Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Anak Ayah Kita Pulang yuk?


__ADS_3

Benar-benar tahun ini adalah tahun berduka sekaligus suka cita bagi Harvan. Ia berduka karena kehilangan Istri tercintanya dan Ia bahagia karena putri yang Ia rindukan telah lahir ke dunia dengan selamat dan Sentosa meski harus ada yang menjadi korban, ialah Istri tercintanya.


Mendengar Harvan berbicara di depan jenazah Istrinya, darah Jodi dan Pak Budi mendidih. Marah sekaligus benci pada seseorang yang berada dibalik kematian jenazah yang kini terbujur kaku.


Jodi menyuruh Vivi untuk membawakan baju ganti untuk Harvan yang selalu Jodi siapkan di dalam mobil, sementara dirinya, Pak Budi, Ibu Irma dan Bu Nanah memberikan kesempatan pada Harvan untuk berlama-lama dengan Istrinya untuk yang terakhir kalinya. Lalu pak Budi menarik Lengan Jodi agak menjauh dari tempat mereka.


“Jod, siapakah kira-kira yang telah melakukan pembunuhan terhadap Intan?.” Tanya Pak Budi.


“Saya tidak bisa menduga-duga Pak, meski kita curiga pada seseorang. Saya akan mencari bukti terlebih dahulu. Besok pagi saya akan menemui Direktur Rumah sakit untuk meminta ijin melihat rekaman CCTV Rumah sakit ini. Kemudian meminta pihak yang berwajib untuk mengusut tuntas pelakunya Pak, tadi saya sudah menghubungi kepolisian.” Jelas Jodi.


“Iya Jod, kita harus mencari sampai ketemu siapa dalang dibalik Ini semua. Bagaimana dengan Harvan? Apa Kamu sudah bicarakan dengan dia?.” Tanya Pak Budi.


“Saya hafal seperti apa anak Bapak, dia tidak perlu tahu apa yang akan kita lakukan terhadap pembunuh itu Pak. Bapak tahu sendiri, percuma saja bicara sama dia, dia tidak akan menanggapi apa yang kita bicarakan. Mungkin sampai waktu yang tidak kita tahu, dia tidak akan pernah mau berbicara. Seperti itulah wataknya kalau dia sudah merasakan marah pada level tertingginya. Jadi biarkan saja dia menikmati dunianya Pak. Dipaksa pun tidak akan ada gunanya, yang terpenting adalah sekarang kita membongkar siapa dalang dibalik semua ini.” Jelas jodi gamblang.


“Iya Jod, semuanya saya percayakan padamu. Kamu sudah seperti anak untukku. Padahal kamu dan Harvan tidak ada ikatan darah, tapi kamu sudah lebih seperti keluarga. Dari dulu kamu selalu menolong masalah-masalah yang kami hadapi. Terima kasih jodi.” Kata Pak Budi.


“Ini sudah resiko dari pekerjaan saya Pak, jadi Bapak jangan sungkan pada saya. Tidak ada yang tahu kalau saya adalah Pimpinan shadow man Pak, termasuk Harvan. hanya bapak yang tahu identitas sebenarnya siapa saya. Bahkan Istri saya pun tidak tahu, yang dia tahu adalah bahwa saya adalah asisten Harvan.” Jelas Jodi.


“Baiklah kalau begitu Jod, lakukan tugasmu dengan sebaik- baiknya untuk mengungkap kebusukan manusia-manusia bejad di muka bumi ini. Saya tahu, yang kamu perlihatkan kelakuan bejadmu itu hanya untuk menutupi identitas kamu yang sebenarnya. Sampai-sampai orang tuamu kesal padamu hehe, mereka tidak tahu kalau sebenarnya anak mereka itu adalah lelaki hebat.” Ujar Pak Budi.


“Hehe, biasa saja Pak. Untuk sementara biarkan saja dulu seperti ini. Karena saya bertugas pada agent rahasia jadi cukup Bapak saja yang tahu, saya percaya Bapak bisa menjaga rahasia saya.” Terang Jodi.


Ditengah-tengah perbincangan mereka Vivi datang membawa baju ganti untuk Harvan.


“Sayang, ini baju gantinya buat Harvan.” Kata Vivi pada suaminya.


“Baiklah, sini aku yang mengantarkannya pada dia.” Ujar Jodi seraya mengambil baju ganti itu.


Kemudian Jodi berlalu mendekat ke arah Harvan yang masih berada disamping Istrinya itu.


“Hey Boss! Yuk ganti baju dulu.” Kata Jodi, tapi Harvan masih tak bergeming.


