Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Identifikasi


__ADS_3

Jodi masih sibuk dengan beberapa orang team nya mengidentifikasi di gang tersebut.


Karena apa yang mereka lakukan adalah bersifat rahasia tanpa melibatkan kepolisian, akhirnya mereka dengan kesepakatan bersama, melanjutkan identifikasinya di tempat rahasia mereka, yaitu disebuah markas tempat mereka berkumpul.


Jodi pun mengajak Harvan ikut dengannya. Sementara mobil yang ditinggalkan Reyhan, mereka derek mengikuti mereka dibelakang, setelah Jodi menghubungi seseorang untuk dimintai membawa alat berat guna membawa mobil tersebut.


Setelah 2 jam perjalanan mereka sampai di markas mereka. Sebuah bangunan yang mirip dengan gudang yang besar dengan beberapa penjaga berpakaian preman di depan gerbang tertutup yang menjadi pintu masuk langsung kedalam markas tersebut.


Mereka semua telah berada di dalam markas tersebut termasuk mobil Reyhan yang mereka derek menggunakan alat berat.


Harvan mengitari sekeliling mengamati markas tersebut, karena ini adalah kali pertama Harvan menginjakkan kaki di tempat tersebut.


“Tempat apa ini Jod?.” Tanya Harvan.


“Tempat gue kumpul sama team gue.” Jawab singkat Jodi.


Sudut mata Harvan tetap mengitari isi dari markas tersebut. Ia melihat beberapa ruangan yang ia duga ruangan kantor untuk mereka yang bekerja di tempat itu.


Lalu Harvan dibawa ke satu ruangan oleh Jodi. Dan itu adalah ruangan pribadi Jodi. Ruangan itu cukup luas dengan tatanan interior yang lengkap dengan peralatan kantor.


“Jod, apa kerjaan elo sebenarnya?.” Tanya Harvan.


“Har, gue belum bisa cerita sama elo, Sorry Har, pada saatnya nanti gue akan kasih tahu elo. Sekarang belum waktunya. Yang jelas gue melakukan pekerjaan di tempat ini adalah pekerjaan yang positif bukan pekerjaan ilegal.” Jelas Jodi.


“Entah ini kerjaan sampingan gue, atau kerjaan sampingan gue adalah menjadi asisten elo, yang jelas gue menikmati keduanya. Gue harap elo bisa mengerti Har.” Tutur Jodi kembali.


Harvan mengangguk, kemudian duduk disebuah sofa. Lalu Jodi mengambilkan minum untuknya. Tak lama terdengar pintu dari luar diketuk. Setelah Jodi mempersilahkan, masuk seseorang membawa 2 paket makanan siap saji untuk Harvan dan dirinya.

__ADS_1


“Har, ayo sekarang kita makan. Elo harus makan Har karena gue lihat elo belum makan siang dan sekarang waktu makan siang udah telat.” Kata Jodi memberikan satu paket makanan itu, sementara ia mengambil yang satunya dan mulai membukanya.


Tetapi Harvan diam saja, ia menundukkan kepalanya dengan menopangkan keningnya pada kedua telapak tangannya.


“Gue gak selera makan Jod, pikiran gue masih gak tenang mikirin putri gue. Sedang apa dia sekarang, apa dia sudah makan, apa penculik itu memperlakukannya dengan baik?. Sementara Harin masih membutuhkan bantuan orang dewasa dalam melakukan segala hal. Gue cemas Jod, makan pun gak mau kalau gue belum dapat Informasi Harin.” Keluh Harvan.


“Har, apapun yang elo rasain, elo harus tetap makan Har, biar elo kuat. Gue pastikan team gue lagi kerja keras sekarang mencari keberadaan Harin. Kita tunggu laporan mereka sambil kita makan ya?.” Ujar Jodi.


Tapi Harvan tetap saja diam dengan pikiran kalutnya.


“Har, kalau elo terus-terusan begini, Intan akan marah sama elo Har, elo harus punya semangat menghadapi masalah ini. Elo harus optimis kalau kita bisa menemukan Harin secepatnya. Elo ingat kan? Kalau apa yang kita pikirkan bisa jadi doa buat kita, jadi berfikir lah positif, yakinlah kalau kita pasti bisa menemukan Harin kembali. Kalau elo pesimis, gue kira akan menghambat pencarian Harin.” Jelas Jodi.


