Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Ikut Ayah ngantor


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jodi telah datang menjemput Harvan untuk pergi ke kantor. Setelah menikah dengan Dokter Vivi, Jodi hanya sesekali menginap di rumah Harvan, jika memang mereka tengah disibukkan dengan pekerjaan kantornya, yang mengharuskan dilanjutkan di rumah, barulah Jodi bermalam di rumah itu.


Seperti biasa Jodi menunggu Harvan di meja makan. Biasanya yang Jodi lihat pada saat ia menunggu disitu, Bossnya keluar dari kamar bersama Istrinya. Tetapi setelah Intan meninggal, yang menemani Harvan keluar kamarnya adalah Putri kecilnya.


“Hey, Putri kecil pagi-pagi sudah bangun, sudah siap ya ikut Ayah ke kantor?.” Kata Jodi seraya mencoel pipi kecil si mungil yang digendong ayahnya itu.


“Sudah dong om Jodi, sekarang aku mau makan dulu, selesai makan baru deh kita berangkat.” Jawab Harvan mewakili Putrinya.


“Oke, Harin cantik pagi ini sarapannya apa?.” Tanya Jodi.


“Aku belum bisa sarapan om Jodi, karena usiaku belum enam bulan, jadi aku Mimi cucu saja, yang harus sarapan itu Ayah, kalau Ayah gak sarapan dulu, nanti Ibu marah.” Jawab Harvan mewakili Harin.


“Har, kalau elo repot, nanti titipin saja sama staff cewek.” Saran Jodi.


“Gak usah Jod. Gue gak mau ngerepotin mereka, mereka kan ke kantor buat kerja bukan buat ngasuh anak gue.” Jelas Harvan.


“Ya takutnya elo kerepotan aja nanti dikantor Har.” Kata Jodi.


“Harin anak baik, dia gak akan ngerepotin gue. Gue gak mau kehilangan waktu bersama dia sedetik pun. Gue gak mau Intan marah.” Jelas Jodi.


“Har, elo harus sadar kalau Intan sudah tiada.” Ujar Jodi.


“Gue sadar Intan udah gak ada disisi gue Jodi, tapi perlu elo tahu, dia ada dihati gue dan anak gue.” Jelas Harvan.


“Oke, Sorry kalau gue ikut campur.” Kata Jodi.


“Gak apa-apa Jod, gue ngerti kok elo khawatir akan hidup gue, dan gue berterima kasih sama elo, elo udah baik banget sama gue.” Ujar Harvan.


“Oya Jod, tolong dong masukin troli sama tas susunya Harin ke mobil.” Sambung Harvan.


“Siap Tuan putri, sekarang juga om akan masukan perlengkapan Tuan putri ke mobil.” Kata Jodi seraya mencubit pelan pipi gemoy Harin.


“Terima kasih om Jodi.” Kata Harvan.


Lalu Jodi membawa masuk perlengkapan Harin kedalam mobil.


Setelah mereka sarapan, mereka berlalu meninggalkan ruang makan menuju mobil yang telah terparkir di depan rumah.


Sepanjang perjalanan, Jodi memperhatikan Harvan dan Harin melalui spion mobil. Ia lihat Harvan dengan santai memangku anaknya sambil memegang ponselnya, seperti tengah memperlihatkan tontonan pada Harin.


“Bener ya dia anteng Har?.” Kata Jodi.


“Gue kan bilang ke elo Harin itu anak baik, gak bakalan nyusahin gue dia mah.” Jelas Harvan.


“Iya bener ya, dia anteng aja nonton ya. Yang dia tonton apaan tuh Har?.” Tanya Jodi.

__ADS_1


“Video ibunya lagi nyanyi, sebelum meninggal Intan bikin banyak video buat gue dan Harin.” Ucap Harvan.


“Serius luh?.” Tanya Jodi heran.


“Iya, sebelum Intan meninggal, dia memindahkan semua videonya dari ponselnya ke laptop, terus dia juga bikin video kata-kata terakhirnya buat gue dan buat Harin.” Jelas Harvan.


“Sampe segitunya?.” Tanya Jodi kembali, merinding.


“Iya Jod, mungkin dia sudah punya firasat kalau sesuatu akan terjadi padanya, tanpa ia sadari, ia membuat banyak video buat Harin dan gue.” Kata Harvan.


“Gila ya, bini elo memang sudah nyiapin segalanya buat Harin.” Ujar Jodi.


“Iya, makanya gue gak susah ngurus Harin, karena Intan ngasih tahu lewat video-videonya apa yang harus gue lakukan.” Terang Harvan.


Tanpa mereka sadari mereka sudah sampai di halaman parkir tempat mereka bekerja.


“Ayo sayang, kita turun, kita sudah sampai kantor.” Kata Harvan pada putrinya.



Mereka pun turun dari kuda besinya. Semua orang yang melihat Harvan dengan setelan jas tengah mengendong anaknya membuat kagum. Bagaimana tidak? Seumur hidup mereka baru pertama kalinya melihat seorang Boss besar ke kantor membawa anak dan menggendongnya sendiri tanpa bantuan baby sitter.


