Angin Samudera Tanpa Batas

Angin Samudera Tanpa Batas
Awal dari sebuah kemenangan


__ADS_3

Hari pun telah berganti dan Hari ini adalah hari dimana sidang lanjutan tuntutan hak asuh yang di ajukan Selvy terhadap Harvan di gelar di salah satu pengadilan yang terletak di Ibukota.


Kedua kubu dengan semangat menyambut persidangan lanjutan yang telah mereka tunggu-tunggu dari minggu sebelumnya.


Segala bersiapan berkas perkara telah mereka siapkan melalui pengacara mereka masing-masing dan saksi dari kubu masing-masing pun telah mereka datangkan untuk memberi kesaksian pada persidangan lanjutan itu.


Dari pihak Selvy sebagai penggugat yang akan menjadi saksi adalah Reyhan, sementara dari pihak tergugat yang akan bersaksi adalah Bapak Budi Darmawan. Ya siapa lagi kalau bukan ayah kandung dari Harvan Sendiri.


Sengaja pak Budi ingin menjadi saksi karena beliaulah yang menjadi saksi perjalanan pernikahan antara Harvan dan Selvy kala itu. Pernikahan yang dilaksanakan bukan atas dasar cinta itu ternyata membawa sebuah mala petaka besar sehingga membuat pak Budi merasa harus ikut andil dalam persidangan lanjutan itu.


Pada ruang sidang yang di gelar secara tertutup itu nampak kedua kubu sudah siap duduk pada posisinya masing-masing.


Segala jurus di keluarkan oleh pengacara pihak penggugat demi memenangkan kasus itu, sementara pengacara pihak tergugat pun tidak kalah cerdiknya dalam menyatakan segala keberatan yang di ajukan oleh pihak penggugat. Mengingat banyaknya pernyataan-pernyataan yang dianggap rancu dari pihak penggugat menjadikan pihak tergugat melancarkan segala aksinya untuk melawan gugatan mereka.


Sampai pada akhirnya pihak penggugat merasa terkejut saat mereka harus memperlihatkan bukti bahwa Revy adalah benar putri dari Harvan, karena pihak tergugat meminta bukti lain yaitu bukti pendukung yang autentik agar mampu meyakinkan pengadilan bahwa Revy adalah benar-benar putri dari Harvan.


Pihak tergugat meminta mereka menunjukan data hasil test DNA dari Revy dan alhasil mereka tidak dapat menunjukannya justru dari pihak tergugat lah yang dapat menunjukan hasil test DNA tersebut.


Betapa geram dan marahnya kala itu Reyhan dan Selvy, namun mereka menahan kemarahannya itu karena mereka sadar mereka tengah berada di dalam ruangan sidang.


Dan yang lebih mengejutkan mereka adalah bahwa pihak Harvan memperlihatkan bukti dan data ada nya hubungan gelap antara Selvy dan Reyhan semasa Selvy masih berstatus istri Harvan.


Kemudian keganjilan lainnya adalah mengenai uang bulanan yang di ajukan pihak penggugat yang harus di penuhi tergugat yang jumlahnya cukup pantastik yaitu sebesar 10 milyar per bulan. Untuk biaya anak yang hanya baru berusia 9 tahun saja. Bukan kah itu nominal yang tidak masuk akal? Sehingga tuntutan itu menjadi catatan penting bagi pihak pengadilan.


Semakin geram Selvy dan Reyhan kala itu. Namun lagi-lagi ia tak mampu berbuat apa-apa. Karena mereka sadar akan posisi mereka. Sementara pihak pengacaranya pun kehabisan kata-kata dalam melakukan perlawanan karena pihak pengacara Harvan lebih dapat membuktikan kenyataan yang terjadi melalui hitam di atas putih serta pernyataan-pernyataannya yang cakap.


Dan kesimpulan dari hasil persidangan tersebut adalah pihak pengadilan akan memutuskan hasil akhir dari proses persidangan tersebut pada pertemuan selanjutnya yang akan di gelar beberapa minggu ke depan.


