Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Penampakan yang mengganggu konsentrasi


__ADS_3

Cuaca yang cerah mengawali pagi yang indah. Pagi-pagi sekali Harin sudah berpakaian rapi begitu pun dengan Delima. Mereka berdua sudah berada di dapur memasak sarapan untuk Harvan dan Jodi yang hendak berangkat ke kantor.


Harvan yang sudah siap dengan stelan jas nya keluar dari kamarnya dan berhenti di depan pintu kamar anaknya. Namun pada saat ia melintas sepertinya di kamar itu sepi. Biasanya kalau anaknya berada di dalam, Harvan selalu mendengar ocehan putri kecilnya itu tapi kali ini tidak.


Harvan mencoba masuk kedalam kamar putrinya itu, benar saja kamar itu sepi sepertinya penghuni nya berada di tempat lain. Ia pun berlalu dari kamar putrinya itu. Pada saat ia berjalan hendak menuruni tangga, ia mendengar suara ocehan putrinya itu terdengar dari tempat lain.


Benar saja pada saat ia menuruni tangga, putrinya tengah duduk di atas meja mini bar tengah menyaksikan Delima memasak sarapan untuk ayahnya dan Jodi.


Perlahan Harvan menuruni anak tangga sembari memperhatikan mereka, kebetulan Harin yang tengah duduk dan Delima yang sedang memasak, posisinya membelakangi tangga sehingga mereka tidak melihat kalau Harvan tengah menghampiri mereka.


(Ow… rupanya mereka sudah berada di sini.) Bathin Harvan.


“Ehem..” Harvan berdehem, dan keduanya pun melihat asal suara.


“Ayaaah..” Teriak sang putri kemudian sang ayah mendekati putrinya seraya memeluk dan menciumnya.


“Muach anak kesayangan ayah sudah di sini rupanya dan sudah cantik, kamu sedang apa sayang?.” Tanya Harvan pada putrinya.


“Aku sama ibu sedang memasak untuk ayah.” Kata putrinya itu, kemudian naik ke pangkuan sang ayah, Harvan melirik Delima terlihat senyum manis pada bibir wanita itu.


“Oya? Kalian masak apa untuk ayah dan om Ijong?.” Tanya Harvan.


“Nasi goreng ayah.”


“Wow, pasti lezat.”


“Tentu saja ayah.”


Setelah Delima selesai menghidangkan sarapannya tak lama terlihat Jodi menuruni tangga dan mendekati mereka serta duduk bersama di ruang makan tersebut.


“Hai om Ijong.” Sapa Harin.


“Hai sayang, tumben kesayangan om pagi-pagi sudah di dapur?.” Kata Jodi.


“Kata ibu kita harus bangun pagi biar rezekinya gak di patok ayam.”


“Hehe.. emangnya ayam mana yang berani matok kesayangan om ini hah?.” Jodi mencubit gemas pipi Harin.


“Ayam tetangga om.”


“Oh dikirain ayam ini.” Kata Jodi seraya mengambil ayam goreng di atas meja dan melahapnya.


“Yang lain pada kemana?.” Tanya Harvan pada Delima karena tidak melihat pelayan yang menemaninya memasak.


“Mereka aku suruh sarapan.” Jawab Delima.


“Oh..” Harvan dan Jodi menganggukan kepalanya.


Mereka pun sarapan bersama. Delima sengaja tidak ingin di bantu oleh pelayan lain karena itu tak seorang pun terlihat pelayan disana.


Setelah selesai sarapan, Jodi lebih dulu beranjak keluar kemudian di susul Harvan. Harin yang di gendong Delima mengikuti dari belakang.


“Ayah pergi ke kantor dulu ya sayang? Kamu baik-baik di rumah sama ibu ya?.” Kata Harvan seraya menciumi putrinya yang berada dalam gendongan Delima.


“Baik ayah, hati-hati di jalan ya ayah?.”


“Iya sayang, bye.”


Harvan pun naik ke dalam kuda besi yang telah siap mengantarnya, terlihat Jodi telah siap di belakang kemudinya. Dan mobil pun berlalu meninggalkan rumah tersebut.


