Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Sulaiman


__ADS_3

Riang dan gembira itu lah yang terpancar pada wajah Harin dan Revy. Mereka berdua sungguh menikmati kebahagiaan yang sederhana itu.


Setelah merasakan lelah karena berlarian dan bermain pasir, akhirnya Harin dan Revy mendekati anak laki-laki yang membawa mereka ketempat itu.


Melihat Harin dan Revy mendekat kearahnya dengan nafas yang tersengal-sengal, anak laki-laki itu memberikan susu kotak pada Harin dan Revy.


“Ini, minumlah, kalian pasti lelah.” Kata Anak laki-laki itu seraya memberikan susu kotak pada Harin dan Revy.


“Terima kasih.” Jawab keduanya, mengambil susu kotak tersebut dari tangannya dan mulai meminumnya.


“Oya, aku sampai lupa menanyakan namamu hehe.” Kata Revy.


“Namaku Sulaiman.” Jawabnya.


“Oh Sulaiman, nama yang bagus. Aku Revy dan ini adikku Harin.” Kata Revy seraya menyeruput susu kotak yang Sulaiman berikan padanya.


“Kakak sering berjualan disini?.” Tanya Harin.


“Iya, disini tempat aku berjualan.”


“Kamu tidak sekolah Sulaiman?.” Tanya Revy.


“Aku sekolah kelas 2 sekolah dasar kak.” Jawab Sulaiman.


“Kok sekarang tidak sekolah?.” Tanya Revy kembali.


“Kakak lupa? Kalau sekarang musim libur?.” Tanya Sulaiman balik.


“Oh sekarang lagi libur ya? Aku tidak tahu Sulaiman, karena aku tidak seperti anak-anak lain. Aku sekolah dari rumah.” Kata Revy.


“Oh begitu ya. Oya kalian datang dari mana?.” Tanya Sulaiman.


“Aku sebenarnya tinggal di Jerman Sulaiman, hanya saja karena sesuatu hal, mamaku memaksa aku untuk tinggal di Indonesia. Sementara Harin dia tinggal di Jakarta. Kami korban penculikan yang dilakukan mamaku sendiri. Kami berdua lari dari mereka.” Jelas Revy.


“Apa! Kalian korban penculikan? Kok bisa ibumu menculik kamu dan Harin?.” Sulaiman terkejut.


“Ceritanya panjang Sulaiman, dan aku juga tidak mengerti kalau harus menceritakan keutuhan dari maksud penculikan mereka terhadap kami.” Kata Revy.


“Terus tujuan kalian ke tempat ini apa?.” Tanya Sulaiman.


“Kenapa tidak pulang saja kerumah kalian.” Sambung Sulaiman terheran-heran.


“Pada akhirnya nanti kami akan pulang Sulaiman, sekarang ini kami hanya ingin menikmati kebebasan kami. Oya Sulaiman, Harin memiliki Emak disini, iya kan Harin?.” Kata Revy bertanya pada Harin.


“Iya kak Sulaiman, aku punya emak disini tapi rumah emak di sebelah mana ya? Aku bingung.” Pandangan Harin mengitari sekeliling.


“Memangnya daerah tempat emak namanya apa? Mungkin aku bisa mengantarkan kalian ke rumah emak.” Kata Sulaiman.

__ADS_1


“Aku tidak tahu nama tempatnya apa kak, tapi rumah emak di pinggir pantai, dan emak memiliki padepokan.” Jelas Harin.


“Bagaimana kalau kita minta bantuan polisi saja! Mau tidak?.” Usul Sulaiman.


“Ah tidak. Tidak Sulaiman, kalau kita minta bantuan polisi akan rumit nantinya. Aku pasti disuruh cepat kembali ke rumahku, sementara kita masih menikmati petualangan kita ini Sulaiman.” Jelas Revy.


“Iya kak, kita masih ingin disini dan pulang kerumah pun kita belum tentu aman, iya kan kak? Siapa tahu kita nanti di culik kembali.” Kata Harin.


Mendengar apa yang dikatakan dua gadis kecil di sampingnya Sulaiman mendengarkan dengan pikiran yang mengelana. Kemudian,


“Kalau begitu, begini saja, bagaimana kalau kalian ikut kerumahku. Biar nanti aku tanya sama bapak dan ibuku, siapa tahu ibu dan bapakku kenal pada emakmu Harin.” Sulaiman memiliki ide, dan sepertinya ide itu cukup meyakinkan mereka.


“Baiklah, nanti kita ikut kerumahmu ya Sulaiman.” Kata Revy.


“Iya kak Sulaiman aku ikut dengan kakak ya?.” Kata Harin pada Sulaiman.


“Baiklah. Kalau begitu tunggu aku jualan dulu ya? Aku biasa pulang sore hari.” Kata Sulaiman.


“Tidak apa-apa Sulaiman lagi pula kita juga ingin bermain dulu disini.” Jelas Revy.


Kemudian mereka bertiga mendengar sesuatu yang mendekat ke arah mereka, dan berhenti tidak jauh dari tempat mereka.


(Tahu bulat.. digoreng dadakan.. lima ratusan.. hangat.) suara itu mereka dengar berulang-ulang.


“Itu apaan Sulaiman?.” Tanya Revy.


“Wah, sepertinya enak, aku mau makan itu kak.” Kata Harin pada Revy.


“Baiklah, ayo kita kesana beli tahu bulat itu. Sulaiman kamu tunggu disini ya?.” Kata Revy, kemudian Revy dan Harin mendekat ke arah penjual tahu bulat tersebut.


