Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Pucuk di Cinta ballpoint tiba


__ADS_3

Seperti biasa di kediaman mewah Harvan aktivitas pagi selalu di sibukkan dengan aktivitas di dapur. Karena pelayan harus menyediakan sarapan pagi untuk Tuannya yang akan berangkat ke kantor.


Pagi itu, Harvan dan istri juga Jodi sudah bersiap di meja makan. Setelah pelayan menyediakan hidangan sarapan pagi untuk Tuannya, barulah Intan mengambilkan nasi dan lauknya untuk suami tercintanya dan asistennya yang konyol.


“Elo harus banyak sarapannya Har pagi ini, karena Semalem tenaga elo udah di prank abis hehe.” Kata Jodi mulai membuka pembicaraan di meja makan.


“Sialan lo! Kalau bukan temen, elo udah gue cincang tahu gak loh!.” Bentak Harvan.


“Weis.. serem banget ich, masih marah aja elo sama gue Har?.” Tanya Jodi.


“Lagian elo gak kira-kira ngerjain gue kayak gitu.” Tegas Harvan.


“Eh gue gak kerja sendiri ya Har, ada campur tangan bini elo di sana.” Jelas Jodi.


“Eh gue udah curiga ya pada saat gue telepon bini gue dan orang-orang rumah gak pada angkat telepon gue semua, kan aneh kayak kompakan gitu.” Terang Harvan.


“Hahah kelihatan elo mulai panik kan disitu?.” Gelak Jodi.


“Ya iya lah.. orang abis lihat memo malaikat pencabut nyawa, udah gitu telepon bini gak di angkat, eh gue mau aja lagi ya di suruh-suruh sama elo, buat telepon lah, suruh inilah itu lah..sial.” Ujar Harvan.


“Haha.. saat itu gue pengen ketawa tau!.” Kelakar Jodi.


“Elo tuh bener-bener bikin gue syok tahu!.” Kata Harvan.


“Haha gue juga kasian lihat elo, udah kayak orang putus asa haha.” Gakgak Jodi, dan tiba-riba ponsel Jodi berbunyi menghentikan tawanya. Lalu ia ambil ponsel dari dalam jas nya, kemudian di lihatnya layar ponsel, Dr.Vivi memanggil,


“Eh Har, cinta Vivi telepon, gue angkat dulu ya?.” Kata Jodi pada Harvan, Harvan pun mengangguk dan Jodi mengangkat panggilan telepon nya.


“Hallo dokter kesayangan hehe.” Gombal Jodi.


“Hehe pak Jodi bercanda mulu ih.” Suara di balik telepon.


“Gak bercanda kok.. serius ini hehe.” Gombal kedua Jodi.


“Hehe bisa aja pak Jodi… oya pak Jodi, kemarin barangnya pak Jodi ketinggalan di tempat saya.” Kata dokter Vivi.


“Waduh.. masa sih dok.. perasaan masih nempel deh di sini hehe.” Canda Jodi.


“Ih pak Jodi gitu ih… bukan yang itu ih.. ya udah pokonya entar aku anterin ke kantor pak Jodi ya?.” Kata Dr.Vivi.


“Oh baik sayang… di tunggu ya.. hehe.” Gombal Jodi lagi.


“Hehe.. iya bye.” Sahut Vivi.


TUT. Suara telepon di tutup.


“Yah korban baru.” Kata Harvan.


“Haha.. kangen dia sama gue Har, huhuy.” Kata Jodi senang.


“Emang ngomong apa dia?.” Tanya Harvan.


“Katanya dia mau ngembaliin barang gue yang kemaren pas gue ke rumahnya ketinggalan.” Jelas Jodi.


“Oh.” Jawab Harvan.


“Tapi perasaan gue gak bawa apa-apa deh Har.” Kata Jodi, berfikir,


“Ah itu sih alesan aja kali, dia udah ke sambet gombalan elo palingan.” Kata Harvan.


“Haha.. iya kali ya.” Jodi senang.


“Elo serius sama dia?.” Tanya Harvan.


“Gak tahu Har, di lihat dulu lah.” Jawab Jodi.


“Tuh kan pasti gitu jawaban elo, niatin dong Jod.” Kata Harvan.


“Ya gue kan harus tahu dulu gimana orangnya Har.” Terang Jodi.


“Nah itu tuh, yang bikin elo susah cari yang bener.” Kata Harvan.


“Eh Har, mana ada orang yang mau serius sama cewek yang gak bener sih.” Jelas Jodi.


“Eh Jod, bener atau gak nya cewek kita, gimana kitanya. Kalau kita dapat yang belum bener, itu tugas kita buat ngebenerin dia.” Ujar Harvan.


