya memang begitu.” Jawab Harvan.
“Tapi gak apa-apa anggap saja hiburan. Haha.” Kata Jodi.
“Oya sayang, lain kali om yang nungguin kamu di sekolah ya?.” Kata Jodi pada Harin.
“Boleh om, memang ayah mau kemana?.” Tanya Harin pada sang Ayah.”
“Iya Ayah tidak apa-apa.” Jawab Sang Anak.
“Pinter, anak kesayangan Ayah.” Ujar Harvan.
“Oya om Ijong, om masih suka ngompol tidak?.” Tanya Harin pada Jodi.
Harvan langsung terdiam memandangi putrinya dan Jodi, ia merasa akan ada sesuatu yang akan putrinya katakan yang membuatnya sedikit gerah.
“Yak enggak lah, emangnya Adek bayi masih suka ngompol di celana.” Kata Jodi santai. Sementara Harvan semakin tidak enak perasaannya karena melihat putrinya akan mengatakan sesuatu yang menyinggung dirinya.
“Tapi kenapa ayah setiap hari masih suka ngompol, kalau bangun tidur pasti celana ayah basah, kata ayah, ibu yang selalu bikin ayah ngompol, ayah seperti adik bayi saja ya om Ijong!.” Kata Jujur Harin.
Mendengar ucapan Harin, Jodi dan Harvan berpandangan terdiam, seakan kaku mulut Harvan sementara Jodi menangkupkan mulutnya menahan tawa mendengar ucapan jujur Harin.
“Mungkin ibu becandain ayah terlalu seru sayang, jadi membuat ayahmu ngompol.” Kata Jodi yang sudah tidak tahan ingin melepaskan tertawanya melirik pada Harvan.
“Sialan luh!.” Bisik Harvan melototi Jodi.
“Sepertinya ayahmu harus pakai pampers ya sayang?.” Ledek Jodi.
“Iya om, nanti om Ijong belikan ya.” Pinta Harin.
“Siap sayang, nanti om akan beli pampers yang banyak buat si ayah.” Ledek Jodi tertawa pada Harvan.
“Awas luh ya!.” Kata Harvan pelan seraya mengepalkan tangannya di atas meja.
__ADS_1
Begitulah sarapan pagi mereka hari ini, di hibur dengan celotehan Harin yang membuat Ayahnya tidak berkutik didepan Jodi, dan seperti itulah apabila mereka sudah bercanda selalu ingin puas memperdaya satu sama lain dengan ledekannya.
*
Singkat cerita, tibalah Harvan dan putri kesayangannya di halaman sekolah. Mereka berjalan memasuki area taman dekat ruangan sekolah Harin. Terlihat kelima bunda-bunda yang kemarin berkumpul di taman itu. Pada saat mereka melihat Harvan bersama Harin, mereka menebarkan pesonanya masing-masing melemparkan senyuman terindahnya pada Harvan. Harvan membalas senyuman mereka. Kemudian mendekat pada mereka yang tengah memberi sarapan pada anaknya masing-masing.
“Harin sini sayang, mau sarapan bareng claire tidak?.” Tawar Bunda Claire.
“Tidak tante, terima kasih, aku sudah sarapan tadi di rumah sama ayah.” Jawab Harin.
“Oh anak pintar, selalu sarapan di rumah ya?.” Kata bunda Lolita yang tengah menyuapi Lolita tetapi matanya terus saja memandangi Harvan sehingga sendoknya mengarah pada hidung anaknya.
“Mama.. sakit! Cendoknya kena idungku.” Teriak cadel Lolita.
“Oh, iya maaf sayang.” Kata Bunda Lolita Gugup.
“Makanya kalau suapin anak matanya di jaga dong Bun.” Ucap ketus Bunda Valent.
“Sudah-sudah, kalian ini ya selalu ribut saja, oya Ayah Harin mari duduk disini hehe.” Kata Bunda Cira.
“Baik bunda. Terima kasih.” Jawab Harvan yang kemudian duduk di samping bunda Cira.
Melihat pemandangan itu Bunda Lolita merasa tidak senang, kemudian Ia berdiri,
“Loh bunda Loli mau kemana?.” Tanya Bunda Ajriel.
“Panas! Mau cari angin.” Jawabnya ketus.
Melihat keadaan itu kemudian Harvan berdiri dan membawa Harin,
“Maaf bunda-bunda saya mau bawa Harin dulu ke Playgroud, permisi semuanya.
“Iya silahkan Ayah Harin.” Jawab kompak mereka.
Lalu Harvan membawa Harin meninggalkan mereka.
“Kenapa ayah bawa aku kesini?.” Tanya Harin.
“Biasanya anak Ayah kan selalu ingin naik perosotan, ayo nak sini ayah bantu naik tangganya.” Ajak Sang Ayah.
“Tapi kan kali ini aku tidak mau main ayah.” Kata Sang Anak.
“Ya sudah kalau tidak mau, kita duduk disini saja ya.” Kata Sang Ayah yang sebenarnya ia menjauh dari bunda-bunda itu karena untuk menghindari mereka yang tengah tebar pesona padanya.
Lalu Harvan duduk disitu membawa Harin dalam pangkuannya dan menunjukkan video sang Istri yang tengah bernyanyi pada anaknya.
Harin terlihat bahagia melihat ibu nya yang tengah bernyanyi yang kemudian ia mengikuti nyanyian ibunya.
Dari kejauhan bunda-bunda itu memperhatikan Harvan. Bersama anaknya.
“Tuh lihat, jadi aja Ayah Harin duduk di sana, kalian sih ribut terus.” Ujar Bunda Claire.
“Lagian bunda Cira, ngapain ngajak duduk sebelahan sama Ayah Harin.” Protes Bunda Lolita.
“Kan kursi yang kosong cuma ini yang disampingku bun.” Jawab Bunda Cira.
“Sudah-sudah ah, jangan berisik terus, tuh lihat miss Ayunda sudah memanggil anak-anak, ayo kita antar anak-anak ke kelasnya.” Ujar Bunda Ajriel.
Lalu mereka pun bersama-sama mengantarkan anaknya masing-masing ke ruang kelasnya. Begitu pun dengan Harvan pada saat melihat mereka menuju ke ruang kelas itu, ia pun berlalu menuju kesana mengantarkan putri tercintanya.
__ADS_1
❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥
Mohon Vote dan Like nya ya Bunda-bunda😁