
Hari yang telah di rencanakan untuk pertemuan itu telah tiba. Dimana Harvan dan istri akan menemui Tuan Chin Hwa di hotel tempat ia tinggal selama di negara ini.
Harvan dan Intan sudah siap untuk menemui tuan Chin Hwa. Dan Harvan pun sudah menjelaskan kepada Intan, semua informasi yang telah Harvan dapatkan, dan Intan mengerti semuanya.
Dalam perjalanan menuju hotel Bintang lima tempat tuan Chin Hwa. Intan terlihat gugup.
“Sayang.. kenapa ya perasaanku tidak enak mau ketemu dengan tuan Hwa itu.” Kata Intan.
“Tenang, kan ada aku, jadi kau tidak perlu khawatir ya sayang.” Jawab Harvan menenangkan istrinya.
“Kau tahu tidak sayang? Pantas saja waktu di acara perjamuan malam itu, dia terus saja menatapku, aku sampai takut di buatnya, padahal dia melihat mata istrinya yang ada padaku.” Jelas Intan.
“Iya sepertinya dia sangat merindukan istrinya. Oya, apa selama kau dirawat di rumah sakit Korea itu, kau pernah bertemu dengan istri tuan Chin Hwa?.” Tanya Harvan.
“Tidak pernah sayang.” Jawab Intan.
“Aku kira dia pernah bertemu denganmu, ternyata memang menurut informasi, istri tuan Hwa hanya tahu ada yang butuh donor mata dari temannya, yaitu dokter yang melakukan operasi padamu.” Jelas Harvan.
Mereka berdua terus berbincang dalam perjalanan menuju hotel itu, hingga akhirnya sampailah mereka di halaman parkir. Harvan turun membawa Intan, kemudian mereka berlalu memasuki hotel tersebut menuju tempat yang telah mereka janjikan untuk bertemu dengan tuan Chin Hwa.
Pada saat mereka memasuki restoran di hotel itu, sudah nampak dari kejauhan pria oriental tengah duduk di temani asistennya. Dari jauh mereka sudah menangkap dengan pandangannya, kedatangan Harvan dan Intan yang berjalan mengarah kepadanya.
Kemudian mereka berdiri menyambut Harvan dan Intan dengan senyum ramahnya. Harvan dan Intan semakin mendekat hingga sampailah di hadapan mereka.
“Selamat datang tuan Harvan dan Nyonya?.” Sambut pria tersebut.
“Terima kasih tuan Hwa telah mengundang kami.” Jawab Harvan.
“Silahkan duduk tuan dan nyonya.” Kata tuan Hwa.
“Baik, terima kasih.” Jawab Harvan yang kemudian duduk bersama Intan.
“Baik tuan Harvan dan Nyonya, sebelumnya saya minta maaf, apabila undangan saya mengganggu aktivitas tuan dan nyonya.” Kata tuan Hwa.
“Sama sekali tidak mengganggu tuan Hwa, justru kami merasa terhormat tuan Hwa mengundang kami disini” Jawab Harvan.
“Terima kasih.” Ujar tuan Hwa dengan senyuman ramahnya, kemudian ia memandangi Intan lama sekali, hingga membuat Intan merasa gugup, Harvan menyadari istrinya merasa tidak enak hati, kemudian Harvan menenangkannya dengan memegang punggung tangan istrinya.
“Maaf nyonya Harvan, anda tidak perlu takut dengan saya, saya hanya merindukan istri saya.” Ujarnya melemah.
“Tidak apa-apa tuan Hwa, kami mengerti apa yang tuan hwa rasakan.” Terang Harvan.
“Ya, mungkin tuan Harvan pun sudah tahu maksud dan tujuan kedatangan saya kemari, tidak ada maksud untuk mengganggu ketentraman hidup tuan Harvan dan Nyonya, saya hanya merasa perlu tahu lebih dalam tentang masalah yang saya rasakan ini.” Ujar tuan Hwa.
“Saya banyak melakukan kesalahan terhadap istri saya, saya terlalu egois terhadapnya. Seharusnya saya mengerti perasaannya seperti ia sangat mengerti perasaan saya. Saya sangat menyesali segalanya.” Sambung tuan Hwa.
