
Hari pun berganti hari, suasa yang berbeda dirasakan di salah satu Villa di daerah puncak Cianjur, terlihat Selvy dan Reyhan tengah sarapan pagi. Mereka saling diam tetap menyimpan emosinya masing-masing.
Tiba-tiba ponsel Selvy berbunyi tanda panggilan masuk. Pada saat Selvy melihat layar ponselnya, ia sedikit terkejut, karena terlihat bahwa yang menghubunginya adalah ibunya dari Jerman.
Ia bingun apa yang akan ia katakan seandainya ibunya menanyakan mengenai Revy. Sementara Revy tidak ada bersamanya.
“Siapa?.” Tanya Reyhan.
“Mama.” Jawab Selvy.
“Terima saja, kalau dia bertanya tentang anak itu, katakan saja dia baik-baik saja.” Kata Reyhan enteng.
“Tapi bagaimana jika mama ingin berbicara padanya?.”
“Alah, terima saja dulu, beri saja alasan yang meyakinkan padanya.” Ujar Reyhan.
Lalu Selvy menerima panggilan dari ibunya yang kala itu suara ponselnya masih berdering.
(Bahasa sudah di translate kedalam bahasa Indonesia.)
“Hallo ma.” Sapa Selvy.
“Hallo Selvy, bagaimana Revy disana? Kapan kau akan bawa dia kembali ke Jerman? Bukan kah kau bilang akan membawanya kembali? Sekolah akan segera masuk, cepat antar dia pulang kembali.” Suara ibunya dibalik telepon.
Selvy sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara ibunya memekik.
“Iya ma, dia baik-baik saja, secepatnya dia akan kembali ke Jerman, sekarang aku sedang mempersiapkan untuk kepulangannya.” Jawab Selvy kaku.
“Oh syukurlah kalau begitu. Mana dia? Mama ingin bicara padanya.” Pinta ibu nya.
Selvy bingung dan mulai gugup.
“Di-dia sedang ma-main dirumah tetangga ma.” Jawab Selvy asal.
“Memang dia sudah punya teman disana?.”
“Sudah ma, dia cepat akrab anaknya. Jadi baru beberapa hari saja sudah punya teman disini.” Jelas Selvy berbohong.
“Ya sudah, kalau begitu, cepat bawa dia kembali kesini, mama tunggu dia, kalau dia sudah pulang dari rumah tetangga cepat suruh hubungi mama ya?.”
“Iya ma.” TUT suara panggilan terputus.
“Ah menyebalkan! Kenapa lagi itu anak harus kabur. Merepotkan saja!.” Gerutu Selvy.
“Alah sudah lah gak perlu dipikirkan, kalau mamamu telepon lagi tidak perlu di angkat!.” Ujar Reyhan
“Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan?.” Tanya Selvy.
“Ya kita cari kembali anak-anak itu!.” Jawab Reyhan.
“Kemana lagi kita akan mencari mereka Rey?.”
“Ya keliling Jakarta lagi lah.” Jawabnya enteng.
“Aku malas. Kau saja yang cari mereka.”
“Heh! Apa maksudmu!?.”
“Ya kamu cari dia sendiri. Aku capek, lebih baik aku dirumah saja!.”
__ADS_1
“Tidal bisa! Ayo ikut!.” Kata Reyhan menarik kasar tangan Selvy.
“Aku capek Rey, kau carilah mereka sendiri!.” Tolak Selvy dengan nada yang sedikit kasar.
“Heh! Dengar baik-baik! Dari awal kita jalan sama-sama untuk menghancurkan si Harvan itu, dan sampai urusan ini selesai pun, kita harus tetap bersama. Jangan fikir kau bisa se-enaknya saja memutuskan tanpa persetujuan aku. Faham kamu!.” Teriak Reyhan.
Akhirnya mau tidak mau Selvy harus mengikuti apa yang Reyhan katakan, karena ia sudah malas berdebat lebih panjang lagi dengan lelaki itu.
Lalu mereka berdua menaiki kuda besi mereka dan memacunya dengan kecepatan tinggi.
