
Di depan pondok emak, Jodi dan Harvan duduk diatas dipan menikmati mie ayam yang mereka pesan tadi. Saking nikmatnya mereka sampai menambah porsinya. Mungkin karena terlalu berfikir keras dalam pencarian putri kesayangannya Harvan merasa terkuras energinya, sehingga membutuhkan asupan makanan yang berbeda dari biasanya. Karena memang beberapa hari ini nafsu makannya berkurang, begitu pun dengan Jod, karena masalah yang dihadapi sahabatnya itu, membuat ia pun ikut-ikutan merasakan ketegangan sehingga kurang memperhatikan urusan makannya.
“Elo selalu bilang sama gue harus banyak makan karena masalah ini menguras energi, sementara elo sendiri gak merhatiin asupan buat diri elo sendiri.” Kata Harvan sembari memasukan sumpit berisi mie pada mulutnya.
“Hehe, lagian akhir-akhir ini elo susah banget makannya jadi gue ikut-ikutan gak nafsu makan.” Balas Jodi yang juga menyuapkan sumpit pada mulutnya.
Ditemani angin yang sesekali menebas wajah tampan mereka, mereka begitu menikmati mie ayam porsi keduanya. Setelah dirasa cukup mengenyangkan, akhirnya mereka selesai menikmati mie ayam gerobak sederhana itu.
Setelah membayar mie ayam yang mereka makan, mereka pun membayarnya pada pedagang itu, kemudian pedagang itu pun pergi mendorong kembali gerobaknya meninggalkan keduanya di depan pondok emak tersebut.
Kembali Harvan dan Jodi merebahkan tubuh mereka di atas dipan itu hingga tak sadar membuai mereka ke alam mimpi siangnya.
*
*
Tak terasa waktu pun bergulir kian cepat dan sore pun menyapa setiap makhluk yang beraktivitas untuk segera menghentikan kegiatannya untuk mengajak mereka kembali pada rumahnya masing-masing, guna beristirahat dan bertemu sapa kembali bersama keluarga.
Di salah satu tepian pantai dimana Harin dan Revy berada bersama Sulaiman yang sibuk dengan konsumennya. Membuat mereka tak sadar bahwa hari telah menjelang senja. Akhirnya Sulaiman mengajak Harin dan Revy ikut pulang ke rumahnya sesuai dengan apa yang mereka janjikan tadi.
Ketiga anak itu menyusuri tepian pantai untuk membawa mereka menuju ke tempat tujuan yaitu rumah dari orang tua Sulaiman.
“Sulaiman, apa rumahmu jauh?.” Tanya Revy.
“Kalau menurutku sih dekat kak, aku biasa setiap pulang berjualan, menyusuri tepian pantai ini untuk sampai kerumah kami.” Jelas Sulaiman.
“Mengasyikkan sekali ya kehidupan kak sulaiman.” Kata Harin.
“Iya Sulaiman, kamu begitu menikmati kehidupanmu, dan kamu sangat gigih sekali berjualan diusia yang masih sangat muda.” Sambung Revy.
“”Bapakku hanya seorang nelayan kecil kak, beliau kerja pada orang yang memili perahu penangkap ikan, sementara mamaku hanya kuli pada saudagar pengusaha ikan asin, penghasil mereka tidak cukup untuk menghidupi kami, jadi aku harus membantu merela mencari nafkah. Aku memiliki adik yang masih kecil-kecil dan itu membutuhkan biaya. Walau hidup ini berat, aku harus selalu bersyukur dan menikmatinya. Aku mempunyai cita-cita menjadi orang sukses kak. Karena kesuksesan tidak dapat diraih dengan mudah, semudah kita membalikan telapak tangan. Jadi kami yang hidup pada ekonomi rendah, sekuat tenaga harus berjuang dalam mencapai kesuksesan itu.” Kata Sulaiman menceritakan hidupnya sepanjang jalan pulang.
“Kalian tahu? Kita memiliki menteri wanita yang sejarah hidupnya sangat menginspirasiku, yang tentunya patut kita tauladani. Namanya ibu menteri Susi Pujiastuti meski beliau hanya lulusan sekolah menengah pertama, tapi kesuksesannya mengalahkan orang-orang yang bertitel sarjana bahkan magister. Ratusan penghargaan dari dalam dan luar negeri beliau raih, memiliki usaha penerbangan dan perikanan yang bukan main-main, jika kita lihat dari latar belakang pendidikannya kesuksesan yang beliau raih adalah suatu hal yang mustahil, lalu Kenapa beliau bisa mencapai kesuksesan seperti sekarang ini? Aku menduga, selain beliau adalah orang yang gigih, salah satunya yang membuat beliau sukses adalah karena beliau anak yang berbakti pada orang tuanya. Anak yang selalu memuliakan orang tua nya, akan Tuhan muliakan dalam kehidupannya. Dari pengalaman ibu Susi lah kak yang membuat aku ingin terus mengembangkan diriku, selain aku belajar, aku membantu orang tuaku berjualan, aku juga membantu bapak menangkap ikan pada malam hari dengan perahu milik Boss nya.” Sambung Sulaiman.
