Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Petualangan Harin


__ADS_3

Harvan terjaga dari terlelapnya karena mendengar ketukan pada pintu kamarnya. Setelah mempersilahkan masuk, dari luar Jodi masuk kedalam kamar itu.


“Elo belum ganti baju Har?.” Tanya Jodi heran.


“Gue ketiduran Jod. Ada kabar apa?.” Tanya Harvan, kemudian matanya melirik pada jam tangannya, waktu menunjukan setengah dua malam.


“Team gue baru ngabarin, ponselnya Reyhan sama Selvy udah aktif kembali, titik koordinat menunjukan mereka ada disebuah villa di puncak Bogor. Sepertinya mereka sedang berada di pestanya si Aldo.” Jelas Jodi.


“Terus, apa yang akan kita lakukan Jod?.” Tanya Harvan.


“Kita tunggu saja kabar dari team gue yang menyelidiki mereka di pesta, gue kirim lima orang kesana.” Jelas Jodi.


“Oh ya udah, gue mandi dulu ya Jod, elo tunggu gue di ruang kerja.” Kata Harvan, lantas ia masuk ke dalam kamar mandi.


Jodi beranjak dari kamar Harvan menaiki anak tangga ke lantai tiga dan memasuki ruangan kerja. Ia menyalakan layar monitor dan peralatan lainnya untuk mengontrol pergerakan Selvy dan Reyhan.


Ia terus memperhatikan layar monitor diruang kerja tersebut. Sampai akhirnya Harvan yang selesai membersihkan diri dan sudah berpakaian santai menghampirinya.


“Gimana Jod?.” Tanya Harvan.


“Pergerakannya masih di dalam villa itu Har, nanti pada saat pesta itu selesai team gue akan mengikuti mereka.” Jelas Jodi.


“Kalau Aldo lebih dulu memberi kabar dimana tempat tinggal mereka, apa sebaiknya kita langsung datangi aja tempat tinggalnya? Mumpung mereka sedang diluar rumah.” Harvan memberikan ide.


“Boleh juga, ya udah gue coba hubungi Aldo supaya dia mengorek keterangan dimana mereka tinggal. Pastinya Harin mereka sekap di tempat tinggal mereka sekarang.” Kata Jodi, kemudian dia menghubungi Aldo, tak lama Aldo menerima panggilan seluler Jodi.


“Do bagaimana? Dapat info apa?.” Tanya Jodi.


“Belum sayang. Nanti aku kabari ya? Muach.” Jawab Aldo.


“Anjir! Mabok kali dia ya? Haha.” Jodi menjauhkan ponsel dari telinganya kemudian memandangi layar ponselnya.


“Kenapa Jod?.” Tanya Harvan.


“Cium gue dia tadi haha, bilang sayang lagi haha, mungkin lagi ada si Reyhan di dekatnya.” Jelas Jodi.


“Terus, udah ada info terbaru?.” Tanya Harvan.


“Belum, kayaknya dia lagi berusaha nyari tahu.”


“Asal kita tahun saja dulu tempat mereka tinggal sekarang, itu sudah cukup.” Ujar Harvan.


*


*


Sementara itu di suatu tempat terlihat Harin dan Revy begitu bahagia menunggangi macan putih yang melesat terbang diatas permukaan kebun sayuran. Perlahan macan putih yang mereka tunggangi semakin rendah hingga mendarat diatas kebun sayuran tersebut.


Harin dan Revy turun dari tubuh macan putih itu. Kemudian dengan bahagia mereka berlarian di kebun tersebut dibawah sinar bulan Purnama. Dan macan putih itu mengikuti dibelakan mereka.


“Kakak, Bagaimana perasaan kakak sekarang?.” Tanya Harin.


“Aku senang sekali menikmati kebebasan ini Harin, aku harus berterima kasih pada tantemu itu.” Jawab Revy yang kemudian memutar tubuhnya ke belakang dan berlari kecil ke arah macan putih itu.