Akhirnya setelah waktu menunjukan pukul 2 siang persidangan lanjutan pun di tutup. Dan mereka harus menunggu beberapa waktu lagi proses akhir dari persidangan tersebut. Dimana mereka akan mengetahui hasil akhirnya, apakah perkara ini akan di menangkan oleh pihak penggugat atau pihak tergugat.


Dengan langkah yang pasti Harvan dan Jodi tersenyum penuh kemenangan sementara Reyhan dan Selvy kembali memasuki mobil mereka dengan emosi yang meledak-ledak karena mereka merasa terpojok akan pernyataan mereka sendiri dan itu akan menjadi catatan bagi pengadilan bahwa tuntutan mereka penuh dengan manipulatif.


Kuda besi yang membawa Harvan dan Jodi membawa mereka ke kantor tempat mereka bekerja di ikuti oleh mobil pak Budi di belakang mobil mereka.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di gedung kantor mereka.


Nampak Harvan, Jodi dan pak Budi tengah duduk di atas Sofa ruang kerja Harvan.


“Pak sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan pada bapak.” Harvan membuka pembicaraannya.


“Ada apa nak? Katakan lah.” Sahut bijak pak Budi.


“Begini pak, beberapa waktu yang lalu kami membuka lowongan pekerjaan untuk guru pembimbing Harin di rumah karena kami memutuskan Harin akan mengikuti pendidikan dengan metode Home schooling, dan kami menjatuhkan pilihan terhadap seseorang yang bernama Delima. Yang menarik hati saya kenapa saya memilih dia? Selain dia cerdas dan baik dia pun memiliki kemiripan wajah dengan Intan hampir 90% pak. Sehingga pada saat Harin pertama kali bertemu dengannya Harin menganggap bahwa Delima adalah ibunya. Melihat kedekatan mereka saya merasa terbantu dengan kehadirannya, dan tanpa sadar hubungan saya dengan Delima pun semakin dekat. Dan se minggu kebelakang kami mengunjungi emak pak, tanpa kami duga emak menikahkan kami.”


“Apa! Kenapa kamu baru cerita sekarang sama Bapak Har?.” Pak Budi merasa terkejut mendengar penuturan putranya itu.


“Sebelumnya saya minta maaf sama bapak dan juga ibu, kenapa kami tak memberitahu bapak dan ibu? Karena ini begitu sangat mendadak dan diluar rencana kami, mungkin emak terlalu khawatir akan kedekatan kami sehingga langsung bertindak menikahkan kami. Selain itu juga saya sangat mengerti akan kesibukan bapak dan ibu jadi saya tidak ingin mengganggu kegiatan bapak dan ibu, walau pun kami hanya baru nikah agama.”


“Ya kami mau bagaimana lagi toh semuanya telah terjadi. Jadi yang bisa kami lakukan adalah mendukungmu Har, mungkin emak memang benar karena emak selalu memikirkan kedepannya, dan itu wajar.” Timpal pak Budi.


“Hanya saja ada satu masalah lagi pak, Delima memiliki masalah pribadi dengan salah seorang pengusaha asal Surabaya, dan informasi yang kami dapat adalah bahwa Delima kini menjadi buronan polisi karena di tuduh telah membunuh pengusaha itu.”


“Apa!! Kamu serius Har?.” Pak Budi lebih terkejut lagi atas pernyataan putranya itu. Kemudian Harvan di bantu dengan Jodi menjelaskan informasi yang mereka sampaikan secara gamblang tak kurang dan tak lebih untuk pak Budi ketahui.


“Terima kasih pak atas perhatian dan suport nya, hanya saja masalah ini saya mohon bapak jangan bicarakan dulu pada ibu takutnya ibu memiliki pandangan lain.” Pinta Harvan pada sang ayah.


“Baik bapak akan jaga rahasia ini Har!.”


“Terima kasih pak.”


