
Jodi merasa penat dalam kepalanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa, pikirannya buntu kala memikirkan masalah yang tengah Boss nya hadapi kini. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana cara mengatakan pada Harvan mengenai masalah yang tengah di hadapinya, sementara dia belum menyadari akan semua ini.
Masalah di atas masalah kini tengah menari-mari di lantas dansa pikiran Jodi. Seandainya Jodi belum mengetahui hubungan mereka, mungkin Jodi sudah mengatakan masalah ini pada Harvan. Namun karena ia tahu kini Harvan dan Delima tengah di mabuk cinta, ini menjadi beban baginya.
Yang ia khawatirkan adalah bagaimana perasaan Harvan terutama Harin menghadapi kenyataan bahwa wanita yang tengah mereka cintai itu adalah seorang buronan polisi. Jodi tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Harvan kala mengetahui semua ini.
Sampai pada akhirnya dengan berbagai macam pertimbangan, Jodi tidak akan dulu mengatakan pada Harvan tentang Delima sebelum informasi menyeluruh ia dapatkan, ia hanya berharap semoga Delima sang buronan adalah mimpi baginya.
Ia akan menyimpannya rapat-rapat dari Harvan sampai pada saat waktu yang tepat baru ia akan menyampaikannya.
(Ah sial! Kenapa sih kalian harus saling jatuh cinta! Bikin pusing gue aja ah…) Bathin Jodi kesal mengusap kasar rambutnya.
Lalu ia melihat jam dan terlihat jam menunjukan pukul satu, itu menunjukan waktunya ia dan Harvan makan siang. Pada jam makan siang biasanya Jodi membawa makan siang ke ruangan Harvan dan makan bersama dengannya, dan apabila Jodi telat, Harvan ke ruangannya namun hari ini tidak.
“Kemana dia ya? Kok gak nanya makan siangnya.” Gumam Jodi yang langsung beranjak ke ruangan Boss nya itu, namun tak ia temukan Boss nya itu, langsung pikirannya merujuk pada rumahnya.
“Mmh.. tau gue! Pasti tuh pasangan bucin lagi ketemuan.” Bathin Jodi yang kemudian kembali keruangannya dan duduk di depan laptopnya, ia nyalakan laptop itu dan melihat rekaman CCTV rumah. Sebelum melihat ke layar monitor ia menelepon sang sekretaris Diana untuk dibawakan makan siang.
Setelah selesai melakukan panggilan, ia fokus pada layar laptopnya. Benar saja ia melihat penampakan yang membuatnya melongo. Nampak pada layar monitor Harvan memasuki kamar putrinya dimana Delima tengah menemani putrinya tidur siang.
Setelah putrinya terlelap tidur nampak Harvan menarik tangan Delima ke sisi lain dari ruangan kamar tersebut. Terlihat Harvan memeluk Delima dan menciumnya.
“Ya elah itu si bucin, udah gak kenal waktu aja, ******* terus kerjaannya.” Gumam Jodi. Sambil memandangi siaran langsung Boss nya yang tengah bermesraan sembari pikirannya menerawang.
“Har, gue harap elo belum terlalu dalam dengan wanita itu, karena saat elo tahu siapa dia, elo tidak akan terlalu sakit.” Bathin Jodi lirih.
Nampak dari pandangannya bahwa Boss nya tengah di mabuk asmara pada wanita itu.
*
Sementara itu pada saat Harvan tengah sibuk di hadapan laptopnya, ia melihat jam mewah pada tangannya menunjukan jam 12.10 WIB, bergegas ia berlalu dari ruangannya menuju halaman parkir dan memacu kendaraannya sendiri. Di dalam pikirannya sudah di penuhi dengan Delima, ia lupa kalau biasanya makan siang selalu bersama asistennya, namun kali ini ia lupa pada asistennya itu.
Sesampainya ia di rumah, langsung kaki nya melangkah ke kamar putrinya, di dapatinya putrinya tengah di temani Delima untuk tidur siang.
