
Singkat cerita. Sudah satu minggu Harvan dan Delima berada di Surabaya untuk menyelesaikan masalah yang tengah mereka hadapi. Sementara Jodi berada di Jakarta, selain mengurusi urusan perusahaan, Jodi pun mengurusi putri kecil Harin.
“Om…. Kok ayah sama ibu lama sekali perginya gak pulang-pulang.” Kata Harin.
“Kan di sana ayah sama ibu masih banyak urusan sayang, nanti juga pulang. Memangnya kamu gak suka om yang urusin kamu sayang?.”
“Aku suka om selalu jaga aku. Cuma aku kangen saja sama ibu dan ayah, rasanya lama sekali mereka pergi.” Katanya sembari mengerucutkan bibir mungilnya.
“Ayah sama ibu baru satu minggu saja pergi artinya sebentar lagi mereka pulang, kan setiap hari juga kamu video call sama ayah juga ibu, jadi gak usah di kangenin nanti juga pada pulang.”
“Iya…iya… ayah sama ibu juga semalam bilang, sebentar lagi mereka pulang.”
“Nah itu kamu sudah tahu sayang.. jadi jangan di tunggu-tunggu lagi, nanti juga mereka pulang sendiri. Ayo sekarang selesaikan sarapannya kita pergi ke kantor ikut om lagi, nanti pulang ngantor kita nge mall.” Bujuk Jodi pada Harin. Dan ternyata bujukannya berhasil.
“Yeah… kita nge mall. Om traktir aku ya?.” Keceriaan terpancar dari wajah cantiknya.
“Pastinya dong… apa pun yang kau mau akan om belikan sayang.”
“Asyik… makasih om Muach.” Putri kecil itu melompat seraya memeluk Jodi dan mencium pipinya.
“Ya udah yuk sekarang kita berangkat ke kantor.” Kata Jodi seraya memangku putri kecil itu.
“Oke.” Dan mereka pun berlalu dari ruang makan menuju halaman depan.
Sesampainya di halaman depan, Jodi meletakan tubuh Harin di sampingnya, sementara Jodi yang telah duduk di belakang kemudi siap meluncurkan kuda besinya meninggalkan kediaman mereka menuju kantor.
Sepanjang perjalanan, terlihat Harin begitu ceria, ia bernyanyi mengikuti alunan musik yang di putar di mobilnya. Sesekali Jodi melirik kesampingnya dan tersenyum melihat tingkah Harin yang lucu dengan memanyun-manyunkan bibirnya dan menggerak-gerakan tubuhnya.
Tanpa terasa mereka pun sampai di halaman parkir gedung kantor. Kemudian mereka pun masuk ke dalam gedung tersebut.
Sesampainya di dalam ruangan Jodi, Harin langsung di letakan pada sofa yang berada diruangan tersebut dan seperti biasa agar Harin anteng Jodi memberikan tab nya pada gadis kecil itu, sementara dia duduk di kursi kebanggaannya mengerjakan tugas kantornya.
Tak berapa lama….tok tok tok terdengar suara pintu di ketuk dari luar, setelah di persilahkan masuk, Diana sang sekretaris pun masuk menghadap Jodi.
“Selamat pagi Boss!.”
“Pagi Diana, ada apa?.”
“Waktu meeting dengan kepala cabang lima menit lagi Boss.”
“Oke, saya segera ke ruangan meeting sekarang.”
“Bagaimana dengan putri kecil Boss besar? Apa perlu saya yang menjaganya Boss?.” Tawar Diana.
“Tidak usah Diana, saya mau bawa dia keruangan meeting.”
“Maaf, apa tidak akan mengganggu Boss?.”
“Tidak Diana, asal dia pegang tab dia akan anteng asal dekat dengan saya, justru kalau jauh dengan saya dia takutnya rewel.” Jelas Jodi.
“Baiklah Boss.”
__ADS_1
“Ya sudah kamu kembali ke ruanganmu, saya akan ke ruang meeting sekarang.”
