
Harvan menenggelamkan tubuhnya di atas tempat tidur. Meski matanya ia pejamkan, namun bathinnya tetap melihat keadaan yang kini terasa sakit. Ia menghanyutkan dirinya dalam sendiri untuk merefresh hatinya, semakin ingin melupakan apa yang ia dengar dari Jodi semakin jelas ia rasakan.
Ia masih memakai kemeja kantor warna biru muda dengan stelan celana bahan biru dongkernya. Dasi dan jas yang ia letakan di sembarang tempat memperlihatkan suasana kacau laksana keadaan hatinya.
Sementara itu di kamar lain Jodi yang baru saja menerima kiriman info terbaru mengenai Delima dari team nya semakin di buat tercengang kala melihat bahwa yang di kirim teamnya itu adalah sebuah informasi dari kantor polisi di Surabaya bahwa kepolisian disana tengah mencari keberadaan Delima.
Tak menunggu waktu lama langsung Jodi mengirimkan informansi itu pada Harvan. Sengaja ia kirim melalui ponselnya karena tidak ingin mengganggu situasi hatinya yang tengah kacau. Terlihat dua centang biru yang menandakan info yang dikirimnya telah di lihat oleh Harvan.
Sementara itu di kamar putri kecil nampak Delima begitu gelisah. Entah mengapa perasaannya hari ini begitu gusar apa lagi setelah melihat perubahan pada sikap Harvan sepulang dari kantor tadi sore.
Ia merasakan Harvan begitu berbeda tidak seperti biasanya yang selalu menyapa dan menggodanya. Kebimbangan hatinya membawa ia bangkit dari atas tempat tidurnya, ia langkahkan kakinya menuju jendela balkon kamar itu.
Dalam kebimbangannya ia pandangi suasana keluar jendela namun semakin lama semakin hatinya berkecamuk, dan tiba-tiba,
BRAK!!!!
Pintu kamar di buka seseorang dari luar, ia sedikit terperanjat, ia lihat sosok yang berdiri di depan pintu menatap ke arahnya dengan mata elangnya seperti hendak siap menerkamnya.
Harvan mengatur nafasnya dengan hati yang meletup-letupkan kemarahannya masuk keruang kamar itu, ia dekati tubuh Delima dan menarik tangannya. Ia seret tubuh itu keluar kamar menuju ruang kerjanya di lantai tiga.
Langkah Delima sedikit terseok karena mengikuti langkah panjang kaki Harvan. Setelah sampai di depan pintu ruang kerja, di bukanya pintu itu dan di hempaskannya tubuh Delima masuk ke dalam ruangan tersebut.
Delima terkejut dengan sikap Harvan yang dirasa kasar olehnya. Apa lagi pada saat Harvan menutup pintu ruang kerja itu sedikit keras.
Perlahan Harvan mendekati tubuh Delima dengan tatapan elangnya, di tambah dengan nafas yang menderu terlihat dari gerakan dadanya yang naik turun.
Delima belum mengerti dengan semua ini, ia terdiam menatap wajah lelaki itu yang semakin mendekat, kemudian Harvan mengarahkan layar ponselnya tepat di hadapan wajah Delima.
“Apa ini?!.”
Perlahan Delima melihat dengan seksama yang terlihat pada layar ponsel yang di arahkan ke wajahnya.
Sejurus mata memandang ia terhenyak, melihat foto dirinya dengan informasi yang tertera di dalamnya. Tertulis di dalamnya bahwa ia tengah di cari polisi karena ia telah melakukan pembunuhan pada seorang pengusaha.
“Kenapa kau sembunyikan ini dariku?.” Kata Harvan pelan namun pasti dengan sorot mata tajam yang semakin berkaca-kaca.
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca pula Delima mencoba menjelaskan,
“A-aku… .”
“Apa yang akan kau jelaskan padaku?! Berusaha untuk menjelaskannya?! Lalu apakah aku akan percaya?! Siapa Almira dan pengusaha itu?! Apa hubunganmu dengan mereka?! Ku kira kau adalah wanita yang mampu mengobati luka hatiku, ternyata kau malah membuat aku semakin terluka! Apa maksudmu dengan semua ini??! Kau libatkan hidupmu kedalam kehidupanku dengan putri semata wayangku hanya karena kau ingin lari dari kenyataan! Seandainya kau katakan semuanya dari awal, tentu rasanya tak ‘kan separah ini. Kau jadikan kami tempatmu untuk bersembunyi dari kejahatanmu?! Hah!.”
