Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Memandangmu


__ADS_3

Suasana di ballroom salah satu hotel bintang lima itu semakin ramai, tatkala tamu undangan kian berdatangan memeriahkan acara perjamuan makam malam itu.


Sementara di area balkon outdoor, Harvan, Jodi dan Vivi berbincang sambil menunggu Intan kembali dari toiletnya. Pada saat berbincang, dua orang menghampiri mereka yang tiada lain adalah Tuan Chin Hwa dan asistennya.


“Selamat malam tuan Harvan.” Sapa tuan Hwa.


“Hei tuan Hwa, anda ada di sini juga?.” Tanya Harvan.


“Iya, bukankah kita harus memenuhi undangan?.” Ujar tuan Hwa.


“Tentu saja harus tuan, karena ini adalah ajang kita saling mengenal satu sama lainnya sesama pengusaha.” Kata Harvan.


“Iya betul tuan Harvan, anda datang sendiri?.” Tanya tuan Hwa.


Tiba-tiba Intan mendatangi mereka.


“Sayang, sudah ada disini?.” Ujar Intan pada suaminya.


“Oh iya, kenalkan tuan Hwa ini istri saya.” Kata Harvan.


Sontak saja Intan sedikit terhenyak saat melihat pria yang ia tabrak tadi ada bersama suaminya.


“So beautiful.” Ucap tuan Hwa, sambil memandangi Intan lalu meraih tangannya serta mencium punggung tangannya.


“Terima kasih.” Jawab Intan sedikit gugup dan melepaskan pegangan tuan Hwa.


Sementara itu Jodi terus saja memperhatikan gerak gerik dan tatapan tuan Hwa pada Intan.


“Baiklah mari kita kedalam, seperti nya acara akan segera di mulai.” Kata Harvan mengajak mereka masuk seraya memeluk pinggang istrinya membawanya masuk ke dalam ruangan.


Kemudian mereka pun masuk ke dalam ballroom tersebut. Intan, Harvan, Jodi dan Vivi, duduk pada satu meja bundar. Sementara tuan Hwa dan asistennya duduk dengan undangan lain, tidak jauh dari tempat mereka.


Meski tuan Hwa duduk di meja lain tapi posisi duduknya mengarah pada meja tempat Intan duduk, sehingga dengan leluasa tuan Hwa dapat memandangi Intan meski di meja yang berbeda.


Sepanjang acara berlangsung tatapan tuan Hwa tidak lepas dari memandangi Intan. Tak seorang pun menyadari itu. Hingga pada saat pandangan Intan tak sengaja mengarah pada tuan Hwa, ia melihat lelaki berparas oriental itu tengah memandanginya. Lalu memberikan senyuman pada Intan. Intan membalas senyumannnya.


Kemudian Intan mengalihkan pandangannya kepada wajah suami nya yang tengah focus kedepan menyaksikan sambutan dari ketua penyelenggara. Kembali Intan mengarahkan pandangannya pada tuan Hwa, lelaki itu masih memandanginya dengan senyuman di sudut bibirnya.


Intan mulai tidak enak hati di buatnya. Ia merasa risih yang terus di perhatikan oleh orang lain.


“Sayang, yang berbicara di depan itu siapa?.” Tanya Intan pada suaminya untuk menghilangkan ketegangan dalam dirinya karena seseorang yang terus memandanginya.


“Oh, itu adalah pengusaha senior di negara kita ini sayang.” Jelas Harvan yang tetap focus melihat ke depan.


“Oh begitu ya.” Kata Intan, yang kembali melirik pada lelaki yang tengah memandanginya dengan terus melemparkan senyumannya itu.


“Iya, makanya beliau ditunjuk menjadi ketua organisasi ini.” Jelas Harvan yang tetap focus pandangannya kedepan.


“Tan kamu ngerti gak? Apa yang di omongin bapak-bapak di depan itu.” Kata Vivi yang tiba-tiba membisiki Intan.


“Gak Vi, dia ngomong apa ya?.” Jawab Intan.


“Sama aku juga gak ngerti haha.” Kelakar kecil Vivi.


“Haha.. kita dengerin aja biar gak ngeri juga ya.” Ujar Intan pada Vivi setengah berbisik.


