
Sementara itu, diceritakan disebuah rumah sederhana disalah satu Kota kecil yang tepatnya jauh dari Ibu kota, terlihat Reyhan tengah duduk termenung di ruang tamu yang tidak begitu luas, Ia sepertinya tengah memikirkan sesuatu.
(Bagaimana kabarnya Iblis betina gue dan anak gue ya! Sepertinya gue merindukan mereka. Tapi sulit sekali menghubungi mereka. Apa mereka kembali ke Jerman? Atau masih ada di Negara ini? Hah! Sial! Semua ini gara-gara manusia sialan itu! Ingat ya Harvan! selama gue hidup, gue gak akan biarkan hidup elo dan keluarga elo tenang!) Umpat Reyhan, seraya melempar asbak kaca hingga porak poranda di lantai.
Suara pecahan itu mengagetkan penghuni rumah yang lain. Keluarlah seorang wanita setengah baya dari arah ruangan lain mendekat pada Reyhan.
“Ada apa berisik sekali Rey?.” Tanya wanita itu.
“Ya Tuhan! Apa yang kau lakukan? Hingga asbak itu pecah berkeping-keping?.” Sambung wanita itu.
“Saya lagi kesal ma, saya benci sama mereka!.” Kata Reyhan dengan muka masamnya.
“Mama juga benci sama mereka, ingin rasanya melihat keluarga mereka hancur!.”kata wanita itu.
Ya, wanita itu adalah Sinta, ibu dari Reyhan. Mereka sengaja bersembunyi di Kota kecil itu agar tidak tercium keberadaan mereka oleh pihak yang berwajib. Setelah kejadian Reyhan mencoba membunuh Intan yang diketahui oleh keluarga Harvan, ditempat itulah Reyhan bersembunyi dengan Ayah dan Ibunya.
Ayah Reyhan yang bernama Helmy adalah kakak kandung Irma ibu nya Harvan. Karena Helmy pemalas, membuat hidup keluarganya bergantung pada warisan peninggalan orang tua Helmy. Semakin hari warisan yang mereka miliki pun semakin menipis karena gaya hidupnya yang royal. Sehingga pada saat mereka kekurangan biaya hidup, pak Budi lah yang nota bene suami adiknya itu yang selalu mensubsidi kebutuhan mereka.
Karena kejadian yang dialami anaknya kini Helmy tidak mendapatkan pasokan dana lagi dari Pak Budi, yang mengakibatkan kehidupan mereka semakin kekurangan. Sementara Reyhan adalah anak semata wayang mereka tidak bisa diharapkan sama sekali. Reyhan pun hanya bisa menghambur-hamburkan uang dengan berfoya-foya.
“Apa-apaan ini sampai berantakan begini?.” Kata Helmy yang tiba-tiba masuk dari arah pintu depan.
“Biasa, kelakuan siapa lagi kalau bukan kelakuan anakmu itu.” Ujar sinta sembari memunguti pecahan asbak yang dilemparkan Reyhan tadi.
“Selalu saja begitu! Tidak ada perubahan sama sekali!.” Kata Helmy kesal, kemudian Ia duduk pada salah satu kursi tamu diruangan itu.
“Bukan kah ini didikan kamu hah?! Salah dirimu sendiri selalu memanjakan anak dan membiarkan dia bertingkah seenaknya dari kecil, jadi seperti ini hasilnya!.” Ujar Sinta yang juga kesal.
“Heh! Bukan kah kamu juga sama, selalu memanjakan dia?! Jadi tidak perlu kamu selalu menyalahkan aku saja! Karena dia begitu salah satunya didikan kamu juga!.” Kata Helmy.
“Ah sudah! Sudah ya, kalian mengumpat aku! Perlu kalian tahu, aku begini karena kesalahan si Harvan setan itu! Aku benci sama dia! Kenapa dari kecil dia yang selalu jadi kebanggaan keluarga, sementara aku selalu menjadi contoh buruk di keluarga besar kita! Kakek dan nenek juga saudara-saudara yang lain selalu membanggakan si setan Harvan itu! Hatiku sakit pah! Mah!.” Seru Reyhan lantang.