“Sebelum kita benerin orang, diri kita sendiri dulu yang harus bener, coba deh sekarang elo mulai serius dalam menjalin hubungan, kalau elo begini terus gak akan ada ujungnya.” Jelas Harvan kembali.

__ADS_1


“Iya.. iya gue mau coba deh serius.” Kata Jodi.


“Nah gitu dong.” Kata Harvan.


“Ya udah m, yuk gasspol keburu siang nih.” Ujar Jodi.


“Yuk, sayang aku berangkat ya?.” Ucap Harvan pada sang istri.


“Iya sayang.. hati-hati ya.” Sahut Intan.


Kemudian Harvan dan Jodi meninggalkan ruang makan menuju teras depan. Setelah mencium kening sang istri, Harvan masuk ke dalam mobilnya di susul Jodi di belakang kemudinya.


JIUS.. mobil pun meninggalkan rumah mewah tersebut.


*


*


Sampai di halaman gedung kantor. Mereka pun belalu ke ruangan masing-masing. Kembali melakukan aktivitas kantor seperti biasa.


TOK…TOK…TOK pintu ruangan Jodi di ketuk dari luar.


“Ya… masuk.” Kata Jodi.


Masuklah wanita cantik dengan stelan rok pendek warna hitam yang di padukan dengan kemeja garis-garis kuning dan hitam lengan panjang.


“Selamat siang pak Jodi.” Sapa tamu yang datang.


“Oh hai.. dokter Vivi, mari masuk silahkan duduk.” Jawab Jodi dengan tatapan buayanya.


“Baik terima?kasih pa Jodi.” Jawab dr. Vivi.


“Kita di sofa aja ya biar lebih santai hehe.” Kata Jodi.


Lalu mereka pun duduk berdampingan, Jodi sedikit gerah karena melihat paha mulus sang dokter.


(Widih.. itu paha melambai-lambai, pengen di elus kali ya sama gue uh) bathin Jodi.


“Maaf ya pak Jodi, kalau saya mengganggu aktivitas pak Jodi.” Kata dr. Vivi.


“Owh.. sama sekali tidak dok, saya malah senang dokter mau datang ke tempat saya, hehe.” Kata Jodi. dengan mata yang jelalatan lihat paha mulus.


“Oh ballpoint itu, padahal dokter gak usah repot-repot nganterin, kan saya bisa ke rumah dokter ngambil, sekalian ngapel hehe.” Goda Jodi.


“Hehe.. pak Jodi bisa aja, emang mau ngapel kapan?.. hehe.” Tanya dr. Vivi.


(Tuh kan ngarep dia gue datang lagi huhuy) bathin Jodi.


“Biasanya kan kalau ngapel malem minggu, emang boleh?.” Goda Jodi.


“Ya boleh lah, tapi Ada yang marah gak nanti?.” Selidik dr.Vivi.


(Aiyahu.. lampu Ijo kelap kelip dah) bathin Jodi.


“Solo karier mah gak ada yang marah hehe.. palingan dokter kali ada Arjuna nya.” Goda Jodi kembali.


“Kan Arjuna nya ada di sini hehe.” dr. Vivi tersipu.


(Aih.. udah gatel dia sama gue ah) bathin Jodi.


“Wah yang bener nih boleh ngapel?.” Tanya Jodi genit.


“Boleh.. di tunggu ya malam minggunya hehe.” Dr. Vivi senyum-senyum.


“Siap!.. nanti saya ngapel deh ke rumah dokter hehe.” Ungkap Jodi.


“Awas ya jangan bohong, di tungguin loh.” Kata dr. Vivi.


“Gak akan Bohong dong sama bidadari secantik ini mah.” gombal Jodi.


“Hehe..oke, pokoknya aku tungguin malam minggu ya..” Kata dr. Vivi.


“Ya udah kalau begitu aku permisi dulu ya pak Jodi.” Kata dr. Vivi.


“Mau di anter gak?.” Tanya Jodi.


“Gak usah pak Jodi aku bawa kendaraan.” Jawab dr. Vivi.

__ADS_1


“Ya udah kalau begitu.. makasih udah nganterin ballpointnya ya dokter cantik hehe.” Goda Jodi.


“Hehe.. Iya sama-sama pak Jodi.” Jawab dr. Vivi yang berlalu meninggalkan ruangan Jodi.


Sepeninggalan dokter Vivi, Jodi terus memandangi ballpoint itu, seperti ada yang ia pikirkan, ia sedikit merenung. Tapi entah apa yang ada dalam pikirannya.


Sementara itu, di ruangan lain, sepertinya Harvan sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ia terus memandangi layar laptop nya dan sesekali mengetikan sesuatu pada keyboard nya . Kemudian Harvan melirik jam tangan mewahnya, waktu menunjukkan jam 12.10 WIB. Waktunya makan siang tiba.