Pada saat Revy mendekati macan putih itu, macan itu pun menghentikan langkahnya.


“Tante, terima kasih sudah menolongku keluar dari neraka itu.” Kata Revy pada macan putih itu. Kemudian macan putih itu memandangi Revy lalu mengedipkan kedua matanya. Seolah ia mengerti apa yang Revy katakan.


Lalu Revy berjalan kembali ke sisi Harin.


“Terus rencana kakak sekarang apa? Bukannya kakak akan pulang kembali ke rumah oma sama opa kakak?.” Tanya Harin.


“Entahlah Harin, tapi aku masih ingin bermain bersama kamu, aku merasa kamu sudah seperti adikku, padahal kita baru saja kenal ya?.” Ujar Revy.

__ADS_1


“Iya kak, aku juga merasa senang bertemu dengan kakak, aku merasa punya kakak yang begitu menyayangiku.” Kata Harin.


“Oya Harin, bagaimana kalau kita puaskan dulu bermain sebelum kamu pulang ke ayahmu, dan aku pulang ke Jerman.” Kata Revy. Harin terdiam sejenak, lalu,


“Baiklah kak kita puaskan dulu kebersamaan kita dengan berpetualang, yey.. haha.” Kata Harin bahagia.


“Oke. Haha.. Oya tapi kita berada dimana ini ya Harin?.” Revy memandang sekeliling.


“Aku juga tidak tahu kak, sepertinya kita ada di perkebunan sayur milik bapak petani hehe.” Harin pun melihat sekeliling.


“Iya mungkin, eh Harin, coba lihat! Disana ada sebuah gubug, ayo kita mendekat kesana.” Ajak Revy.


Kemudian mereka berdua berjalan mendekati gubug tersebut di ikuti oleh macan putih itu.


Gubuk bambu ditengah kebun sayur yang berukuran 3X3 meter dengan pencahayaan lampu remang-remang sepertinya tempat pemilik kebun sayur tersebut untuk beristirahat kala mereka tengah mengurusi kebun itu. Namun malam itu gubug yang lebih mirip gazebo itu tanpa penghuni.


“Oya Harin, untuk malam ini bagaimana kalau kita beristirahat di gubug ini saja, apa kau mau? Sepertinya kita butuh istirahat.” Kata Revy.


“Baiklah kak. Ayo kita istirahat di gubug ini.” Ujar Harin, kemudian mereka merebahkan tubuhnya di gubug itu bersama macan putih tersebut.


Cuaca yang begitu dingin tidak terasa oleh mereka karena tubuh macan putih itu menghangatkan tubuh mereka. Hingga mereka pulas melayang ke alam mimpi.


*


Suara kicauan burung dan suara-suara binatang lain menggugah mereka dari mimpinya. Perlahan Revy membuka matanya, sepertinya hari telah pagi, kemudian ia membangunkan Harin yang masih terlelap disampingnya.


“Harin, Harin ayo bangun, hari sudah pagi.” Revy menepuk pelan pipi Harin. Perlahan Harin membuka matanya.


“Kakak sudah lama bangun?.” Harin kemudian mengangkat tubuhnya duduk disamping Revy.


“Aku baru saja terbangun Harin, oya? Dimana tantemu?.” Tanya Revy heran melihat ke sekitar tidak menemukan macan putih itu.


“Biasanya tante kalau pagi pulang kerumahnya kak, nanti malam baru dia menemuiku lagi.” Jelas Harin.


“Oh begitu. Ya sudah ayo kita pergi dari sini, sebelum pemilik kebun ini datang.” Kata Revy menarik tangan Harin.”


Kemudian mereka berlari-lari kecil ditengah kebun sayur yang luas itu. Terpancar kebahagiaan dari keduanya kala mereka saling melempar senyum menikmati kehidupan yang terbebas bagai burung terbang diangkasa raya.


Semakin jauh mereka berlarian, semakin mereka sampai di pinggir jalanan, yang sepertinya jalan diantara perkebunan itu, biasa dilalui kendaraan roda empat.


