
Disebuah villa mewah, nampak Reyhan dan Selvy tengah berbicara berdua pada sebuah ruangan yang terletak dilantai bawah dekat ruang tengah.
“Apa rencanamu besok Rey?” Tanya Selvy.
“Aku sudah dapat info tentang anaknya si Harvan, dia sekolahkan anaknya itu di sekolah internasional. Aku berencana akan menculik anak itu dan membawanya kesini.” Jelas Reyhan.
“Apa?! Bukankah itu terlalu beresiko Rey?.” Tanya Selvy.
“Kita curi kesempatan saja, semoga besok Dewi Fortuna ada bersamaku.” Kata Reyhan dengan sorot mata psikopatnya.
“Bukankah kamu bilang si Harvan selalu ketat menjaga anaknya itu?.” Tanya Selvy.
“Iya sih, tapi ada saatnya dia lengah kan?.” Kata Reyhan dengan seringai di bibirnya.
“Terus kalau usahamu berhasil menculik anak itu dan membawanya kemari, apa rencanamu selanjutnya?.” Tanya Selvy kembali.
“Si Harvan itu sangat sayang sekali pada anaknya. Dia akan melakukan apapun agar supaya anaknya selamat. Kita akan sekap anaknya disini, memancing dia untuk mau menandatangani dokumen dan mengancam dia supaya seluruh asetnya di pindahkan menjadi atas nama Revy. Dengan begitu sebelum kita membunuh mereka, aset itu harus terlebih dulu menjadi atas nama Revy haha.” Kelakar Reyhan.
“Apakah kamu yakin usaha itu akan berhasil?.”Selvy merasa tidak yakin.
“Tentu saja aku sangat yakin sekali sayang haha.” Ujar Reyhan yakin.
“Lalu apa yang harus aku lakukan Rey?.” Tanya Selvy.
“Kamu tidak perlu melakukan apa pun, hanya perlu menunggu saja perintahku.” Tegas Reyhan.
“Baiklah! Aku harap rencanamu kali ini berhasil, dan kita akan segera menikmati harta kekayaan yang tidak Akan pernah habis sampai tujuh turunan itu hahah.” Kelakar Selvy.
Dalam kebahagiaan mereka, tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan tadi.
Revy berdiri dibalik sekat dapur yang memisahkan ruangan itu dengan dapur bersih. Revy mendengar semua percakapan ibunya dengan Reyhan dari awal sampai akhir mengenai rencana penculikan Harin.
(Siapa Harin anaknya Harvan?, lalu apa hubungannya denganku hingga harta kekayaan orang yang bernama Harvan itu harus berganti atas namaku?, Sepertinya mama dan pria yang bernama Rey itu akan melakukan rencana jahat pada orang yang bernama Harin. Dan aku mereka jadikan senjata agar mereka berhasil menguasai harta itu.) Bathin Revy.
Revy masih terdiam dibalik sekat itu. Sampai ibunya dan Reyhan pergi ke kamar mereka. Kemudian setelah Revy merasa aman, ia keluar dari persembunyiannya dan melangkah mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya.
Didalam kamarnya ia merenungi apa yang telah ia saksikan tadi.
(Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus membiarkan kejahatan mereka? Atau berbuat sesuatu?. Sementara aku pun korban penculikan mereka yang telah direncanakan, meraka menculiku dari nenek dan kakekku.) Gumam Revy.
Revy berfikir dalam pembaringannya. Kemudian ia mendengar derap langkah seseorang mendekati pintu kamarnya. Dengan cepat ia memejamkan matanya berpura-pura tidur.
“Dia sudah tidur.” Kata Selvy yang melihat Revy berbaring di atas tempat tidurnya. Sementara Reyhan disamping Selvy hanya mengangguk. Kemudian mereka berdua berlalu ke lantai bawah.
*
*
Pagi telah tiba. Seperti biasa Harvan dan Harin juga Jodi telah bersiap untuk melakukan aktivitasnya.
Harvan akan mengantar putrinya kesekolah dan menunggunya sampai pulang. Sementara Jodi giliran mengantar mereka sampai pintu gerbang sekolah seperti biasanya.
“Team gue udah disebar di sekolah Harin Har. Ada lima orang yang siaga di sekitar sekolah.” Ujar Jodi.
“Oke. Tapi kenapa ya? Kok perasaan gue gak enak gini.” Kata Harvan.
“Ah itu cuma perasaan elo aja kali Har.”
“Ayah, hari ini aku gak mau sekolah.” Ucap dari bibir mungil putri kecil.
“Loh kenapa sayang?, bukannya kamu bilang di sekolah menyenangkan?.” Kata Harvan pada putrinya.
“Aku ingin belajar sama ibu dikantor ayah saja.” Pinta putri kecil itu.
“Nanti belajar dikantor ayahnya lepas kamu pulang dari sekolah ya sayang. Sekarang kamu sekolah dulu dan Ayah tungguin kamu.” Jelas Harvan seraya menciumi putrinya itu dalam pelukan.