“Baik Boss saya permisi dulu.” Kata Diana lantas meninggalkan ruangan Jodi.
“Ayo sayang, ikut om rapat.” Kata Jodi seraya menggendong tubuh kecil itu.
“Nanti om mau meeting, sayang jangan berisik ya?.” Sambung Jodi pada Harin dalam pangkuannya.
“Iya om.” Jawab putri kecil itu tetap fokus pada tontonan dalam tab nya.
Dan mereka pun berlalu menuju ruangan meeting, pada saat Jodi yang memangku Harin sampai di ruangan meeting sudah nampak para kepala cabang menunggu kedatangan Jodi, dan mereka sudah tidak asing lagi dengan Harin yang selalu ikut serta dalam ruangan rapat, karena sebelumnya pun sang ayah selalu membawanya serta dalam acara rapat-rapat kantor.
Sementara setiap Harin ikut dalam rapat, ia tidak pernah mengganggu, ia tetap fokus pada tab nya walau kadang-kadang suka terdengar kelakarnya pada saat dia menemukan tontonan yang membuatnya tertawa. Tetapi itu tidak menjadi masalah yang berarti, karena mereka yang hadir sangat memahami kondisi Boss dan putrinya itu.
Begitu pun pada kesempatan kali ini. Harin yang dibawa Jodi keruangan meeting bukan lagi pemandangan yang baru bagi mereka.
Pada jam makan siang meeting pun selesai, Jodi kembali keruangannya membawa serta putri kecil itu.
“Om kapan kita ke mall nya?.”
“Nanti ya sayang lepas urusan om selesai, nanti siang ada meeting sekali lagi jadi kamu harus sabar, sekarang kita makan duh, tuh tante Diana sudah menyediakan makan siang untuk kita.” Kata Jodi sembari menunjuk dua porsi makanan siap saji di atas meja.
Akhirnya mereka berdua pun makan siang dengan lahapnya. Beberapa saat kemudian ponsel Jodi mendapatkan panggilan masuk, lantas Jodi pun menerima panggilan tersebut.
“Hallo Har, gimana?.”
“Masih proses Jod tapi udah ada titik terang, do’ain aja biar cepat selesai. Elo dimana?.”
“Alhamdulillah aman, bagaimana putri gue?.”
“Nih di samping gue lagi makan siang.”
“Gak rewel kan dia?.”
“Gak… gak akan rewel dia mah kalau sama gue hehe.”
“Iya asal ada elo pasti aman, biar gak ada gue sama emaknya juga, titip dia ya Jod?.”
“Beres! Pokoknya dia aman sama gue, elo tenang aja fokus sama urusan Delima aja dulu di sana.”
“Oke kalau gitu. Thanks ya Jod. Udah dulu ya.”
Setelah menutup panggilan ponselnya Jodi menyelesaikan makan siangnya.
*
Sementara itu di tempat lain nampak Selvy dan Reyhan tengah uring-uringan. Semenjak kekalahannya di meja hijau mereka semakin tak terkendali meluapkan segala kemarahannya. Setiap hari tiada hentinya hanya bertengkar dan bertengkar saja.
“Lakukan sesuatu! Jangan diam saja!.” Pekik Selvy.
“Heh! Iblis betina! Memangnya kalau diam aku tidak melakukan sesuatu?! Kau tahu? Aku lagi berfikir melakukan rencana selanjutnya tahu!.” Reyhan dengan suara lantangnya.
__ADS_1
“Alah.. kamu itu bikin rencana gak pernah bener, selalu saja gagal dan gagal!.”
“Memangnya aku tahu kalau semua rencanaku akan gagal?! Semua kegagalan ini bukannya kamu juga ikut andil hah!!.”
“Sekarang aku tanya? Apa rencana kamu selanjutnya?.” Selvy mendongakkan wajahnya tepat di depan Reyhan.
“Aku tidak mau basa basi lagi! Mau langsung bunuh saja si setan Harvan itu!.” Balas Reyhan mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka beradu.
