Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Observasi


__ADS_3

Siang itu di rumah mewah Harvan terlihat kedatangan tamu. Tamu itu berjumlah 3 orang dengan menggunakan pakaian kebesaran mereka. Dokter Anton di dampingi 2 perawat, dengan membawa alat-alat medis baru sampai. Mereka memasuki gerbang dan memarkirkan mobil di garasi samping rumah mewah itu.


Sementara di dalam rumah, Intan dan bu Nanah telah siap menyambut mereka. Karena sebelumnya penjaga rumah sudah melapor bahwa mereka kedatangan tamu dari tim medis.


Dokter Anton dan 2 perawatnya belum sempat masuk kedalam rumah, karena mereka melihat mobil Harvan baru saja masuk gerbang. Akhirnya mereka bertiga menunggu Harvan turun dari mobilnya.


Harvan pun keluar dari mobil di susul oleh Jodi.


“Selamat siang dok.” Sapa Harvan seraya menyalami dokter Anton yang tengah berdiri menantinya.


“Siang pak Harvan.” Jawab dokter Anton menyambut salam dari Harvan.


“Ayo langsung saja kita masuk dok, pasti Intan sudah menunggu di dalam.” Ajak Harvan pada dokter Anton dan 2 perawat yang mendampinginya. Jodi pun mengikuti di belakang mereka.


Sesampainya mereka di dalam ruang tamu, Intan dan bu Nanah menyambut kedatangan mereka dengan ramah.


“Ayo dokter silahkan duduk.” Ujar Intan.


“Baik, terima kasih.” Sahut dokter Anton.


Kemudian mereka pun duduk di ruang tamu.


“Bagaimana saudari Intan, sudah siap saya observasi?.” Tanya dokter.


“Siap dok.” Jawab Intan.


Lalu kedua perawat yang mendampingi dokter Anton di persilahkan masuk kedalam kamar Intan untuk mempersiapkan peralatan medis yang akan di gunakan dokter Anton dalam mengobservasi Intan. Tak lama kedua perawat itu keluar memberitahukan bahwa peralatan telah siap. Akhirnya dokter dan kedua perawatnya, Intan dan Harvan, mereka sama-sama memasuki kamar yang sudah di lengkapi dengan peralatan medis. Sementara Jodi menunggu di ruang tamu dan bu Nanah berlalu ke dapur untuk mengambil jamuan bagi tamu yang datang.


Hampir satu jam dokter Anton memeriksa Intan.


Setelah selesai mereka semua keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu. Sementara kedua perawat dokter Anton membereskan alat medis kembali dan merapikannya kemudian membawanya masuk kembali ke dalam mobil mereka.


Di ruang tamu, dokter Anton menjelaskan hasil dari observasinya.

__ADS_1


“Baik pak Harvan dan sodari Intan, dari hasil pemeriksaan tadi saya bisa menarik kesimpulan bahwa diagnosanya sama seperti yang sudah saya sampaikan tempo hari, kepada pak Harvan waktu di rumah sakit kami. Jadi, untuk selanjutnya saya sampaikan bahwa pak Harvan dan sodari Intan siap-siap dari sekarang saja untuk keberangkatan kita lusa ke Korea. Nanti saya akan hubungi rekan saya di sana untuk menjemput kita di bandara. Bagaimana pak Harvan?.” Kata dokter Anton.


“Siap dok, kami akan menyiapkan segalanya yang di perlukan untuk keberangkatan kita lusa nanti.” Jawab Harvan serius.


“Baiklah kalau begitu, mungkin cukup sekian yang bisa saya sampaikan hari ini, selanjutnya sampai ketemu lusa di bandara.” Ujar dokter Anton.


Dan mereka bertiga pun (dokter Anton dan kedua perawatnya) meninggalkan kediaman Harvan.


Sepeninggalan dokter, Harvan, Intan dan Jodi makan siang di rumah. Makan siang yang telat, karena tadi mereka di sibukkan dengan kedatangan dokter Anton. Selesai mereka makan siang, Harvan dan Jodi berbincang diruang tengah, sementara Intan membantu bu Nanah dan pelayan lain membereskan ruang makan.


Diruang tengah,


“Jod, nanti tolong periksa kembali ya barang-barang yang akan gue bawa.” Kata Harvan.


“Siap, nantu gue cek lagi kalau elo udah packing semuanya.” Sahut Jodi.


“Terima kasih jod.” Ujar Harvan.


“Siap!.” Timpal Jodi.


“Kepikiran? Kenapa elo jadi mikirin dia?.” Tanya Harvan.


