
Hari yang cerah mengukir suasana Ibu kota. Seperti biasa segala bentuk aktivitas menyibukkan mereka yang sedang bergelut dengan waktu untuk mengais apa yang akan mereka hasilkan hari ini. Tak terkecuali bagi Sang asisten Jodi. Ia terlihat sibuk di kantornya karena harus menghandle kegiatan Sang Boss.
Sang Boss masih tidak bisa menghadiri acara di kantornya, karena ia tidak ingin meninggalkan Sang Istri yang masih di rawat karena Morning Sickness parah yang dialaminya.
“Sayang, bagaimana perasaanmu hari ini?.” Tanya Sang suami.”
“Sekarang sudah tidak lemas lagi, tapi kadang mual nya masih ada.” Jawab Sang Istri.
“Syukurlah, berarti kamu sudah membaik sayang.” Ujar Sang suami.
“Sayang, pergilah bekerja, jangan khawatirkan aku, bukan kah disini ada perawat yang mengurusiku?.” Kata Sang Istri.
“Tidak sayang, aku ingin menjagamu disini, perawat dan dokter kan hanya sesekali visit ke ruangan. Aku ingin menjagamu setiap waktu, aku ingin selalu dekat dengan calon anakku.” Kata Sang suami yang tak hentinya mengelus calon jabang bayi yang masih berada di dalam perut Sang Istri yang masih rata.
“Iya, tapi kan aku tidak mau mengganggu aktivitas kantormu sayang.” Ucap Sang Istri.
“Sama sekali tidak mengganggu sayang, justru kalau aku kerja, tidak bisa konsentrasi karena pikiranku berada disini.” Ujar Sang suami.
“Jodi kan selalu memberikan informasi yang terjadi di kantor melalui aplikasi, jadi kamu jangan khawatir mengenai pekerjaanku ya sayang, semuanya baik-baik saja kok.” Sambung Sang suami.
“Syukurlah kalau begitu, aku hanya tidak ingin karena mengurusiku, pekerjaanmu jadi terganggu.” Kata Sang Istri.
“Tidak sayang, aku kan Bossnya, jadi aku yang mengendalikan mereka meskipun aku tidak ada disana.” Jelas Sang suami.
“Ya baiklah kalau begitu.” Jawab Sang Istri.
“Sayang, aku ingin memelukmu, boleh ya aku tidur di sampingmu? Aku ingin memeluk calon anakku lebih dekat.” Kata Sang suami, lantas ia naik ke velbed tempat Sang Istri berbaring. Kemudian ia memeluk istrinya dan mendekap calon jabang bayi yang berada di dalam perut Istrinya itu.
Lama ia mendekap menikmati kebersamaannya. Sampai keduanya terhanyut didalamnya.
*
Sementara itu ditempat lain tepatnya di ruang kantor sebuah Perusahaan, Jodi masih disibukkan dengan Meetingnya. Setelah dua jam meeting pun selesai, kemudian ia kembali keruangan pribadinya.
Baru saja ia membuka pintu ruangannya, di dalam sudah nampak Istrinya duduk di sofa.
“Loh, sayang kamu ada disini? Kenapa gak kasih kabar kalau kamu mau ke kantorku?.” Tanya Jodi pada Vivi istrinya.
“Aku Tadi habis pulang dari rumah pasienku, kebetulan lewat kantormu, jadi aku mampir kesini. Sekalian ingin mengajakmu menjenguk Intan. Kamu sudah selesaikan meetingnya?.” Tanya Vivi.
“Sudah, tapi sebentar lagi ya sayang kita jenguk Intannya, soalnya sekarang ada orang yang mau ketemu aku dulu.” Jelas Jodi.
“Terus aku gimana?.” Tanya Vivi.
“Ya kamu nunggu disini aja, orang dianya juga mau datang kesini kok!.” Kata Jodi.
“Apa aku gak ganggu pekerjaan kamu sayang?.” Kata Vivi.
“Gak lah, sayang.” Kata Jodi.
Akhirnya Vivi pun menunggu Jodi di kantornya, dan menyaksikan bagaimana suaminya itu bekerja. Setelah suaminya selesai koordinasi dengan seseorang, mereka pun akhirnya berlalu meninggalkan ruangan itu dan pergi menuju rumah sakit tempat Intan di rawat.
Setelah mereka sampai di Rumah Sakit itu, mereka pun berlalu menuju President Suite Room tempat Intan dirawat inap. Setelah beberapa kali mereka mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam ruangan, akhirnya mereka pun masuk.
Pada saat mereka masuk, terlihat penampakan yang membuat mereka terharu. Bagaimana tidak? Mereka melihat Harvan bersama Intan tidur pada velbed yang sama, dengan posisi Harvan memeluk perut Istrinya itu.
__ADS_1
“Sudah jangan ganggu mereka, kita tunggu saja di sofa sampai mereka terjaga.” Kata Vivi.