“Beberapa bulan lalu seorang dokter mendatangi saya, ia menceritakan kepada saya bagaimana perasaan istri saya terhadap saya, sampai akhirnya ia mengatakan, suatu peristiwa dimana istri saya mengatakan, ia masih ingin tetap hidup walau berada pada jiwa yang lain. Dengan harapan agar saya tidak merasa kesepian meski ia telah pergi.” Jelas tuan Hwa dengan raut muka sedihnya.
Harvan, Intan dan asisten Min Joon, terdiam menyimak penuturan tuan Hwa. Kemudian ia melanjutakan penuturannya kembali,
“Saya tidak percaya istri saya mengatakan hal itu, seandainya saya tahu dari awal, tentu saya tidak akan membuatnya merasa tak nyaman dengan ke egoisan saya. Saya melarangnya untuk melepaskan kariernya karena saya begitu mencintainya. Tetapi cara saya mencintainya membuat ia tak nyaman. Kemudian setelah dokter itu mengatakan bahwa istri saya memberikan mata kepada pasiennya, itu membuat saya merasa hancur karena kebodohan saya. Untuk itu saya datang mencari anda tuan Harvan, karena saya ingin melihat mata indahnya yang ia sisa kan untuk saya.” Jelasnya kembali dengan mata yang berkaca-kaca karena penyesalan yang ada dalam dirinya. Kemudian,
“Setelah saya melihat matanya pada istri anda, membuat saya lega dan tenang. Ia telah hidup nyaman di sana. Dan saya melihat ia telah memaafkan saya.” Ucapnya, sebentar terhenti kemudian melanjutkan,
“Nyonya Harvan, tolong jaga ia, saya titipkan ia pada anda. Saya percaya anda mampu menjaganya dengan baik. Hanya ia yang tersisa kini. Selama ia hidup dengan saya, saya tidak mampu membuatnya bahagia. Saya telah gagal menjadi suami karena ke egoisan saya.” Ucapnya menahan perih di hatinya.
“Maaf kan saya tuan. Sebelumnya saya tidak tahu karena pada saat itu dokter tidak membuka identitas pendonor, seandainya dulu ia katakan siapa orangnya. Tentu dari awal saya yang pertama mendatangi anda. Saya sangat berterima kasih kepada anda, dengan kornea mata istri anda, saya dapat melihat kembali indahnya dunia, dengan mata ini, saya kembali bersemangat menjalani hidup. Mungkin jika bukan karena kebesaran hati istri anda, saya tidak akan pernah menemukan kebahagiaan saya kembali. Tuan jangan khawatir, saya akan menjaganya dengan baik. Biarkan ia hidup nyaman bersama saya. Dengan begitu, ia akan selalu melihat perjalanan anda.” Tutur Intan.
“Baik nyonya Harvan, saya juga sangat berterima kasih pada anda. Mungkin seandainya tidak ada anda, ia pun tidak akan pernah meninggalkan kenangan terindahnya untuk saya. Saya sangat bersyukur dapat mengenal anda.” Ungkap tuan Hwa.
Kemudian hening di antara mereka. Hanya alunan musik sayup-sayup yang terdengar dari ruangan tempat mereka berada. Lalu,
“Besok saya akan kembali ke negara saya. Mengenai perjanjian kerja sama pihak perusahaan kami dengan perusahaan anda, akan berlanjut sesuai dengan rencana. Semoga kerja sama yang kita jalin akan menjadi jembatan sebagai langkah awal kemajuan kita bersama tuan Harvan.” Ujar tuan Hwa.
“Baik tuan Hwa, terima kasih atas kepercayaan anda kepada saya, saya janji dengan profesionalisme yang kami bangun, kerja sama ini akan berlanjut dan semakin maju.” Jelas Harvan.
“Baiklah kalau begitu, mungkin sampai di sini dulu pertemuan kita. Semoga saya dapat bertemu kembali dengan anda di lain waktu dan kesempatan.” Ujar tuan Hwa.