“Ya sudah bapak harus berangkat ke Bali karena besok ada urusan di sana. Bapak pamit dulu ya Har?.”


“Iya pak, hati-hati pak.”


“Ya.” Kemudian pak Budi meninggalkan ruangan kerja putranya itu dan meluncur ke bandara menggunakan kuda besi yang dibawa oleh supirnya dan ditemani oleh ajudannya.


Sepeninggalan ayahnya Harvan duduk di atas meja kerjanya dan mulai membuka laptopnya. Sementara Jodi berlalu meninggalkan ruang kerja Harvan menuju ruang kerja pribadinya.

__ADS_1


Dari layar laptopnya Harvan membuka rekaman CCTV rumahnya dan ia fokus pada CCTV yang terpasang di kamar putrinya.


Ia melihat penampakan putrinya keluar dari pintu kamar mandi dalam pangkuan Delima yang tubuhnya hanya berbalut handuk minim.


Kembali matanya menangkap godaan yang membuat ia menelan salivanya kuat-kuat setelah lama ia tak pernah melihatnya lagi.


Ia terus memperhatikan penampakan itu, dimana ia lihat Delima tengah memakaikan pakaian pada putrinya dan mendandaninya. Pada saat giliran Delima yang akan mengenakan pakaian dalamnya, jantung Harvan bergetar hebat, dengan cepat ia tutup layar laptop nya.


Ia atur ritme nafasnya yang di akibatkan degupan jantungnya yang tak menentu karena melihat penampakan yang menggodanya tersebut.


‘Oh Tuhan… aku harus kuat menahannya sampai semua masalahku dan masalah dia selesai.’ Ia membathin dengan menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya dengan mata yang terpejam.


*


Sementara itu di tempat lain, dalam perjalanan pulang ke tempat tinggalnya, Reyhan dan Selvy nampak memasang muka masam, mereka merasa kesal akan kejadian yang mereka alami di persidangan tadi. Bagaimana tidak? Pengacara yang mereka percaya dapat menghalau semua pembelaan tergugat. Ternyata tak mampu di lakukan oleh pengacara yang mereka tunjuk tersebut.


“Dasar pengacara bodoh!! Berbohong saja tidak bisa! Percuma kita bayar mahal kalau melakukan serangan saja tidak becus!.” Geram Selvy.


“Kamu yang pilih pengacara itu, sekarang kamu yang mengumpatnya, harusnya kau lihat-lihat dulu rekam jejak dari pengacara yang akan kita ambil jangan asal karena rekomendasi dari teman langsung percaya saja.” Sela Reyhan.


“Ah kamu selalu saja menyalahkan aku, sudah untung aku mencari dan memilihnya, kamu sendiri hanya diam saja, ingin terima beres dan bisanya hanya menyalahkan aku saja.”


“Aku bukan menyalahkanmu tapi aku memberi masukan padamu agar bisa lebih selektif lagi dalam memilih orang yang bisa kita percaya!.”


“Alah! Percuma saja, sekarang sudah terjadi, kita tinggal menunggu saja hasil keputusan dari pengadilan. Lalu apa rencanamu kalau hasil pengadilan menyatakan bahwa gugatan kita itu di tolak Hah?!.” Tanya Selvy dengan nada kesalnya.


“Aku gak mau banyak bicara lagi! aku akan langsung membunuh mereka semua dengan tanganku sendiri bagaimana pun caranya!.” Jelas Reyhan dengan tatapan pembunuhnya lurus kedepan sembari menyetir kendaraannya dalam kecepatan yang sangat tinggi.


Dan mobil mereka pun memecah jalanan yang ramai dengan laju kendaraan yang mulai padat karena waktu menunjukan, dimana segala aktivitas orang-orang yang bekerja harus menghentikan kegiatannya, guna untuk beristirahat dan kembali ke rumah mereka masing-masing.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Hai readers kesayangan othor 🥰 jangan lupa tinggalkan jejaknya ya?🤗

__ADS_1


Makasih🙏🏻


__ADS_2