“Harin, Kita sudah sampai ditepi jalan, coba lihat disana ada sebuah mobil, sepertinya mobil pengangkut sayuran, ayo kita dekati mobil itu.” Ajak Revy.


Kemudian mereka berdua berjalan mendekati mobil pick up yang membawa berbagai macam sayuran. Tetapi tak mereka temukan sopir dari mobil pick up tersebut.


“Harin, mungkin mobil ini akan berangkat ke kota, bagaimana kalau kita naik dibelakang mobil ini.” Revy mempunyai ide.


“Baik kak, ayo!.” Kata Harin semangat.


Kemudian Revy memangku Harin menaiki belakang mobil pick up itu, disusul dengan dirinya. Kini tubuh mereka berada diatas sayuran segar yang berada pada pick up tersebut. Mereka melihat berbagai macam sayuran berada disekitar mereka, seperti wortel, tomat, kol, sawi dan lain-lain.


Pada saat mereka melihat ada seseorang dari kejauhan yang berjalan kearah mereka, lekas mereka menyembunyikan tubuh mereka di bawah sayuran sawi sehingga tubuh mereka tidak terlihat.


Orang yang mendekat ke arah mobil pick up tersebut rupanya adalah orang yang akan membawa sayuran itu ke luar dari kebun tersebut, setelah memastikan sayuran yang ia bawa aman, ia pun duduk dibelakang kemudi dan langsung tancap gas.


Sementara Harin dan Revy yang menumpang dibelakang bersama sayuran itu merasa mobil itu berjalan. Merela mengangkat kepalanya kemudian saling berpandangan dan tersenyum.


“Kita jangan berisik Harin, nanti ketahuan sama pemilik sayuran ini, kalau kita ketahuan pasti dia akan marah.” Bisik Revy pada Harin.


“Iya kak, kita diam saja sampai mobil ini berhenti ya?.” Ujar Harin sama berbisik.


“Iya, eh coba lihat di sebelahmu, itu buah tomat nya besar-besar sepertinya enak ya?.” Kata Revy melihat kearah tumpukan buah tomat di sebelah Harin. Kemudian mengambil satu buah dan menggigitnya.


“Wah, ini enak sekali Harin, ayo kamu coba.” Kata Revy, kemudian ia menyuapkan pada Harin tomat yang telah ia gigit tadi.

__ADS_1


“Mh, benar kak, segar dan rasanya sangat manis, aku juga mau ambil satu.” Kemudian Harin mengambil sebuah tomat disampingnya dan menggigitnya.


Keduanya pun menikmati buah tomat tersebut sembari menikmati pemandangan indah ditengah perkebunan dan menikmati perjalanan yang baru pertama kali dalam hidup mereka.


Tak terlihat beban dan kesedihan pada keduanya, mereka begitu menikmati kebebasan dan petualangan bagai burung lepas di angkasa.


Tak terasa sepertinya mereka merasakan bahwa mobil itu berhenti. Pada saat Revy mengintip sopir kendaraan itu keluar dari mobilnya dan melangkah menuju kios didepan mobil tersebut.


Dengan cepat Revy dan Harin turun dari mobil pick up tersebut lalu berlari menjauh dan memasuki jalanan sempit yang di kanan kirinya toko pakaian.


Sepertinya mereka tengah berada di sebuah pasar rakyat, mereka terus menyusuri pertokoan tersebut hingga mereka sampai disebuah penjual nasi uduk.


“Kakak coba lihat! Ada nasi warna kuning, sepertinya enak.” Kata Harin menghentikan langkahnya didepan penjual nasi uduk itu, ia baru pertama kalinya melihat nasi uduk.


“Iya, aku juga baru lihat ada nasi warna kuning, sepertinya enak, tapi….” Ucapan Revy terhenti.


“Kenapa kak?.” Tanya Harin.