“Hey, gadis elo udah nunggu di sebelah, pengen cepet ketemu sama ayahnya, kalau elo gak ganti baju, nanti gadis elo nangis kejer disangkanya elo zombie berlumuran darah gitu.” Hibur Jodi.


Mendengar anaknya disebut, Ia langsung berdiri lalu mengambil pakaian gantinya yang dipegang Jodi. Kemudian Ia berlalu ke kamar mandi yang tidak jauh dari ruangan itu. Selesai membersihkan diri Ia memakai pakaian gantinya lalu masuk keruangan sebelah.


“Dokter, mana putri saya?.” Tanya Harvan pada salah seorang dokter di ruangan tersebut.


“Sini Tuan, Nah ini anak Tuan. Tuh lihat pada Generalcare ID nya tertulis nama Ny Intan. Ia anak yang cantik sama seperti ibunya.” Kata dokter tersebut.


Perlahan Harvan mendekat pada salah satu inkubator. Dipandangnya bayi mungil yang sehat itu, senyum bahagia terpancar dari bibirnya meski genangan air mata menetes di pipinya.


“Anak ayah apa kabar? Kamu sehat kan nak? Ayah disini. Ternyata kau lebih cantik dari yang ayah bayangkan sayang.” Bisik Harvan pelan.


Ibu Irma dan Vivi yang melihat pemandangan itu tak kuasa menahan tangis.


“Cucuku cantik sekali, rambutnya bule seperti kamu Har, matanya seperti mata Intan ya?.” Kata Bu Irma Terisak mendekat di sebelah Harvan.


Vivi tak bisa berkata apa-apa melihat kebersamaan ibu dan anak itu yang tengah memperhatikan bayi mungil dihadapan mereka.

__ADS_1


*


*


Beberapa hari kemudian.


Setelah acara pemakaman yang dilaksanakan dengan penuh hikmat yang dihadiri oleh keluarga, kerabat dekat dan relasi bisnis selesai beberapa hari yang lalu. Dan perawatan baby Harin pun di rumah sakit tersebut telah dilalui dengan lancar, akhirnya Harvan kembali ke kediamannya.


“Anak ayah, kita pulang yuk?.” Ajak Harvan pada putrinya, Ia pangku putrinya itu dengan penuh hati-hati kedalam kuda besinya yang telah ada Jodi dan Vivi didalamnya. Sementara Pak Budi dan Bu Irma memakai kendaraan lain.


Didalam perjalanan, tak banyak perbincangan. Jodi dan Vivi hanya memperhatikan Harvan yang menggendong putrinya melalui kaca spion depan.


Dipeluk dan diciuminya putri kecil itu dengan penuh kasih sayang.


“Harin putri kesayangan Ayah, maafkan ayah ya tidak bisa menjaga ibu dengan baik. Tapi percayalah Ibu disana bahagia melihat kita disini. Ayah janji akan membuat kamu bahagia Nak. Ayah akan menjaga dan mengurusimu dengan baik walau gak ada Ibu.” Ucap Harvan pada putrinya itu.


Mendengar kata-kata Harvan, Jodi dan Vivi merasa tersentuh, kemudian


“Ehem.. Har, apa elo perlu baby sitter, untuk merawat Harin?.” Jodi memberanikan diri membuka perbincangan.


“Tidak Jod, gue akan mengurusinya sendiri.” Jawab Harvan.


“Tapi bagaimana saat kamu kerja Har? Siapa yang akan merawat Harin di rumah?.” Tanya Vivi.


“Dia akan ikut kemana pun aku pergi Vi, kalau aku kerja, dia aku bawa ke kantor.” Jawab Harvan.


“Apa!.” Jodi terhenyak mendengarnya.


“Har, tapi mengurusi anak itu gak mudah loh?!.” Ujar Jodi.


“Tidak ada yang sulit seandainya kita mau belajar Jod.” Kata Harvan.


“Tapi mengurusi anak bukan kodratnya seorang Ayah loh Har.” Kata Vivi.


“Ya kalau Ibu nya gak ada, terus ayahnya gak boleh ngurus gitu? Gue gak mau anak gue di rawat oleh orang lain. Termasuk nyokap gue. Sebisa mungkin gue harus bisa ngurusin Harin sendiri.” Jelas Harvan.


Jodi dan Vivi bingung harus bicara apa lagi jika sudah berhadapan dengan keras kepalanya Harvan.


“Percaya deh sama gue. Gue bisa atasin semua ini, elo lihat aja nanti.” Jelas Harvan.


“Ya. Terserah elo sih, cuma kalau elo butuh bantuan buah nyari baby sitter, bilang saja ke Vivi. Dia banyak temennya yang punya agen baby sitter.” Jelas Jodi.


