Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Pertemuan Harin dan Delima


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Hari ini adalah hari dimana Harvan memenuhi panggilan pengadilan untuk mediasi. Atas tuntutan Selvy mengenai hak asuh Revy.


Harvan memenuhi panggilan pengadilan di temani oleh Jodi dan pengacara yang mereka tunjuk. Sementara Selvy di temani Reyhan dan beberapa pengacara.


Mereka duduk bersama pada ruangan mediasi di saksikan oleh beberapa orang dari pihak pengadilan.


Menurut terminologi hukum acara perdata, mediasi adalah proses penyelesaian awal yang wajib di ikuti oleh para pihak atas perkara yang telah di daftar ke pengadilan. Sebelum hakim memeriksa perkara yang diajukan. Majelis hakim mewajibkan para pihak yang berperkara untuk menempuh upaya mediasi terlebih dahulu.


Dan mediasi merupakan cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator.


Sedikit terjadi ketegangan pada saat mediasi karena memang dari pihak Selvy yang di temani Reyhan tidak bisa tenang dalam menanggapi permasalahan, mereka selalu mengandalkan emosi mereka, sehingga untuk menjaga proses mediasi berjalan dengan lancar atas kesempatan bersama pihak mediator menganggap perlu melakukan kaukus atau pertemuan terpisah selama proses mediasi.


Dan proses mediasi pun di lakukan secara terpisah. Proses mediasi yang mereka jalani memakan waktu beberapa jam hingga akhirnya pada sore hari mereka selesai dengan hasil bahwa mereka sepakat untuk menunggu jadwal persidangan beberapa hari kedepan.


Harvan dan Jodi juga pengacaranya meninggalkan pengadilan lebih dulu. Sementara Selvy dan Reyhan juga pengacaranya masih menyelesaikan perbincangannya dengan beberapa pengacara mereka.


“Saya tidak mau tahu pokoknya dalam perkara ini kita harus menang. Saya akan bayar anda beberapa kali lipat dari nominal yang kita sepakati sebelumnya.” Kata Selvy pada pengacara itu.


“Siap nyonya, pokoknya nyonya tenang saja. Saya yakin kita akan menang. Secepatnya anda akan mendapatkan hak asuh putri anda kembali.” Jelas pengacara mereka.


“Bagus! Bagaimana pun cara nya perkara ini harus kita menangkan.” Ujar Selvy.


Sementara itu di dalam perjalanan pulang Harvan dan Jodi pun berbincang mengenai persidangan yang akan mereka hadapi. Mereka pun yakin kalau mereka akan memenangkan perkara ini. Karena mereka sudah memiliki bukti-bukti autentik yang akan membuktikan bahwa pihak mereka lah yang berhak atas hak asuh bagi Revy.


Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba ponsel Jodi berbunyi, kemudian Jodi menepikan mobilnya pada bahu jalan, lalu ia merogoh ponselnya dan melihat pada layarnya ternyata Delima yang menghubunginya.


“Hallo tuan asisten, saya sudah selesai mempelajari karakter istri tuan anda. Apakah saya sudah bisa mulai pekerjaan saya?.”


“Baiklah Delima, besok kamu datang ke kantor ya? Kita bicarakan dengan tuan bagaimana tugas kamu.”


“Baik kalau begitu tuan asisten, Besok pagi saya akan ke kantor tuan. Bye.”


Sambungan ponsel terputus.


“Har, Delima sudah menguasai karakter Intan katanya, besok gue suruh dia ke kantor.” Kata Jodi.


“Oke.” Jawab Harvan.


Tak terasa mereka pun akhirnya sampai di kediaman mereka. Pada saat Jodi dan Harvan masuk kedalam rumah, nampak Ronald dan Revy terlihat cemas menunggu kedatangan mereka. Kemudian Harvan dan Jodi menghampiri mereka.


“Ada apa Opa? Revy? Kalian seperti gelisah?.” Tanya Harvan kemudian duduk bersama mereka.


“Har, Saya ingin bicara dengan kamu? Kata Ronald.


“Baik Opa bicaralah.”


“Har, barusan saya terima kabar dari Jerman, pamannya Marlish sakit keras dan saya di minta datang kesana, bagaimana menurutku Har?.” Jelas Ronald.


“Begitu ya Opa? Memangnya sakit apa pamannya Oma?.” Tanya Harvan.


“Sudah lama mengidap kanker paru-paru, dan hari ini dia masuk rumah sakit karena keadaannya sudah parah, paman sangat dekat dengan saya, saya tidak enak kalau tidak datang kesana.” Jelas Ronald.


