Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Kita hanya sedang belajar menjadi orang baik.


__ADS_3

Hati-hati!!! Sedikit ada konten 21+


Harap bijak menyikapinya🤗


Terima kasih🥰


Pagi-pagi buta ponsel Jodi berbunyi. Dalam mata yang masih terpejam Jodi meraba-raba meja nakas mencari ponselnya.


“Hallo.”


“Kemana aja sih luh?.”


“Ah siapa sih.” Jodi mencoba membuka matanya yang masih tertutup kantuk.


“Eh elo Har! Ngapain pagi-pagi buta telepon?.” Jodi yang malas-malasan kembali menutup matanya.


“Mau ngomong apa malem telepon gue?.” Tanya Harvan.


“Ah entar aja deh gue ngantuk.”


“Ngomong gak!.”


“Gak akan ngomong gue sama orang yang lagi cocok tanam. Udah beres belum produksi orok nya?.” Ledek Jodi.


“Udah, cepet ada apaan sih?.”


“Itu, semalam si Selvy datang ke rumah.” Jodi yang kemudian memposisikan duduk bersandar pada kepala tempat tidur.


“Apa!!! Ngapain dia kerumah?!.” Harvan terkejut.


“Katanya mau ketemu papanya dan Revy.”


“Terus!.”


“Ya gue bilang kalau mau ketemu sama mereka balik aja ke Jerman. Ya dia langsung pergi. Terus dia bilang ke gue minta maaf, gue di suruh bilang juga ke elo buat nyampein permintaan maafnya.”


“Gak salah??!.” Harvan semakin terkejut.


“Dia udah taubat kali Har.”


“Aneh aja dia minta maaf.”


“Iya gue juga heran, mana hujan plus geledek lagi semalam, sampe tubuhnya basah kuyup.”


“Serius luh!!.”


“Iya. Terus gue lihat dia gak seperti dulu pakai dandan menor. Semalam nyaris polos mukanya udah gitu bawa koper segala.”


“Cerei kali ya sama si Reyhan?.”


“Cerei apaan… Kawinnya kapan??.”


“Ya maksudnya putus hehe.”


“Iya kayaknya. Oya, terus tadi dia juga wanti-wanti agar kita lebih hati-hati sama si Reyhan karena dia mau bunuh kita semua.”


“Tapi kita jangan dulu percaya Jod, siapa tahu dia cuma drama. Biasa lah.”

__ADS_1


“Gak Har, gue lihat langsung kayaknya dia serius, gue lihat dia juga nangis gitu.”


“Ya mudah-mudahan aja dia bener taubat. Udah bosen kali dia hidup begitu terus.”


“Kayaknya sih.”


“Terus, dia ngomong apa lagi?.”


“Gak ada sih, cuma katanya dia mau langsung ke bandara. Ya udah cuma gitu aja sekilas infonya, gue masih ngantuk nih. Elo lanjut sana wikwiknya haha.”


“Sialan luh!.”


“Haha… oh… oh…. ah… Mh… haha.”


“Dasar gila!!!!.” Tut… sambungan ponsel di putus.


Jodi tertawa puas mengolok-ngolok Boss nya. Kemudian ia kembali merebahkan tubuhnya. Dilihatnya ke samping, putri kecil masih terlelap, perlahan ia cium keningnya lalu mengelus pipi gemoynya kemudian merapikan selimut yang menutupi tubuhnya dan ia kembali mencoba memejamkan matanya.


*


Di tempat lain, setelah menelepon asistennya Harvan kembali merebahkan tubuhnya, kemudian Delima yang baru keluar dari kamar mandi dengan tubuh berbalut kimono mendekatinya.


“Siapa?.” Tanya Delima yang samar-samar mendengar suaminya berbicara melalui ponsel dengan seseorang.


“Jodi, dia bilang tadi malam Selvy datang kerumah mau ketemu sama Revy dan papanya.” Jawab Harvan, Delima mengangguk-anggukan kepalanya, ia memang tahu siapa Selvy karena sebelumnya Harvan telah menceritakan segalanya.


“Terus apa yang terjadi?.”


“Dia langsung pergi ke bandara mau pulang ke Jerman menyusul ayah dan putrinya.” Jelas Harvan.


“Gak, itu bukan urusan kita sayang… biarkanlah mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri itu bukan ranah kita. Urusan kita belum beres sayang.”


“Urusan yang mana?.”


“Urusan di atas sini.” Harvan menunjuk tempat tidur dengan ujung matanya.


“Iiiish… itu mulu… aku udah mandi ini.”


“Gampang nanti mandi lagi ayo.” Harvan menarik tangan Delima dan menjatuhkannya diatas tempat tidur lalu menguncinya dengan kaki kirinya di atas paha Delima.


Delima tidak bisa mengelak saat bibir kokoh suaminya telah mendarat di bibirnya. Saling menyesap hingga keduanya menari-nari di angkasa. Tangan suami yang sudah bergerilya membuat tubuh Delima menggeliat merasakan sensasi yang ada, apa lagi saat semakin turun dan semakin berada d bawah sana membuat ia mabuk kepayang menyuarakan nyanyian-nyanyian khas dari gelora yang tersalurkan.


Kala sang suami dengan lincah menarikan lidah nya di bawah sana. Semakin panas hawa dalam jiwa nya hingga jambakan-jambakan lembut pada rambut suaminya semakin menekan hingga buncahan hangat mengalir deras.


Tanpa ia sadari tongkat komando yang mengeras tengah menghunus-hunus dibawah sana bagai pedang yang kejam tengah membabi buta mematahkan lawannya. Begitu lama dan semakin dalam hingga hentakannya terasa sampai ulu hatinya. Bersama-sama mereka melakukan pelepasan yang erangannya bagai irama alam yang saling membalas. Hingga mereka melemas bersimbah peluh dengan sisa-sisa nafas yang menderu.