Dalam perjalanan, Jodi melihat Harvan yang duduk di sampingnya sedikit berbeda. Tak seperti biasanya ia diam, dengan menggigit pangkal telunjuk pada kepalan tangannya Harvan seperti memikirkan sesuatu.


“Kenapa luh? Gak biasanya kayak gini?.” Jodi memecah keheningan.

__ADS_1


Harvan menghela nafas, “Malem tadi Intan gak datang Jodi, kenapa ya?.”


“Yaelah, rupanya itu yang bikin elo kelihatan bete, baru semalam gak datang gak apa-apa kali Har.”


“Ya gak biasanya aja dia kayak begitu Jod.”


“Pusing ya pala? Semalam gak keluar? Haha.” Goda Jodi.


“Ah elo gak tahu aja!.”


“Bosen kali dia, hehe.”


“Sembarangan luh.”


Tanpa terasa kuda besi mereka pun sampai di halaman gedung kantor. Lalu mereka pun masuk ke ruangan masing-masing. Sebelum Jodi masuk ke dalam ruangannya,


“Har, jam 10 nanti ada rapat dengan kepala cabang!.” Kata Jodi.


“Hm…” Jawab Harvan dengan suaranya yang kemudian masuk ke dalam ruangan nya.


Di dalam ruangan Harvan duduk di atas kursi kebangsaannya. Ia nyalakan laptopnya namun bukan pekerjaan yang ia lihat tetapi ia membuka layar monitor melihat rekaman CCTV rumahnya.


Nampak dalam pandangannya Harin tengah belajar di temani Delima di kamar putrinya itu. Entah kenapa tiba-tiba saja ia ingin melihat aktivitas putrinya. Dan sepanjang ia melihat aktivitas mereka tidak ada hal yang aneh.


Harvan melihat Delima profesional dalam membimbing putrinya itu, ia terus mengikuti kegiatan putrinya itu melalui layar monitor sampai ia lupa kalau waktunya rapat telah tiba.


“Har, ayo!.” Suara Jodi membuyarkan konsentrasinya yang tengah menyaksikan kegiatan putrinya bersama Delima.


“Oke.” Lalu Harvan beranjak dari tempat duduknya menuju ruang rapat.


“Hari ini ada beberapa rapat Har kemungkinan sampai malam.” Jelas Jodi dalam perjalanan menuju ruang rapat.


Kemudian mereka pun sampai di ruang rapat dan rapat pun di mulai, karena pada saat pimpinan memasuki ruangan tersebut semua peserta rapat telah berkumpul.


Rapat berjalan sangat lama karena bahasan di dalamnya membutuhkan waktu, sebab apa yang mereka bahas adalah mengenai projek baru dalam perusahaan mereka.


“Hallo sayang.”


“Hallo ayah.”


“Sayang lagi apa?.”


“Aku baru selesai mandi ayah.”


“Wah pantas saja anak ayah terlihat cantik sekali dan wanginya sampai tercium ke sini.”


“Benar kah?.”


“Iya sayang hehe.. oya sayang bagaimana belajar hari ini, belajar apa tadi kamu sama ibu?.”


“Aku belajar membaca ayah, kemudian belajar berhitung, abis itu aku sama ibu mengurusi taman bunga kita ayah.”


“Oya? Pasti seru sekali.”


“Tentu saja ayah, aku senang sekali ada ibu menemaniku.”


“Syukurlah kalau kau senang. Oya sayang ayah hari ini pulang telat karena pekerjaan ayah banyak, gak apa-apa ya sayang?.”


“Gak apa-apa ayah.”


Pada saat Harvan video call dengan putrinya melalui Tab di tangan putrinya, saat itu juga delima keluar dari kamar mandi. Setelah memandikan Harin, Delima pergi membersihkan diri dan menyuruh Harin menunggu di tempat tidur. Pada saat itu lah Harvan menghubungi putrinya.


Saat mereka tengah berbicara, nampak dari layar tab putrinya itu dari arah belakang putrinya, Delima keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk di tubuhnya. Betapa tersentak Harvan kala melihat penampakan tersebut.

