Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Sayang bangunlah


__ADS_3

Suasana hati seorang ibu yang tengah menghadapi antara hidup dan mati kini tengah Intan alami. Ia meringis kesakitan saat menahan gemuruh didalam perutnya seakan meledak. Ia menanti Sang suami yang diharapkan dapat menemaninya dalam kesakitan tapi tak kunjung ada.


Kini Intan tengah berada di ruang perawatan, menanti kesiapan ruangan untuk persalinannya, menurut dokter bahwa dilatasi Intan baru pembukaan lima artinya masih butuh waktu beberapa jam lagi untuk proses melahirkan. Sebentar lagi Intan akan dibawa keruangan persalinan, Bu Nanah dengan setia menjaga Intan sembari mengelus-elus pinggangnya.


“Neng, Ibu mau ke kantin dulu ya sebentar, membeli minuman untuk Eneng. Neng Intan harus banyak minum agar tenaganya kuat.” Kata Bu Nanah.


“Iya Bu, aduh sakit.. cepat kembali ya Bu.” Kata Intan kepada Bu Nanah.


“Iya Neng.” Jawab Bu Nanah seraya pergi meninggalkan Intan sendiri diruangan itu.


Sepeninggalan Bu Nanah, masuklah seseorang yang berpakaian Scrub Suits ( seragam Dokter bedah.) lengkap dengan masker dan sarung tangan. Lama seseorang itu memandangi Intan. Timbul perasaan aneh dalam hati Intan, karena seseorang itu menatapnya dengan tatapan sadis. Intan sudah curiga kalau seseorang itu bukanlah dokter atau tim medis. Pada saat Intan hendak menjauhkan tubuhnya dari seseorang itu, dengan cepat seseorang itu mengeluarkan belati dari balik bajunya. Secepat kilat Ia menghunjamkan belati itu pada perut Intan.


BUS belati itu menancap pada perut Intan bagian atas.


“Aarrh… “ Jerit pekik Intan menahan sakit akibat tusukan itu. Ia mencoba menghindar dan melakukan perlawanan, dengan menendang tubuh seseorang itu dengan sisa tenaga yang Ia miliki. Namun tendangan itu tidak cukup kuat untuk melumpuhkan seseorang itu. Secepat kilat seseorang itu menghunjamkan kembali belatinya, dengan sisa tenaga Intan menangkis untuk menghindari hujaman itu namun tenaganya lemah, dengan memeluk perutnya dan membalikan badannya Ia melindungi jabang bayinya, namun lagi-lagi hujaman yang bertubi-tubi itu mengenai punggung dan pinggangnya. Sekuat tenaga Intan menghindari, namun nahas dan BUG tubuh Intan terjatuh dari velbed ke lantai. Tak sampai disitu, seseorang itu mendekati Intan dan menghujamkan kembali belatinya pada perutnya.


“Aahw… sakiiiit…. Tolong….” Teriak Intan dengan suara yang semakin melemah.


“Mampus! Kau setan!.” Seru seseorang itu dengan bengisnya.


Rasa sakit akibat hujaman belati itu membuat Intan terkulai lemah, Ia sudah tak bisa lagi menghindari apalagi melawan, seluruh tubuhnya bersimbah darah. Ia menangis dalam diamnya dengan pasrah. Pada saat seseorang itu akan menginjakkan kaki nya dengan sekuat tenaga pada perut Intan, tiba-tiba,


“Astaghfirullah! Tolooong.” Teriak Bu Nanah dengan lantang mengejutkan seseorang yang akan menjejak perut Intan itu. Secepat itu pula Ia lari tunggang langgang menyelamatkan diri.


Pada saat seseorang itu berlari sekencang-kencangnya, melintasi pintu masuk Ia bertubrukan dengan Harvan yang juga tergesa-gesa memasuki ruangan dimana Intan berada. Dengan cepat seseorang itu berlari ke arah motor yang sudah menunggunya di ujung jalan.


Sementara Harvan tidak memperdulikan seseorang itu, karena fikirannya hanya fokus pada Istrinya, Ia terus berjalan cepat menyusuri koridor untuk mencapai tempat Istrinya, dari jauh Ia melihat Bu Nanah tengah menangis histeris, Ia mulai merasa debaran hebat dijantungnya, sejurus Ia melangkah pelan, sejurus itupun Ia melihat tubuh Sang Istri bersimbah darah dengan beberapa luka tusukan pada tubuhnya meluruhkan pandangan matanya.


Hancur jiwanya, lemas badannya, meremang matanya melihat Istrinya memandang lemah padanya dengan Gapaian tangan yang mengarah padanya. Entah sadar atau tidak Ia langsung merangkul Istrinya yang bersimbah darah. Ia ciumi wajah Istrinya, Ia peluk erat dengan air mata yang sudah tak tertahankan.