*


Sementara itu Selvy yang sudah ada di bandara internasional, ia tengah memasuki jalan menuju pesawat yang akan ia tumpangi. Ada rasa bahagia karena ia akan kembali ke negara, dimana sang putri dan ayahnya berada di sana. Namun terselip juga rasa sedih dalam hatinya kala ia membayangkan akankah ada penolakan sang anak dan ayahnya.


Namun tekad yang kuat untuk meminta maaf pada mereka membangkitkan semangatnya. Di dalam pikirannya, apa pun yang akan terjadi disana ia harus siap menghadapinya dan bagaimana pun caranya ia harus dapat kembali menata hidupnya dengan ayah dan putrinya. Berusaha memperbaiki diri meski ia ragu, akankah masa depan menerimanya? Namun setitik keyakinan dalam hati nya telah membawa ia untuk berusaha belajar menjadi manusia baru yang lebih baik.


Kini ia telah sampai di dalam pesawat. Ia duduk di samping kiri tepat pada jendela pesawat.



Selama di dalam penerbangan ia hanya diam dalam renungannya sembari melihat ke sisi jendela.

__ADS_1


“Tuhan… apakah dosa yang begitu melimpah yang ada pada diriku dapat Kau ampuni? Aku telah menyesal akan segala dosa per dosaku… aku telah siap Kau hujani dengan hukumanMu atas diriku, namun satu yang ku pinta padaMu, lapangkan lah hati mereka yang telah aku sakiti dengan ridhoMu untuk tulus dan ikhlas memaafkan kesalahanku. Namun jika memang benar-benar sudah tidak ada lagi tempat untukku, aku ikhlas Tuhan… aku sadar begitu banyak dosa yang telah aku lakukan, begitu hina nya diriku hingga aku merasa malu untuk memohon ampunanMu. Namun aku yakin Engkau Maha Segalanya. Engkau Maha Pengampun dan Engkaulah yang menggenggam kami semua. Terima kasih Tuhan… Engkau masih mengingatkan aku akan kematian yang selalu membayangi pikiranku, terima kasih Engkau masih memberikan kesempatan padaku untuk meminta maaf pada orang-orang yang telah aku sakiti, dan terima kasih Engkau telah mengingatkan aku untuk kembali padaMu dan meninggalkan gerbang neraka yang selama ini selalu menggodaku. Kini aku tak menginginkan apa-apa lagi selain Engkau menerimaku sebagai hamba yang penuh dosa. Hiks.. hiks..” dalam tangisannya ia mengiba kepada Sang Pencipta.


Hingga ia tak menyadari seorang lelaki yang duduk di sampingnya tengah memperhatikanya. Bule tampan dengan stelan jas nya menduga kalau wanita di sampainya itu tengah di rundung masalah.


“Excuse me?!.”


“Ya…” Selvy sedikit terhenyak dari renungannya.


“Are you oke?.”


“Yeah… I’m fine.” Jawab Selvy sembari menyeka air mata di pipinya.


“Sorry, looks Like you’re sad.”


“Oh no, I was just thinking about something.” Jawab Selvy dengan memberi senyuman pada lelaki itu.


“Sometimes thinking about something can make us cry, but we must remain enthusiastic and steadfast, so that we can live the day with gratitude.”


(Terkadang memikirkan sesuatu hal dapat membuat kita menangis, tetapi kita harus tetap semangat dan tabah, agar kita dapat menjalani hari dengan rasa syukur.) kata lelaki itu.


“You know? I’m regretting my bad deeds in the past, so many sins I’ve done.”


(Kamu tahu? Aku sedang menyesali perbuatan jahat ku dimasa lalu, begitu banyak dosa yang telah aku lakukan). Kata Selvy dengan mata yang meremang.


“Really?.”


“I don’t believe it, but I understand with your tears.”


(Sungguh?? Saya tidak percaya, tapi saya faham dengan air matamu.) balas lelaki itu.


“Nothing is truly holy in this world, but… we can learn to get there.”


(Tidak ada yang benar-benar suci di dunia ini, tapi… kita bisa belajar menuju kesana.) sambung lelaki itu, kemudian,


“I’m also not a good person, and you know? Everyone is not good yet, we are just learning to be good people.”


(Saya juga bukan orang baik, dan kamu tahu? Semua orang belum menjadi baik, kita hanya sedang belajar menjadi orang baik.) lanjut lelaki itu.


Suasana menjadi hening sejenak. Selvy mencoba memahami yang lelaki itu katakan. Ia pandangi lelaki itu dengan tatapan sayu nya, kemudian


“Thank you, your words brighten my heart.”


(Terima kasih, kata-katamu mencerahkan hatiku.) kata Selvy seraya tersenyum padanya dan ia pun membalas senyuman termanis itu.


“Ya.” Kemudian lelaki itu mengalihkan pandangannya lurus kedepan dan mulai memejamkan matanya untuk beristirahat.


Selvy memandangi wajah lelaki tampan itu tampak samping. Lelaki bule yang kira-kira usianya beberapa tahun di atas usianya itu sepertinya seorang yang sudah mapan.


“Ternyata dunia ini luas, aku pikir lelaki tampan itu hanya Harvan, ternyata di sampingku pun ada lelaki tampan yang tak jauh berbeda dari nya, hehe.” Bathin Selvy merasa sedikit terhibur dengan sosok yang tengah terpejam di sampingnya.



đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–


Jangan lupa tinggalkan jejaknya🤗


Terima kasih🥰

__ADS_1


__ADS_2