
Perang bathin tengah berkecamuk dalam diri Harvan. Timbulnya rasa cinta pada Delima menjadi dilema baginya. Di sisi lain ia tengah merasakan gelora asmaranya terhadap wanita tersebut, di sisi lain ia masih merasakan risau karena apa yang di katakan Jodi mengenai Delima mengganggu hati dan perasaannya.
Tak dapat di pungkiri ia pun merasakan bahwa ia terlalu cepat jatuh cinta pada wanita itu, entah alasan apa sehingga ia dengan mudahnya menjatuhkan hati pada Delima. Apa karena Delima mirip Istrinya, Intan yang telah lama meninggal? Atau karena hal lain?. Entahlah, yang jelas rasa cinta itu tiba-tiba saja menyentuh kedalam hati sanubarinya tanpa permisi dan tanpa alasan.
Yang ia rasakan adalah pada saat dekat dengan Delima, ia merasakan kedekatannya seperti dengan istrinya dulu. ia pun melihat bagaimana Delima memperlakukan Harin begitu sangat membuatnya terkesan, Delima memperlakukan putrinya seperti pada anak kandungnya sendiri. Dan yang lebih menarik hatinya adalah sesuatu tarikan seperti magnet yang tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata.
Tarikan itu seperti sebuah misteri yang sengaja memdekatkannya dengan Delima. Namun ia tidak mengerti begitu kuatnya tarikan itu hingga ia tidak mampu mencerna dengan akal pikirannya.
Perihal Jodi yang mewanti-wanti dirinya, ia sangat sadar mengapa Jodi bersikap demikian. Bukan tanpa alasan Jodi bersikap demikian, yang ia tahu Jodi adalah orang kepercayaannya dari dulu yang sangat mengerti dirinya. Maka wajar saja jika Jodi ikut campur dalam urusan hati tuan nya.
Begitupun dengan apa yang di rasakan Jodi, perang bathin yang ia rasakan adalah, dimana ia merasa bimbang mengenai menentukan waktu untuk menyampaikan informasi pada Harvan tentang Delima.
Jika ia berlama-lama menyimpan rahasia ini ia khawatir Harvan akan terlanjur lebih dalam terbawa perasaannya sehingga jika ia sampaikan nanti, akan berdampak lebih buruk pada tuannya itu. Sementara jika ia harus mengatakannya lebih awal, ia belum siap melihat reaksi apa yang akan terjadi terhadap tuannya.
Dengan berbagai macam pertimbangan akhirnya Jodi memutuskan bahwa ia harus mengatakannya sekarang juga. Dalam hemat nya, sekarang atau nanti hasilnya akan sama saja bahwa tuannya akan merasakan kecewa pada Delima, hanya saja jika di sampaikan dari awal dampaknya tidak akan terlalu berat, begitu menurut pemikiran Jodi.
Dengan mempersiapkan segalanya untuk mengantisipasi kemungkinan yang terjadi, ia memberanikan diri mengatakan semuanya pada Harvan di ruangan tuan nya itu.
Hari ini adalah seminggu kemudian setelah Jodi mendapatkan Informasi itu. Dengan iringan degup jantung yang menderu jodi memasuki ruang kerja Harvan.
Setelah ia masuk, ia melihat Harvan tengah tersenyum bahagia di depan layar laptopnya, sudah dapat di pastikan ia tersenyum karena tengah menyaksikan wanita yang ia cintai kini bersama putri tercintanya.
Perlahan Jodi masuk, menghela nafas panjang dan mulai mengajak Harvan bicara.
“Har.” Sapa jodi yang telah duduk di ruangan tersebut.
“Ya.” Jawab Harvan namun pandangannya masih fokus pada layar laptopnya.
Hampir saja Jodi mengurungkan niatnya karena ia merasa tidak tega saat membayangkan senyuman tuannya itu sebentar lagi akan berubah menjadi kesedihan. Namun ia tidak punya pilihan lain bahwa saat ini lah saat yang tepat untuk mengutarakan segalanya, sebelum terlanjur lebih dalam lagi.