“Sulaiman aku kagum pada sikapmu, dan itu sangat menginspirasiku bahwa memang kalau kita ingin sukses harus bekerja keras dan yang paling utama adalah berbakti pada orang tua.” Kata Revy.
Sementara Harin tidak begitu serius mendengarkan pembicaraan antara Revy dan Sulaiman, karena bagi Harin apa yang mereka perbincangan itu diluar kapasitas pemikirannya, jadi ia hanya asik berlari-lari kecil sembari memainkan kaki-kakinya pada buih air laut dengan tangan yang menenteng sepatu boot miliknya.
Dan tak terasa, akhirnya mereka sampai disebuah perkampungan nelayan. Dimana banyak ditemukan rumah-rumah panggung dari kayu dan bambu. Di lingkungan itu lah Sulaiman tinggal bersama keluarganya.
Mereka bertiga menyusuri sisi-sisi rumah sederhana itu yang hampir berdempetan. Kondisi yang sangat jauh sekali dengan rumah Harin yang mewah juga dengan kehidupan Revy yang terbiasa hidup di negara maju yaitu Jerman.
Tetapi walau pun demikian. Harin dan Revy begitu menyukai tempat itu, tak sedikit pun mereka merasa tidak nyaman kala menyusuri rumah-rumah sederhana itu dengan halaman yang dihiasi oleh bambu, yang disusun rapi menjadi seperti sebuah meja panjang, yang tentunya digunakan sebagai tempat menjemur ikan yang akan diolah menjadi ikan asin.
__ADS_1
Tanpa terasa akhirnya mereka sampai disuatu rumah yang terletak paling ujung dari rumah-rumah panggung itu.
“Nah kak Revy, Ade Harin, disini lah tempat tinggal kami, mungkin keadaannya sangat jauh berbeda dengan rumah kalian, tapi inilah istana kami yang membuat kami nyaman dan dapat melindungi kami dari panas dan hujan.” Kata Sulaiman yang kemudian mengajak mereka masuk kedalam rumah sederhananya.
“Kamu gak usah bicara begitu Sulaiman, yang membuat seseorang nyaman berada di rumahnya bukan karena besar kecilnya rumah itu, tetapi yang membuat kita nyaman terletak pada orang-orang yang berada didalam nya.” Ujar Revy.
Lalu Sulaiman mengajak mereka masuk setelah menyimpan gerobak dagangannya di kolong rumahnya tersebut, Sulaiman mempersilahkan duduk pada Harin dan Revy di ruang tamu yang hanya beralaskan tikar butut.
Muncul rasa yang membuat Revy terenyuh kala melihat kedalam rumah sederhana itu, tak banyak yang mereka temukan di dalamnya, hanya tikar dan satu lemari yang sudah usang sebagai penyangga TV tabung berukuran 14 inch, di depan TV itu nampak duduk seorang anak lelaki berusia kira-kira 3 tahun dan seorang anak lelaki berusia 5 tahun.
“Mereka adik-adikku yang tadi aku ceritakan kak.” Kata Sulaiman pada Revy.
“Oh mereka adik-adikmu.” Ujar Revy.
“Iya kak, maaf ya kak rumah kami seperti ini.” Kata Sulaiman.
“Kamu jangan bicara seperti itu Sulaiman, aku senang kok berada disini. Betul kan Harin?.” Tanya Revy pada Harin.
“Iya kak, rumah kakak nyaman kok.” Ujar Harin tersenyum.
Lalu Harin dan Revy mendekati kedua adik Sulaiman dan bermain bersama. Dan tiba-tiba dari arah dapur masuk seorang ibu muda yang sudah dipastikan bahwa beliau adalah ibunya Sulaiman yang bernama Aminah.
Ibu Aminah sedikit terkejut kala menyaksikan penampakan di dalam rumahnya, ia melihat kehadiran Harin dan Revy. Kemudian bu Aminah memanggil Sulaiman dan membawanya ke dapur.
“Mereka adalah anak-anak dari Jakarta ma, mereka korban penculikan.”
“Apa! Korban penculikan?” Ibu Aminah terkejut.
“Iya ma, merela kabur dari penculik itu dan lari ketempat ini mencari neneknya.” Jelas Sulaiman.
“Kenapa kamu bukan membawanya ke kantor polisi saja Sulaiman , kok malah membawa mereka kerumah.”