__ADS_1
*
Singkat waktu mereka pun sampai di halaman parkir sekolah. Harvan membawa Harin dalam gendongannya memasuki gerbang sekolah sementara jodi langsung tancap gas kembali membawa kuda besinya berlalu menuju ke kantor.
Kelas sudah dimulai, dan anak-anak pun sudah masuk kedalam kelasnya masing-masing. Seperti biasa Harvan menunggu Harin di taman playgroud untuk menghindari gank Kejo Empire.
Namun bukan gank Kejo Empire namanya kalau tidak mengganggu Harvan sehari saja.
“Eh bunda Cira, lihat tuh si ganten sendiri aja di taman.” Kata bunda Ajriel.
“Kenapa gak gabung di sini ya?.” Kata bunda Claire.
“Mungkin dia gak enak gabung sama kita, secara dia kan cowok cool sementara kita kan bunda-bunda heboh, hehe.” Kata bunda Cira.
“Aku deketin dia dulu ya?, kita tanyain kenapa chat kita gak dia balas.” Kata bunda Lolita.
“Iya bunda Loli, ayo kita deketin dia.” Ajak bunda Valent yang langsung menarik bunda Lolita.
Dari luar gerbang sekolah nampak seorang lelaki berjalan menuju gedung kelas playgroup, lelaki berperawakan kurus itu memakai pakaian batik dengan celana kain, dan memakai kopiah juga menggunakan masker.
Lelaki kurus itu memanfaatkan waktu dengan cepat pada saat melihat satpam masuk kedalam pos nya dan melihat Harvan tengah didekati oleh dua orang wanita yang posisinya sedikit jauh dari gedung kelas karena berada di taman samping sekolah.
Lelaki itu mengetuk pintu kelas playgroup ruangan Harin. Kemudian Miss Ayunda membuka pintu kelasnya.
“Pagi pak, ada apa ya?.” Sapa miss Ayunda.
“Maaf nona kenalkan, saya supirnya Tuan Harvan, saya disuruh Tuan untuk membawa nona Harin pulang karena mendadak neneknya meninggal, Tuan Harvan menunggu di dalam mobil, saya disuruh cepat membawanya.” Jelas pria tersebut.
“Oh baik pak, tunggu sebentar ya, akan saya bawa Harin nya dulu.” Kata miss Ayunda bergegas mendekati Harin, sementara pria itu sesekali melihat kearah samping untuk memastikan keadaan.
“Harin Sayang, ayo Harin bersiap pulang, ayahnya sudah menunggu di mobil.” Kata miss Ayunda pada Harin.
“Kenapa aku pulang Miss Ayu, aku kan baru datang.” Harin merasa heran.
“Ada penting katanya sayang, ayo, ayahmu sekarang menunggu di mobil.” Jelas Ayunda, karena Harin belum mengerti apa-apa dan miss Ayunda pun tidak menaruh rasa curiga, akhirnya Harin mau dibawa pulang.
Lalu Harin membawa tas nya mengikuti Miss Ayunda. Kemudian miss ayunda menyerahkan Harin pada orang itu. Dengan cepat lelaki itu membawa Harin dalam pangkuannya bergegas pergi setengah berlari menuju mobil yang terparkir tepat didepan gerbang. Yang kebetulan juga satpam yang menjaga pintu gerbang masih berada si dalam pos satpamnya.
Bergegas lelaki itu masuk membawa Harin pada Jok belakan mobil itu.
Sementara dari seberang jalan. Orang yang diperintahkan Jodi melakukan pengawalan, melihat penampakan Harin dibawa seseorang masuk kedalam mobil yang asing bagi mereka, tetapi mereka tidak melihat keberadaan Harvan disana.
Bergegas ia menghubungi seseorang melalui ponselnya.
“Hallo Garuda 2, tolong ikuti mobil hitam arah jam 3.”
“Siap Dan.” Suara dibalik telepon.
Lalu lelaki itu berlari menyeberang jalan masuk ke dalam gerbang sekolah, setelah di dalam gerbang sekolah ia tak menemukan Harvan, kemudian dia berniat bertanya kepada ibu-ibu yang duduk bertiga tidak jauh dari depan kelas.
Setelah pengawal itu akan mendekati mereka, pengawal tersebut melihat bahwa ketiga ibu-ibu itu tengah memperhatikan Harvan bersama dua orang wanita di taman samping sekolah.
Bergegas pengawal itu mendekati Harvan.
“Tuan! Nona Harin diculik.” Tegasnya.
Harvan terkaget kala seseorang menyampaikan kabar buruk itu. Dengan mengambil langkah seribu ia berlari kencang menuju gedung kelas Harin.
BRUG. Dengan keras Harvan membuka pintu kelas gedung Harin, dengan nafas tersengal ia melihat sekeliling ternyata putri kesayangannya tidak ada dikelas itu.
Lemas kaki Harvan kala ia melihat putri kesayangannya itu tidak ada di dalam kelas. Kedua telapak tangannya menjambak rambutnya sendiri.