“Oh.. Tuhan.. Tidaak.” Sejadi-jadinya Harvan meraung. “Dokter! Cepat selamatkan Istriku.. Dokter.. Cepat!.” Seakan kesetanan Ia berteriak menggema dan memekik, kemudian terdengar bisikan pelan dari Istrinya pada telinganya.


“Sayang, selamatkan anak kita, jangan perdulikan aku, Ia Harus hidup, kelak Ia yang akan menjagamu, maafkan aku sayang, aku mencintaimu.” Bisik sang Istri terbata-bata.


“Tidak sayang, jangan bicara begitu, kau harus kuat, kita sudah berjanji akan membesarkan anak kita, bertahanlah, aku tidak bisa hidup tanpamu, aku masih ingin bersamamu lebih lama lagi, jangan tinggalkan aku untuk yang kedua kalinya, aku mohon bertahanlah, kau kuat sayang, kau pasti bisa bertahan.” Kata Harvan seraya memeluk erat Istri dan anaknya yang ada didalam kandungan Istrinya. Tak perduli akan darah yang juga melumuri memenuhi pakaiannya.


Bersamaan dengan itu beberapa dokter dan petugas medis dengan sigap mengangkat tubuh Intan ke atas brankar rumah sakit. Mendorong brankar itu menuju ruang operasi, sementara Harvan tetap mengikuti brankar itu melaju dengan mendekap tubuh Istrinya. Setelah mereka sampai di depan pintu ruang operasi.


“Tuan! Tolong Tuan tidak boleh masuk, Tuan tunggu saja disini. Kami akan segera melakukan tindakan.” Kata salah satu dokter menahan Harvan untuk masuk.

__ADS_1


“Tolong selamatkan Istri dan anak saya dok, saya mohon selamatkan mereka!.” Ucap Harvan dengan penuh pengharapan dan air mata yang sudah tidak dapat terbendung.


“Baik Tuan, kami akan melakukan semaksimal mungkin, harap Tuan tenang.” Sambung dokter tersebut.


Kemudian dokter itu masuk meninggalkan Harvan yang melemah tak berdaya. Terpuruk tubuhnya dilantai depan pintu operasi, menunduk kepalanya dengan penuh Do’a. Wajah tampan yang ceria saat terlihat pagi tadi kini sudah berubah menjadi wajah dingin dengan mata sembab berkaca-kaca. Peluh dan darah seakan menyatu dengan tubuh dan pakaiannya. Harvan Hartawan pria yang gagah perkasa kini terkulai tak berdaya. Istri yang sangan Ia cintai dan putri yang Ia harapkan kini sedang bertaruh nyawa di dalam sana. Ia kaku diam membisu membayangkan rasa kehilangan. Membayangkan rasa penyesalan. Membayangkan bagaimana jika Ia ditinggalkan oleh keduanya. Hanya ada dua pilihan yang kini bersarang dalam pikirannya. Hidup bagai rasa mati atau ikut pergi bersama mereka berdua. Akal sehat seakan menghilang manakala Ia membayangkan harapannya pupus seketika.


Dari kejauhan nampak Jodi dan Vivi berlari kearahnya. Tak kuasa Jodi melihat sahabatnya dengan tubuh membisu dan bersimbah darah, dipeluknya tubuh yang melemas dilantai itu. Mereka berdua menangis dalam diam mereka. Vivi yang menyaksikan keduanya tak kuasa menahan haru, menetes air matanya di iringi isakan pilu. Lalu mendekat pada keduanya dan membawanya pada kursi ruang tunggu.


Suasan berubah menjadi mencekam ditempat itu. Hanya terdengar isakan tangis dari mereka yang mengharapkan keajaiban dari yang Maha Kuasa. Untung tak dapat diraih, Malang tak dapat ditolak. Sekuat apapun manusia merencanakan kebahagiaan, tetaplah Tuhan yang menentukan.


Hening membisu diantara mereka tak seorangpun yang hendak bersuara. Hanya pikiran mereka yang berbicara dengan Do’a. Satu jam telah berlalu tapi belum terlihat tanda-tanda ada seorangpun yang membuka pintu ruang operasi itu. Hingga malam, mereka masih memandangi pintu ruang operasi tersebut dengan di iringi rasa cemas.


Sudah lima jam mereka menunggu di depan ruang operasi masih saja belum ada kabar berita, hingga terlihat dari kejauhan dua orang menghampiri mereka. Mereka adalah Pak Budi dan Bu Irma.


“Har, yang sabar ya Nak.” Suara lembut seorang ibu membuyarkan kebekuan seorang Anak.