“Baik tuan Hwa. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Kami permisi dulu.” Kata Harvan yang lantas menjabat tangan tuan Hwa dan asistennya. Begitupun dengan Intan.
Pada saat tuan Hwa. menjabat tangan Intan, ia menatap Intan dengan intens, memandangi mata istrinya pada Intam dengan tatapan yang dalam. Seraya berkata:
__ADS_1
“Titip dia untukku.” Ucapnya.
“Baik tuan, dia bahagia bersamaku.” Jawab Intan dengan senyum termanisnya.
Kemudian Intan dan Harvan pun berlalu dari tempat itu, tuan Hwa dan Min Joon memandangi kepergian mereka. Terselip rasa bahagia di hatinya, karena ia telah menemukan tatapan itu kembali setelah sekian lama ia merindukannya.
*
Dalam perjalanan, setelah pertemuan itu.
“Sayang, kau ikut ke kantorku dulu ya?.” Ajak Harvan.
“Iya sayang.” Jawab Intan.
“Bagaiman sekarang perasaanmu? Sudah lega kan?.” Tanya Harvan.
“Iya sayang, sekarang aku sudah nyaman.” Jawab Intan.
“Syukurlah.” Jawab Harvan.
Dan kuda besi yang mereka tumpangi pun melesat memecah jalanan Ibu kota dengan hiruk pikuk keramaiannya.
Sampailah Intan dan Harvan di gedung kantor. Mereka masuk keruangan tempat Harvan bekerja.
“Sayang, ruangan kerjamu bagus sekali.” Ujar Intan dengan kagum.
“Kau suka?.” Tanya Harvan.
“Iya suka sekali.” Jawab Intan.
Kemudian Harvan memeluk istrinya dari belakang. Menghadap ke depan jendela. Memandangi pemandangan gedung bertingkat yang berjajar rapi di depannya.
“Aku akan tunjukan sesuatu padamu.” Bisik Harvan.
“Apa?.” Tanya Intan.
Dengan cepat harvan memangku istrinya. Membawanya ke kamar pribadinya yang berada di ruangan kerja itu. Kemudian menjatuhkan dirinya dan tubuh Intan di atas tempat tidur. Sehingga tubuh Harvan bertumpu di atas tubuh Intan. Tetapi baru saja mereka akan melakukan adegan mesra, terdengar suara pintu di ketuk. TOK..TOK.. TOK
Intan hanya tersenyum manis. Kemudian Harvan mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Intan, dan berlalu keruang kerjanya.
“Masuk.” Ujarnya datar.
Di lihatnya Jodi yang membuka pintu dan ia masuk.
“Lo ganggu aja sih ah.” Kata Harvan kesal.
“Apaan sih, datang-datang gue di semprot.” Kata Jodi.
“Elo tuh gak ngerti sikon.” Ujar Harvan.
“Emangnya kenapa?.” Tanya Jodi.
Kemudian Intan keluar dari ruangan pribadi Harvan.
“Oh ada bini elo rupanya, kenapa gak bilang.” Ujar Jodi.
“Eh ada kak Jodi, apa kabar?.” Tanya Intan.
“Baik Tan, kamu di kantor ngapain?.” Jodi balik bertanya.
“Tadi kita habis ketemu sama tuan Hwa di hotel.” Jawab Intan.
“Oh udah ketemuannya, gimana Har hasilnya?.” Tanya Jodi.
“Lancar.” Jawab Harvan pendek.
“Cerita dong, gak terjadi apa-apa kan?.” Tanya Jodi penasaran.
“Ya gak lah, emangnya kita datang kesana mau nyari ribut apa?.” Ujar Harvan.
“Ya.. kali.. elo cemburu haha.” Kelakar Jodi.
__ADS_1
“Gila lo!.” Sentak Harvan.
Kemudian mereka bertiga duduk di sofa dalam ruangan itu.
“Oya kak gimana kabar Vivi?.” Tanya Intan.
“Dia makin cinta tuh kayanya sama gue Tan.” Jelas Jodi.