“Kamu pulang?.” Tanya Delima berbisik.
“Iya aku ingin makan siang bersamamu.”
“Tunggulah sebentar, dia belum pulas.”
“Iya sayang, aku tunggu.” Panggilan sayang pun sudah mulai tercetus dari bibirnya. Karena sudah tak sabar ia menarik tangan Delima dan menarik tubuhnya ke sisi lain menjauh dari putrinya yang tengah terlelap di atas tempat tidur.
“Pelan-pelan nanti dia bangun.” Bisik Delima.
Tanpa menjawab ia langsung menyeret Delima pada sisi jendela balkon dan langsung memeluk tubuh itu dan meraup bibirnya.
“Hmap….” Delima tak bisa berbuat apa-apa.
“Diam, jangan bersuara.” Perintah sang tuan yang terus menyerang bibir yang sudah menggodanya sedari tadi itu. Semakin lama Delima terbawa suasana, kini ia tidak melakukan penolakan tetapi menikmati raupan bibir kokoh itu dan membalas gerakannya.
“Hehe.. sekarang sudah mulai menikmatinya ya?.” Goda Harvan. Perlahan Harvan melepaskan pautan bibirnya, kata-katanya membuat pipi Delima memerah dan tertunduk malu.
__ADS_1
“Gak usah malu, dan jangan takut, aku kan susah janji padamu, aku tidak akan melakukannya lebih dari ini.” Bisik Harvan di telinga wanita itu seraya membawanya dalam dekapan.
Kemudian terdengar suara kriuk pada perut Harvan.
“Ayo kita makan siang, katanya tadi niat pulang mau makan siang?.” Kata Delima.
“Hehe iya? Ayo kita turun.” Kemudian mereka keluar dari kamar putrinya itu menuju ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, Delima mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauknya untuk tuan tersayangnya itu.
“Kau tahu?! Dulu istriku selalu menyuapiku.”
“Baiklah.” Kemudian Delima duduk di samping Harvan dan menyuruh tuannya membuka mulut.
“Tapi posisinya tidak seperti ini.” Protes Harvan.
“Lalu seperti apa?.” Tanya Delima tidak mengerti.
“Ia duduk diatas sini.” Jelas Harvan menunjuk dengan wajahnya pada pangkuannya. Mendengar keinginan tuannya Delima terdiam.
“Sini.” Harvan menarik tubuh Delima dan meletakan tubuhnya di atas pangkuannya, Delima merasa tidak enak karena ini hal yang aneh menurutnya. Ia takut jika ada pelayan yang melihatnya.
“Mh.. a-aku tidak enak, na-nanti ada yang melihat.” Jawabnya gugup.
“Jangan takut, hal seperti ini akan menjadi hal yang biasa mereka lihat nanti, ayo mana makanannya.” Harvan membuka mulutnya kemudian Delima menyuapinya.
*
“Yaelah bucin… bucin… udah pengen di suapin pake maen gendong-gendongan pula.. geli gue lihat nya Ish.” Gumam Jodi.
“Eh bentar lagi elo mewek-mewek luh setelah tahu siapa yang lagi nyuapin elo itu, dan lagi-lagi gue nanti yang repot ah.. nambah-nambah kerjaan gue aja luh bucin.” Kesal Jodi sembari menyuapkan penuh makanan pada mulutnya.
“Elo yang seneng-seneng disana sedang menikmati ke-bucinan elo, sementara disini gue yang stress mikirin bagaimana cara menghadapi kalian. Huh kalau bukan karena kebaikan pak Budi bokap lo itu, gak akan mau gue ngorbanin waktu gue buat elo!.”
Jodi terus saja menggerutu hingga tidak terasa makan siangnya telah habis ia santap. Kemudian ia melanjutkan kembali pekerjaannya.
Di tengah-tengah pekerjaannya, Harvan yang telah kembali ke kantor mendatangi ruangan Jodi.
“Jod lagi ngapain?.” Tanya Harvan seraya duduk di sofa.