Biasanya Jodi sudah mengajaknya untuk makan siang, tapi kali ini Jodi seakan menghilang. Kemudian Harvan beranjak dari ruang kerjanya hendak ke ruangan Jodi. Di ketuknya ruang kerja asistennya itu, tidak ada jawaban. Karena tidak ada jawaban, Harvan memaksa masuk dan membuka pintu. Saat pintu di buka, ia dapati Jodi tengah melamun di kursi kebanggaannya.


“Baru kali ini gue lihat buaya termenung, gerangan apakah yang membuat buaya bisa seperti ini.” Ungkap Harvan membuyarkan lamunan Jodi.


“Eh elo Har.” Kata Jodi menarik nafas.


“Ada apa? Ayo cerita!.”” Tanya Harvan.


“Sambil makan siang yuk ceritanya.” Ajak Jodi pada Harvan.


“Oke.” Jawab Harvan seraya berlalu bersama Jodi dari ruangan itu.


*


*


Di restoran tempat biasa mereka makan siang, Jodi mulai cerita.


“Tadi si Vivi datang ke ruangan gue.” Kata Jodi.


“Oya? Terus-terus?.” Penasaran Harvan.


“Ya memang kayaknya dia juga suka sama gue.. nyuruh gue ngapel nanti malam minggu.” Jelas Jodi.


“Bagus dong kalau gitu, udah elo libas aja langsung haha.” Kata Harvan.


“Menurut elu gimana ya Har?.” Tanya Jodi.


“Lah kok elo jadi nanya gue sih?! Yang jalanin kan elo?!.” Tukas Harvan.


“Maksudnya gue minta pendapat elo Har, kata elo kan gue udah waktunya serius, bukan waktunya maen-maen lagi.” Kata Jodi.


“Kalau menurut gue sih, elo jalanin aja dulu. Sambil jalan entar juga hati elo mantap sendiri.” Jelas Harvan.


“Gitu ya Har?.” Tanya Jodi.


“Ya gitu… entar juga cinta menunjukkan jalannya sendiri Jod, kalau dia memang jodoh elo, jalannya pasti di mudahkan.” Jelas Harvan kembali.


Pada saat mereka sedang berbincang ponsel Jodi berbunyi tanda suara panggilan masuk, kemudian Jodi merogoh saku jas nya dan mengangkat panggilan teleponnya.


“Hallo!.. Ok… Ok… siap nanti saya sampaikan… OK baik.!” Jawab Jodi pada lawan bicaranya di ponselnya. Kemudian menutup teleponnya.


“Ada apa Jod?” Tanya Harvan.


“Ada pengusaha dari Korea mau join sama elo katanya, jam dua siang ini dia pengen ketemu elo.” Jelas Jodi.


“Ketemu di mana?.” Tanya Harvan.


“Di hotel Y mereka nunggu kita.” Jelas jodi.


“Oke, kita sambut mereka, semoga ini hari yang baik buat kita Jod.” Kata Harvan semangat.


“Sip.” Jawab Jodi.


Dan mereka pun melanjutkan makan siangnya. Setelah makan siang nya selesai, mereka berdua meninggalkan restoran itu. Dan JIUS… mobil mewah mereka membawa mereka pergi menuju hotel Y tempat mereka akan bertemu dengan tamu dari Korea itu.


*


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, Harvan dan Jodu sampai di hotel Y. Kemudian mereka menuju ruangan yang telah di janjikan.


Menurut jadwal yang di tetapkan, mereka akan bertemu di restoran hotel Y tersebut. Hotel Y adalah salah satu hotel terbesar di Ibu kota. Dan di hotel tersebutlah tempat pebisnis dari kalangan kelas atas selalu menjadikan tempat yang paling nyaman untuk melakukan koordinasi.


Pada saat Harvan dan Jodi memasuki restoran tersebut, nampak dari kejauhan, dua sosok pria muda berparas oriental tampan mirip artis Korea, tengah duduk di salah satu meja di restoran tersebut. sudah dapat di pastikan, merekalah orang yang akan bekerja sama dengan Harvan.


Harvan dan Jodi berjalan kearah mereka, semakin dekat dan semakin mendekat. Kedua pria oriental tersebut kemudian tersenyum, lalu berdiri dan memberikan telapak tangannya untuk menyalami Harvan dan Jodi.


Harvan pun menyambut tangan lelaki tampan asal Korea itu, kemudian mereka bersalaman dan saling melempar senyum, namun Harvan merasakan ada sesuatu yang aneh, ia menangkap dari tatapan mata pria Korea itu terselip sorot mata yang penuh dengan tanda tanya.


Ada Apakah dimata oppa Korea itu???????

__ADS_1


BERSAMBUNG 🥰


🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗


__ADS_2