“Har gue udah dapat info mengenai Delima dari team gue.” Ujar Jodi berusaha bersikap biasa padahal hatinya tengah bergemuruh.
__ADS_1
“Oya?.” Harvan beranjak dari tempat duduknya menghampiri Jodi. Kemudian ia duduk di samping Jodi.
“Bagaimana Jod?.” Tanya Harvan penasaran,
Jodi terdiam, memandang lekat pada sahabatnya itu.
“Ayo katakan. Ada info apa?.” Tanya Harvan kembali.
“Har. Elo siap mendengar semuanya?.” Jodi semakin berat untuk mengatakannya.
“Emang ada apa Jod?.” Wajah Harvan terlihat berubah sedikit cemas.
“Sebelum gue cerita, elo harus janji dulu sama gue, elo harus tenang dan jangan bertindak gegabah dulu. Pokonya apa pun yang terjadi gue yang akan menyelesaikannya, elo cukup diam.” Jelas Jodi.
“Iya tapi ada apa? Cepat elo ngomong! Jangan bertele-tele!.” Desak Harvan.
“Oke, gue mau cerita semua sekarang. Begini, Delima selama setahun ini tinggal di Surabaya bersama pengusaha itu karena istri ke-3 pengusaha itu adalah temannya waktu dia kuliah S2, namanya Almira. Si Almira menawarkan Delima untuk bekerja di perusahaan suaminya, dengan alasan itu Delima di suruh tinggal bersama mereka. Namun ternyata si pengusaha itu suka sama Delima dan bermaksud menjadikan Delima istri ke-4 nya. Hingga sampailah terjadi sesuatu dimana si pengusaha ada yang berusaha membunuhnya. Dan…” Jodi menghentikan kata-katanya.
“Jod katakan!.” Harvan sudah mulai tidak sabar dalam ketegangannya.
“…..Dan sekarang Delima menjadi buronan polisi Har.” Jodi menyampaikan dengan penuh hati-hati sembari ia bersiap melihat reaksi Harvan. Nampak dari pandangannya terlihat perubahan air muka Harvan menjadi pucat pasi dengan kedua tangan meremas rambutnya. Harvan menundukkan wajahnya.
Suasana berubah menjadi hening, lama mereka terdiam. Kemudian,
“Har, Info nya belum lengkap, makanya gue nyuruh elo jangan gegabah dulu tunggu sampai informasi selanjutnya, gue berharap bukan Delima yang membunuh pengusaha itu. Siapa tahu dia dijebak atau ada kemungkinan lainnya karena si pengusaha itu sekarang masih koma.” Jelas Jodi.
Harvan merubah posisi duduknya, ia kini menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dengan wajah menengadah ke langit-langit ruangan. Tanpa bicara dan suara, entah apa yang berada di dalam pikirannya.
Jodi terus memperhatikan Harvan dengan menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya.
“Har, gue harap elo jangan tanyakan dulu sama Delima sebelum gue dapat info yang akurat. Benar tidaknya, dia atau bukan pembunuhnya, kita lihat nanti. Elo bersikap biasa aja sama dia jangan tunjukin kalau elo tahu semua itu.” Kata Jodi.
__ADS_1
Tanpa berkata apa pun Harvan melangkah ke kamar pribadinya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dengan wajah yang masih pucat ia memejamkan matanya yang merah karena menahan suatu perasaan dan entah perasan apa yang kini tengah bergelayut dalam pikirannya.