“A-aku bisa jelaskan se-semua… tolong…” Delima yang terbata-bata berusaha menjelaskan namun Harvan terlanjur tersulut amarah.
“Cukup..! Aku tak mau mendengarkan penjelasan apa pun darimu, semakin aku mendengarkan akan semakin sakit bagiku. Sekarang! Pergilah dari rumahku sebelum putriku terjaga! Anggap perjanjian kerja sama kita cukup sampai disini!.” Suara Harvan nampak bergetar dengan rekatan giginya seraya menunjukan telunjuknya pada pintu kamar yang posisinya berada di belakangnya.
Melihat Harvan dengan kondisi seperti itu rasanya Delima percuma menjelaskan segalanya. Jika ia menjelaskan kenyataan, sekali pun suatu kebenaran tentulah tak akan terdengar baik oleh orang yang tengah tersulut dengan emosinya.
Akhirnya Delima memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Dengan deraian air mata, ia melangkahkan kakinya setengah berlari keluar dari ruang kerja itu menuju kamar Harin untuk mengemasi barangnya.
Harvan masih berdiri mematung di ruang kerjanya. Ia jatuhkan tubuhnya pada lantai dengan perasaan hancur. Entah salah atau tidak ia mengusir Delima kala itu, yang ada dalam pikirannya adalah ia merasa kecewa pada kenyataan ini.
“Kenapa Delima… kenapa ini harus terjadi… kenapa kau melakukan ini padaku di saat aku mulai mencintaimu.” Bathin yang menangis meluluh lantakan perasaannya.
__ADS_1
*
Sementara itu, Delima tengah berkemas di kamar Harin. Setelah ia memasukan barang miliknya ia pandangi sosok kecil yang tengah pulas. Ia deketi putri kecil itu. Ia ciumi keningnya dengan deraian air mata.
“Sayang maafkan ibu ya nak, ibu tidak pernah berniat menyakitimu, ibu tulus mencintaimu nak. Namun Ibu harus pergi lagi. Ibu harap kau tidak membenciku. Jaga dirimu baik-baik ya nak, kalau kau rindu padaku, lihatlah rekaman video ibu barusan pada tab mu. Semoga itu dapat mengurangi kerinduanmu padaku. Jaga ayah mu ya nak. Ibu akan selalu mendoakanmu agar kau menjadi anak yang baik. Dan doa kan ibu agar masalah yang ibu hadapi mendapatkan jalan keluar. Jika suatu hari nanti kita bertemu kembali, mudah-mudah saat itu adalah saat kita tidak akan pernah terpisahkan lagi. Belajar yang baik ya nak. Ibu sayang padamu.”
Setelah mencium kening putri kecil. Delima berlalu meninggalkan rumah itu dengan hati dan perasaan yang hancur.
Dengan langkah gontai ia berjalan menyusuri jalanan yang sepi karena pada saat itu waktu menunjukan tengah malam.
Tak pernah terbayangkan olehnya kalau dirinya akan berakhir seperti ini, dengan deraian air mata ia mengikuti langkah kakinya entah kemana kakinya itu akan membawa dirinya karena ia tidak memiliki tujuan.
Dalam tangisannya, langkahnya terhenti kala seseorang menarik tangannya. Membawa tubuhnya ke balik pohon yang sangan rindang.
“Hah! Intan? Kau sedang apa disini malam-malam begini?.” Tanya Delima Heran.
“Aku mengikutimu dari tadi.”
“Untuk apa kau mengikutiku?.”
“Aku tahu kalau kau tengah bersedih Delima. Lelaki itu mengusirmu ya?.”
“Iya dia kecewa padaku, karena aku tidak jujur padanya.”
“Kenapa tak kau katakan saja pada dia semuanya Delima?.”
“Meski aku mengatakan yang sebenarnya, aku kira dia tidak akan percaya padaku Intan. Hatinya sedang emosi tidak akan mampu menerima kebenaran meski aku berjuta kali menjelaskannya.”