“Tadinya aku mau bawa mereka ke kantor polisi ma, tapi mereka tidak mau, katanya kalau lapor pada polisi takutnya penjahat mengejar mereka kembali, jadi mereka kesini meminta bantuan pada kita untuk mengantarkan mereka ke rumah neneknya.” Jelas Sulaiman.
“Oh begitu, ya sudah nanti kita tunggu bapak pulang saja ya. Sekarang sana kamu mandi, setelah itu ajak mereka makan.” Kata bu Aminah.
“Baik ma.” Jawab Sulaiman seraya mengambil handuk dan berlalu kedalam kamar mandi.
Sementara itu, Aminah mendekat kearah Revy dan Harin yang tengah bermain dengan kedua adik Sulaiman.
“Maaf, kenalkan saya Aminah mamanya Sulaiman.” Sapa Aminah pada Revy dan Harin.
Kemudian Revy dan Harin mendekati bu Aminah seraya mencium punggung tangan bu Aminah.
__ADS_1
“Oh iya bu, kami temannya Sulaiman, kenalkan nama saya Revy dan ini adik saya Harin, kami dari Jakarta.” Jelas Revy.
“Iya ibu sudah tahu, tadi Sulaiman memberi tahu ibu apa yang terjadi pada kalian, tunggu bapaknya Sulaiman pulang ya nak, mudah-mudahan kami bisa membantu kalian.” Jelas bu Aminah.
“Baik bu terima kasih.” Jawab Revy.
Lalu terlihat Sulaiman yang sudah membersihkan diri dan sudah berganti pakaian berjalan mendekat.
“Ayo Sulaiman ajak teman-temanmu makan ya, sepertinya teman-temanmu belum makan.” Kata bu Aminah.
“Baik ma.” Kata Sulaiman lantas membawa Harin dan Revy ke dapur sederhana mereka.
Di dalam dapur itu nampak bale yang terbuat dari bambu sebagai tempat makan lesehan untuk mereka. Sementara di ujung kiri yang tidak jauh dari bale tersebut, nampak sebuah tunggu yang setiap hari bu Aminah gunakan untuk memasak.
Setelah anak-anak itu duduk di atas bale tersebut, bu Aminah mendekat,
“Maaf ya Revy dan Harin, kami tidak punya makanan yang enak untuk kalian makan. Ibu hanya punya ikan laut dan ikan asin serta sambal terasi yang biasa kami makan.” Kata bu Aminah.
“Tidak apa-apa bu, kami juga sering makan ikan asin dan sambal kok.” Kata Revy berbohong untuk menyenangkan tuan rumah. Padahal ia belum pernah makan ikan asin seumur hidupnya begitu pun Harin.
“Baiklah kalau begitu, silahkan dimakan alakadarnya.” Kata bu Aminah. Yang kemudian meninggalkan mereka bertiga menuju kearah ruangan dimana adiknya Sulaiman berada.
Sementara itu Revy, Harin dan Sulaiman yang berada di dapur tengah memulai menyantap makanan yang telah disediakan ibunya Sulaiman.
Sulaiman menikmati makanan yang biasa ia santap setiap hari. Begitu pun dengan Harin dan Selvy yang baru pertama kali makan dengan ikan dan sambal.
“Sulaiman ikan ini enak sekali, rasanya lebih enak dari daging ayam.” Kata Revy sembari melahap makanannya.
“Iya kak, seumur hidup aku, aku baru pertama kali makan ikan se-enak ini.” Harin pun menyantap nasi dan ikan dengan tangan yang belepotan.
“Betul Sulaiman, asli ini enak banget. Nama ikan laut ini apa sih rasa nya sangat gurih.” Sambung Revy.
“Kita sering menyebut ikan ini dengan namanya ikan jangilus. Ikan jangilus ini sebagai simbol kota kami. Kalau kalian sering nonton TV, kalian sering melihatnya, ikan ini menjadi simbol sebuah TV swasta, makanya anak-anak disini memberi julukan ikan ini, ikan indosiar.” Jelas Sulaiman.
“Benar kah?! Wow ternyata ikan enak ini sering muncul di televisi Indonesia ya?.” Kata Revy.
“Gak nyangka ya kak? Ikan terbang ini enak sekali rasanya.” Kata Harin.
Disaat mereka tengah asyik menyantap ikan indosiar, pada pintu depan, masuklah bapak dari Sulaiman yang baru pulang dari dermaga.
Ayah Sulaiman itu bernama Ahmad. Pak Ahmad merasa aneh kala memasuki rumahnya, karena mendengar suara anak-anak perempuan yang tengah berbincang dengan putra sulungnya di dapur mereka.
BERSAMBUNG
__ADS_1
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️