Setelah Harvan mencerna apa yang Jodi katakan, ia terlihat sedikit punya semangat. Kemudian ia mengambil satu paket makanan untuk dirinya, dan ia mulai mencoba memakannya dengan pikiran yang masih menerawang kemana-mana.


“Apa yang elo rasain, gue juga rasain Har. Tapi gue harus kuat agar bisa secepatnya menemukan Harin. Memang kita kalah cepat dari si Reyhan. Seandainya Microchip itu sudah dipasang pada tubun Harin, mungkin sekarang kita sudah tahu keberadaannya. Tetapi walau pun demikian, masih banyak cara yang akan kita tempuh untuk menemukannya Har, jadi tolong bantu gue, dengan cara elo harus tetap bersemangat dan optimis. Jangan terlihat lemah seperti ini. Kalau si Reyhan tahu elo seperti ini, dia akan sangat senang karena salah satu tujuannya tercapai untuk menghancurkan elo. Keadaan kayak begini yang si Reyhan harapkan Har. Dan gue yakin si Reyhan tidak akan melakukan apa-apa pada Harin, menurut prediksi gue, Harin di culik untuk membuat elo down Har, pada saat elo down lah mereka akan memanfaatkan momen ini untuk mengambil segalanya dari elo. Percaya sama gue deh. Gue akan menjaminkan diri gue. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Harin, elo boleh bunuh gue dengan senjata ini.” Kata Jodi seraya mengeluarkan senjata dari dalam laci meja kerjanya.


Harvan terdiam, ia menunduk dengan tangan yang memegang makanannya dengan kedua siku yang menopang pada lututnya.


Sebelum ia berlalu, ia katakan,


“Elo istirahat dulu sekarang, pakai saja ruangan pribadi gue. Gue mau menemui team gue dulu.”


Harvan diam membisu. Tak lama ia melangkahkan kakinya ke ruangan pribadi Jodi yang ada di ruang kerja tersebut. Ia masuk kemudian berlalu ke kamar mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya di bawah shower dengan tangisan pecahnya.


Dengan wajah serius dan sorot mata yang tajam Jodi melangkahkan kakinya dengan gagah keruangan salah satu teamnya yang tengah mengidentifikasi data sidik jari.


“Bagaimana? Elo udah dapat hasilnya?.” Tanya Jodi serius pada seseorang yang tengah memegang sebuah alat.

__ADS_1


“Udah Boss! Semua sudah teridentifikasi.”


“Mana! Gue lihat hasilnya.” Kata Jodi kemudian ia mengambil beberapa lembar kertas yang diserahkan padanya.


Pada saat Jodi melihat hasil identifikasi pada lembaran kertas yang ada ditangannya. Berubah wajahnya serius. Ia mengeratkan giginya dengan penuh emosi. Tanpa berkata-kata dia langsung berlari meninggalkan ruangan tersebut.


Jodi membawa berkas itu menuju ruang kerjanya di markas tersebut. Ia masuk ke ruang pribadinya nampak disana Harvan tengah duduk di bibir tempat tidur.


Kemudian Jodi mendekatinya, dan menyerahkan hasil identifikasi sidik jari itu pada Harvan.


Pada saat Harvan membaca hasil identifikasinya itu, terlihat dari wajahnya sorot mata tajam yang menahan amarah.


“Gak salah lagi! Dia pelakunya!.” Geram Jodi.


Dengan tangan mengepal ia pukulkan pada dinding ruangan tersebut.


BUG!! Aaaarrrrrhhh!!


“Anjing! Gue gak akan lepasin elo kali ini Reyhan!!. Bangsat luh setan!!!.” Tumpah nafsu Jodi kala itu.


Kemudian dengan tangan yang masih bergetar, dan luka pada buku punggung tangannya, ia merogoh ponselnya hendak menghubungi seseorang.


“Gimana? Elo udah bisa ngelacak nomor atas nama Reyhan itu?.” Tanya Jodi serius.


“Udah Boss. Tapi titik koordinatnya menghilang, berakhir di jalan tol Jagorawi, kemungkinan ponselnya mati.” Jawaban dibalik sambungan seluler.


“Ah sial!! Geram Jodi seraya menendang pintu ruangan tersebut, sementara Harvan hanya bisa diam, tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

__ADS_1


Itulah bedanya Jodi dan Harvan. Jodi tak bisa menahan emosi, kala ia tersulut emosinya, emosi tersebut akan meledak-ledak. Sementara Harvan sekalipun pada saat ia tertekan, ia masih dapat penguasa emosinya, karena pembawaan karakternya yang tenang.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2