
Sore itu Harvan dan Jodi baru kembali dari aktivitas kantornya. Mereka langsung memasuki kediaman mereka. Nampak di dalam rumah tepatnya di ruang keluarga, Harin tengah asyik bermain dengan tab nya, sementara Delima tengah sibuk di dapur bersama 2 orang pelayan.
Harvan menghampiri putrinya lantas mencium pucuk kepalanya lalu ia duduk di sebelah putrinya. Sementara Jodi mengikutinya dari belakang. Setelah menghampiri Harin dan mencium putri kecil itu, Jodi langsung beringsut pergi menuju kamarnya.
Harvan memandangi wajah Jodi, belum juga ia bicara, Jodi sudah mendahului.
“Gue mau istirahat dulu, badan pada pegal.” Kata Jodi seraya menaiki anak tangga yang mengarah pada kamarnya.
Melihat Jodi sudah menghilang di ujung tangga, Harvan perlahan mendekati Delima, belum apa-apa Delima sudah berkata,
“Sana ganti baju dulu dan bersihkan badan, setelah itu baru aku akan membuatkan kopi.” Ujarnya.
“Galak banget belum apa-apa juga.” Kata Harvan setengah berbisik, seraya menyandarkan tubuhnya pada kitchen set memandangi wajah Delima yang berdiri di sampingnya.
Lalu ia melirik pada ke dua pelayan yang berada dekat Delima, pelayan melihat ke arah tuan nya, mereka mengerti tuannya mengisyaratkan untuk pergi, dan mereka berdua pun pergi.
Perlahan Harvan mendekati Delima, namun Delima menggeserkan tubuhnya mengambil bumbu dapur, Harvan mengikutinya kembali kemudian Delima berjalan ke arah lain mengambil mangkuk, pada saat Delima akan beranjak ketempat lain, Harvan menangkap tubuhnya.
“Ayo ganti baju dulu sana, jangan ganggu orang masak.” Kata Delima pelan. Tapi Harvan tak menjawab ia malah asik mengendus-endus rambut Delima.
“Sebentar, aku lagi pengen disini dulu nemenin kamu masak.”
“Ini sih bukan nemenin tapi mengganggu.” Jawab Delima datar.
“Lagi masak apa sayang?.” Bisik Harvan pada telinga Delima yang hembusan nafasnya membuat bulu kuduknya merinding.
“Kelihatannya lagi masak apa?.”
“Gak tahu, makanya nanya juga hehe.”
“Jangan seperti ini, aku gak enak.”
“Dibikin enak aja sayang.”
“Ish. Kamu tuh semakin hari semakin nakal ya.”
“Tapi suka kan?.”
“Gak!.”
“Bener gak suka?!. Goda Harvan.
“Iya!.”
“Terus sukanya di apain? Hehe.” Harvan semakin genit.
“Ih udah ah geli, sana mandi dulu, bau tahu!.”
“Iya bentar, lagi pengen menghirup aroma kamu dulu.”
“Kalau begini terus masaknya gak bakalan bener ini!.”
“Aku kan udah bilang biar pelayan aja yang masak.”
“Aku gak bisa kalau diam saja, lagi pula Harin mau nya masakan yang aku buat.”
“Begitu ya?.” Kata Harvan yang menopangkan dagunya pada pundak Delima.
“Iya. Udah sana mandi dulu. Gak enak nanti Jodi lihat kita lagi begini.”
“Gak apa-apa, dia sepertinya sudah tahu.”
“Kau bilang padanya?.”
“Tidak, tapi dia beberapa kali lihat lipstikmu nempel di bibirku.”
“Terus, dia bilang apa?.”
“Gak bilang apa-apa. Emangnya siapa dia berani nanya-nanya?. Kalau berani aku pecat dia hehe.”
“Jangan begitu ah gak baik, gak boleh jahat sama asisten sendiri.”
“Gak kok, aku cuma becanda. Sini dong muka nya.”
“Mau apa sih!.” Delima sedikit kesal.
__ADS_1
“Cup dulu. Sebelum aku mandi.” Bisik Harvan, tapi Delima diam saja.
“Kalau gak di kasih aku gak akan lepas.” Paksa Harvan.
“Ya sudah kalau begitu aku akan pulang besok!.”
“Aduh jangan… jangan… iya deh, iya aku mandi dulu.” Harvan melepaskan pelukannya dan melangkah pergi menaiki anak tangga. Melihat tingkah Harvan Delima menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.