“Nah bukannya dari awal juga aku bilang gitu? Langsung aja bunuh dia ngapain lama-lama pake acara culik dulu bocah itu lah, pengen nyiksa dulu lah yang akhirnya semuanya gak kesampaian, sebenarnya siapa yang selalu bikin gagal? Bukannya kamu? Hah!.” Selvy menajamkan tatapannya pada mata Reyhan.
“Heh sialan! Sampe kapan kau mau nyalah-nyalahin aku terus hah?!.” Reyhan mendorong pundak Selvy.
“Sampai kamu bisa dengar saran aku tahu!!.”
“Ah dasar jal*ng!!.”
“Siapa yang jadikan aku jal*ng? Bukannya kau sendiri hah!!.”
“Jal*ng tetaplah Jal*ng!!!.”
Plaakk!!! Tamparan mendarat pada pipi Reyhan, dengan geram Reyhan membalas menjambak rambut Selvy.
“Aw…. Sakiiit…. Brengsek!!!!.”
“Sekali lagi kau macam-macam padaku!! Kau yang akan kubunuh terlebih dahulu!!!.” Geram Reyhan tepat di telinga kanan Selvy, dengan posisi tangan masih menjambak rambut Selvy.
“Sebelum kau bunuh aku!!!! Aku yang akan lebih dulu meracunimu bajingan!!.” Berusaha melepaskan tangan Reyhan dari rambutnya.
Bruuugh!!!
Reyhan mendorong tubuh Selvy hingga tersungkur dan tubuhnya mengenai meja kaca yang hampir saja mengenai kepalanya.
“Aaaarrrghhh!!! Anj*ng kau Reyhan!!! Aku menyesal jatuh dalam kehidupanmu!! Dengar baik-baik! aku tidak akan pernah melupakan apa yang kau lakukan padaku.” Teriak Selvy dengan air mata yang tumpah ruah seraya berlari kedalam kamarnya dan mengunci diri.
Di dalam kamar Selvy menangis sejadi-jadinya. Meraung dan menjerit menumpahkan segala kekecewaan yang tengah ia alami. Mungkin jika dulu ia tidak mengenal Reyhan hidupnya tidak akan se sakit ini. Apakah penyesalan baru ia rasakan kali ini? Entahlah. Yang jelas kini ia tengah mengingat keberadaannya selama ia mengenal dan hidup bersama Reyhan, dan sepertinya ia baru menyadari kalau dirinya dan putrinya hanya di jadikan alat saja oleh Reyhan agar dapat menguasai kekayaan Harvan.
Reyhan sengaja main belakang dengan Selvy kala masih menjadi istri Harvan, agar ia memiliki anak dari Selvy dan anak yang mereka hasilkan di jadikan agar menjadi pewaris tunggal kekayaan Harvan.
Namun sayang, segala rencana yang telah mereka jalankan sama sekali tidak membuahkan hasil malah memperkeruh keadaan dan mempersulit jalan untuk meraih segala yang mereka impikan.
“Jangan salahkan aku jika mulai detik ini aku jalan sendiri Rey. Aku sudah tidak kuat dengan apa yang kau lakukan padaku. Aku memang bodoh!! Dan baru menyadari bahwa kau memang benar-benar hanya memanfaatkan aku dan putriku saja. Kau benar-benar iblis dalam kehidupanku Rey. Wait and see, apa yang akan aku lakukan!!.” Bathin Selvy.
Kemudian Selvy berdiri beranjak mendekati lemari, dan mengemas semua pakaiannya lalu memasukannya ke dalam koper.
Sementara Reyhan yang berada di ruang bawah, ia tidak tahu kalau Selvy mengemasi pakaian-pakaiannya. Reyhan terlihat mengusap kasar rambutnya dan mengambil langkah cepat menuju halaman Villa dan masuk kedalam mobilnya.
Dan mobil yang ia tumpangi pun melesat pergi dengan kecepatan penuh.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
__ADS_1