“Kita tidak punya uang Harin.” Revy menunduk, tapi kemudian dia ingat kalau di dompetnya ia memiliki uang euro pemberian neneknya.


“Eh Harin, tunggu sebentar.” Kemudian dia membuka tas nya dan mengambil dompetnya, didalam dompetnya ia menemukan beberapa uang euro, pecahan 100 euro.


“Aku ada uang pemberian oma, tapi ini mata uang Jerman, kita harus tukarkan dulu ke mata uang rupiah, ayo kita cari tempat untuk menukarkan uang ini.” Revy menarik tangan Harin.


“Setelah kita tukarkan uang ini, kita bisa beli nasi berwarna kuning itu Harin.” Kata Revy sembari berjalan memegang tangan Harin melihat kanan kiri, barang kali ada toko untuk bisa menukarkan uang euro nya. Tiba-tiba langkah Revy terhenti kala ia melihat sebuah toko yang terdapat tulisan Money changer didepan kacanya.


Dengan cepat Revy memasuki toko itu. Beberapa orang di tempat itu melihat pada kedua anak bule yang masuk ke toko tersebut, lalu seorang pelayan wanita mendekat,


“Ada yang bisa di bantu de?.” Tanya pelayan tersebut.


“Oya kak maaf, apa disini bisa tukar mata uang asing?.” Kata Revy.


“Bisa de, Ade mau tukar mata uang?.”


“Iya kak, aku mau tukar mata uang Jerman.”


“Oh boleh, ayo Ade ikut kedalam.” Kemudian pelayan wanita itu membawa Harin dan Revy masuk kebagian dalam dari toko itu.


Pelayan itu membawa mereka pada Bossnya.


“Ko, ini ada anak bule mau tukar mata uang asing.” Kata pelayan itu pada Boss nya.


Kemudian si koko itu melirik kearah Revy dan Harin, lama sekali koko itu memandangi Revy dari atas sampai bawah. kemudian menyuruhnya duduk.


“Silahkan duduk de, maaf, betul Ade mau menukar mata uang asing?.” Tanya si koko tak yakin.


“Betul Tuan.” Kemudian Revy memperlihatkan selembar uang pecahan 100 euro. Kemudian menyerahkan pada orang tersebut.


“Dimana orang tua kalian?.” Tanya si koko menyelidik. Karena merasa aneh ada anak bule datang ketempatnya tanpa di dampingi oleh orang tuanya.


DUG jantung Revy berdegup, ia bingung mau menjawab apa, kalau dia bilang bahwa dia tengah kabur pasti orang ini akan melaporkan pikirnya, kemudian Revy mencari cara untuk mengelabui orang tersebut agar tidak curiga.


“Orang tua kami sedang makan nasi uduk di ujung sana, kami tidak punya uang rupiah karena baru datang dari Jerman, jadi orang tua kami menyuruh kami untuk menukarkan uang ini ke sini.” Kata Revy membohongi si koko tersebut, dan sepertinya ia percaya.


“Oh begitu, baiklah. Hanya selembar ini saja mata uang yang akan ditukar?.” Tanya si koko.


“Iya tuan untuk sementara hanya ini dulu karena kami mau membayar nasi kuning di ujung sana.” Kata Revy meyakinkan.


“Baiklah kalau begitu.” Tanpa bertanya lagi pemilik toko tersebut mengambil uang 100 euro tersebut, kemudian menghitung uang rupiah di depan mereka.


“Nah ini de, bilang pada orang tuanya ya, hari ini nilai tukar mata uang euro terhadap rupiah yaitu 1 euro jatuh pada Rp. 16.000, jadi uang rupiah yang diterima Rp.1.600.000.” Jelasnya.


“Baik Tuan, akan kami sampaikan pada orang tua kami.” Jawab Revy.

__ADS_1


Setelah Revy menerima uang rupiah pecahan seratus ribuan dan memasukan kedalam dompetnya. Ia pun pergi meninggalkan tempat money changer itu. Berlari menuju pedagang nasi kuning.


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹


__ADS_2