“Ini sebenarnya prediksi gue aja sih, tapi jangan terlalu di ambil pusing ya. Gini loh, kalau memang benar apa yang gue lihat di bandara itu bukan si Silvy, gue kira gak akan jadi masalah. Tapi kalau memang bener apa yang gue lihat itu bener-bener si Selvy?, apa ya tujuan dia balik lagi ke indo? Buruknya, Gue curiga dia mau ngerecokin elo Har.. pasalnya semua keluarganya di Jerman, perusahaan orang tuanya juga di sana, terus si Selvy juga berkarier di sana. Mau ngapain dia balik lagi ke Indo kalau bukan membawa misi. Elo sebagai mantan suaminya kan tau si Selvy itu manusia kayak apa?. Dia type bondon bar-bar yang rela menghalalkan segala cara demi tujuan gila nya tercapai.” Jelas Jodi.


Hening sejenak. Sepertinya mereka berdua sedang sama-sama berpikir perihal maksud dan tujuan Selvy datang lagi ke tanah air. Kemudian


“Iya sih gue juga jadi mikir sekarang Jod, mau ngapain dia ya?.” Selidik Harvan.


“Nah itu dia Har makanya kenapa gue bilang ke elo, karena gue ngerasa ada yang aneh.” Begitu selidik Jodi.


“Ok Jod gue terima kasih banget sama elo, elo udah ingetin gue jadi gue bisa berhati-hati.” Ujar Harvan.


“Oya masalah perjanjian pra nikah dulu yang orang tua elo akan kasih dia 5% dari saham keluarga elo, sudah selesai belum? Kalau belum selesai, gue curiga dia ngejar itu Har, tapi kalau perjanjian itu sudah selesai, berarti ada misi lain lagi buat ngerecokin elo.” Kembali Selidik Jodi.

__ADS_1


“Ya.. ya.. ya… cerdas juga luh, sampe elo mikirin kesana.” Kata Harvan sembari berpikir.


“Gue kan sekarang udah jadi bagian dari hidup elo Har, kalau elo sakit, gue juga sakit, kalau elo bahagia, gue juga ikut seneng, makanya gue sampai mikirin hal-hal kayak gini yang bisa bikin rusak elo lagi nantinya. Kan kalau kita duduk bareng diskusiin masalah ini, setidaknya kita kan bisa sedia payung sebelum hujan, berjaga-jaga mengantisipasi hal buruk yang mungkin aja terjadi.” Jelas Jodi.


“Iya benar Jod. Kalau gitu mulai sekarang elo selidikin deh maksud dia balik ke Indo, setelah gue pikir-pikir, gue juga jadi curiga.” Kata Harvan masih dengan tampang berpikirnya.


“Ok siap! Besok gue mau hubungi team intelijen buat nyusun strategi tempur.” Tegas Jodi.


“Kayak mau perang aja luh.” Ujar Harvan.


“Yah elo.. masih mau bercanda aja ngandepin si bondon itu. Dia tuh bahaya, model-model psikopat kalau elo pengen tahu, masa elo gak bisa perhatiin dia waktu masih jadi istri elo sih.” Tukas Jodi


“Mana gue tahu! Waktu itu kan gue tinggal di sini, dia di apartemen. Pastinya lebih tahu elo lah. Orang kalian suka clubing bareng.” Kata Harvan.


“Eh amit-amit ya meskipun gue jahanam gue gak pernah bareng bondon psikopat model dia, gue cuma sering ketemu aja sama dia di club. Itu juga karena bokap elo nyuruh gue buat nyelidikin dia. Sampai akhirnya bokap elo tahu dia punya skandal sama sepupu elo si Reyhan. Dan anak si bondon itu ternyata benih si Reyhan. Elo lupa? kalau gue yang bongkar itu semua heuh?, Karena jasa gue juga kan akhirnya elo bisa terbebas dari drama pernikahan dengan si bondon itu.” Tegas Jodi.


“Iya.. iya gue makasih banget sama elo.. elo pahlawan gue deh.” Kata Harvan.


“Makanya sekarang elo gak usah lagi deh curiga-curiga sama gue. Sampai mikir kalau gue mau curangin elo segala.” Tegas Jodi kembali.


“Iya.. iya .. gue minta maaf dan gue percaya deh sama elo.. .” Harvan meyakinkan Jodi.


“Oya, kira-kita ada yang tahu gak selain gue, kalau elo udah nemuin Intan dan sekarang Intan tinggal di rumah ini?.” Tanya Jodi.


“Mhm.. kayanya gak deh, yang tahu cuman elo, orang-orang yang kerja di sini sama orang tua gue.” Jawab Harvan.


Sesaat keduanya terdiam seakan berpikir. Dan tiba-tiba: BRUK!! Jodi menggebrak meja.


“Sial!!” Tukas Jodi dengan suara keras menekan dan mimik panik.


“Gila luh, bikin gue kaget!.” Sentak Harvan.


🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗

__ADS_1


Nah loh !!! Ada apaan ya???


Kawal terus Ok?!👌🏻


__ADS_2