“Iya, baiklah.” Jawab Jodi.
Dan mereka berdua pun menunggu di sofa. Belum lama mereka duduk disitu, tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Jodi pun membuka pintu itu, ternyata Bapak Budi Darmawan dan Ibu Irma Karlina yang tiada lain adalah orang tua dari Harvan, yang datang berkunjung.
Bapak Budi dan Ibu Irma pun masuk dan duduk bersama dengan mereka.
“Intan sama Harvan sedang tertidur pulas makanya kami menunggu disini.” Kata Jodi.
“Iya, sepertinya mereka tidak ingin terpisahkan lagi.” Kata Ibu Irma yang melihat dari gorden yang menghalangi tempat mereka dan velbed pasien berada.
“Kapan Bapak dan Ibu sampai di Jakarta?.” Tanya Vivi.
“Baru saja dan langsung ke mari.” Jawab Pak Budi.
“Iya, kemarin Harvan mengabari Istrinya dirawat, tadinya mau kemarin langsung ke sini tapi Bapak masih ada meeting disana, jadi kami menunggu semua selesai terlebih dahulu.” Jelas Bu Irma.
“Kasihan ya, Intan ngidamnya repot sekali sampai harus dirawat.” Kata Pak Budi.
“Iya, menurut diagnosa dokter Intan alami Hiperemesis Gravidarum jadi harus dirawat.” Jelas Jodi.
“Harvan juga menceritanya pada Ibu waktu dia telepon, makanya kita bergegas kemari.” Kata Bu Irma.
“Bapak dan Ibu gak perlu khawatir, ada kami yang menjaga mereka.” Kata Vivi.
“Iya Nak Vivi, terima kasih ya, kalian sudah banyak membantu Harvan dan Istrinya.” Ujar Bu Irma.
“Kami terlalu sibuk sehingga jarang mengunjungi mereka.” Kata Pak Budi.
“Baik Nak Jodi terima kasih ya, seandainya tidak ada Nak Jodi dan Nak Vivi, entah bagaimana mereka, karena Harvan tidak mudah menjalin hubungan dekat dengan orang lain.” Jelas Pak Budi.
“Kalian sedang membicarakan aku ya!.” Kata Harvan yang kemudian datang menghampiri mereka.
“Eh kamu sudah bangun Nak?.” Sapa Bu Irma kepada anaknya.
“Bagaimana keadaan Intan Har?.” Sambung Ibu.
“Sekarang sudah membaik Bu, tidak lemas seperti kemarin karena sudah di infus jadi ada cairan masuk.” Jelas Harvan.
“Memang gak masuk makanan sama sekali ya Har?.” Tanya Pak Budi.
“Iya Pak, setiap makan dimuntahkan lagi.” Jawab Harvan.
“Kasihan ya menantu Ibu, pantas saja badannya makin kurus” Kata Bu Irma.
“Makanya aku gak bisa jauh dari Intan Bu, biar ada yang merhatiin dia makan, kalau gak di perhatiin, dia gak makan sama sekali.” Jelas Harvan.
“Gak ada yang bisa maksa dia Bu kalau bukan Harvan.” Ujar Jodi.
Lalu mereka semua masuk keruangan dimana Intan berbaring, setelah mereka mendengar Intan memanggil Suaminya.
“Eh, ada Ibu sama Bapak.” Kata Intan pada saat melihat siapa yang menghampiri dirinya.
“Iya Nak, Ibu langsung kemari pada waktu Harvan telepon kalau kamu dirawat.” Kata Ibu.
__ADS_1
“Bagaimana keadaanmu sekarang Nak?.” Tanya Bapak pada Intan.
“Alhamdulillah sekarang badan sudah enakan Pak, kemarin mualnya gak enak banget sampai kepala pusing.” Jawab Intan.
“Syukurlah kalau sudah membaik.” Ujar Bapak.
“Cepat pulih ya Nak Intan, biar bisa cepat pulang.” Kata Ibu.
“Iya Bu, gak enak lama-lama di Rumah sakit.” Ucap Intan.
“Sekarang bagaimana sudah bisa makan?.” Tanya Ibu.
“Sudah Bu, biar sedikit-sedikit yang penting ada asupan gizi, kalau kemarin kan gak masuk sama sekali.” Jelas Harvan.
“Hey Intan, aku bawa buah apel, pasti segar, kamu mau gak?.” Kata Vivi yang lantas mengupas buah apel yang ia bawa.
“Boleh, sepertinya enak itu, kamu yang bawa Vi?.” Tanya Intan.
“Iya, tadi sekalian lewat beli deh.” Jawab Vivi.
Kemudian Intan pun memakan buah apel yang sudah dikupas oleh Vivi. Mereka menikmati buah apel itu berdua sambil berbincang.
