
Harvan, Intan dan Jodi begitu menikmati kebersamaannya di daerah itu. Daerah yang membawa kembali cinta mereka, daerah yang menjadi saksi perubahan diri pada seorang anak manusia, daerah yang bermakna bagi sepasang kekasih yang mengharapkan suka cita pada hidup dan matinya kelak.
Ya.. palabuhanratu telah menjadi saksi hidup bagi mereka. Di sana mereka di pisahkan dan di sana pula mereka di pertemukan kembali.
Pagi itu cuaca di palabuhanratu begitu cerah. Harvan dan Jodi masih terlelap di pembaringan nya. Mereka tidak memilih tinggal di villa atau di hotel untuk istirahatnya, tetapi mereka memilih untuk menginap di pondok Emak yang menghipnotis mereka, membuat mereka nyaman berada di dalamnya.
Pagi-pagi sekali Emak dan Intan sudah berpakaian rapi ala-ala pendekar yang hendak bertempur. Pakaian serba hitam dengan ikat di kepala seperti pahlawan, menambah aura kemerdekaan jiwanya.
Emak dan Intan akan melakukan latihan di sisi pantai dengan para pendekar-pendekar didikan Emak di Padepokannya. Padepokan PANCA MATRA SAGARA ( Lima Penjuru Lautan ).
Di pinggir pantai mereka latihan bertarung dengan berpasangan sebagai lawan. Kali ini Emak dengan Intan yang menjadi lawannya.
HIAAT… CIAAT…PAAK.. (suara para pendekar petarung)
Sementara di pondok.
Harvan terjaga dari peristirahannya, di susul dengan Jodi yang menggisik matanya dengan jari-jari tangannya.
“Kok sepi.. pada kemana ya?.” Tanya Harvan.
“Pada berburu kali ya.. pendekar kan suka berburu gitu.” Jawab Jodi.
“Gila lo, emang nya ini jaman purba!.” Sentak Harvan.
“Ya kali aja di sini masih kental budaya berburunya.. mana kita tahu!.” Ujar Jodi.
Jodi bangun dari pembaringannya. Di lihatnya di meja tersedia goreng pisan dan gorengan lainnya juga kopi dan air teh.
“Wiih enak bener nih tinggal di pondok emak, bangun tidur udah di siapin aja gorengan sama kopi.” Kata Jodi seraya mengambil satu gorengan dan melahapnya. Di susul dengan Harvan yang juga ikut melahap gorengan tersebut.
“Mereka pada kemana ya.?” Gumam Jodi.
“Ke padepokan kali.” Kata Harvan.
“Oh iya kali ya… pagi buta gini pendekar mah sarapan pagi nya main pukul-pukulan haha.” Kata Jodi.
Kemudian Jodi beranjak dari duduknya dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Dan berjalan keluar pondok hendak duduk di dipan depan rumah.
di susul oleh Harvan dengan gaya yang sama dengan kopinya dalam genggaman.
Mereka duduk di dipan dengan menyeruput kopi mereka masing-masing, dengan pandangan sejauh mata memandang menikmati deburan ombak yang bersahutan. Terhenti pandangan Jodi di kejauhan pada sekumpulan manusia yang berpakaian serba hitam tengah melakukan pertarungan.
“Eh.. Eh.. Har, lihat noh.” Kata Jodi sambil menunjuk ke kejauhan pada segerombolan anak manusia yang berpakaian serba hitam.
“Mereka di sana kali ya? Kelihatannya kayak orang lagi latihan silat gitu.” Kata Jodi.
“Mana?” Tanya Harvan sambil melihat tempat yang di tunjuk Jodi dan Harvan pun menyelidik.
“Oh iya bener… noh bini gue yang lagi loncat-loncat pake iket kepala merah.” Jelas Harvan.
“Hafal juga elo sama bini..” ujar Jodi.
“Ya iya lah.. sama bini sendiri mah kudu hafal, biar gak ada di depan mata juga kudu tahu. Emangnya elo, bini orang juga berani di godain.” Kata Harvan.
“Eh buset! Amit-Amit ya kalau gue pernah godain bini orang, haram buat gue mah kaya gitu.” Ujar Jodi, lalu,
“Ke sana yuk.” Ajak Jodi
“Ah gak usah deh entar ganggu mereka lagi.” Kata Harvan.
“Iya juga ya.” Tukas Jodi.
“Keren kan bini gue.. jago kan dia?.” Kata Harvan.
“Hooh bener, gesit ya gerakannya, mantap dah. Oya Har, setelah kejadian kapal pecah itu, elo sama Intan sempet ngelakuin mantap-mantap lagi ga?.” Tanya Jodi.
“Ah gila luh.. kepo!.” Jawab Harvan.
“Yaelah gitu aja di bilang kepo ” Ujar Jodi..
