
Suasana kini begitu hening di depan pondok itu. Mereka saling meresapi pikirannya masing-masing. Hanya deburan ombak dan tawa anak-anak yang terdengar disekitar tempat itu.
Setelah emak memberikan petuahnya pada orang-orang di sekitarnya, ia beranjak pergi ke dalam pondok. Sementara bu Aminah menghampiri anak-anak yang tengah bermain di tepi pantai.
Tinggal lah pak Ahmad, Harvan dan Jodi di atas dipan itu. Kini mereka tengah berbincang mengenai apa yang telah mereka rencanakan.
“Pak bagaimana? Apa bapak sudah mengubungi orang yang akan menjual perahu untuk bapak?.” Tanya Harvan.
“Sudah saya telepon tuan, katanya nanti malam beliau akan bertandang kerumah saya.” Jawab pak Ahmad.
“Baiklah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan kios untuk ibu?.” Tanya Harvan kembali.
“Kalau mengenai kios, pihak pemasaran menyuruh kami untuk datang ke kantornya besok tuan.” Jawab pak Ahmad.
“Syukurlah, kalau begitu, mumpung sekarang masih pagi, Jodi akan mengantar bapak ke bank central sekarang, karena bapak belum memiliki rekening jadi sekarang bapak akan membuat rekening bank dan asisten saya akan mendampingi bapak.” Jelas Harvan.
“Baik tuan, terima kasih atas semua yang telah tuan berikan pada saya, saya tidak tahu harus membalasnya seperti apa.” Ucap haru pa Ahmad.
“Bapak jangan berterima kasih pada saya, itu adalah rezeki bapak dari Allah yang dititipkan melalu saya. Dan mungkin ini adalah doa bapak yang terkabulkan.” Kata Harvan.
“Iya pak, orang yang berhati tulus seperti bapak akan selalu dimudahkan jalannya oleh Allah. Mari pak kita berangkat sekarang mumpung masih pagi.” Ajak Jodi.
“Baiklah tuan, saya permisi dulu.” Kata pak Ahmad menyalami Harvan, lalu ia pergi bersama Jodi menggunakan kuda besi yang sudah terparkir di dekat pondok.
Sementara itu tinggal Harvan kini duduk sendiri diatas dipan itu. Ia memandangi Harin dan Revy yang tengah bermain pasir ditepi pantai. Sesekali senyumannya mengembang dari sudut bibirnya kala melihat putrinya tersenyum bahagia melihat kearahnya. Lalu perlahan ia menghampiri putrinya itu.
Setelah mendekat, ia berjongkok di samping putrinya dan Revy yang tengah membuat istana pasir.
“Wah hebat anak ayah sedang membuat apa?.” Tanya Harvan.
“Aku sedang membuat istana pasir ayah.” Jawab Harin.
“Kau Revy? Apa yang sedang kau lakukan itu?.” Tanya Harvan.
“Aku sedang membuat kolam yang sangat dalam ayah.” Jawab Revy.
“Kolam apa hingga kau membuatnya begitu dalam?.” Tanya Harvan.
“Kolam untuk mengubur dan menenggelamkan mamaku dan pria itu.”
__ADS_1
DEG!! Harvan sedikit terhenyak mendengar penuturan Revy. Ia tidak mengerti kenapa anak usia 9 tahun bisa sampai berkata demikian.
Jiwa-jiwa psikopat Revy sepertinya sudah tertanam sejak dini, karena ia selalu mendengar ibunya dan Reyhan berkata yang tidak semestinya hingga terekam dalam isi kepala anaknya. Dan jika itu dibiarkan akan tumbuh menjadi sebuah teror bagi seorang anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tua nya.
“Revy, kenapa kau berfikiran seperti itu? Sejahat-jahatnya orang tuamu, kau jangan melakukan hal jahat pada mereka. Bukan kah aku sudah katakan padamu, aku adalah ibu dan ayah bagimu. Lupakan mereka dari pada kau menanam kebencian pada mereka atau jangan kau libatkan kehidupanmu dengan mereka lagi.” Jelas Harvan. Revy hanya terdiam dan mengangguk, kemudian,
“Ayah, bolehkah aku belajar ilmu silat juga pada emak?.” Kata Revy dengan wajah dinginnya sembari kedua tangannya tetap menggali pasir.
“Tentu saja boleh sayang, kamu bisa belajar bersama Harin nanti pada emak.” Ujar Harvan yang terus menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
“Terima kasih ayah, kau memang benar-benar ayah yang baik untukku.” Revy menatap Harvan dengan sorot mata penuh misteri.
Harvan berusaha menghilangkan kekhawatiran di dalam benaknya, berharap Revy tidak seperti apa yang ia fikirkan.
“Ayo, kita kembali ke pondok, hari sudah mulai siang, nanti kulit kalian terbakar.” Ajak Harvan pada Harin dan Revy.
Kemudian Harvan membawa Harin naik ke atas pundaknya sementara tangannya menggandeng Revy.