“Oya? Bagus dong kak, bentar lagi deh kayaknya janur kuning melengkung hehe.” Canda Intan.
“Kalau dia serius.. kalau gak, gitu aja terus dia mah.” Kata Harvan.
“Enak aja lo! Kali ini gue serius lah.” Terang Jodi.
“Bagus deh kalau elo dah mikir.” Timpal Harvan.
“Eh tau gak Har?, waktu pulang dari perjamuan malam itu, masa gue langsung di suruh nginap di rumahnya.” Ujar Jodi.
“Terus elo mau? Buaya pastinya langsung mau.” Ledek Harvan.
“Ya gue gak bisa nolak tawaran cinta Vivi lah Har, lagian dia tinggal di rumah segede itu sendiri, kasihan kan kalau gak ada yang nemenin hehe.” Ujar Jodi.
“Cari Kesempatan elo sih.” Kata Harvan.
“Oya sayang kalau kamu lelah tiduran dulu aja di kamar ya, aku mau ngobrol dulu sama Jodi.” Sambung Harvan.
“Baiklah” jawab Intan yang langsung berlalu ke kamar yang ada di ruangan tersebut.
“Eh terus, elo ngapain aja di rumah si Vivi?.” Tanya Harvan.
“Ya gitu deh.” Jawab Jodi dengan senyum menyeringai.
“Gitu gimana?.” Tanya Harvan penasaran.
“Ya gitu.. bonen, Bobo ***** haha.” Kelakar Jodi.
“Gila lo ya, jangan samain si Vivi sama cewek yang lain dong Jod.” Kata Harvan.
“Lagian dia nya yang nyosor-nyosor Har, mana gue tahan kalau di sosor kayak gitu.” Terang Jodi.
“Ya harusnya elo bisa nahan Jod, elo kan mau serius sama dia, tahan dulu napa?! Sampe elo resmi sama dia.” Jelas Harvan.
“Gue gak bisa nahan Har, tongkat komando gue meronta-ronta saat lihat dia pake gaun tidur transparan. Coba elo bayangin ya, dia minta tidur di temenin di kamarnya, gue udah jaim nolak, di tarik-tarik sama dia, ya gue gak bisa nolak, pasrah gue.” Kata Jodi.
“Terus apa yang terjadi?.” Tanya Harvan.
“Ya gitu, dia minta sendiri, udah gatel dia sama gue haha.” Jelas Jodi.
“Gila lo ya!” Kata Harvan.
“Tapi gue bakal tanggung Jawab kok Har. Gue udah sayang sama dia. Gue gak akan macem-macem lagi. Gue dah bosen main cewek terus.” Timpal Jodi.
“Syukur deh kalau gitu.” Ujar Harvan.
Lama mereka berbincang dengan di iringi candaan Jodi yang selalu menghidupkan suasana di saat mereka sedang berdua.
“Ya udah gue tinggal dulu keruangan, kayaknya tongkat komando elo udah tegang tuh, haha.” Kelakar Jodi, dan ia langsung meninggalkan ruangan Harvan.
Harvan geleng-geleng kepala menanggapi kelakar Jodi. Kemudian ia berlalu pergi ke ruangan pribadinya. Didapatinya Intan tengah tiduran sambil membaca buku, kemudian Harvan mendekati istrinya itu.
“Cerita apaan sih kak Jodi sampe ketawa-tawa gitu sayang?.” Tanya Intan.
“Biasalah urusan lelaki hehe.” Jawab Harvan yang kemudian menangkupkan tubuhnya ke atas tubuh istrinya.
Ia ambil buku yang di pegang istrinya itu, kemudian menyimpannya ke meja nakas dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.
Di tautkannya bibir kokohnya ke bibir merah delima istrinya. Saling membalas hingga suasana memanas. Tangan yang gesit bergerilya ke tubuh sang istri membuat kemesraan di antara mereka tak terelakkan lagi.
Hingga terjadi pergumulan diantara mereka. Membawa mereka ke puncak tinggi cakrawala Nirwana, yang membuat mereka berdua menggelepar dan terkulai lemas.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
__ADS_1