Dipeluknya tubuh Sang Ibu itu, kembali Harvan meraung pilu seolah mengadukan nasibnya pada sang Ibu tercinta. Disusul sang Bapak dengan tangisan pelannya memeluk mereka.


Ditengah seorang anak dan kedua orang tuanya berpelukan meratap. Jodi memikirkan kejadian tadi yang telah Intan alami. Ia mencoba menelisik siapa pelaku di belakang ini semua. Bu Nanah telah menceritakan secara gamblang padanya dengan apa yang telah Bu Nanah saksikan tadi.


Jodi terus berpikir dan berpikir, Ia tidak ingin menuduh tanpa bukti meski Ia tengah mencurigai seseorang. Ia harus membongkar siapa pelakunya.


“Operasi telah kami lakukan Tuan Harvan, Alhamdulillah putri anda dapat kami selamatkan. Dengan keajaiban yang Allah berikan tak sedikitpun ada luka pada tubuh putri anda. Walau pada awalnya putri anda alami kritis karena keracunan air ketuban. Tapi Alhamdulillah semua dapat kami atasi dan mungkin putri anda perlu perawatan lebih lanjut. Namun kami mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan Istri anda. Karena banyaknya luka tusukan yang mengakibatkan Ia banyak kehilangan darah dan juga paru-paru dan jantungnya yang mengalami kerusakan, sehingga kami tidak bisa menyelamatkan Istri Anda.” Jelas Dokter.


DUAR!! Dunia seakan runtuh seketika saat Harvan mendengarkan menuturkan Dokter. Semakin hancur jiwa dan bathinnya, semakin lemas tubuhnya, semakin tak tertahan air matanya tumpah kala Dokter berkata demikian. Mimpi buruk yang Ia rasakan bagai belati yang menghujam pada ulu hatinya. Mengiris-iris rongga nadinya. Sungguh malang nasib yang Ia rasakan kini.


“Maafkan saya Tuan Harvan, saya sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Allah berkehendak lain. Silahkan Jika Tuan Ingin melihat Istri anda untuk yang terakhir kalinya.” Kata dokter seraya menepuk pundah Harvan untuk menguatkan.


Dengan langkah gontai dan hati hancur Harvan melangkah masuk keruangan dimana Intan tengah terbaring kaku sudah tak bernyawa. Semakin dekat dan semakin mendekat Harvan berada dihadapan jenazah Istrinya. Dipandanginya wajah pucat Sang Istri dengan pautan disudut bibir merah delimanya seperti sedang tersenyum.


“Sayang, ini tidak mungkin kan?, kau tidak sungguh-sungguh meninggalkanku untuk selamanya kan?, sayang, kita janji akan bersama-sama mengurusi putri kita. Ayo bangunlah sayang, katakan padaku bahwa kau tidak benar-benar pergi dari hidupku. Jangan biarkan aku dan Putri kita Harin hidup tanpamu. Kau tahu? Aku memiliki banyak janji padamu yang belum aku penuhi, salah satunya adalah, kita akan pergi ke Rusia bersama putri kita. Tolong sayang bangunlah, katakan sesuatu padaku walau itu akan menyakitkan bagiku, asal jangan kau tinggalkan aku seperti ini. Waktu yang kita hidupkan bersama terlalu singkat sayang, bangunlah walau sehari saja kau akan menemaniku. Aku tidak mampu membayangkan hari-hariku tanpamu. Ku mohon bangunlah sayang.” Dengan mulut bergetar dan pelukan yang erat, Ia katakan semua itu pada jasad Istrinya. Benar-benar luluh lantak jiwa dan perasannya kala itu dan bagai Jiwa yang hidup tapi mati, Ia rasakan kini.


💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔


Author kasih lirik lagu CINTA-Melly Goeslaw ya! Untuk mengenang Intan Permata😭😭😭😭


Menatap jalan yang menjauh


Tentukan arah yang ku mau

__ADS_1


Tempatkan aku pada satu Peristiwa yang membuat hati lara…


Di dekat engkau aku tenang


Sendu matamu penuh tanya


Misteri hidup akan kah menghilang


Dan bahagia di akhir cerita


Cinta… tegarkan hatiku


Tak mau sesuatu merenggut engkau


Naluriku berkata, Tak ingin terulang lagi


Kehilangan cinta hati, Bagai raga tak bernyawa


Aku junjung petuamu, Cintai dia yang mencintaiku


Hati yang dulu belayar, Kini telah menepi


Bukankah hidup kita Akhirnya harus bahagia


Cinta… Biar saja ada


Yang terjadi biar saja terjadi


Bagai manapun hidup memang hanya cerita


Cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan


Cinta.


❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹


Selamat hari ibu untuk semua ibu di Indonesia.


semangat💪🏻

__ADS_1


Tetap produktif meski hidup hanya cerita🤗❤️‍🩹


__ADS_2