Sementara Pak Budi, Bu Irma, Harvan dan Jodi melihat pemandangan mereka berdua. Ada rasa lega didalam hati mereka karena melihat Intan sudah mulai membaik.
Mereka berempat meninggalkan Intan dan Vivi yang sedang menikmati buah apel, menuju sofa dan berbincang.
“Oya Pak, bagaimana kabar om Helmi dan Tante Sinta?.” Tanya Harvan pada Bapaknya.
“Kami tidak tahu lagi kabar mereka setelah kejadian itu, mungkin malu karena kelakuan anaknya.” Jawab Pak Budi.
“Iya Pak, saya tidak mengerti kenapa Reyhan begitu membenci saya.” Ungkap Harvan.
“Biarkan saja mereka, nanti juga kalau mereka butuh pasti mendatangi kita juga.” Kata Bu Irma.
“Iya, Bapak juga tidak mengerti kenapa si Reyhan sampai nekad melakukan hal jahat, apa dia tidak berfikir bagaimana kedepannya?, padahal selama ini kita yang selalu membantu kebutuhan keluarga mereka, memang si Rey itu tidak jauh sifatnya sama Bapaknya, selalu saja menyusahkan keluarga.” Jelas Pak Budi.
“Iya karena dulu Bang Helmi selalu di manja sama ayah, jadi dia tidak mau bekerja, sekarang si Rey dimanjakan juga sama Bang Helmi dan Sinta, jadi malas gak mau cari kerja yang benar.” Sambung Bu Irma.
“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya ya!.” Celoteh Jodi.
“Ya seperti itulah, ini jadi pelajaran buat kalian! Jika nanti kalian punya anak, jangan manjakan anak dengan hal-hal yang tidak berguna, karena mendidik anak bukan memberikan semua yang di inginkan anak, tetapi sekali-kali anak harus belajar dari orang tuanya, bahwa mendapatkan uang itu tidak mudah, butuh kerja keras dan niat yang kuat.” Jelas Pak Budi.
“Kamu tentu merasakan sendiri Har, bagaimana dulu Bapak mendidik kamu, pada saat kamu meminta sesuatu, tidak semua yang kamu minta Bapak berikan dengan mudah. Kenapa? Itu salah satu cara Bapak mendidik kamu, supaya kamu berfikir, bahwa yang kamu minta tidak semuanya memberi manfaat buat perjalanan hidup kamu.” Sambung Pak Budi kembali.
“Iya, dulu Bapak akan memberikan apa yang Harvan minta, kalau itu untuk urusan sekolahnya atau urusan yang penting untuk tumbuh kembangnya. Kalau Harvan minta mainan, selama mainan yang ia mau, bisa di buat dari barang-barang bekas, maka bapak mengajarinya membuat mainan itu.” Jelas Bu Irma.
“Iya benar, dulu saya sempat ingin mainan mobil-mobilan remot seperti teman-teman. Saya nangis-nangis minta sama bapak, tapi bapak tidak membelikannya, malah bapak mengajari saya membuat mobil-mobilan dari botol bekas, bapak mengajari saya membuat mobil-mobilan yang bisa jalan sendiri dengan bantuan balon yang diletakan diatas botol tersebut yang sudah dikasih roda dari tutup botol. Kita menamakan hasil karya kita itu Mobil bertenaga angin hehe.. Malah jadi terbalik, teman-teman yang menginginkan mainan yang saya buat dengan bapak, akhirnya saya membuat banyak dan menjualnya pada teman-teman.” Jelas Harvan.
“Nah itu adalah salah satu cara Bapak mengajarimu agar kamu berfikir kreatif dan inovatif serta berfikir kritis sedini mungkin, untuk apa? Karena dari waktu ke waktu zaman terus berkembang dan berubah. Sementara kita di tuntut untuk mengikuti perkembangan zaman tersebut. Dan berfikir kreatif dan kritis adalah salah satu cara agar kita mampu bertahan dalam perubahan zaman. Sehingga mampu membawa kita untuk bersaing dari zaman ke zaman.” Jelas Pak Budi.
“Orang-orang yang hidup di Negara Maju, mereka di didik untuk berinovasi sejak dini, sehingga mereka mampu memproduksi hasil karya inovatifnya yang sesuai dengan perkembangan zaman. Tetapi kita di didik untuk hanya menikmati hasil produksi mereka dan itu merupakan cara mendidik kita menjadi manusia berjiwa konsumtif, dan itu merupakan kesalahan besar, karena itu kita masih tertinggal dari mereka.” Jelas pak Budi kembali.
Jodi menyimak apa yang Pak Budi sampaikan. Ia jadi mengerti pantas saja Harvan bisa sukses seperti sekarang ini, karena ia di didik oleh tangan dingin seorang Bapak yang bijak dalam mendidik anaknya.
“APA YANG KITA TUAI HARI INI! ADALAH APA YANG KITA TANAM DAHULU!”
__ADS_1
🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