(Harin… Harin… ternyata ayahmu lebih manja dari kamu sayang.) bathin Delima menggelengkan kepalanya.
Lalu delima menghampiri Harin dengan membawa camilan yang ia buat.
“Ini sayang camilannya.”
“Wah apa ini namanya bu?.”
“Ini namanya sarang tawon, ayo coba!.” Kemudian Harin mengambilnya dan menyantapnya.
“Mh.. enak bu, renyah sekali.”
“Kamu suka sayang?.”
“Suka sekali bu, nanti bikin lagi ya?.”
“Iya nanti kalau habis ibu bikin lagi, ini juga masih banyak.”
Lalu tiba-tiba datang Jodi.
“Wah lagi pada makan apaan tuh! Om mau dong sayang.” Kata Jodi pada Harin.
“Boleh om, coba deh, ini enak sekali namanya sarang tawon, ibu yang bikin.” Jelas putri kecil itu. Kemudian Jodi mencobanya, dan
“Mh.. betul sekali ini enak sayang.” Kata Jodi sembari melahap camilan itu, sembari menikmati camilan itu Jodi terus memperhatikan Delima dengan sudut matanya.
(Kalau memang nih cewek pembunuh, kok kelihatan tenang ya mukanya. Tapi memang pembunuh berdarah dingin seperti itu sih. Ya Tuhan… gue gak tahu harus gimana.) Bathin Jodi.
Kemudian Harvan menghampiri mereka dan ikut menikmati camilan yang Delima buat itu.
“Oya Jod, udah ada kabar dari lawyer belum?.” Tanya Harvan.
“Oh. Berarti sidang lanjutannya belum pasti waktunya ya?.”
“Iya.” Jawab Jodi. Kemudian. “Sayang kita makan sarang tawonnya dekat kolam renang yuk?.” Kata Jodi pada Harin, seolah ia memberi ruang kepada Harvan dan Delima untuk berdua.
Jodi pun membawa Harin dalam pangkuannya menuju kolam renang.
“Ngerti juga luh.” Gumam Harvan, dan itu masih bisa di dengar oleh Jodi.
“Iya lah gue mah pengertian sama yang lagi bucin.” Celotehnya.
“Sialan luh!.” Harvan melempar potongan kecil makanan pada punggung Jodi yang berlalu meninggalkannya.
Perlahan Harvan beranjak dari tempat duduknya ke sisi Delima. Belum jiga meletakan bokongnya pada sofa, Delima sudah menyela, “Mau apa?.”
“Ya ampun, galak amat sih kamu sama aku. Giliran sama Harin sayang-sayangan, giliran sama ayahnya judes. Aku juga pengen disayang tahu.” Kata Harvan yang memaksa duduk di sebelah Delima.
“Abisnya kamu suka iseng sih.”
“Siapa bilang iseng, itu namanya sayang.” Kata Harvan. Lalu ia merogoh sesuatu dari dalam saku celananya.
“Nih buat kamu, tadi nya mau ngasihnya malam, tapi pintu kamarnya suka di kunci, jadi aku kasih sekarang aja.”Kata Harvan seraya memberikan kotak kecil berisi cincin yang ia pesan tadi siang.
“Apaan ini?.”
“Lihat aja sendiri. Ayo buka.”
Kemudian Delima membuka kotak berwarna merah itu, dan pada saat ia melihat isinya,
“Ini buat aku?.”
“Emangnya buat siapa lagi kalau bukan buat kamu, cobain muat gak?. Kalau gak muat kita tukar.”
(Gak romantis banget ngasih cincin kaya begitu) Bathin Delima.
Kemudian Delima mencoba dan pas di jari manisnya.
__ADS_1
“Bagus… makasih ya sayang.” Kata Delima seraya mengangkatkan tangan kirinya ke atas sembari menerawang sematan cincin berlian di jari manisnya yang baru saja di berikan Harvan itu.
“Apa!! Cuma gitu doang?!.” Ujar Harvan kecewa.
“Iya cincin ini cantik sekali… makasih ya sayang.” Delima memperjelas.
“Cuma makasih doang?.”
“Ya terus harus gimana?.”