“Kamu pikir hatiku juga tidak sakit melihat anak semata wayangku selalu mereka rendahkan!. Kamu anak kesayanganku, aku tidak rela atas perbuatan mereka! Makanya aku selalu mendukungmu untuk menghancurkan si Harvan itu.” Teriak Helmy.
“Hatiku juga sama, ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya sakit! Aku ingin membalas rasa sakitku pada mereka! Lakukan apapun terhadap mereka Rey, agar mereka selamanya tidak berdaya.” Geram Sinta.
“Haha, tenang saja ma, aku sedang merencanakan sesuatu yang akan membuat kehidupan kita lebih baik.” Kata Reyhan.
“Apa yang sedang kamu rencanakan Rey?.” Tanya Helmy.
“Si Harvan sekarang tengah menunggu kelahiran anak yang dikandung Istrinya pah. Aku harus membunuh Anak dan Istrinya itu sebelum aku melenyapkan si Harvan brengsek itu. Papah tahu? Kita tidak bisa membiarkan Istri dan Anak si Harvan itu hidup, karena merekalah yang menghalangi tujuanku untuk menguasai kekayaan si Harvan itu. Papah ingat kan? Dulu si Harvan pernah di paksa menikah dengan Selvy? Walau mereka dalam ikatan pernikahan, tapi mereka tidak pernah hidup bersama. Dan papah tahu anak yang dilahirkan Selvy itu anak siapa? Itu adalah darah dagingku pah hahaha.. dan anak kita itu yang akan menjadi alat untuk menguasai harta kekayaan si Harvan hahaha.” Kelakar Reyhan.
__ADS_1
“Lalu, bagaimana caranya?.” Tanya Helmy, sementara sinta hanya mendengarkan dengan mimik serius.
“Waktu Revy anak kita lahir, status hukum Selvy masih Istri Harvan pah, dan tertulis pada Akta kelahiran Revy bahwa ayah kandungnya Revy adalah Harvan. Dan itu dapat dijadikan bukti bahwa Revy adalah pewaris kekayaan Harvan pah. Hahah, makanya aku berencana membunuh Istri si Harvan dan calon anaknya itu, agar hanya satu-satunya pewaris dari kekayaan Harvan itu yaitu Revy sebagai pewaris tunggal hahaha.” Kelakar Reyhan.
“Hahah.. kamu pintar juga Rey.” Puji Helmy.
“Bagus! Mama mendukung rencanamu Rey, lalu berada dimana Revy sekarang Rey?.” Tanya Sinta.
“Dia ada di Jerman bersama orang tua Selvy mah.” Jawab Reyhan.
“Tapi kamu tahu? Tempat tinggal mereka di Jerman?.” Tanya Sinta kembali.
“Tentu saya tahu mah, Aku sama Selvy kan sering mengunjungi mereka. Sekarang biarlah Revy kita amankan dulu disana, tunggu sampai waktunya tiba, baru Aku akan bawa dia pulang ke Indonesia.” Jawab Reyhan.
“Bagus! Papa mendukung usaha kamu Rey, haha.” Kelakar Helmy.
“Haha.. aku sudah tidak sabar melihat adikmu dan suaminya itu menangis darah haha.” Kata Sinta pada Helmy.
“Lalu kapan rencana itu akan kamu lakukan Rey?.” Tanya Helmy.
“Tenang pah, aku harus merencanakannya dengan matang, biarkanlah sekarang mereka bahagia dulu. Aku akan membunuh Istrinya si Harvan pada saat usia kandungannya mendekati kelahirannya, tujuannya adalah agar si Harvan merasakan kehancurannya itu lebih dramatis haha.” Kelakar Harvan.
HAHAHA!!
*
*
Sementara itu dikediaman mewah Harvan. Terlihat Intan keluar dari kamar mandi selesai membasuh diri. Dilihatnya Sang suami tengah sibuk duduk di sofa dengan laptopnya. Harvan serius memandangi layar laptopnya sehingga tak memperdulikan Istrinya. Biasanya sesibuk apa pun dia di depan laptop, apabila melihat Istrinya langsung Ia menghampiri dan menciuminya, tapi kali ini tidak. Intan merasa kesal karena Suaminya tidak perduli padanya.