Mereka pun kembali ke pondok emak disusul dengan bu Aminah dan anak-anaknya. Lalu mereka dibawa untuk membersihkan diri, setelah membersihkan diri, mereka berkumpul di belakang pondok emak yang terdapat bale untuk berkumpul bersama.
Bu Aminah membantu emak memasak di dapur, sementara anak-anaknya bersama Harvan, Harin dan Revy duduk di atas bale.
Mereka cukup lama bercerita, bermain dan tertawa, hingga hidangan yang telah ibu Aminah dan emak masak telah siap. Tak berapa lama datanglah Jodi dengan pak Ahmad mendekati mereka.
“Sudah beres semuanya.” Pada Jodi yang kemudian duduk disebelah Harvan.
Sementara pak Ahmad terlihat gugup dan memandangi istrinya, lalu istrinya mendekat dan pak Ahmad menyerahkan sebuah buku kecil dan beberapa berkas.
Lalu bu Aminah mengambilnya dan membaca satu persatu berkas yang telah berada ditangannya. Sesaat bu Aminah terdiam. Tak lama matanya terbelalak dengan wajah yang seperti terkejut.
“Astaghfirullah, banyak sekali uangnya pak!.” Mata bu Aminah memandangi nominal yang tertera pada buku rekening ditangannya.
“Itu untuk modal usaha ibu dan membeli perahu yang bapak butuhkan, sisanya pakai untuk biaya anak-anak ibu ya? Setiap bulan akan saya kirim untuk biaya sekolah Sulaiman dan adik-adiknya.” Kata Harvan.
Dengan perasaan yang campur aduk bu Aminah refleks bersujud sembari menangis ala-ala acara Reality show. Di ikuti oleh pak Ahmad.
Mereka menangis bersama seakan tak percaya mendapatkan uang milyaran rupiah yang tak pernah terbayangkan oleh mereka bahwa mereka akan mendapatkannya dengan cuma-cuma dari seseorang yang baru ia kenal.
Kemudian Jodi membangunkan mereka dan membawanya duduk.
__ADS_1
“Semua itu uang bapak dan ibu. Pergunakan sebaik-baiknya ya pak, bu? Semoga akan bermanfaat bagi kehidupan bapak dan keluarga.” Kata Jodi.
“Saya tidak menyangka dengan semua ini tuan, saya masih berasa ini hanya mimpi.” Kata pak Ahmad
“Tuan, terima kasih banyak atas semua kebaikan tuan pada keluarga kami, sungguh ini berkah yang sangat luar biasa bagi kami.” Sambung bu Aminah.
“Pak, bu, saya kan sudah bilang, itu adalah rezeki bapak dan ibu. Allah hanya menitipkannya saja pada saya. Jadi berterima kasih lah kepada Allah.” Jelas Harvan.
“Syukurilah Ahmad, dan pergunakanlah dengan baik, karena Allah telah mempercayakan itu padamu jadi kau harus bisa menjaga kepercayaanNya itu. Ayo sekarang kita makan!.” Kata emak.
Akhirnya dengan penuh rasa haru dan suka cita mereka makan bersama pada bale dibelakang pondok emak.
*
*
Tak terasa malam pun telah tiba. Pak Ahmad beserta keluarga kembali pulang ke kediamannya setelah pamit pada penghuni pondok emak.
Tinggalah emak, Harvan dan Jodi berbincang diruang tengah pondok emak. Sementara Harin dan Revy berada dikamar, tengah bercerita sembari tertawa-tawa kecil. Entah apa yang mereka ceritakan sampai membuat suara tawa nya terdengar begitu nyaring sampai ke ruang tengah.
“Oya mak, bagaimana kabar si jago sama si kukut?.” Tanya Jodi pada emak.
“Mereka sedang jalan-jalan.” Jawab emak enteng.
“Maksudnya jalan-jalan kemana mak?.” Tanya Harvan.
“Entahlah, emak juga tidak tahu, mereka kan anak-anak nakal, kalau mau pergi tidak pernah bilang dulu, datang juga suka tiba-tiba.”
“Sudah berapa lama mereka pergi mak?.” Tanya Jodi.
“Sudah satu bulan lebih.” Jawab emak sembari menghela nafas.
“Wah bahaya tuh mak, bagaimana kalau tahu-tahu nanti pulang mereka bawa perempuan.” Kata Jodi sembari menangkupkan bibirnya menahan tawa.
“Gak apa-apa lah asal jangan menghamili anak orang saja.” Jawab emak.
“Terus kalau ngehamilin anak orang misalkan, emak mau hukum mereka kayak gimana?.” Tanya Jodi melirik pada Harvan sembari menunggu jawaban emak.
“Emak mau usir saja mereka, atau akan emak tenggelamkan kelaut.” Jawab emak sembari berlalu masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Harvan dan Jodi saling pandang dan tertawa pelan karena masih melihat punggung emak yang tengah berjalan menuju kamarnya.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹❤️🩹