“Seperti yang elo lihat?.” Jawabnya datar.
“Gak makan siang luh?.”
“Gak! Gue puasa.” Jawabnya ketus.
“Haha.. Sejak kapan luh puasa?.”
“Cie… Yang lagi seneng ketawanya renyah banget.” Sindir Jodi.
“Kenapa sih luh? Bete banget kayaknya.”
__ADS_1
“Iya gue bete banget, makin banyak aja kerjaan gue!.”
“Emang ada kerjaan mana lagi Jod.”
“Kerjaan ngewakilin meeting CEO. Karena CEO nya ngilang mulu.”
“Hehe.. kan itu udah jadi tugas elo juga Jod.”
“Tugas sih tugas tapi minimal kasih tahu gue dulu kek kalau mau ngilang. Jangan asal pergi aja.”
“Iya Sorry, nanti-nanti gue kabarin elo dulu deh. Oya gimana? Udah ada info tentang Delima belum?.” Tanya Harvan. Jodi terdiam dan berpikir.
Ia tidak mungkin mengatakan segalanya tentang Delima pada Harvan di saat seperti ini. Sudah terbayang oleh nya efeknya akan seperti apa.
“Belum Har, masih di telisik sama team gue.” Dengan berat hati Jodi harus berbohong demi kebaikan bosnya itu.
“Oh ya udah.”
Jodi mendekat dan duduk di sebelah Harvan. Ia pandangi wajah tuan yang terlihat berseri tanda sedang merasakan kebahagiaan. Tak tega rasanya saat membayangkan wajah itu berubah muram seketika mana kala ia tahu masalah yang sebenarnya terjadi.
(Apa gue bicara empat mata saja sama Delima ya? Menanyakan hal sebenarnya, seperti apa menurut versi dia? Bisa jadi dia di jebak dan pembunuhnya adalah orang lain. Tapi bagaimana kalau memang dia benar-benar sebagai pembunuhnya. Apa motif di balik pembunuhan itu? Gue berharap bukan dia pelakunya, rasanya tidak mungkin wajah sepolos itu menjadi seorang pembunuh. Tapi memang wajah kadang bisa menipu.) bathin Jodi.
“Jod… Jod! Elo kenapa sih?.” Panggilan Harvan membuyarkan lamunan Jodi.
“Kok elo kayak mikirin sesuatu gitu Jod?.” Tanya Harvan kembali.
“Gak Har, gue sedikit penat aja.” Jawab Jodi menutupi apa yang tengah di pikirkannya.
“Ya udah elo istirahat dulu sana! Gue balik dulu ke ruangan gue ya.” Ujar Harvan seraya berlalu meninggalkan ruangan asistennya itu.
Jodi memandangi punggung Boss nya yang berlalu hingga luput dari penglihatannya.
“Wajar elo suka sama dia Har, Delima Intan banget. Gue gak bisa pungkiri itu. Tapi kenapa dia harus Menjadi seorang pembunuh? Dan gue gak tahu sampai kapan gue biasa menutupi ini?. Dari semua masalah yang elo hadapi mungkin masalah ini lah yang paling pelik menurut gue. Gue harap setelah elo tahu segalanya, elo bisa kuat menerima kenyataan ini Har.” Bathin Jodi.
Sementara itu diruang sebelah Harvan tengah tersenyum-senyum duduk di atas kursi kerjanya. Ia tengah melihat-lihat pada layar ponselnya gambar perhiasan berlian yang di kirim oleh toko langganan ibunya.
Beberapa gambar perhiasan ia lihat. Matanya terpikat oleh sebuah perhiasan cincin berlian termahal.
“Mungkin ini cocok untuk Delima” gumamnya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Buat othor juga cocok cincin itu mah 🤪
Makasih readers tersayang yang sudah setia sampai episode ini.
Kawal terus ya ceritanya dan tetap tinggalkan jejak, Like, vote & favoritnya🥰
Haturnuhun 🙏🏻
__ADS_1