“Sayang, lagi apa sih serius amat.” Sapa Intan.
“Oh, ini lagi nyari Informasi.” Jawab Harvan tanpa menoleh pada Istrinya.
“Informasi apa?.” Tanya Intan.
“Mencari Nama-nama yang bagus.” Jawab Harvan yang lagi-lagi tidak memperdulikan Istrinya, tetap fokus pada layar laptopnya.
“Sayang!.” Panggil Intan yang sudah mulai kesal karena suaminya tidak melihat sedikit pun kearahnya.
“Iya, kenapa?.” Tanya Harvan sembari sibuk mengetik pada keyboard laptopnya.
__ADS_1
“Awas ya! Aku gak akan lagi ijin kan kamu nengok anakku lagi!.” Seru Intan.
Sontak Harvan terkejut dan bergegas menghampiri Istrinya itu.
“Sayang, kenapa? Kamu marah?.” Tanya Harvan seraya memeluk Istrinya itu.
“Gak, lepasin!.” Kata Intan melepaskan tangan Suaminya dari tubuhnya.
“Eh sayang, jangan gitu dong.” Rayu Harvan menarik tubuh Istrinya kedalam pelukannya.
“Kamu sekarang berubah! Gak perduli lagi sama aku.” Kata Intan cemberut.
“Siapa bilang sayang. Mana mungkin aku tidak perduli sama Istriku yang cantik ini.” Ujar Harvan seraya menciumi Istrinya yang sedang merajuk itu.
“Kenapa tadi aku panggil-panggil diam saja.” Rengek Intan.
“Maaf sayang tadi aku lagi fokus. Sini deh.” Ucap Harvan seraya membawa Istrinya dan menjatuhkan tubuh Istrinya kedalam pangkuannya, duduk di depan laptop.
“Aku sedang mencari-cari di internet nama yang bagus buat putri kita sayang.” Sambung Harvan sembari menunjukkan layar laptopnya.
“Tapi kan lahirnya masih beberapa bulan lagi sayang.” Jelas Intan.
“Iya, tapi kita harus mempersiapkan namanya dari sekarang sayang.” Ujar Harvan.
“Aku ingin anakku yang cantik memiliki nama yang cantik juga seperti wajahnya.” Kata Harvan kembali.
“Sayang, anak ayah Muach, kamu mau ayah beri nama apa sayang?.” Kata Harvan seraya mengangkat tubuh Intan untuk duduk disebelahnya, kemudian Ia elus dan cium janin dalam kandungan Istrinya itu.
“Apa? Gak mau jawab, sebelum ayah tengokin? Ya sudah sekarang ayah tengokin ya sayang.” Kata Harvan mengajak bicara pada perut Istrinya itu, seraya menciumnya, kemudian melentangkan Istrinya itu di sofa.
“Apa? Tadi udah ditengokin, masa sekarang ditengokin lagi.” Kata Intan.
“Sayang, anak kita itu tadi berbisik padaku, ingin lebih sering ditengok sama ayah, katanya begitu.” Kata Harvan dengan tatapan penuh nafsu.
Lagi-lagi Intan tak bisa berbuat apa-apa saat suaminya mulai menindih tubuhnya dan melucuti pakaian yang baru dikenakannya.
Pergulatan mereka kali ini terjadi diatas sofa. Intan menikmati perlakuan Suaminya yang selalu membuatnya merasa puas seakan menari-nari di angkasa. Perlakuan lembut penuh kasih itu selalu Harvan berikan padanya.
Ritual yang mereka lakukan seakan menambah kehangatan pada keduanya. Sehingga menjadi candu yang harus mereka lakukan dalam menyalurkan hasratnya bersama-sama.
Dalam pelukannya mereka saling taut, selalu dan selalu seperti itu. Tanpa mereka sadari diluar sana ancaman dari orang-orang yang dengki terhadapnya tengah menanti dihari depan.
__ADS_1
❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