(Oh Tuhan… cobaan apa lagi ini? Kenapa aku selalu di rundung masalah yang pelik. Kenapa masalah yang aku hadapi tidak pernah selesai. Kenapa Tuhan?.. sekarang di saat aku membuka hatiku kembali, masalah besar nampak di depan mataku. Tuhan.. aku adalah manusia biasa yang tidak selamanya kuat menanggung cobaan yang Engkau berikan. Aku kehilangan istriku tercinta dan membesarkan anakku sendiri saja sudah merupakan masalah yang sangat berat untukku. Kini aku berusaha menata hidupku kembali dengan menerima kehadirannya agar aku bisa kembali bersemangat menjalani hariku dengan putri tercintaku, tetapi apa yang aku dapat? kini masalah baru harus aku hadapi sementara masalah lain pun masih belum terselesaikan. Dan kau Delima… kenapa kau tidak mengatakan dari awal apa yang terjadi padamu… kenapa kau membohongiku seolah-olah kau tak membawa masalah padaku. Aku tidak tahu apakah aku harus membencimu atau masih mencintaimu. Bodohnya aku begitu gampang terpikat olehmu hanya karena kau mirip istriku. Aku kecewa padamu, juga kecewa pada diriku. Lalu sekarang bagaimana dengan nasib putriku? Apa yang harus ku katakan pada putri kesayanganku tentang semua ini…. Aku tak ingin dia terluka, hidupnya sudah cukup menderita tanpa kehadiran sang ibu sejak ia bayi merah. Hidupnya kurang bahagia karena kepincangan dalam keluarga, lalu haruskah kesepiannya ia rasakan kembali?… Intan, kenapa kau menghilang? Kenapa kau tak ada lagi dalam mimpiku, mengisi hari-hariku. Aku ikhlas kau pergi meski kepergianmu begitu menyakitkan, dan aku bahagia kau selalu hadir dalam mimpiku memberikan kebahagiaan meski itu hanya bayangan. Istriku… saat ini aku butuh kamu untuk menenangkan hatiku. Aku rapuh tanpamu.)
Pecah air matanya kala itu. Hancur hatinya entah untuk yang ke berapa kalinya.
Ia tak menyalahkan siapa pun dalam masalah yang ia hadapi kini. Tidak pada Jodi yang mengatakan berita buruk ini, juga pada Delima wanita yang baru ia kenal dan mulai tumbuh rasa cinta dalam hatinya. Ia hanya merasa kecewa akan keadaan yang memaksanya menjadi manusia yang lemah.
Seandainya saja ia tidak cepat terpikat tentunya ia tak akan merasakan hal sesakit ini.
Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Pada situasi sulit seperti ini sepertinya pikirannya buntu. Ia membutuhkan ketenangan seperti apa yang di katakan Jodi agar ia tak gegabah.
Tapi bagaimana mungkin dia harus berpura-pura tidak tahu masalah Delima saat ia ada bersamanya?. Hal itu lah yang tidak bisa ia lakukan. Baginya berpura-pura adalah hal mustahil yang tidak seharusnya ia lakukan.
Semakin lama ia berfikir semakin penat kepalanya hingga kepenatan itu membawanya ke alam mimpi.
*
Entah sudah berapa jam ia terlelap dalam buaian mimpi, hingga ia terbangun oleh suara yang memekakan gendang telinganya membuat ia terjaga.
“Har, ayo bangun! Kita pulang.” Kata Jodi.
Lalu ia bangkit dan berlalu meninggalkan ruangan pribadinya. Berjalan keluar ruangan dengan langkah gontainya.
Jodi mengikutinya dari belakang sampai mereka memasuki kendaraannya.
Sampai di dalam rumahnya, ia mendapati putrinya tengah di kamarnya bersama wanita yang membuat kacau hatinya. Tanpa berkata-kata ia meninggalkan kamar putrinya itu dan hanya sekilat memandangi Delima lalu ia masuk kedalam kamarnya.
Melihat keadaan Harvan yang tidak biasa ia sedikit bertanya-tanya. Karena biasanya lelaki itu selalu menggodanya tapi kali ini tidak sama sekali. Akhirnya ia menduga bahwa lelaki itu tengah lelah.
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔
__ADS_1