Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Konsultasi


__ADS_3

“WHATS……” Jodi pun dibuat terbelalak dengan penampakan kamar yang seperti habis di bom. Terlebih melihat wajah Harvan yang lebam membiru. Suasana diam sejenak. Sedikit tidak percaya. Bu Nanah dibantu pelayan lain membersihkan sarapan dalam nampan yang terjatuh tadi.


Jodi masih diam tanpa bicara menatap bergantian pada Harvan dan Intan. Kemudian Jodi menyuruh pelayan untuk membersihkan kehancuran dari kamar tersebut. Kamar lantai bawah yang biasa menjadi kamar Intan yang dijadikan kamar pengantin.


Tidak ada satu pelayan pun yang berani berkomentar, termasuk bu Nanah. Mereka hanya membersihkan kamar pecah itu dalam diam dan dalam berbagai macam prasangka.


Mereka banyak menemukan bercak darah di seprei pengantin, kemudian TV lead hancur yang terjatuh dari tempatnya. Bantal yang berisi bulu angsa hancur berhamburan, gaun tidur yang sobek dan penuh bercak darah, meja sofa kamar yang pecah, lemari kaca tempat menyimpan perhiasan, dan banyak lagi kehancuran yang membuat semua mata yang melihat akan sulit berfikir.


Jodi, Intan dan Harvan masih membisu sambil berlalu ke ruang makan. Intan dan Harvan duduk bersebelahan menyantap makanannya tanpa bersuara, sementara Jodi duduk dihadapan mereka dengan kepalan kedua tangannya yang menjadi topangan hidungnya. Sampai mereka selesai makan, Jodi leket memandangi mereka bergantian.


“Kembalilah ke kamar, kamu harus istirahat. Sebentar lagi dokter datang. Oya, kamar kita diatas sayang.” Kata Harvan pada Intan.


“Ya.. aku mau istirahat dulu. Badan pada sakit ini.” Ujar Intan sembari berlalu naik tangga setelah ijin sama suaminya dan Jodi.


“Ngapain sih elo lihat gue kayak gitu.!” Sentak Harvan pada Jodi, yang sedari tadi Jodi terus saja menatap serius.


“Apa yang terjadi Har? Gue gak habis pikir itu kamar sampai hancur lebur gitu?, terus muka elo yang pada biru itu?.” Tanya Jodi leket.


“Gue juga gak tahu kenapa?.” Jawab Harvan enteng.


“Hey brow apapun, elo selalu cerita sama gue, ayo cerita apa yang terjadi dikamar itu? Siapa yang pertama mulai KDRT?.” Selidik Jodi.


“Gila luh! Gak ada KDRT!!!.” Sentak Harvan.


“Ya terus itu kenapa Muka elo hancur? Masa iya dia bercinta pake ngeluarin jurus juga?!.” Kekeuh Jodi.


“Kalau iya kenapa?!.” Jelas Harvan.


“Yang bener aja mau mantap-mantap tempur dulu.” Kata Jodi.


“Kepo luh!.” Kata Harvan.


Jodi terdiam. Berpikir dan mengendus napas panjang.


“Heran gue sama pendekar wanita yang satu itu.” Kata Jodi.


Tapi percakapan mereka terhenti karena kedatangan dokter pribadi mereka.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam dokter Wisnu, silahkan masuk.” Sapa Harvan dan Jodi, kemudian mempersilahkan dokter muda itu masuk.


“Siapa yang sakit?.” Tanya dokter Wisnu.


“Ini dok saya minta obat buat luka memar saya.”Jawab Harvan.

__ADS_1


“Oh baiklah, saya periksa dulu ya!.” Kata dokter Wisnu.


“Mari dikamar saya saja, sekalian periksa istri saya juga ya dok?.” Ujar Harvan.


“Baiklah.” Jawab dokter Wisnu yang langsung berlalu bersama Harvan ke kamar dilantai dua.


Pintu di buka, terlihat Intan tidur di ranjang yang biasa dipakai tidur oleh Harvan, karena itu memang kamarnya dulu dan sekarang menjadi kamarnya bersama Intan.


Singkat kata dokter pun memeriksa Harvan dan Intan. Dokter memberikan obat untuk luka memar Harvan dan memberikan vitamin dan obat penambah darah untuk Intan.


Selesai dokter memeriksa mereka, Intan pun kembali berbaring. Harvan dan dokter Wisnu berlalu dari kamarnya menuruni tangga kelantai bawah.


Kemudian dokter pun pamit undur diri. Sementara Harvan dan Jodi beranjak ke ruang kerja dilantai tiga nya. Jodi memulai pembicaraan,


“Bini elo gila ya? bikin muka elo babak belur gitu, heran gue.. bikin seluruh kamar hancur lebur lagi, gaya bercinta macam apaan itu, hadeuh.” Kata Jodi.


“Gue yang salah… gue lupa, harusnya gue gak langsung nyerang dia, gerakan dia kan refleks, harusnya gue hati-hati.” Jelas Harvan.


“Iya waktu itu kan dia pernah bilang Har, kalau dia lagi pules, elo jangan bangunin dia pake tangan kosong, harus pake media… inget kan?.” Tanya Jodi.


“Lupa gue.” Jawab Harvan.