__ADS_1


Tubuh molek dan paha mulus yang sudah tidak pernah ia lihat kini nampak dalam pandangannya. Sepanjang berbicara dengan putrinya konsentrasi Harvan buyar seketika. Dengan susah payah ia menelan salivanya, berdetak jantungnya dan mulai panas tubuhnya kala ia melihat penampakan Delima tengah memakai pakaian dalamnya, Delima tidak menyadari kalau tubuh polosnya terlihat oleh sang Tuan dari layar Tab tersebut.


“Siapa sayang?.” Tanya Delima pada Harin


“Ayah bu.”


“Oh, apa kata ayah?.” Tanya Delima yang tengah fokus memakai pakaian dalamnya.


“Ayah pulang telat hari ini bu, karena di kantor sibuk.”


“Katakan pada ayah jangan lupa makan ya sayang.”


“Ayah, kata ibu jangan lupa makan ya?.”


Tapi Harvan tak menyahut yang di katakan putrinya itu, ia tetap terpaku melihat tubuh molek Delima dari layar Tab putrinya itu.


“Ayaaaah.” Teriakan sang anak membuyarkan lamunannya.


“Oh iya iya sayang, kenapa?!.”


“KATA IBU, AYAH JANGAN LUPA MAKAN!.”


“I-iya sayang, bilang sama ibu, ayah pasti gak akan lupa.”


“Ayah kenapa? Ayah sakit?.”


“Iya sayang… eh tidak ayah cuma kepanasan saja sayang.” Harvan gugup di brendel pertanyaan oleh putrinya itu, sementara pandangannya masih terpaku pada penampakan delima di belakang anaknya yang tengah memakai pakaian.


Sementara Delima masih tidak menyadari hal itu.


“Sayang jangan keras-keras bicara pada ayahmu itu.” Kata Delima yang masih nampak pada layar Tab tengah mengeringkan rambutnya.


“Abisnya ayah gak dengar apa yang aku bilang ibu.” Kata Harin kesal.


Sementara sang ayah berkali-kali menelan salivanya lagi-lagi melihat penampakan di belakang tubuh putrinya itu tengah melihat leher jenjang dan tengkuk milik Delima yang menggodanya.


“Maaf sayang.. ayah gak konsen, ayah lagi pusing sama pekerjaan ayah.” Harvan berdusta padahal ia pusing karena pikirannya berkelana kemana-mana saat melihat tubuh polos Delima.


“Ya sudah ayah istirahat dulu, aku mau temani ibu.”


“Baiklah sayang, baik-baik di rumah ya.”


TUT panggilan video call terputus. Harvan menyeka kasar keringan pada keningnya yang mendadak keluar pada saat ia menyaksikan siaran langsung yang tak biasa.


(Ah sial! Kenapa aku harus melihat penampakan seperti itu sih, bikin panas aja! Ah Intan tolong aku… kamu kemana sih.) Bathin Harvan yang merasa pusing karena istrinya semalam tidak meluluskan hasratnya ditambah lagi apa yang baru saja dia lihat yang membuat dirinya tersiksa.


Harvan gelisah dan kesal pada kenyataan yang ia rasakan saat ini. Pada saat ia pengusap rambutnya dengan kasar, saat itu pula Jodi masuk ke ruangannya.


“Aarrggh….”


“Elo kenapa sih Har? Hari ini kusut banget? Apa karena semalam gak dapat jatah? Kok jadi uring-uringan kayak gini.” Tanya Jodi yang heran melihat bos nya itu tak seperti biasanya.


“Udah ah ayo!.” Kesal Harvan.


“Ayo kemana? Rapat baru di mulai satu jam lagi, ini gue mau ngajak elo makan.” Jodi yang membawa dua paket makanan siap saji pada tangannya.


“Ayo makan dulu! Dari tadi kita belum makan.” Kata Jodi kembali, lantas mengajak Harvan duduk untuk makan, Harvan pun duduk di sebelah Jodi.


“Eh Har, apa susahnya sih elo solo karier aja di kamar mandi kayak gue kalau udah gak tahan hahah.” Goda Jodi.


“Najis luh!.” Kesal Harvan sembari membuka makanan siap saji itu dan melahapnya.


“Hahaha… hati-hati luh sama ucapan elo itu.”

__ADS_1


“Ish… amit-amit.” Harvan melahap penuh makanannya.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2