“Ya sudah kalau memang keadaannya seperti itu, Opa pulang dulu saja ke Jerman. Biar Opa pakai private jet saja, sekarang juga bisa langsung pulang.” Kata Harvan.


“Tapi masalahnya Revy ingin ikut dengan saya Har, bagaimana? Apakah aman buat dia?.” Tanya Ronald.


“Asal Selvy dan Reyhan tidak tahu, pasti aman Opa, saya kirim orang untuk mengawal kalian saja nanti disana.” Jelas Harvan.


“Baiklah Har, terima kasih atas bantuannya.”


“Ya sudah, sekarang Opa dan Revy siap-siap saja, Jodi akan mengurus keberangkatan kalian.”


“Jod, siapkan ke pulang mereka ke Jerman.” Sambung Harvan.


“Oke, siap!. Sebentar saya hubungi mereka dulu.” Kata Jodi yang kemudian langsung menghubungi orang-orang yang mengurus keberangkatan Ronald dan Revy.


Tanpa menunggu waktu lama, akhirnya Ronald dan Revy telah siap berangkat ke Jerman.


“Revy hati-hati ya di sana. Kalau ada apa-apa cepat hubungi ayah.” Kata Harvan.

__ADS_1


“Baik ayah.” Kata Revy.


Akhirnya mereka pun berangkat di antar oleh team yang Jodi persiapkan dengan kendaraan menuju ke suatu tempat dimana private jet yang akan mengantarkan mereka telah menunggu.


Harin yang kala itu melihat kepergian Revy nampak murung, karena selama ini ia merasa sudah dekat seperti kakak adik.


“Anak ayah kenapa?.” Tanya Harvan seraya memangku putrinya itu.


“Kapan kak Revy akan kembali lagi kesini ayah?.”


“Secepatnya kak Revy akan kembali. Oya? Ayah besok akan kasih kamu kejutan, jadi kamu gak boleh sedih lagi ya sayang?.”


“Benar kah? Kejutan apa ayah?.”


“Lihat saja besok, kalau ayah kasih tahu sekarang bukan kejutan lagi dong.”


“Baiklah, kalau begitu ayo kita tidur ayah, aku ingin segera besok.”


Lalu Harvan membawa Harin dalam pangkuannya menuju kamar mereka. Sementara Jodi berlalu ke kamarnya.


*


*


Pagi telah tiba. Harvan yang membawa Harin dalam pangkuannya menuruni tangga menuju ruang makan, nampak Jodi telah menanti di sana.


“Hai… cantik.” Sapa Jodi.


“Hai om Ijong, aku mau ikut ayah ke kantor, karena aku mau dapat kejutan dari ayah.” Jawab gadis kecil itu ceria.


“Wah.. kejutan apa tuh?.” Tanya Jodi sembari meraih tubuh kecil itu dari pangkuan ayahnya.


“Ayah belum memberitahuku.”


“Nanti lihat sendiri ya sayang, pokoknya kejutan ayah akan membuat kamu sangat bahagia.” Ujar sang ayah sembari meletakan nasi goreng di atas piringnya.


“Iya, sekarang ayo kita sarapan.” Kata Jodi.


Selesai sarapan, akhirnya mereka pun meninggalkan rumah mereka menuju ke tempat tujuan mereka.


Sesampainya di kantor, mereka masuk ke ruangan masing-masing.


Seperti biasa Harin di bawa ayah nya masuk keruang pribadi anaknya itu yang berada di dalam ruang kerjanya. Sementara sang ayah duduk di atas kursi kebangsaannya.


Harvan menyalakan laptopnya dan mulai melakukan aktivitas kantornya. Di tengah-tengah pekerjaannya, Jodi mengetuk pintu dan masuk.


“Har, dia sudah datang.” Kata Jodi.


“Ya udah, suruh dia masuk sini Jod.” Jawabnya masih dalam aktivitas di depan laptopnya.


Lalu Jodi menyuruh seseorang yang datang itu masuk.


Harvan melihat ke arah pintu, pada saat seseorang memasukinya, ia langsung berdiri memperhatikan seseorang itu.


“Delima?!.” Ujarnya dengan pandangan mengarah pada wanita itu.


“Saya siap tuan.” Senyum wajah Intan terpancar dari wajah Delima.


“Silahkan duduk.” Kata Harvan masih dalam tatapan kearah wajah Delima.


Dan mereka pun duduk di atas sofa.