“Tidak Intan, aku menyerah dan kau tidak perlu lagi memaksaku untuk masuk dalam kehidupannya. Aku capek, mending aku mengurusi masa depanku sendiri.”
“Hei apakah kau tak kasihan dengan putri kecil yang menggemaskan itu? Kau tega meninggalkan dia? Apakah tak terbayangkan olehmu pada saat dia nanti mencarimu?.”
“Tentu saja aku sangat memikirkannya Intan. Namun keadaan ini membuat aku bingung.”
“Ya aku mengerti perasaanmu Delima. Oya? lalu sekarang kamu mau pergi kemana malam-malam begini?.”
“Entahlah aku tidak tahu. Semua ini terjadi begitu mendadak.”
“Maafkan aku ya Delima, karena aku kau menjadi sedih begini.”
“Tidak apa-apa Intan, ini sudah nasibku.”
“Oya? Kau ikut denganku saja yuk?.”
“Kemana?.”
“Ya mencari tempat yang aman untukmu, bukan kah kau tidak memiliki tujuan malam ini? Kamu tidak takut dengan orang-orang jahat yang akan mengganggumu?.”
“Aku bisa menjaga diriku sendiri Intan.”
“Ayo ikut denganku, aku akan membawamu ke suatu tempat yang aman, begitu amannya tempat itu sehingga polisi pun tidak akan bisa menemukanmu.”
“Tan, aku aneh padamu, kenapa di saat-saat aku sedang sulit kau selalu ada dan kau selalu tahu apa yang tengah aku alami. Kau seperti cenayang saja.”
__ADS_1
“Delima, aku kan pernah bilang padamu, meski aku bukan saudara kandungmu tapi aku adalah saudara bathinmu. Jadi apa yang kamu alami dan kamu rasakan itu akan terasa olehku.”
“Makasih ya Intan, di saat aku susah kau selalu datang menghiburku.”
“Iya. Ayo kita kerumah emak, kamu akan nyaman disana.”
“Pasti aku akan menaiki punggung macan putih itu lagi kan? Aku gak mau Intan, masih terasa copot jantungku saat aku pertama kali naik di punggungnya.”
“Haha.. ayo lah, buktinya sekarang kau tidak apa-apa kan? Dari pada kamu berjalan-jalan sendiri disini tanpa tujuan, mending kamu lepaskan semua penat di kepalamu dengan berteriak di atas punggungnya.”
“Ya sudah, ayo.”
Kemudian mereka berdua naik ke atas punggung macan putih yang berada tidak jauh dari mereka.
Secepat kilat macan putih itu melesat naik ke angkasa membawa Delima dan seorang wanita yang ia sebut Intan.
Hingga sampailah ia di sebuah pondok tepi pantai.
“Itu pondok emak tempat kamu beristirahat. Tinggalah disana, beberapa hari lagi dia akan menjemputmu?.”
“Siapa?.”
“Ada deh hehe… ayo sana dekati pondok itu..”
“Lalu kamu mau kemana? Kenapa tidak ikut bersamaku?.”
“Nanti aku akan menyusul karena aku ada urusan dulu sebentar.”
“Kamu selalu saja begitu.”
“Dah.”
Kemudian Delima berjalan mendekati pondok itu. Semakin dekat dan semakin dekat. Benar saja? baru saja ia berada di sekitaran pondok itu sudah terasa nyaman apa lagi masuk kedalamnya.
Di depan pintu ia berdiri dan ragu untuk mengetuknya karena malam telah larut, ia takut mengganggu penghuni pondok itu.
Baru saja ia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintunya, dari dalam terdengar suara,
“Masuklah.”
Lalu Delima masuk kedalamnya. Nampak seorang nenek tengah duduk bersila di ruang tengah.
“Istirahatlah di kamar, pasti kamu lelah.”
“Maaf mak, Intan membawa saya kemari untuk menemui emak.”
“Iya emak sudah tahu, pergilah tidur besok kita bicara, sekarang sudah larut malam.”
Kemudian emak bangun dari bersilanya dan berlalu menuju kamarnya.
Karena Delima sangat penat akhirnya dia masuk ke dalam kamar yang telah emak tunjuk untuknya.
❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️
__ADS_1