*
*
Di suatu tempat, tepatnya di pondok emak, terlihat Harvan, Jodi, Harin dan Revy tengah bersantai pada dipan di depan pondok emak. Sementara emak pergi ke padepokan karena hari ini ada jadwal latihan bagi organisasi kemasyarakatan yang menjadikan emak sebagai pelatih bagi anggota mereka.
“Revy, kenapa kamu ingin kembali ke Jerman? Kenapa kamu tidak tinggal bersama kami saja, Harin pasti senang jika kamu bisa tinggal bersama kami.” Kata Harvan.
“Iya kak, tinggalah bersama kami, temanilah aku dirumah.” Kata Harin dengan nada sedih.
“Ayah, aku harus bertemu dengan opa dan oma dulu, sebenarnya aku ingin tinggal bersama kalian tapi bagaimana dengan opa dan oma. Mereka pasti mengkhawatirkan aku karena aku terlalu lama pergi.” Jawab Revy.
“Harin, kamu jangan sedih, kakak pasti akan kembali menemuimu, selama kakak di Jerman, kakak pasti akan sering video call denganmu.” Sambung Revy.
“Aku pasti akan merindukan kakak.” Kata Harin dengan pelukannya pada Revy.
“Tentu saja kakak juga akan Merindukanmu sayang. Selain oma dan opa, kalianlah yang selalu mengerti aku, suatu hari nanti aku pasti akan hidup bersama kalian.” Kata Revy.
Sementara Harvan dan Jodi memperhatikan kedekatan mereka layaknya saudara dekat.
“Kalau kau mau tinggal bersama kami, mintalah ijin dulu pada opa dan oma, setelah mereka mengijinkan katakanlah kepada kami ya Revy?.” Kata Harvan.
“Baiklah, nanti aku akan ceritakan pada oma dan opa dulu.” Jawab Revy.
“Oya, hari apa kau siap kembali ke Jerman?.” Tanya Harvan.
“Boleh kah lusa aku kembali kesana ayah?.” Tanya Revy.
“Iya baiklah. Jod tolong urus kelengkapan Revy untuk kembali ke Jerman lusa ya?.” Kata Harvan pada Jodi.
“Siap! Nanti gue urus semuanya.” Kata Jodi.
“Revy, Pokoknya kamu akan kembali dengan aman. Kamu akan diantar pake private jet.” Sambung Jodi.
“Makasih om.” Jawab Revy dengan senyuman.
“Baiklah, karena urusan kita disini sudah selesai, jadi hari ini kita pulang ya?.” Ujar Harvan.
“Ayo Revy, kemasi barang-barangmu, ajak adikmu juga ke kamar.” Kata Harvan.
“Baik ayah, ayo Harin ikut kakak, kita bereskan barang-barang kita.” Ajak Revy pada Harin, lalu keduanya berlalu menuju kamar mereka.
Tinggalah Harvan dan Jodi di depan pondok itu.
“Gue kasihan lihat Revy Har, gue bisa rasakan bagaimana seandainya kalau gue jadi dia.” Kata Jodi.
“Iya Jod, makanya gue kasih perhatian sama dia juga, karena dia tidak punya dosa walau orang tuanya seperti itu.
“Elo tahu gak? Kemaren dia bilang, dia lagi bikin kolam buat nyeburin ibunya sama Reyhan. Itu berarti Revy sangat tahu sekali bagaimana orang tuanya sampai dia sebenci itu.” Sambung Harvan.
__ADS_1
“Serius luh?.” Jodi sedikit terkejut.
“Iya Jod, mungkin dia terlalu sering melihat ibunya dan Reyhan berkata jahat jadi otak Revy merekam itu semua, kalau ini dibiarkan, gue yakin akan mengganggu psikisnya.” Jelas Harvan.
“Ya pastilah, makanya si Revy itu harus jauh sama orang tuanya, biar otaknya tidak terkontaminasi dengan kejahatan. Kalau dibiarkan sifat psikopat orang tuanya bisa nempel pada itu anak.” Ujar Jodi.
“Ya makanya nanti kita sama-sama bicarakan dengan opa dan omanya, biar mereka mengerti.” Kata Harvan.