Harvan diam seperti ragu ingin mengatakannya pada Jodi.
“Sempet sih Jod, gue lupa ganggu dia lagi lelap tidur, dia refleks gigit gue deh langsung, nih bekasnya.” Kata Harvan.
“Gilla..bini elo, kayak macan aja! bikin tangan elo luka kayak gitu Iy.” Kata Jodi bergidik.
“Tapi gue langsung cubit pipinya, dia langsung sadar.”kata Harvan.
“Makanya wlo jangan ngagetin dia, kalau mau gitu bangunin dia dulu kali.” Jelas Jodi.
__ADS_1
“Ya kan gue kadang lupa kalau dia pendekar Jod haha.”Kata Harvan.
“Kalau lagi kebelet mana inget ya? Haha.” Kelakar Jodi.
“Iya langsung aja gue sikat haha” Kata Harvan.
“Haha gila anjir .”Tukas Jodi.
“Gue cinta banget sama dia Jod.” Jelas Harvan.
“Iya gue tahu! Kalau gak cinta ngapain elo nyari dan nunggu dia bertahun-tahun. Padahal masih banyak cewek yang lebih dari dia. dan elo pasti mampu dapat yang lebih.” Kata Jodi.
Lalu Hening di antara mereka berdua. Hanya deburan ombak yang terdengar dan sesekali angin menebas bebas tubuh mereka yang kekar.
“Ada ya cowok se-setia elo kayaknya gue gak bisa kaya elo Har.” Ujar Jodi.
“Bisa aja Jod, asal kita udah nemu orang yang tepat.” Kata Harvan.
“Iya ya.. gue belum nemu aja kali.” Kata Jodi.
“Iya pada saatnya nanti elo juga bakal nemuin Jod, cewek yang bener-bener buat elo jatuh cinta dan dia cinta sama elo.” Ucap Harvan.
“Sekarang gue sadar, ternyata memang jodoh kita itu bagaimana kitanya ya?.” Ujar jodi.
Hening kembali menyelimuti mereka berdua. Pandangan mereka yang sedang menikmati segerombolan anak manusia yang tengah bertarung membuat mereka semakin asik dibuatnya.
“Eh liat Har, kayaknya mereka udah selesei deh latihannya.” Kata Jodi.
Jodi dan Harvan memandangi segerombolan orang-orang itu yang berjalan menuju ke arah mereka.
“Hihihihi… kalian sudah bangun rupanya.” Kata Emak seraya mendekati Harvan dan Jodi.
(Yaela… tawa Nini pelet datang lagi… ish) gumam Jodi.
“Udah selesai latihannya Mak?.” Tanya Jodi pada Emak.
“Iya.. hihi…Sudah selesai.” jawab Emak.
(Ish.. tawa kunti lagi dah) gumam Jodi.
Kemudian Intan bersama seorang wanita menghampiri Harvan dan Jodi.
Jodi sedikit terhenyak sedikit gugup.
di pandanginya wanita mungil yang memiliki senyum manis dengan lesung pipitnya di pipi.
Sedikit gugup jodi menyalami wanita itu.
“Hai.. kenalin saya Jodi.” Kata Jodi seraya menyalami Siti.
“Saya Siti kak.” Kata Siti menyambut salam Jodi.
(Anjir… ini tangan ngeri banget, pegang tangan gue kayak mau di remukin aja) guman Jodi yang sedikit nyengir karena tangannya merasakan sakit saat bersalaman dengan Siti.
“Hahah… kenapa Jod? Kok muka elo pucet gitu?.” Ledek Harvan.
“Sialan lo!.” Jawab Jodi sedikit berbisik.
“Sayang antar aku ke pasar yuk, kita beli bahan pasakan buat sarapan.” Kata Intan pada Harvan.
“Yuk.” Jawab Harvan seraya menggandeng istrinya ke dalam pondok untuk berganti baju pendekarnya.
“Elo baek-baek ya di sini, hati-hati ngomongnya pake adab, biar gak kena bacok hahaha.” Ledek Harvan.
“Sialan lo!.” Kata Jodi.
“Hey Siti... aku tinggal ke dalam dulu ya.” Kata Intan pada Siti yang di biarkan dengan Jodi berdua di dipan depan pondok.
Tinggalah Siti dan Jodi di depan pondok Emak.
“Kak Jodi mau lama tinggal disini?.” Tanya Siti.
“Mmh.. hem.. gak tahu, gimana perintah boss aja hehe.” Jawab Jodi.
“Oh.. gitu.” Ujar Siti sambil memandangi Jodi.
(Walaah Iy dia ngelihatin gue kayak gtu, kayak mau nyerang gue aja) bathin Jodi.
Kemudian Siti mengambil goloknya dan mengusap-ngusapnya.
__ADS_1
(Alamak.. mau ngapain dia dengan golok nya..Iy takut gue) bathin Jodi.