Harvan dengan gagah melangkahkan kakinya kedalam gedung kantornya. Semua karyawan dan karyawati kantor menyambutnya, serta menyapa Harin.


“Hai, Putri cantik ikut ayah kerja ya?.” Karyawati A.


“Hallo baby sultan, selamat datang di kantor ayah.” Karyawan C.


Hampir semua orang menyapa Harin. Harin sepertinya senang ikut Ayahnya ke kantor, ia tertawa riang pada saat semua orang menyapa padanya.


“Boss, kalau Boss kerepotan biar saya saja yang gendong.” Kata Diana.


“Tidak usah Diana, terima kasih. Kamu lakukan saja tugasmu.” Kata Harvan yang masuk keruangannya di ikuti Jodi.


Pada saat Jodi masuk ruangan Harvan, betapa tersentaknya saat ia melihat pemandangan interior ruangan Harvan telah berubah.


“Buset, ini kantor apa playgroup?.” Kata Jodi melihat sekeliling.


Harvan mengubah cat ruang kerjanya menjadi warna pink, di dekat meja kerjanya terdapat playgrouns indoor untuk bermain Harin, banyak boneka-boneka dan hiasan dinding bergambar binatang, angka dan huruf.


“Kapan elo merubah ruang kerja elo ini?.” Tanya Jodi.


“Kemari gue suruh orang buat ngedesain interior ruangan gue.” Kata Harvan.


“Oh gitu? Bagus deh pasti Harin betah.” Ujar Jodi.

__ADS_1


“Ya kan tujuan gue memang biar dia betah, makanya gue bikin kayak begini juga.” Kata Harvan.


Kemudian Harvan meletakan Harin pada troli bayi yang Jodi bawa. Jodi pamit pada Harvan untuk pergi keruangannya. Sementara Harvan mulai membuka laptopnya ditemani Harin di sampingnya.


“Anak ayah jangan nakal ya? Diam disitu temani ayah kerja, jangan rewel ya sayang.” Kata Harvan pada Putrinya itu.


Harin anteng di trolinya sambil melihat video nyanyian dari ibunya. Sesekali ia tertawa sesekali ia fokus memperhatikan ibunya.


Begitupun dengan Harvan, ia fokus mengetik pada laptopnya, sesekali iya mengarahkan pandangannya pada Harin.


*


*


Sementara itu, Jodi diruangannnya tengah sibuk dengan email yang dikirim oleh teamnya. Ia tengah mencari data siapa pemilik motor yang membawa pembunuh Intan itu.


Teamnya mengatakan bahwa pemilik kendaraan dengan nomor polisi tersebut telah ditemukan identitasnya dan dimana mereka tinggal.


Akhirnya Jodi memerintahkan teamnya untuk mengecek lokasi yang mereka temukan dan membekuk pemiliknya serta memerintahkan membawanya ke markas mereka untuk di introgasi.


“Oke Boss, setelah saya bawa orangnya ke markas segera saya hubungi Boss.” Suara seseorang dibalik telepon.


“Oke.” Kata Jodi seraya memutus sambungan teleponnya.


Jodi berfikir keras sembari memperhatikan motor yang pembunuh itu naiki pada laptopnya.


Waktu tak terasa kini telah menunjukkan jam makan siang. Kemudian Jodi berlalu dari ruangannya ke ruangan Diana.


“Diana, tolong belikan makan siang buat saya sama Boss ya?.” Kata Jodi pada Diana.


“Siap Pak, nanti hantarkan kemana makanannya?.” Tanya Diana.


“Keruangan saya saja dulu, nanti biar saya yang bawa keruangan Boss.” Kata Jodi.


“Siap Pak!.” Kata Diana, lalu ia pergi hendak memesan makan siang yang dipesan Jodi.


Jodi pun kembali keruangannya, ia kembali memperhatikan layar laptopnya. Selang beberapa waktu, Diana mengetuk pintu ruangan Jodi dan memberikan makan siang untuk mereka. Lalu Jodi mengambilnya dan berlalu keruangan Harvan.


Jodi mengetuk pintu itu, tetapi tak ada jawaban, akhirnya Ia masuk, pada saat ia masuk keruangan Harvan, ia melihat pemandangan yang sangat mengharukan, dimana ia melihat seorang bayi kecil tengah tertidur bersama Ayahnya.


( Sumpah Har, baru kali ini gue lihat elo sangat menyentuh hati gue banget. Sumpah gue sedih lihat kalian.) gumam Jodi, yang menyeka air matanya yang menetes di sudut matanya.


( Gue yakin Har, saat Intan dialam sana lihat elo seperti ini, ia tersenyum bahagia. Gue janji sama kalian, akan menemukan siapa yang membunuh Intan. Sampai kelubang semut pun akan gue kejar.) Bathin Jodi.


Kemudian Jodi meletakan makan siang itu dimeja, dan berlalu meninggalkan mereka. Membiarkan mereka istirahat.

__ADS_1



❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹


__ADS_2