Bersamaan dengan itu, di seberang jalan raya mobil yang membawa Harvan dan Jodi, melintas melewati penjual tahu bulat tersebut. Tapi sayang Harvan dan Jodi tidak melihat keberadaan Harin dan Revy yang berada di balik mobil penjual tahu bulat tersebut.


Begitupun dengan Harin, tubuh kecil yang berada di balik mobil itu tidak dapat melihat mobil ayahnya yang melintas dekat mereka. Sehingga tanpa sepengetahuan mereka, jarak diantara mereka semakin jauh. Padahal seandainya tadi Harin dan Revy berdiri di sisi yang lain mobil penjual tahu bulat itu tentunya dapat terlihat keberadaannya.


Tapi sayang, mungkin Tuhan belum dapat mempertemukan mereka walau tadi jarak mereka sangat dekat, karena saat yang tepat masih menjadi misteri bagi keduanya.


Sementara itu di dalam mobil, Harvan dan Jodi berbincang.


“Gue yakin mereka ada di tempat ini Har.” Kata Jodi.


“Iya Jod gue juga merasakan hal yang sama. Dada gue berdebar terus dari semenjak kendaraan kita memasuki kota kecil ini.” Jelas Harvan.


“Iya semoga saja kita dapat secepatnya menemukan mereka disini. Selvy dan Reyhan gue rasa mereka tidak tahu kalau tempat ini adalah tempat alternatif buat cari mereka.” Ujar Jodi.


“Iya mudah-Mudahan saja mereka tidak sampai berfikiran untuk mencari ke tempat ini.” Kata Harvan menghela nafas.


*

__ADS_1


Sementara itu di Ibukota, nampak Selvy dan Reyhan yang tengah berkeliling mengitari tempat-tempat yang mereka duga, kemungkinan dapat menemukan kedua anak yang mereka cari, tapi tidak membuahkan hasil.


Pada saat Selvy tengah melihat-lihat media sosial pada ponselnya, ia di kejutkan dengan berita yang ia lihat.


“Sial! Sepertinya mereka lapor pada polisi dan polisi juga kini tengah mencari bocah sialan itu.” Geram Selvy.


“Kenapa waktu itu kamu tidak bunuh langsung bocah itu saja sih.” Sambung Selvy kesal.


“Heh kalau aku langsung bunuh dia, terlalu cepat membuat si Harvan itu menderita, aku mau si Harvan merasakan kehancuran yang perlahan-lahan yang akan membuat dia tersiksa lebih hebat.” Kata Reyhan dengan suara kerasnya.


“Iya tapi akhirnya jadi begini kan? Malah semakin sulit!.”


“Mana kita tahu kalau kedua anak itu bisa menghilang! Sudah! Sekarang kamu jangan ngomel-ngomel terus! bikin telingaku sakit saja tahu!!.” Ketus Reyhan.


“Ya terus kita mau cari mereka kemana lagi Rey? Kita semakin buntu.” Kesal selvy.


“Eh kamu pikir cuma kamu saja yang kesal mencari mereka! Aku juga kesal tahu! Dan tempat-tempat yang kita telusuri masih separuh, belum semuanya kita jajaki, memangnya gampang nyari orang hidup! Walaupun cuma dua bocah kecil!.” Kata Reyhan yang terus memacu kendaraannya mengitari padatnya jalanan ibukota.


Akhirnya mereka di sibukkan dengan perdebatan yang tiada ujung, yang tentunya itu merupakan bukan jalan terbaik sebagai solusi dalam menemukan anak yang mereka cari, malah membuat mereka semakin pusing karena selalu mengandalkan emosi mereka masing-masing.


*


Disisi lain, kini Harvan dan Jodi telah sampai di halaman pondok emak.


Mereka berdua bergegas turun dari kendaraannya, dan berjalan menuju pondok yang asri itu. Setelah mereka sampai di depan pintu, lalu mereka mengetuk pintu itu, namun tidak ada jawaban. Pondok itu sepi seperti tidak ada penghuni.


“Emak kemana ya?.” Kata Harvan yang mengintip dari celah-celah jendela kedalam pondok tersebut.


“Mungkin emak lagi di padepokan Har.” Kata Jodi.


“Iya ya, mungkin juga saat ini emak sedang berada di padepokan, apa sebaiknya kita kesana Jod.” Kata Harvan.


“Ah gak usahlah, kita nunggu disini saja sambil istirahat di dipan ini.” Kata Jodi yang langsung merebahkan tubuhnya.


“Gue gak sabar Jod, ingin segera mendapatkan kabar dari emak, siapa tahu Harin dan Revy sudah bertemu dengan emak dan mereka ada di padepokan.” Ujar Harvan.


“Ya sudah kalau elo mau ke padepokan, elo pergi saja biar gue nunggu disini Har.” Kata Jodi.


Harvan terdiam memikirkan apa yang dikatakan Jodi. Tiba-tiba dari kejauhan mereka melihat seorang pedagang tengah mendorong gerobak mie ayam. Lalu jodi memanggil pedagang itu agar mendekat ke pondok emak.


“Mending kita makan mie ayam dulu Har, kayaknya enak siang-siang begini makan mie ayam. Mau gak?.” Tanya Jodi.


“Boleh deh.” Jawab Harvan yang kemudian duduk bersama Jodi pada dipan itu.


Akhirnya mereka berdua memesan dua porsi mie ayam untuk mereka makan.


🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗🌗

__ADS_1


__ADS_2