“Gak Jod, gue gak butuh, Harin baik kok, dia gak rewel, sama sifatnya seperti ibunya, gak mau nyusahin orang.” Jelas Harvan.


Jodi dan Vivi tidak bisa bicara apa-apa lagi.


Tak terasa mereka pun sudah sampai di kediaman Harvan. Baby Harin tengah dinanti oleh banyak orang. Mereka di sambut dengan bahagia oleh orang-orang yang bekerja di rumah mewah itu. Juga Ibu Irma dan Pak Budi yang sudah sampai lebih dulu disana.


“Ulu..Ulu.. cucu oma yang cantik sudah sampai.” Kata Ibu Irma menghampiri Harvan lantas mengambil Baby Harin dari pangkuannya.

__ADS_1


“Hari-hati Bu gendongnya.” Kata Harvan.


“Ya ampun Nak, Ibu itu sudah berpengalaman, siapa yang pertama gendong kamu kalau bukan ibu. Urusan gendong menggendong anak mah urusan ibu-ibu.” jelas bu Irma.


Lalu mereka semua berkumpul di ruang tengah, tak terkecuali Jodi dan Vivi. Kemudian mereka berbincang,


“Har, Ibu sama Bapak sudah sepakat, mau ngurusin Harin. Kita mau bawa Harin kerumah lama. Nanti kita beri Harin Baby sitter untuk menjaganya.” Jelas Ibu.


“Gak boleh bu! Harin gak boleh ibu ambil, enak saja ibu mau ambil anak aku. Aku sudah kehilangan ibunya masa aku juga harus kehilangan anakku, meski Harin cuma di bawa sama ibu.” Kata Harvan.


“Lah terus yang mau menjaga dan mengurusinya siapa Nak?.” Kata Ibu.


“Ya akulah Ayahnya. Ngapain anak diurusi sama Baby sitter.” Protes Harvan.


“Kamu kan kerja sayang, kalau kamu kerja siapa yang mau jaga cucuku ini.” Ujar Ibu.


“Ya aku bawa ketempat kerja lah.” Jawab Harvan, mengejutkan semua orang yang berada disana kecuali Jodi dan Vivi karena sudah tahu jawaban Harvan saat di perjalanan tadi.


“Gak salah apa yang kamu bilang itu Har? Masa laki-laki bawa anak ke kantor.” Kata Pak Budi.


“Emang gak boleh? Kantor-kantor aku, gak ada yang bisa ngelarang.” Terang Harvan.


Pak Budi dan Bu Irma tidak tahu harus ngomong apa, mereka terdiam, lalu


“Nak ngurusin anak itu gak mudah loh, harus mandiin, bikin susu, gantiin pampers, belum lagi kalau dia rewel ingin sesuatu yang orang lain tidak mengerti dan hanya ibunya yang mengerti keinginan si anak itu.” Jelas ibu.


“Aku bisa kok bu. Sejak Intan hamil muda, aku sudah belajar bagaimana mengurusi anak, jadi ibu sama bapak jangan khawatir, lihat saja nanti bagaimana aku mengurusi Harin dengan tanganku sendiri.” Kata Harvan ngotot.


Semua orang yang berada disitu tidak bisa bicara apa-apa lagi. Jodi mengedipkan mata pada ibu sebagai kode agar ibu tidak perlu bicara panjang lebar lagi karena percuma menghadapi Harvan yang keras kepala itu.


“Oke, baiklah kalau begitu. Ibu sama bapak gak akan maksa. Tapi kalau kamu perlu bantuan jangan sungkan telepon ibu ya.” Kata ibu.


“Ibu harus percaya sama aku, Tuhan menitipkan Harin padaku berarti Tuhan percaya aku bisa menjaga dan mengurusnya. Meskipun aku harus berperan menjadi ayah sekaligus menjadi ibu buat Harin. Seharusnya ibu sama bapak bangga padaku, Tuhan menitipkan amanat padaku paket komplit.” Jelas Harvan.


Semua terdiam. Mereka akhirnya mengalah. Harin yang tertidur di pangkuan ibu dengan nyenyak diserahkan pada Harvan.


“Sini bu, Harin pasti lelah. Aku mau tidurkan dia dikamar.” Kata Harvan seraya mengambil Harin dari pelukan ibunya.


Lalu Harvan membawa Harin dalam pelukannya masuk kedalam kamarnya.



💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝


Seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya 💝


Cintailah ayah, seburuk apapun ia!


kita tidak pernah tahu luka terdalam di hatinya serta lelahnya saat Ia bersusah payah mencari nafkah untuk kita🤗

__ADS_1


Selamat hari Ibu!! Tetapi jangan kau lupakan ucapkan selamat pula pada ayahmu!!


__ADS_2