“Iya kita pura-pura aja ngerti haha.” Balas Intan.


“Kalian pada ngomongin apaan sih pada cekikikan gitu.” Tanya Jodi pada Vivi yang duduk di sebelahnya.


“Aku sama Intan, sama-sama gak ngerti apa yang di omongin bapak-bapak di depan haha.” Jawab Vivi pada Jodi.

__ADS_1


“Eh jangan norak ya.” Ujar Jodi.


“Bukannya norak beb, ilmu bapak-bapak di depan itu, kan beda sama aku, kalau ngomongin masalah medis ayo, aku jagonya. Kalau masalah perusahaan aku kan gak ngerti.” Jelas Vivi.


“Iya makanya dengerin aja, gak usah cekikikan, gak enak di lihat orang.” Kata Jodi.


“Eh Intan, si Jodi marah gegara kita ngomentarin tuh bapak-bapak.” Bisik Vivi pada Intan.


“Kenapa marah?.” Tanya Intan pada Vivi.


“Aku bilang kita berdua sama-sama gak ngerti apa yang bapak-bapak itu bilang haha.” Bisik Vivi kembali.


“Hihi.. kayaknya dia risih ya liat kita cekikikan.” Bisik Intan.


“Iya hihi.” Jawab Vivi.


Sementara Harvan terus saja focus pada pembicara di depan yang kini sudah berganti dengan pengusaha bule.


“Sayang, kalau yang bule itu siapa?.” Tanya Intan kepada suaminya.


“Itu wakilnya Bill Gates, Bill Gates gak bisa hadir karena lagi ada kepentingan lain.” Jelas Harvan.


“Bill Gates yang raja bisnis dari Amerika itu sayang?.” Tanya Intan.


“Iya itu, emang Bill Gates yang mana lagi?!.” Ujar Harvan.


“Wah, berarti semua orang yang lagi kumpul disini orang-orang penting ya sayang? Termasuk kamu?.” Tanya Intan serius.


Harvan menjawab dengan senyuman sambil mengelus-Ngelus pundak istrinya. Kemudian Intan berbisik pada Vivi.


“Vi, katanya orang yang lagi ngomong di depan, orangnya Bill Gates.” Bisik Intan.


“Iya katanya sih gitu.” Jawab Vivi.


“Iya Tan, tapi lagi-lagi kita gak ngerti apa yang mereka omongin, semua yang di omongin nya masalah bisnis mulu hihi.” Ujar Vivi.


“Kita gak perlu ngerti Vi, biar pasangan kita aja yang harus ngerti, yang penting kita mah makan aja hihi.” Kata Intan.


“Iya hihi.” Kata Vivi lagi-lagi cekikikan.


“Udah ah jangan cekikikan mulu.” Kata Jodi pada Vivi.


“Abisnya si Intan lucu beb.” Jelas Vivi.


“Entar aja becandanya kalau acaranya udah selesai.” Kata jodi.


“Iya.. iya ah bawel.” Jawab Vivi pada Jodi.


Akhirnya Vivi dan Intan memperhatikan orang yang sedang berbicara didepan meskipun tidak begitu faham. Lagi-lagi Intan melemparkan pandangannya pada lelaki oriental itu, berharap laki-laki itu sudah berhenti memandanginya.


Benar saja lelaki itu tengah focus pandangannya pada pembicara di depan. Intan sedikit lega. Tapi baru saja Intan akan membuang pandangannya lelaki itu sudah menangkap pandangan Intan kembali.


DUG


Jantung Intan berdegup saat lagi-lagi lelaki itu melemparkan senyuman manis nya, Intan membalas senyuman itu dengan rasa ragu. Dan kembali merasa tidak enak hati.


“Kenapa sayang?.” Tanya suaminya mengejutkan dia.


“Oh tidak.. aku hanya sedikit tidak mengerti saja apa yang orang di depan itu bicarakan.” Ujar Intan.


Kembali Harvan tersenyum dan mengelus-ngelus pundak istrinya.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu mengerti apa yang orang itu bicarakan, cukup duduk di sampingku saja ya sayang.” Ucap Harvan lembut.


“Iya sayang.” Jawab Intan.