“Bener-bener gak ngerti ah… udah susah-susah milihin sampe seharian, gak tahu apa dia, kalau berlian itu berlian paling mahal di dunia.. eh orang yang di kasihnya cuma ngucapin makasih doang, nasib. Nasib.” Kata Harvan seraya meninggalkan Delima menuju tempat dimana putrinya dan Jodi berada.
Melihat Harvan kecewa, Delima tersenyum kemudian mengejar Harvan, Harvan berbalik,
“Sayang… makasih.” Kata Delima yang kemudian mencium pipi Harvan. Keadaan itu tidak Harvan sia-siakan, tangan kirinya langsung memegang tengkuk wanita itu, dengan cepat bibir kokoh nya menangkup bibir mungil Delima.
“Hump…. Hump…” Delima terkejut mendapatkan serangan mendadak yang membuatnya hampir kehabisan nafas. Harvan menyeret tubuh Delima ke Dinding yang kebetulan sejajar lurus dengan keberadaan Jodi dan Harin.
Jodi menangkap pemandangan kedua pasangan bucin itu dan dengan cepat menghalangi dengan tubuhnya agar Harin tak melihatnya.
(Yaelah itu si bucin gak tahu tempat ya, gimana kalau ini bocah ngelihat. Dasar orang tua gak punya ahlak, huh.) Bathin Jodi.
Sementara itu Delima berusaha melepaskan dekapan Harvan.
“Lepas ih….” Ronta Delima.
“Diam gak! Buka mulutnya dikit.” Paksa Harvan.
“Gak mau! Ih udah.. kamu gak lihat apa? Di depan ada mereka.” Delima berusaha mendorong Harvan.
“Ah ganggu emang si Jodi ah.” Harvan nampak kesal seraya mundur melepaskan pelukan Delima.
Bergegas Delima berlari ke arah Harin dan Jodi sembari ngelap bibirnya. Kemudian memangku Harin dan membawanya menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
Kemudian Harvan mendekati Jodi.
“Dasar bapak gak punya ahlak!. Kalau mau gituan lihat-lihat dong.” Protes Jodi.
“Apaan sih luh!.”
“Elo gak tahu di sini ada putri elo! Gimana coba kalau dia lihat, macem-macem aja nih orang yang lagi bucin, serasa dunia milik kalian berdua aja.” Kesal Jodi.
“Iya Sorry.. gue gak sadar.”
“Gila luh yah… gue aneh lihat elo jadi kayak gini. Dulu-dulu elo nasihatin gue supaya gue baik dalam memperlakukan wanita, sekarang jadi kebalik, heran gue.” Kata Jodi.
“Heh! Gue cuma cium dia doang gak kayak elo penjahat kelamin!.”
“Eh tapi gue udah insaf sekarang, kenapa giliran gue insaf, sekarang jadi elo yang edan..!.” Kata Jodi.
“Sirik aja luh ah.”
“Gue bukan sirik sama elo Har, tapi elo harus tahu tempat, terus sekarang gue mau nanya sama elo, elo serius gak sama dia?.”
“Seriuslah kalau gak serius ngapain gue ngasih cincin berlian paling mahal barusan.”
“Apa!! Cincin… serius luh.”
“Lihat aja di jari manisnya kalau elo gak percaya.”
Jodi terdiam, tiba-tiba saja terlintas dalam ingatannya kalau Delima adalah seorang pembunuh.
“Har, elo belum terlalu jauh kan sama dia?.”
“Maksud elo?!.”
“Gue ikut seneng kalau elo bahagia sama dia, tapi kita belum kenal dia lebih jauh Har, tunggu sebentar lagi sampai kita tahu siapa Delima itu. Gue gak mau elo kecewa kalau misalkan nanti dia tidak sesuai dengan yang elo harapkan. Secara dia baru kita kenal Har.” Jelas Jodi. Sementara Harvan terdiam,
“Har, kita kan lagi nyelidikin dia dan semuanya belum tuntas. Kita gak tahu hubungan dia sama pengusaha itu apa. Tahan lah dulu sebentar, gue gak larang elo hubungan sama dia cuman kalau buat serius kita tunggu Info dulu dari team gue. Gue gak mau elo kecewa Har.” Sambung Jodi.
“Elo pikirin lagi baik-baik ya Har.” Kata Jodi seraya berlalu masuk kedalam rumah.
Sementara Harvan masih terdiam di tepi kolam renang merenungi apa yang Jodi katakan.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
__ADS_1