“Kakak tahu gak?! Ini golok! Golok sakti kesayangan aku Loh” Kata Siti.
“Mh.. iya tahu hehe.. Intan pernah bilang he.” Kata Jodi sedikit kikuk.
“Bagus golok nya hehe.” Sambung Jodi.
“Iya kak.. sudah banyak memakan darah manusia bejad.” Kata Siti.
(Waduh! Ngeri gue. Ih) bathin Jodi.
“Oh hehe.. gitu ya?!.. keren ya hehe.” Ciut Jodi.
“Pastinya dong.. ini senjata yang langsung Emak hadiahkan untukku sebagai kado ulang tahun.” Jelas Siti.
(Oalah.. pendekar wanita..hadiah ultahnya golok! Serem) bathin Jodi.
“Oh gitu ya hehe.. bagus ya.?” Kata Jodi.
“Mau coba gak kak.?” Tanya Siti.
(Eh.. eh.. mau coba. Apa dulu nih? Tebas leher gue maksudnya?.. gak.. gak.. Iy sumpah ngeri gue) bathin Jodi.
“Mh.. hE.. gak deh.. makasih.” Jawab Jodi gugup.
“Yah kakak cemen… padahal kakak orang pertama loh yang aku suruh buat jajal golok ini, Kak Intan aja gak pernah aku ijinin.”jelas Siti.
(Oh… maksudnya nyoba tuh golok?!.. di kirain apa uh.) bathin Jodi.
“Emang boleh goloknya di pake orang neng?.” Tanya Jodi.
“Boleh sih asal atas ijin aku, kalau gak ada ijin aku bakal nyelakain dirinya sendiri kak.” Jelas Siti.
“Oh gitu ya.” Kata Jodi.
“Iya.. nih kalo kita pegang golok ini.. dia akan memberikan kekuatan pada tangan kita untuk menebas sasaran! Dia akan mentransfer kekuatan dari dalamnya. Jika kita focus pada sasaran kita dengan nafsu, ialah tempat sasarannya yang akan jadi korbannya.” Jelas Siti.
“Oh gitu.” Jawab Jodi mengangguk-angguk.
Semakin lama mereka berbincang semakin hilang ketakutan Jodi pada Siti. Dan Jodi pun semakin menikmati kebersamaan nya dengan Siti.
“Mau coba gak?.” Tawar Siti.
“Iya boleh deh kalau maksa.” Seru Jodi.
Lalu kemudian Siti memberi tahu cara menggunakannya.
“Nah pertama-tama kakak focus pada target. Misalkan pohon kelapa itu. Tatap tajam pohon kelapa itu pada satu titik yang akan di jadikan target tebasan kakak dengan nafsu amarah penuh. Anggap dia orang, barang atau apapun yang sangat kakak benci. Terus focus dan focus sampai pikiran kakak terpengaruhi, dan betul-betul ia adalah hal yang patut di benci. Setelah kakak rasakan ada dorongan bathin untuk melenyapkannya.. tebas ia!!!.” Jelas Siti.
“Siap!!.” Kata Jodi tegas.
Kemudian Siti memberikan golok sakti itu pada Jodi. Kemudian Jodi mengambilnya dari tangan Siti.
Jodi mulai pasang kuda-kuda. Dia mencerna apa yang Siti jelaskan tadi. Lama sekali Jodi berkonsentrasi, karena pikirannya telah banyak terkontaminasi oleh hal-hal bodoh. Lama semakin lama, akhirnya Jodi mendapatkan ruh nya.
Dengan sigap dan gerakan gesit Jodi berlari kearah pohon kelapa yang menjadi targetnya. Dan tiba-tiba ada energi yang ia rasakan pada tangannya, energi itu menarik ia menebas pohon kelapa itu dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Dengan seketika,
BRUG
Pohon kelapa yang Jodi tebas hanya sekali hentakan saja tumbang dengan sempurna.
“Yey.. kakak hebat!!.” Sorak Siti dengan tepukan tangannya.
Jodi terhenyak menganga terhipnotis di buatnya, ia merasa tidak percaya dengan apa yang telah ia lakukan. Jodi terkesima melihat pohon kelapa yang telah tumbang di hadapannya.
“Wow!… Amazing! Yeah!!.” Seru Jodi dengan bangga.
“Siti!! Bener itu pohon, aku yang bikin tumbang.?” Tanya Jodi tak percaya.
“Iya kak! Kakak yang tebang pohon kelapa itu.” Jawan Siti dengan penuh semangat.
“Wow!! Spektakuler!! Aku tak percaya pada diriku Siti.” Kata Jodi.
“Kakak hebat!” Seru Siti.
Kebersamaan mereka membuat Kedua nya merasa hangat dan nyaman.
🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗
__ADS_1