Sepanjang para hadirin menyaksikan sambutan-sambutan dari petinggi-petinggi perusahaan di dalam organisasi tersebut, tibalah saatnya acara hiburan, dimana para hadirin di persilahkan bebas berbincang sambil menikmati hidangan juga berdansa.


“Ayo kita dansa.” ajak Harvan pada istrinya lantas menarik tangan istrinya kelantai dansa.


“Sayang.. aku tidak bisa.” Ujar Intan.


“Kamu tinggal ikuti saja gerakanku.” Kata Harvan yang sudah berada di lantai dansa yang kemudian memeluk pinggang istrinya itu.


“Kalungkan tanganmu di leherku.” Kata Harvan dan kemudian menggerakkan pelan tubuhnya mengikuti irama. Intan mengikutinya. Mereka saling memandangi dengan penuh kasih.


Ada beberapa pasangan yang juga berdansa di sekitar mereka termasuk Jodi dan Vivi. Mereka saling merangkul pasangannya mengikuti irama dengan lembut. Kemudian tiba-tiba tuan Hwa mendekati Harvan dan Intan.


“Boleh saya berdansa dengan istrimu?.” Pinta tuan Hwa pada Harvan.


“Oh tuan Hwa, anda ingin berdansa dengan istri saya.?” Tanya Harvan ramah.


“Sayang, aku tidak mau berdansa dengan orang lain, aku gak mau di peluk-peluk selain oleh suamiku sendiri.” Jelas Intan berbisik pada Harvan dan Harvan tersenyum.


“Tuan maaf, istri saya merasa keberatan berdansa dengan anda, ini juga kali pertama saya mengajaknya berdansa, jadi dia belum terbiasa, mohon pengertiannya tuan.” Jelas Harvan ramah.


“Oh baiklah kalau demikian, tidak apa-apa. Tuan Harvan.” Jawab tuan Hwa sedikit kecewa. Dan ia kembali ke tempatnya.


Sepanjang mereka berdansa, tua Hwa lagi-lagi memandangi Intan yang tengah berdansa dengan suaminya. Sampai pada akhirnya seorang wanita muda mendekat kepadanya membuyarkan pandangannya kepada wanita yang ia tuju.


“Bersediakah anda berdansa denganku tuan??.” Ajak wanita itu


“Baiklah nona, mari.”jawab tuan Hwa meraih tangan wanita muda itu dan mulai berdansa dengannya.


Irama musik dansa mengiringi pergerakan para hadirin dengan syahdu. Semakin membawa mereka terhanyut dalam buaian lantai dansa yang mendukung suasana indah mereka.


Semakin larut dan semakin larut. Hingga malam pun mengajak mereka untuk kembali pulang.


“Sayang aku sudah lelah.” Ucap Intan pada suaminya.


“Baiklah, ayo kita pulang.” Ajak suaminya.


Kemudian mereka meninggalkan ruangan itu. dan mengajak Jodi serta Vivi.


“Duluan aja Har, gue bentar lagi.” Kata Jodi.


“Baiklah gue duluan ya.” Kata Harvan.


Harvan pun menggandeng istri nya belalu meninggalkan hotel itu. Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan.


Kemudian Harvab dan Intan menaiki kuda besinya, lalu kuda besi itu memacu meninggalkan tempat itu. Sepasang mata yang mengintai mereka pun berlalu saat kuda besi yang Harvan dan Intan naiki tak terlihat lagi.


*


*


Sampailah Harvan dan Intan di rumah mewah mereka. Mereka berlalu ke kamarnya. Di dalam kamar Harvan mendekati istrinya dan memeluknya dari arah belakang.


Pelan-pelan Harvan membuka resleting gaun istrinya.


“Sayang, aku mau membersihkan tubuhku dulu, rasanya tubuhku pada lengket.” Kata Intan.


Harvan tak berbicara, ia menjawab dengan tangannya yang memangku Intan membawanya ke kamar mandi.

__ADS_1


Lagi-lagi ritual kemesraan terjadi di sana. Suara mesra yang bersahutan mengiringi aktivitas mereka. Sampai mereka berdua menghentikan irama syahdunya setelah erangan keras meraung menyelimuti di antara mereka.


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝


__ADS_2