“Oke, kalau begitu, ya sudah gue juga mau berkemas Har.” Kata Jodi seraya meninggalkan Harvan lalu Harvan pun berlalu melangkah ke dalam pondok.
Setelah mereka selesai mengemasi barang-barang mereka, akhirnya mereka berempat meninggalkan pondok tepi pantai itu menuju padepokan dimana emak berada.
Mereka akan berpamitan pada emak. Dengan kuda besinya mereka berlalu menuju Padepokan, setelah sampai dihalaman padepokan Jodi memarkirkan kuda besi itu disana.
Lalu mereka berempat pun menemui emak didalam padepokan itu.
“Mak, kami akan pamit dulu pulang ke Jakarta karena masih banyak urusan disana. Nanti setelah urusannya selesai, kami akan kembali lagi mengantar Harin setiap Sabtu minggu, untuk latihan silat. Selanjutnya Revy pun mungkin nanti akan ikut juga latihan jika urusan dia dengan opa dan oma nya selesai.” Jelas Harvan.
“Ya sudah, kalian hati-hati dijalan ya. Oya Revy, emak tunggu kamu kembali lagi kesini ya? Ingat! Tempatmu adalah bersama Harin dan ayahnya. Merekalah orang tua dan saudaramu yang sebenarnya.” Kata Emak.
“Baik mak, aku pasti akan kembali lagi kesini setelah aku minta ijin pada oma dan opaku, mereka pasti merindukan aku mak, makanya aku harus kembali dulu.” Jelas Revy.
“Baiklah, pergilah kalian.” Kata emak.
Lalu seperti biasa jika Harvan akan kembali ke Jakarta, ia selalu memberikan sesuatu kepada emak di dalam amplop coklat berlogo bank.
“Apalagi ini?.” Tanya emak, seperti biasa emak pun selalu menolak, tetapi bukan Jodi namanya kalau jurus rayuannya selalu membuat luluh siapapun.
“Emak jangan menolak, bukankah emak selalu bilang, kita jangan menolak rezeki dari Allah. Kalau emak dan Padepokan tidak membutuhkan, anak-anak emak pasti membutuhkannya.” Kata Jodi.
“Hei Jodi, siapa bilang emak tidak butuh uang, emak juga butuh untuk beli skin care.” Jawab emak.
“Buset dah hahaha.. rupanya emak sudah terkontaminasi oleh pergaulan jaman now haha... Biasanya emak selalu menolak kalau Harvan kasih uang.” Kelakar Jodi, di ikuti oleh semua orang yang berada di sekitar Padepokan.
“Beneran emak suka pakai skin care?.” Tanya Revy tak percaya.
“Tidaklah sayang, emak itu suka bercanda juga.” Kata Harvan pada Revy.
“Tapi memang kulit emak bersih meskipun ada kerutan di wajah emak, kalau boleh tahu emak usianya berapa ya?.” Tanya Revy.
“Sejak jaman Belanda emak sudah hidup ditempat ini. Emak lahir tahun 1904 nak.” Jawab emak.
“WHAT!! Berarti sekarang usia emak 100 tahun lebih?.” Jodi terkejut.
“Iya, memangnya kenapa?.” Tanya emak.
“Serius mak?.” Jodi masih tidak percaya.
“Emak terlihat lebih muda beberapa puluh tahun dari usia emak, dan emak terlihat masih sehat bugar, makanya kami tidak menyangka kalau emak lahir di tahun 1904.” Harvan kagum.
“Itu karena emak selalu minum air dari mata air ci Kahuripan. Ci Kahuripan adalah air kehidupan, barang siapa meminum air dari mata air ci Kahuripan ia akan senantiasa sehat dan awet muda.” Jelas emak.
“Aku mau dong mak.” Pinta Jodi.
“Pada saatnya nanti emak akan membawa kalian pada sumber mata air Ci Kahuripan itu. Sekarang pulanglah kalian.” Kata emak.
Lalu mereka berempat meninggalkan Padepokan setelah berpamitan pada emak. Mereka menunggangi kuda besi itu, dan kuda besi pun berlalu hingga tak terlihat lagi di pelupuk mata emak.
❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️
__ADS_1