“Bagaimana? Tidak sulit kan mempelajari karakter istri saya?.” Tanya Harvan.


“Sedikit sulit karena dia adalah wanita yang mendekati sempurna hehe.” Jawab Delima.


“Tapi saya yakin kamu pasti bisa mempelajarinya Delima.” Ujar Jodi.


“Nanti tuan-tuan bisa lihat, bagaimana saya memperlakukan gadis kecil itu.” Kata Delima dengan senyum manisnya.

__ADS_1


“Dia ada di ruangan pribadi nya Delima.” Kata Harvan.


“Oya? Dia ada disini?.” Tanya Delima.


“Iya di ikut kami ke kantor, seperti itu biasanya, kemarin dia tidak ikut karena ada saudaranya yang menemani di rumah.”


“Boleh saya menemuinya sekarang tuan?.”


“Silahkan.”


Kemudian Delima beranjak dari tempat duduknya menuju ruangan Harin. Harvan dan Jodi mengikuti Delima dari belakang.


Perlahan Delima membuka pintu ruangan itu. Nampak dalam pandangannya seorang gadis kecil tengah terbaring di atas tempat tidur dengan memegang sebuah tab di tangannya.


Lalu Harin mengarahkan pandangannya pada Delima. Dengan cepat gadis kecil itu bangkit, terpaku pandangannya pada sosok yang mendekatinya.


Ia pandangi tab nya kemudian ia pandangi wanita yang mendekat ke arahnya. Begitu pandangannya bergantian karena apa yang dia lihat pada tab nya adalah sosok yang kini ada dihadapannya.


“Ibu! Kau kah ibuku?!.” Harin membulatkan matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Hai anak kesayangan ibu.” Sapa Delima mendekati tubuh kecil itu.


“Ibuuuu…. Benarkah kau ibuku?!.” Teriak Harin merentangkan tangannya hendak memeluk tubuh Delima.


Delima meraih tubuh kecil itu memeluk dan menciumnya.


“Kau sudah besar sayang… ibu sangat merindukanmu.” Kata Delima yang terus menciumi Harin.


“Ibu, aku juga merindukanmu, kenapa ibu pergi lama sekali.” Kata Harin histeris dalam pelukan Delima.


“Sekarang kan ibu sudah ada bersamamu sayang, apa kau senang?.”


“Tentu saja aku senang. Ibu jangan meninggalkan aku lagi ya?.”


“Iya sekarang ibu akan selalu ada di dekatmu.”


“Janji?.”


“Iya ibu janji sayang.”


Di balik pintu Harvan dan Jodi memperhatikan pertemuan Harin dengan Delima.


“Sempurna.” Kata Jodi.


“Iya Jod, ternyata dia pintar akting juga.” Kata Harvan masih memperhatikan keduanya.


“Ya pasti dia berusaha keras lah, bayarannya saja puluhan kali lipat dari gaji dosen.” Ujar Jodi.


“Terus kalau sudah seperti ini bagaimana?.” Sambung Jodi.


“Bagaimana apa nya?.” Tanya Harvan.


“Elo gak kepikiran? kalau Harin pastinya ingin cewek itu ada di rumah nemenin dia tiap hari? Harin menyangka cewek itu ibunya loh! Pastinya dari bangun tidur sampai dia tidur kembali, dia ingin dekat ibunya, apalagi dia baru bertemu dengan sosok ibunya, pastinya dia tidak akan melepaskan dirinya dari sosok yang dia anggap ibunya itu.” Jelas Jodi.


Harvan terdiam, ia tak pernah terpikirkan sampai kearah sana.


“Nah, bingungkan?.” Ujar Jodi.


Harvan masih terdiam memikirkan cara apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


“Kalau begitu, bagaimana jika Delima kita suruh tinggal di rumah saja. Karena sudah terlanjut Harin menganggap dia adalah ibu nya, jadi mau tidak mau dia harus tinggal di rumah kita Jod.” Kata Harvan dengan idenya.


“Kalian mau tidur bersama bertiga dalam satu tempat tidur gitu nanti nya?.” Tanya Jodi.


“Gila! Ya enggak lah Jod. Pastinya Delima tidur dengan Harin. Ya gue tidur di kamar gue lah. Gila aja gue tidur bareng mereka!.” Sela Harvan.


“Ya kali aja kalian mau bersandiwara sebagai pasangan suami istri juga, lumayan kan ada yang nemenin elo tidur hahaha.” Kelakar Jodi.


“Sialan luh!!.”

__ADS_1


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝


__ADS_2