“Loh Tuan Harvan disini? Bukannya tadi Tuan menunggu di mobil dan menyuruh supirnya kesini untuk membawa Harin pulang karena neneknya meninggal?.” Heran miss Ayunda.
Mendengar apa yang dikatakan Miss Ayunda semakin lemas tubuh Harvan, seakan hilang kendali tanpa berkata-kata ia berlari keluar menuju gerbang sekolah sambil berteriak kencang,
__ADS_1
“Hariiiiiin.” Teriaknya dengan mata yang berkaca-kaca dan pikiran yang kalut.
Sementara pengawal yang tadi mengikuti Harvan berlari, ia langsung membawa Harvan masuk ke dalam mobilnya.
“Saya pikir Nona Harin didalam kelas dalam pengawasan Tuan! Makanya pada saat saya melihat nona Harin dibawa seseorang saya berlari kedalam sini. Tapi tuan jangan khawatir, team kami tengah mengejar mobil yang membawa nona Harin.” Kata pengawal.
Harvan diam membisu lalu dengan wajah pucat pasi dan air mata yang sudah tidak terbendung ia merogoh ponselnya hendak menghubungi Jodi.
Dengan mulut bergetar ia berbicara pada Jodi melalui ponselnya.
“Jod Harin di culik.”
“Apa!! Kok bisa!!.” Jodi terkaget padahal ia baru saja mamasuki area parkir halaman gedung kantor, seketika itu pula ia memutar arah kuda besinya meninggalkan halaman parkir tersebut, dengan wajah panik ia menyetir mobil itu masih dalam kondisi memegang ponsel yang menempel pada telinganya.
“Kok elo bisa kecolongan gitu! Elo ngapain aja! Ah sial!.” Nada keras Jodi.
“Jod tolongin putri gue Jod, Intan pasti marah sama gue, Intan pasti kecewa gue gak bisa jaga Harin.” Tangis Harvan dalam sambungan seluler.
“Elo dimana sekarang?!” Tanya Jodi.
“Gue di mobil pengawal Jod” jawab lemas Harvan.
“Mana dia! Kasih ponselnya sama dia! Gue mau ngomong!” Bentak Jodi, kemudian Harvan memberikan ponselnya pada pengawal yang berada didalam mobil itu. Hanya ada 2 pengawal di mobil itu dan mereka duduk di jok depan sementara Harvan berada di Jok belakang.
“Hallo Boss!”
“Heh! Kerja luh gak becus ya.!” Bentak Jodi.
“Gue pikir nona dalam pengawasan Tuan di dalam kelas, gue juga kaget pas nona dibawa seseorang masuk kedalam mobil yang terparkir didepan gerbang.” Jawab pengawal.
“Ah goblok!.” Emosi Jodi.
“Tapi Garuda 2 sedang mengejar mobil yang membawa nona Boss!.” Jelas pengawal.
“Ya sudah serahkan kembali ponselnya pada Tuan.” Pinta Jodi.
“Baik Boss.” Lalu pengawal itu menyerahkan kembali ponselnya pada Harvan.
“Har, elo tenang saja! Sekarang elo putar balik ke sekolah, gue menuju kesana, kita harus cek CCTV sekolah!. Masalah mobil penculik sudah ditangani sama anak buah gue. Mereka lagi di kejar.” Ujar Jodi.
“Oke.” TUT sambungan telepon terputus.
*
Sementara didalam mobil penculik, Harin bingung melihat sekeliling, karena ia tidak menemukan ayahnya didalam mobil tersebut. lalu ia melihat pria disampingnya.
Pria disamping Harin itu dengan tertawa keras membuka maskernya, kemudian membuka peci dan baju batiknya seraya melemparkannya ke sembarang arah. Dengan jelas terlihat bahwa seseorang itu adalah Reyhan.
Harin merasa ketakutan mendengar tertawa keras yang menggelegar dari Reyhan. ia geserkan badannya ke sisi pintu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Dimana ayah… ayaaah… aku takut.” Suara lirihnya bergetar dengan tangisan yang pecah.
Kemudian Reyhan yang berada disampingnya merasa terganggu dengan tangisan itu.
“Heh! Diam anak sialan!. Jangan berisik kalau kamu ingin selamat.” Kata Reyhan dengan nada tinggi.
Harin semakin ketakutan kala Reyhan membentaknya dengan suara keras. Selama hidupnya Harin tidak pernah mendengar suara keras apalagi bentakan dari orang-orang disekitarnya terutama ayahnya. ia semakin ketakutan, tubuhnya semakin bergetar dan air matanya semakin deras mengalir.
“Aku mau pulang, ayah.. aku takut.” Tangis gadis mungil itu.
“Heh! Diam tidak! Jangan berisik! Ayahmu sedang menunggumu! Jadi jangan nangis lagi, saya akan mengantarkan kamu pulang.” Ujar Reyhan berusaha menenangkan Harin.
Mendengar apa yang dikatakan Reyhan, Harin sedikit tenang walau masih dalam ketakutan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