“Yah elo.. eh tapi perlu gak ya gue konsultasi ke dokter, siapa tau bini elo sakit jiwa.. hahaha.” Gelak Jodi.


“Sialan luh! Anjir!!.” Tukas Harvan seraya nonjok pelan tangan Jodi.


“Siapa? Tumben luh pake PDKT segala, biasanya elo langsung nyosor haha.” Ledek Harvan.


“Sialan luh! eh dia profesinya psikiater. Entar gue mau ketemu dia.” Jelas Jodi.


“Emang dia mau ketemu sama elo? Gue yakin kalau dia tahu elo penjahat kelamin, dia bakal langsung kabur, haha.” Ledek Harvan lagi.


“Anjrit luh, eh awas luh ya, gue mau iseng-iseng nanyain sama dia, bini elo gila apa enggak nya, masa mau mantap-mantap harus tempur dulu. Haha.” Kelakar Jodi.


“Sialan lo.” Sentak Harvan.


“Eh Har, gue kan bingung entar gue ketemu dia mau ngomong apaan, jadi gue modus dulu, pura-pura konsultasi gitu.” Terang Jodi.


“Terserah elo deh.” Jawab Harvan.


“Eh Har, kalau pertempuran elo semalam membuahkan hasil jadi anak, elo kasih nama anak elo NARUTO, cocok luh, hahah.” Ledek Jodi.


“Sialan luh!.” Kesal Harvan.


“Haha.. Ya udah gue cabut dulu.. mau ngontrol kantor.” Kata Jodi.

__ADS_1


“Sono luh pergi!.” Ujar Harvan.


Kemudian Jodi berlalu keluar dari ruangan kerja tersebut. Disusul Harvan yang masuk ke kamarnya.


Didalam kamar, Harvan mendapatkan Intan sedang berada di tempat tidurnya. Dilihat matanya belum tertutup, lalu Harvan menghampiri sang istri. Kemudian ia mencium dan memeluk istrinya itu.


Lama mereka berpelukan merasakan kehangatan cinta mereka. Sampai akhirnya mereka tenggelam dalam buaian mimpi.


*


Sementara itu ditempat lain, Jodi sang asisten baru keluar dari halaman gedung kantornya hendak mendatangi seseorang yang telah ia buat janji.


Jodi memacu mobilnya. Setelah 30 menit menempuh perjalanan ia sampai disebuah rumah megah. Mobilnya masuk ke gerbang setelah satpam mengijinkan ia masuk.


Ia keluar dari mobilnya dan didapati wanita cantik yang telah menyambutnya di depan halaman rumah.


Sejurus mata memandang, kecantikan itu memikatnya, membuat mata terpana, senyum nya yang indah menggetarkan jiwanya. Membuat semakin lebih bersemangat untuk berbicara dengan nya.


“Siang dokter Vivi?.” Sapa Jodi.


“Siang juga pak Jodi, mari masuk.” Sahut dokter cantik itu.


Dan mereka pun memasuki ruang prakter dokter jiwa yang cantik jelita itu.


“Maaf Pak Jodi ada yang bisa saya bantu?!” Tanya si dokter cantik itu dengan lembut membuat jiwa nackal Jodi meronta-ronta.


“Begini Dok, saya mau konsultasi mengenai isi hati saya hehe.. eh maaf Dok, maksudnya sesuatu yang entah ada kaitannya atau tidak dengan masalah kejiwaan.” Kata Jodi.


“Hehe.. pak Jodi bisa saja. Baiklah, apa yang pak Jodi rasakan, ceritakan semuanya pada saya, semoga saya bisa mengatasi masalah yang bapak rasakan.” Tanya dokter Vivi.


(Gue cinta sama elo tau gak sih luh, pake pura-pura gak tahu aja huh!.. dasar si cantik, gue gigit luh, hehe.) Bathin Jodi.


“Mh.. maaf dok sebenarnya saya bingung mau mulai dari mana hehe.. .”Ujar Jodi.


“Oh hehe… terserah Pak Jodi saja, mau memulainya dari mana.” Sambung dr Vivi.


(Hadeuh.. lama-lama gue cium juga luh ah) bathin Jodi kembali.


“Oya. Begini dok, saya mau menanyakan apakah gerakan refleks dari seseorang mempengaruhi kejiwaannya?. Boss saya mengalami serangan refleks dari istrinya sebelum ia melakukan mantap-mantap hehe.. sampai beberapa bagian wajahnya lebam.” Jelas Jodi


“Baiklah Pak Jodi, saya akan menjelaskan pengenai apakah ada pengaruh dari gerak refleks pada kejiwaan Seseorang. Sebelumnya saya akan menjelaskan bahwa gerakan refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak, jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Sama hal nya pada saat kita bersin, mengedip dan batuk. jadi menurut saya gerakan refleks yang dialami istri boss anda tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kejiwaan.” Jelas dokter Vivi.


“Oh begitu ya dok?. Syukur deh kalau memang tidak ada pengaruhnya pada psikis istri boss saya, saya khawatir aja gerakan refleks itu berdampak buruk” Kata Jodi.


“Sama sekali tidak Pak, jadi katakan saja bahwa semuanya aman.”

__ADS_1


BERSAMBUNG


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝


__ADS_2